Pandangan Zahra terpaku pada tamu yang baru masuk itu. Seketika hatinya jadi tenang. Orang lain. Bukan Arvin. Pria lain yang ia kenal. Sosok tinggi tegap itu masuk dengan senyum ramah. “Assalamualaikum, Za.” Zahra menyambutnya dengan senyum yang sama seperti saat dia datang. “Waalaikumsalam. Mas Gilang?” Gilang tertawa kecil. “Sudah baikan? Kemarin mereka bilang kamu sakit,” “Oh, iya. Udah nggak apa-apa.” Zahra membalas sopan. “Mau pesan apa, Mas?” “Latte. Aku mau coba gimana racikanmu." mata gelap itu menatap Zahra penuh, lalu melanjutkan, "Kamu masih terlihat pucat. Kenapa sudah maksa masuk kerja?” Pertanyaan itu diucapkan dengan suara lembut, tapi perhatian yang terselip membuat Zahra berdebar. Ia menjawab sambil tersenyum tipis, “Aku baik-baik saja, Mas.” Gilang tertawa p

