Miranda berdiri di samping ranjang, ponsel Arvin terangkat setinggi dadanya. Nama kontak di layar membuat matanya menyipit. Staf Accounting. Kecurigaan yang tadinya samar kini melonjak cepat, berubah menjadi prasangka buruk, membuat degup jantungnya berubah cepat dan menguat. Suara pintu kamar mandi terbuka nyaris bersamaan dengan tarikan napasnya. Arvin melangkah keluar. Rambutnya basah, handuk melingkari pinggang. Ia mengusap wajah dengan ujung handuk lain, lalu berhenti ketika melihat ponselnya berada di tangan istrinya. “Ada apa?” tanyanya, nada suaranya datar, nyaris santai. Miranda menyodorkan ponsel itu tanpa senyum. “Ini siapa, Mas?” Arvin menunduk sekilas ke layar. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk mengenali percakapan itu—dan cukup cepat untuk menyusun wajah tenang. Ia m

