Mereka sepakat untuk menjauh.
Setidaknya itu yang diucapkan—dan diyakini—di pagi yang penuh rasa bersalah itu. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Tidak ada alasan untuk bertemu. Hubungan mereka dikembalikan ke garis aman: sahabat istri dan suami sahabat.
Namun hidup tidak pernah sesederhana kesepakatan.
Arvin kembali ke rumah dengan wajah seorang suami yang berusaha utuh. Ia mencium Miranda saat pulang, menanyakan hari istrinya, duduk di meja makan dengan sikap yang nyaris sempurna. Ia mencoba. Sungguh.
“Kamu kelihatan capek,” kata Miranda suatu malam, meletakkan ponselnya sebentar.
“Sidang lagi berat,” jawab Arvin cepat.
Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi bukan itu yang membuat pundaknya terasa runtuh.
Ketika Miranda menyentuh lengannya, Arvin refleks menegang. Sentuhan itu terasa… asing. Bukan karena ia tak mencintai istrinya—melainkan karena pikirannya berkhianat lebih dulu. Ada perbandingan yang tidak ia undang, tapi datang begitu saja. Cara Miranda menyentuhnya dengan cepat, efisien. Cara Zahra menyentuhnya dengan ragu, gemetar, seolah setiap sentuhan adalah pengkhianatan.
Arvin menutup mata sesaat, menahan napas.
“Mas?” Miranda menatapnya heran.
“Nggak apa-apa,” Arvin tersenyum tipis. “Cuma capek.”
Malam-malam berlalu dengan jarak yang tak kasatmata. Mereka tidur di ranjang yang sama, tapi Arvin sering terjaga lebih lama, menatap langit-langit, memarahi dirinya sendiri.
Br3ngsek. Aku bahkan belum minta maaf.
Ia menggenggam ponsel berkali-kali. Nama Zahra ada di sana—tak pernah dihapus. Tapi ia tidak menekan apa pun. Tidak satu pesan pun terkirim. Ia takut. Takut jika satu kata saja akan merobohkan semua batas yang sudah susah payah ia bangun.
***
Di sisi lain kota, Zahra berperang dengan dirinya sendiri.
Kafe kecil itu kembali ramai. Ia tersenyum pada pelanggan, mencatat pesanan, bergerak cepat seperti biasanya. Dari luar, tidak ada yang berubah. Tapi tubuhnya tahu kebenarannya.
Setiap langkah mengingatkannya pada perih yang belum sepenuhnya hilang. Sendirian di kamas kost, pikirannya terus berlari tanpa izin. Wajah Arvin muncul dalam jeda-jeda sunyi—tatapannya yang kacau pagi itu, suaranya yang gemetar saat meminta maaf.
“Bodoh,” gumam Zahra pada dirinya sendiri, menuangkan kopi yang tak akan ia minum.
Ia mencoba menyibukkan diri. Mengatur ulang menu. Menghitung stok. Membersihkan dapur sendiri meski sudah ada pegawai. Tapi tubuhnya seperti menyimpan ingatan yang tidak mau dihapus. Bukan hanya tentang sentuhan—melainkan tentang perhatian. Tentang bagaimana Arvin melihatnya, mendengarkannya, hadir tanpa tuntutan.
Ponselnya bergetar.
Zahra menegang.
Nama Arvin tidak muncul. Hanya grup pemasok. Ia menghela napas lega—lalu kecewa pada dirinya sendiri karena merasa lega.
“Masa kamu sebodoh ini?” bisiknya.
**
Suatu sore, tanpa direncanakan, mereka hampir bertemu.
Arvin berhenti di depan kafe, hanya untuk memarkir mobil sebentar. Ia tidak berniat masuk.
Namun, dia mengkhianati niatnya sendiri.
Dia tidak tahan lagi. Ini sudah hampir seminggu sejak kejadian malam itu, dan dia belum melihat Zahra. Berkali-kali dia berhenti di seberang jalan dan mengamati dari jauh, berharap bisa melihat wanita itu. Namun sosok Zahra tidak kelihatan sama sekali. Padahal, biasanya dia ikut melayani pengunjung, dan kali ini banyak pengunjung yang menempati meja-meja di depan kafe.
Arvin merasa khawatir. Dia harus mengetahui kabar Zahra. Akhirnya memutuskan turun, melangkah cepat menyeberangi jalan dan melangkah masuk tanpa ragu.
Kafe itu terasa berbeda sejak Arvin melangkah masuk.
Bukan karena suasananya—aroma kopi tetap sama, musik pelan masih mengalun, beberapa pelanggan duduk di sudut favorit mereka. Yang berbeda adalah ketiadaan Zahra.
Arvin berhenti tepat di dekat pintu, matanya refleks menyapu ruangan. Meja kasir ditempati anak buahnya. Tidak ada sosok dengan celemek sederhana, tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambut siapa pun yang masuk. Hanya seorang pelayan yang sibuk merapikan gelas sambil menjawab pertanyaan pengunjung.
Ada sesuatu yang mencubit dadanya.
Biasanya Zahra selalu ada. Bahkan ketika ia lelah, bahkan ketika kafe penuh, Zahra tetap berdiri di sana—mengatur, menyapa, membawa aura persahabatan di ruangan kafe yang nyaman itu. Ketidakhadirannya hari ini terasa ganjil. Terlalu sunyi.
Apakah ada sesuatu yang terjadi setelah malam itu?
Arvin melangkah mendekati seorang pelayan yang baru mengantar pesanan di meja dekat tempatnya berdiri.
“Selamat siang, Mas, mau pesan?” tanya staf itu sopan.
Arvin mengangguk singkat, lalu ragu sejenak sebelum bertanya, “Mbak Zahra nggak ada?”
Pegawai itu mendongak, ekspresinya berubah sedikit. “Oh… Mbak Zahra belum datang, Mas.”
Belum datang.
Kalimat sederhana itu membuat Arvin merasa tidak nyaman. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir sore. Tidak seperti Zahra yang biasanya.
“Dia biasanya datang jam berapa?” tanya Arvin, berusaha terdengar biasa.
“Biasanya pagi, Mas. Jam delapan paling telat. Tapi sampai sekarang mbak Zahra belum kelihatan.”
Arvin mengangguk, pura-pura tenang. “Kalo gitu, saya pesan kopi hitam, nggak pakai gula.”
Ia lalu memilih duduk di kursi dekat jendela, posisi yang sering ia pilih—tempat ia biasa berbincang dengan Zahra, tempat ia merasa nyaman.
Pelayan datang membawa pesanannya tak lama kemudian.
Arvin menyandarkan punggung di kursi, matanya terpaku pada kursi kosong di depannya. Tanpa kehadiran Zahra, kursi itu terasa dingin.
Pikirannya mulai berlari tanpa izin.
Apa dia sakit?
Atau… apa aku yang membuatnya menghindar?
Atau lebih buruk—apa ada sesuatu yang terjadi padanya?
Arvin meneguk kopinya, tapi rasa pahit itu tidak terasa di lidahnya. Ia tidak benar-benar mencicipi apa pun. Matanya terus kembali ke pintu, seolah berharap Zahra akan muncul tiba-tiba, dengan senyum cerahnya, dengan kalimat ringan.
Ponselnya ada di atas meja.
Ia menatap layar itu lama.
Ia sudah berjanji tidak akan menghubungi Zahra lagi. Berjanji akan memberi jarak. Tapi bagaimana jika Zahra tidak baik-baik saja? Bagaimana jika tubuhnya… jika malam itu benar-benar meninggalkan dampak yang lebih besar dari yang mereka sadari?
Tangannya bergerak tanpa sepenuhnya ia sadari, membuka daftar kontak dan menggulir layar ponsel ke bawah.
Nama Zahra muncul di layar.
Jarinya menggantung di atas tombol panggil.
“Mas?” suara pegawai memecah lamunannya. “Mau tambah kopinya?”
Arvin tersentak, tersenyum tipis. “Oh, ya. Makasih.”
Ia menyodorkan cangkir. Dia bertekad menunggu, berharap Zahra tiba-tiba muncul.
Arvin meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja, seolah ingin menjauh dari godaan itu. Tapi pikirannya tetap tidak tenang.
Tanpa terasa, sudah mulai gelap. Lalu ada panggilan dari Miranda, meminta dijemput karena mobilnya harus masuk bengkel.
Ia akhirnya menghabiskan kopi dengan berat hati.
Bangkit. Membayar pesanan dan melangkah ke luar kafe.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Arvin berhenti di trotoar. Angin lembab menerpa wajahnya, tapi tidak cukup untuk mendinginkan kegelisahan di dadanya.
Ia takut jika Zahra benar-benar tidak baik-baik saja.
Takut jika ia telah menyakiti perempuan itu lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Dan yang paling menakutkan—takut menyadari bahwa ketidakhadiran Zahra membuat dunianya terasa… pincang.
Arvin menghela napas panjang.
Za… kamu baik-baik saja, kan?
Arvin benar-benar tidak bisa menenangkan dirinya kali ini.
Ia kembali ke mobil, dengan ponsel masih digenggaman, tapi layar gelap. Ingatannya kembali menyeretnya ke malam itu—bukan sebagai kenangan manis, melainkan sebagai potongan-potongan kabur yang membuat perutnya melilit.
Ia ingat perasaan panas yang tidak wajar. Dorongan yang terlalu kuat. Seolah tubuhnya bukan sepenuhnya miliknya sendiri. Dalam benaknya saat itu, yang ia lihat hanyalah Miranda—istrinya. Ia mengira ia sedang melampiaskan kekecewaan yang selama ini terpendam pada perempuan yang sah ia miliki.
Dan itu yang membuat napasnya tercekat sekarang.
Bagaimana kalau aku terlalu kasar?
Bagaimana kalau Zahra terluka?
Arvin menutup mata, mengusap wajah dengan telapak tangan. Ia bukan pria yang sembarangan. Ia selalu berhati-hati, selalu mengendalikan diri. Tapi malam itu… ada sesuatu yang hilang. Ada celah yang tak bisa ia jelaskan. Alkohol, kelelahan, emosi—semuanya bercampur jadi satu, dan ia kehilangan kendali.
Zahra yang pagi itu tampak pucat, langkahnya yang tertatih, cara ia menahan diri agar terlihat baik-baik saja—semuanya kini terasa seperti peringatan yang terlambat ia sadari.
“Bodoh…” gumamnya pelan.
Ia seharusnya memastikan Zahra aman. Seharusnya mengantarnya ke dokter, setidaknya bertanya dengan sungguh-sungguh apakah ia baik-baik saja. Tapi yang ia lakukan justru kabur—bersembunyi di balik kesepakatan menjauh yang terasa seperti pembenaran.
Arvin mengusap wajahnya, belum menyalakan mesin. Dadanya naik turun, gelisah.
Ia tidak bisa terus begini.
Tangannya terangkat lagi, kali ini tanpa ragu. Ia menyalakan ponsel dan menekan nama Zahra. Nada panggil terdengar—sekali, dua kali—namun tidak diangkat.
Arvin menelan kekecewaan yang langsung menggelinding di tenggorokannya.
Angkat, Za… tolong.
Nada panggil berhenti. Masuk ke pesan suara.
Ia mematikan panggilan itu, lalu mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi.
Mas cuma mau tahu kamu baik-baik saja. Tolong kabari.
Pesan terkirim.
Arvin menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap langit yang menghitam dengan latar lampu-lampu gedung. Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya semakin sesak:
Rasa khawatir itu bukan lagi sekadar tanggung jawab atas kesalahan.
Itu sudah berubah menjadi rasa takut kehilangan—pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia sentuh, apalagi ia rindukan.
Arvin masih diam di sana hingga Miranda kembali menelepon dan berbicara dengan nada tidak sabar.
"Ya.. Ya.. aku kesana,"
***
Zahra duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar ke dinding.
Kamar kontrakannya sunyi, terlalu sunyi. Tirai tidak ia buka, cahaya hanya masuk lewat celah kecil di jendela. Tubuhnya masih terasa lemah, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena rasa pusing menderanya. Dia sudah minum obat, tapi rasa pusing tidak membaik. Akhirnya dia memutuskan
Ponselnya bergetar di sampingnya.
Zahra menoleh pelan, seolah takut melihat nama yang muncul di layar.
Mas Arvin.
Dadanya langsung mengencang.
Ia mengambil ponsel itu, menatap pesan yang belum dibuka. Jarum jam di dinding berdetak lebih keras dari biasanya. Jemarinya bergetar saat akhirnya ia membuka notifikasi itu.
Mas cuma mau pastikan kamu baik-baik saja. Tolong kabari.
Kalimatnya sederhana. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Tapi justru itu yang membuat d**a Zahra terasa sesak.
Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam.
Hatinya tergerak—terlalu mudah, terlalu cepat. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja, bahwa tubuhnya sakit dan pikirannya kacau. Bahwa ia juga takut, juga bingung, juga merasa bersalah.
Namun bayangan Miranda muncul begitu saja.
Senyum ceria sahabatnya. Tangan Miranda yang pernah menggenggam tangannya erat, berterima kasih karena Zahra telah menemaninya di masa sulit. Kebaikan-kebaikan kecil yang tidak pernah dihitung—dukungan, perhatian, dan keluarga Miranda yang telah membantunya bangkit setelah perceraian pahit.
Air mata Zahra menggenang.
“Aku ini apa sih…” bisiknya lirih.
Ia telah mengkhianati seseorang yang memperlakukannya seperti keluarga. Meski semua itu terjadi tanpa rencana, tanpa kesadaran penuh—bahkan tanpa sepengetahuan siapa pun—tetap saja, dosanya nyata.
Zahra menatap kembali layar ponselnya.
Ia mengetik balasan.
Aku baik-baik saja, Mas.
Jarinya berhenti di situ.
Ia menghapus kalimat itu.
Mengetik lagi.
Maaf. Aku lagi butuh waktu. Tolong jangan hubungi aku dulu. Kita sudah sepakat, Mas!
Pesan itu terasa dingin, tapi jujur. Setidaknya pada dirinya sendiri.
Zahra menekan kirim, lalu langsung mematikan layar ponselnya, seolah takut membaca balasan apa pun yang mungkin datang. Ia memeluk lututnya, menyandarkan dahi ke lutut, akhirnya membiarkan air mata itu jatuh.
Bukan karena ia membenci Arvin.
Justru karena perasaannya mulai bergerak ke arah yang salah—dan ia terlalu sadar akan harga yang harus dibayar jika ia membiarkannya tumbuh.
***
Di kediaman Arvin-Miranda.
Arvin sedang mandi.
Miranda duduk di tepi raniang sambil membalas email melalui ponselnya.
Dia meraih ponsel Arvin di meja, ingin mencari sebuah kontak, tapi layar menyala dan satu pesan muncul.
Maaf. Aku lagi butuh waktu. Tolong jangan hubungi aku dulu. Kita sudah sepakat, Mas!
Dahi Miranda mengernyit. Jarinya gemetar membuka percakapan itu dan menggulir ke atas. Ada pesan sebelumnya dari Arvin—singkat, namun berkesan lembut, penuh perhatian.
Mas cuma mau pastikan kamu baik-baik saja.
Miranda menelan ludah.
Selama tiga tahun menikah, ini pertama kalinya ia melihat pesan yang tidak ia pahami.
Dia melihat nama kontak yang berbalas pesan itu dengan mata menyipit.