Bab 8

1803 Words
Cici tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang tahu. Tidak akan ada yang tahu. Selain Arvin—dan justru itu yang paling ingin ia hapus dari hidupnya sekarang. “Nggak usah, Ci,” jawab Zahra cepat, terlalu cepat. Lalu ia memperlambat suaranya, berusaha terdengar wajar. “Aku cuma kecapekan aja. Tidur juga udah agak mendingan.” “Oh… ya udah.” Cici terdiam sebentar. “Tapi Mbak udah makan belum?” Pertanyaan sederhana itu seolah didengar oleh perutnya yang langsung bereaksi, berkerut, perih. Baru saat itu ia sadar—seharian ini ia memang belum makan apa pun. Sejak pulang dari hotel, sejak air mata dan tidur menjadi satu-satunya yang masuk ke tubuhnya. Zahra menelan ludah lagi. “Belum,” jawabnya jujur, nyaris berbisik. “Ya ampun, Mbak.” Nada Cici berubah khawatir. “Ya udah deh, aku mampir sekalian bawain makanan ya. Bubur atau sup? Yang ringan.” Zahra ragu. Ia ingin menolak, ingin sendirian, ingin tenggelam dalam diam. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk berpura-pura kuat. “…Apa aja deh, Ci,” katanya akhirnya. “Yang penting hangat.” “Siap. Setengah jam lagi aku sampai.” Telepon ditutup. Zahra meletakkan ponsel kembali ke kasur dan menatap langit-langit. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan hanya karena rasa bersalah. Ada rasa asing lain—lelah yang terlalu dalam, rapuh yang tak bisa lagi disembunyikan. Ia memeluk perutnya yang kosong, merasakan tubuhnya sendiri yang masih nyeri, masih asing. “Tenang, Zahra,” bisiknya pada diri sendiri. “Satu-satu. Kamu masih hidup. Kamu masih bisa berdiri.” Namun di sudut hatinya, sebuah nama tetap menggantung, tak mau pergi. Dan itu membuat segalanya terasa jauh lebih berat. Setelah lebih tenang, Zahra memaksa dirinya bangun. Langkahnya tertatih saat menuju kamar mandi, setiap gerakan membuat tubuhnya kembali mengingat sesuatu yang ingin ia lupakan. Udara terasa pengap, menempel di kulit. Ia merasa lengket—bukan hanya oleh keringat, tapi oleh perasaan yang membuat dadanya sesak. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Zahra menyandarkan kening ke daun pintu. Napasnya berat. “Astaga…” bisiknya pelan. Ia membuka daster perlahan, seakan kain itu ikut menyimpan sisa-sisa malam yang belum benar-benar pergi. Saat kain jatuh ke lantai, pandangannya tertumbuk pada pantulan tubuhnya di cermin. Zahra terdiam. Ada jejak-jejak di sana. Bukan luka, tapi tanda yang terlalu jelas untuk disangkal. Di dadanya. Di atas perutnya. Kissmark. Kemerahan samar yang mulai berubah warna, seperti cap yang menertawakan niatnya untuk menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Da-da Zahra naik turun cepat. Tangannya terangkat, menyentuh salah satu tanda itu dengan ujung jari yang gemetar. Hangatnya masih terasa, seperti memori yang belum sepenuhnya padam. “Kenapa…” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Bayangan semalam menyusup tanpa izin. Cara Arvin mendekapnya, seolah menahan sesuatu yang sudah lama terkurung. Cara sentuhannya terasa mendesak, penuh tekanan emosi yang tak pernah terucap. Seolah pria itu bukan hanya digerakkan oleh gairah—tapi juga oleh kebutuhan untuk merasa diinginkan. Zahra memejamkan mata kuat-kuat. Ia tahu. Ia bisa merasakannya bahkan saat kesadarannya kabur. Arvin seperti seseorang yang terlalu lama menahan haus. Dan ia—Zahra—telah berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah. Rasa kotor kembali menyeruak. Bukan karena tubuhnya, tapi karena situasi yang melingkupi semuanya. Ia memutar keran, membiarkan air mengalir deras. Uap hangat memenuhi ruang sempit itu, memburamkan cermin. Zahra berdiri di bawah pancuran, membiarkan air menimpa kepala dan bahunya. Ia menggosok kulitnya perlahan, lalu semakin keras, seolah ingin menghapus jejak yang bukan hanya ada di permukaan. “Berhenti…” gumamnya lirih. “Udah cukup.” Namun meski air terus mengalir, perasaan itu tidak serta-merta hilang. Yang tertinggal justru kesadaran pahit—bahwa malam itu nyata, dan tubuhnya menjadi saksi bisu atas sesuatu yang tak bisa ditarik kembali. Zahra merangkul dirinya sendiri di bawah pancuran, bahunya bergetar. Ia sadar, hidupnya tidak akan kembali sama setelah ini. Zahra masih berdiri di bawah shower, punggungnya bersandar pada dinding yang masih lembap. Rambutnya basah, air menetes pelan ke ubin, bercampur dengan air mata yang sejak tadi tak ia sadari mengalir. Ia mencoba memahami hidupnya, tapi kepalanya terasa penuh oleh ironi. Takdirnya terasa begitu ganjil—bahkan kejam. Ia teringat bagaimana dulu ia menikah. Bukan karena cinta yang membara, bukan pula karena paksaan. Hanya karena percaya. Seorang laki-laki yang dikenalkan teman kuliahnya, tampak baik, santun, meyakinkan. Zahra berpikir, mungkin inilah jalannya. Mungkin Tuhan sedang memberinya rumah setelah hidup panjang di panti asuhan, setelah bertahun-tahun merasa sendiri. Namun pernikahan itu bahkan tidak sempat benar-benar dimulai. Enam bulan. Hanya enam bulan. Ia diceraikan begitu saja—tanpa dialog panjang, tanpa pembelaan. Fitnah seorang perempuan yang menginginkan suaminya menjadi palu terakhir yang menghancurkan segalanya. Dan yang paling menyakitkan: pria itu memilih percaya pada orang lain, bukan pada istrinya sendiri. Zahra mengembuskan napas panjang, dadanya bergetar. Ironisnya, selama pernikahan singkat itu, tubuhnya tak pernah disentuh. Ia tetap menjaga diri, memegang teguh batas, percaya bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan. Namun kini… Ia tertawa pelan—tawa yang nyaris terdengar seperti isakan. “Miris banget hidupku…” gumamnya. Keperawanannya—yang ia jaga bukan karena tuntutan siapa pun, tapi karena prinsip—justru hilang di tangan suami sahabatnya sendiri. Bukan dengan rencana. Bukan dengan niat. Bukan dengan kesadaran utuh. Zahra mengusap wajahnya, air mata jatuh di sela-sela jemari. Ada rasa sakit di tubuhnya, ada nyeri yang tak bisa diabaikan, tapi yang paling menyiksa justru perasaan bersalah yang menekan da-da. Namun anehnya… Sejak ia terbangun pagi tadi, satu perasaan tidak pernah muncul: marah pada Arvin. Itu yang paling membingungkannya. Ia memejamkan mata, mencoba jujur pada dirinya sendiri. Dalam kepalanya, kejadian semalam terasa kabur—tidak utuh, tidak wajar. Ada celah dalam ingatan, ada bagian yang terasa asing, seperti tubuhnya bergerak di luar kendali. Mereka dijebak. Keyakinan itu muncul begitu saja, tanpa perlu diyakinkan. Zahra tahu. Ia merasakannya. “Mas Arvin nggak mungkin…” bisiknya lirih. Pengacara sehebat Arvin Pratama pasti punya musuh. Dunia yang ia geluti penuh kepentingan, uang, dan dendam. Orang-orang yang kalah tidak akan tinggal diam. Dan jika itu benar… Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Terus… Mbak Miranda gimana?” suaranya pecah. Di sanalah ketakutan terbesarnya bersemayam. Ini bukan tentang dirinya. Bukan tentang rasa sakit ini. Juga bukan tentang masa depannya sendiri. Melainkan tentang Miranda—perempuan yang mengulurkan tangan padanya, mempercayainya, membukakan pintu kehidupan baru untuknya. Sahabat yang menganggapnya keluarga. Zahra gemetar memikirkan akibat dari satu malam itu. Jika kebenaran terungkap, bukan hanya hidupnya yang hancur. Rumah tangga Miranda bisa runtuh. Dan Zahra tahu… ia tidak sanggup menjadi penyebabnya. Zahra menggigil hebat. Bukan hanya karena air dingin yang masih menempel di kulitnya, tapi karena tubuhnya benar-benar kelelahan. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan gemetar yang merambat dari ujung kaki hingga ke bahu. Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan—keluhan jujur dari tubuh yang sejak pagi tak diisi apa-apa selain air putih. “Ya Allah…” gumamnya lirih. Ia teringat Cici. Gadis itu bilang akan mampir. Jam sudah menunjukkan lewat waktu tutup kafe—artinya, Cici bisa datang kapan saja. Zahra tersentak, seolah baru tersadar dari kabut panjang. Tidak. Dia tidak boleh terlihat seperti ini. Dengan sisa tenaga, Zahra menegakkan tubuh dan segera membilas tubuhnya sekali lagi. Kali ini cepat, tanpa menatap cermin terlalu lama. Ia tak ingin melihat bayangan perempuan yang tampak rapuh dan kalah itu. Air hangat mengalir, sedikit meredakan nyeri, meski tak sepenuhnya mengusir rasa perih yang masih tertinggal. Ia mengeringkan tubuhnya, lalu mengenakan pakaian rumah yang longgar—paling sopan yang bisa ia temukan. Rambutnya dikeringkan asal, wajahnya hanya dibasuh dan diberi pelembap tipis. Tidak ada riasan. Ia tidak sedang ingin cantik. Ia hanya ingin terlihat… normal. Zahra melangkah keluar kamar mandi dengan langkah hati-hati. Setiap gerakan terasa sedikit ngilu, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, seolah sedang bersiap menghadapi dunia. “Aku baik-baik saja,” bisiknya pada diri sendiri, meski suaranya nyaris tak meyakinkan. Ia melirik pintu depan kontrakannya, jantungnya berdetak lebih cepat. Jika Cici melihatnya terlalu pucat, terlalu lemah, pertanyaan pasti akan datang. Dan Zahra tidak siap menjawab apa pun. Ia menuju dapur kecil, menuangkan segelas air hangat, meminumnya perlahan. Setidaknya, ia harus tampak sebagai pemilik kafe yang kuat—bukan perempuan yang hancur oleh satu malam yang tak pernah ia minta. Karena apa pun yang terjadi… tidak boleh ada seorang pun yang tahu. *** Cici datang dengan kantong kertas di tangannya—aroma bubur ayam hangat langsung menyusup ke ruang kecil itu. “Aku beliin bubur sama teh anget ya, Mbak,” katanya ringan, seolah tidak melihat pucat di wajah Zahra. “Terima kasih, Ci.” Zahra tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja. Ia duduk di kursi makan kecil, menunggu laporan seperti rutinitas setiap kali ia absen ke kafe. Cici membuka map bening, mengeluarkan lembaran laporan keuangan harian. “Ini omzet hari ini. Lumayan rame. Anak-anak kantor banyak yang nongkrong. Semoga besok kembali seperti ini.” ujar gadis muda itu penuh harap. Zahra mengangguk, matanya menyapu angka-angka tanpa benar-benar fokus. Tangannya masih terasa dingin meski memegang gelas teh. Lalu Cici menutup map itu, ragu sejenak. Nada suaranya berubah, lebih pelan. “Oh ya, Mbak… tadi pria itu datang lagi.” Jantung Zahra mencelos. “Siapa?” tanyanya cepat—terlalu cepat untuk terdengar santai. Kepalanya langsung dipenuhi kemungkinan. Arvin? Tidak mungkin… dia sudah berjanji. Mantan suaminya? Dadanya mengeras, napasnya tertahan. "Bukan debt collector, kan?" tanya Zahra bercanda. Cici mengernyit, lalu menggeleng. “Bukan. Debt collector nggak ada yang setampan itu, Mbak!" balas Cici, ikut Kalau tampan, kemungkinan besar Arvin, karena Cici sangat mengagumi Arvin. Tapi dugaannya meleset. “Itu loh, yang waktu itu maksa ngasih bunga ke Mbak. Terus ngebayarin minum semua pengunjung,” lanjut Cici sambil tersenyum geli. “Yang rame banget itu.” Oh. Zahra menghembuskan napas yang bahkan tak ia sadari sudah ia tahan. Bibirnya melengkung—senyum kecil yang nyaris tak bersuara. “Oh, Gilang?” gumamnya. “Ah,ya! Dia orangnya, mbak.” Cici membenarkan. Kakak kelas Zahra waktu SMA. Anak juragan bengkel dekat panti asuhan. “Iya! Dia datang pake kemeja rapi, sok santai. Nanyain Mbak berkali-kali.” “Dia ngapain?” Zahra meraih sendok, mengaduk buburnya pelan. “Ngopi, duduk sebentar. Terus ninggalin bunga di meja kasir. Bilangnya, ‘Titip buat Zahra.’” Cici menirukan dengan nada bercanda. “Pas mau pulang, dia bilang bakal balik lagi.” Zahra tertawa kecil—kosong, tanpa benar-benar merasa lucu. “Masih aja begitu.” “Kenal deket, Mbak?” tanya Cici, penasaran. “Kenal lama,” jawab Zahra singkat. “Bukan apa-apa.” Ia menyuap buburnya, hangatnya turun ke perut, sedikit menenangkan. Dalam hati, ia bersyukur—bukan Arvin. Bukan sesuatu yang ingin ia kubur. Hanya Gilang, kenangan lama yang datang dengan cara canggung. “Kalau dia datang lagi?” tanya Cici. Zahra mengangkat bahu, berusaha ringan. “Layani seperti tamu biasa.” Ia meneguk teh, menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, hidup terasa kembali ke jalurnya—laporan keuangan, bubur hangat, obrolan sederhana. Aman. Normal. Setidaknya, untuk malam ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD