bc

Dalam Dekapan Gairah, Om Garendra

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
billionaire
revenge
dark
forbidden
one-night stand
HE
age gap
friends to lovers
pregnant
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
secrets
love at the first sight
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Selama tiga tahun menikah, Nadila Veronica terus mengalami keguguran tanpa mengetahui bahwa suaminya diam-diam memberinya obat aborsi karena tidak menginginkan anak darinya. Setelah menceraikannya demi kembali kepada mantan kekasih, Nadila yang dipenuhi luka dan dendam memilih menikahi ayah mantan kekasih suaminya. Kini, roda kehidupan berputar. Mampukah Nadila membalas semua pengkhianatan yang pernah ia terima?Saksikan kisah penuh cinta, pengkhianatan, dan balas dendam hanya di sini!

chap-preview
Free preview
Terpesona
Nadila Veronica wanita cantik yang kini terbaring lemah di atas ranjang pasien rumah sakit,sudah satu minggu suaminya baru menjenguk setelah koma keguguran lima kali. Wajahnya pucat ,badannya kurus kering kurang gizi, matanya sembap karena terlalu banyak menangis. Ini adalah kehamilan kelima hasil program bayi tabung yang ia jalani. Seluruh biaya program itu berasal dari uang sisa warisan orang tuanya. Sayangnya, seperti kehamilan-kehamilan sebelumnya, ia kembali mengalami keguguran. Pintu kamar terbuka. Edwin Cortez, suaminya, melangkah masuk dengan wajah datar. Tidak ada sedikitpun rasa iba di matanya. Tatapannya justru dipenuhi kejengkelan. "Nadila, aku sudah muak melihat mu!" bentaknya tanpa basa-basi. "Kamu selalu keguguran. Kalau memang kamu mandul, akui saja! Jangan terus menghabiskan uang hasil kerja keras ku untuk hal yang tidak penting seperti ini." Ucapan itu membuat air mata Nadila kembali mengalir. "Edwin..." suaranya lirih dan bergetar. "Aku kelelahan membersihkan rumah setiap hari. Ibu dan adik-adik mu tidak pernah mau membantuku sedikit pun. Kamu sendiri kan yang bilang gak mau pakai pembantu,harus aku sendiri yang mengerjakannya." Edwin mendengus sinis. "Nadila, mama benar. Kamu semenjak hamil itu memang jadi malas. Makanya kandunganmu lemah seperti ini." Ia menatap istrinya dengan penuh penghinaan sebelum melanjutkan. "Dulu mama mengurus tiga anak sendirian setelah menjadi janda. Beliau tetap bekerja dan tidak pernah mengalami masalah apa pun. Kamu saja yang terlalu lebay." "Aku tidak lebay," bantah Nadila sambil menggeleng pelan. Edwin tertawa kecil penuh ejekan. "Kalau begitu, lebih baik kita bercerai saja. Aku ingin punya keturunan tiga tahun menikah denganmu hanya sia-sia. " Nadila membeku. "Kamu keluar dari rumahku. Jangan bawa sepeser pun harta." Mendengar itu, Nadila langsung menatap Edwin dengan tidak percaya. "Rumah itu milikku!" serunya. "Perusahaan yang selama ini kamu kelola juga berasal dari warisanku. Apa kamu lupa? Seharusnya kamu yang keluar dari rumahku." Senyum tipis penuh kemenangan terukir di bibir Edwin. "Kamu lupa." "Apa maksudmu?" "Beberapa bulan lalu kamu sudah menandatangani surat pengalihan harta." Nadila sontak membelalak. Ia teringat beberapa bulan sebelumnya, saat Edwin meminta tanda tangannya dengan alasan untuk persetujuan dokumen agar dia lebih dipercaya petinggi perusahaan dan semua klien. Tanpa rasa curiga sedikit pun, ia langsung menandatangani semua berkas yang diberikan suaminya. Ternyata… Semua itu adalah surat pengalihan harta. Kebodohannya yang terlalu mempercayai Edwin membuat seluruh aset warisannya kini berpindah tangan. Ia benar-benar telah dirampok oleh suaminya sendiri. Edwin mengeluarkan selembar dokumen lalu meletakkannya di atas ranjang. "Ini surat cerai." Tatapannya tetap dingin. "Mulai hari ini kita tidak memiliki hubungan apa pun." Tanpa menunggu jawaban, Edwin berbalik dan berjalan keluar dari ruang perawatan. Mata Nadila membelalak panik. "Edwin... tunggu! Jangan tinggalkan aku, dasar b******n!" Dengan tubuh yang masih lemah, ia mencabut infus dari tangannya. Selang infus terlepas dan jatuh ke lantai, tetapi Nadila tidak mempedulikannya. Ia turun dari ranjang lalu tertatih-tatih mengejar Edwin ke luar ruangan. "Edwin... kembali!" teriaknya sambil menangis. "Kembali, kamu b******n sialan!" Meski seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit, Nadila tetap memaksa mengejar pria yang baru saja menghancurkan hidupnya. Sebelum Nadila sempat melangkah lebih jauh, tubuhnya kehilangan tenaga. Pandangannya berkunang-kunang hingga akhirnya ia terjatuh di lorong rumah sakit. Beberapa perawat segera menghampirinya. "Ibu Nadila, Anda kenapa di lantai?" tanya seorang perawat dengan nada panik sambil membantu Nadila bangkit. Perawat itu memapah Nadila kembali ke ruang perawatan, mendudukkannya di atas ranjang, lalu memasang kembali jalur infus yang sebelumnya terlepas. Tak lama kemudian, dokter spesialis kandungan yang menangani Nadila memasuki ruangan sambil membawa berkas hasil pemeriksaannya. "Ibu Nadila," ucap dokter dengan nada serius, "saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah Ibu masih mengonsumsi obat yang mengandung zat pemicu kontraksi atau obat yang dapat menyebabkan keguguran?" Nadila langsung menggeleng kuat. "Maksud Dokter apa? Saya sangat menginginkan anak ini. Tidak mungkin saya sengaja menggugurkan kandungan saya." Dokter membuka hasil pemeriksaan laboratorium dan rekam medis Nadila. "Selama lima kali kehamilan, pola keguguran Ibu menunjukkan temuan yang hampir sama. Dari hasil pemeriksaan, kami menemukan adanya paparan obat yang dapat memicu keguguran. Selain itu, setiap kali kontrol, suami Ibu selalu menyampaikan kepada kami bahwa Ibu memiliki gangguan kejiwaan sehingga sering mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan." Nadila membelalak. "Gangguan... kejiwaan?" "Iya," jawab dokter pelan. "Kami mendapat informasi dari suami Ibu bahwa saat mengalami stres berat, Ibu diduga sering mengonsumsi obat tertentu. Namun setelah kami meninjau kembali hasil pemeriksaan, dugaan tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang kami temukan." Dokter menarik napas sebelum melanjutkan. "Jika paparan obat seperti ini terus terjadi berulang kali, rahim Ibu berisiko mengalami kerusakan. Dalam kondisi tertentu, kerusakan tersebut bisa menjadi berat sehingga tindakan pengangkatan rahim mungkin saja diperlukan apabila sudah tidak dapat dipertahankan." Air mata Nadila kembali menetes. "Jadi... selama ini aku bukan lemah kandungan?" Dokter menggeleng pelan. "Hasil pemeriksaan tidak mengarah pada kelemahan kandungan sebagai penyebab utama keguguran berulang. Yang justru menjadi perhatian kami adalah adanya paparan zat yang dapat mengganggu kehamilan." Nadila menggenggam erat selimut di atas tubuhnya. "Tapi, Dok... selama ini aku selalu minum vitamin kehamilan dan asam folat yang diresepkan dokter. Aku tidak pernah minum obat lain...." Ia terdiam beberapa saat. Wajahnya perlahan memucat ketika sebuah kemungkinan mengerikan terlintas di benaknya. "Jangan-jangan..." bisiknya lirih. Matanya membesar dipenuhi keterkejutan. "Jangan-jangan vitaminku ditukar... Semua ini... sudah direncanakan oleh Edwin, suamiku?” * * Di kamar perawatan VIP yang berada tepat di sebelah ruangan Nadila, suasananya jauh berbeda. Seorang pria berusia empat puluh tiga tahun berdiri tegap di samping ranjang pasien. Wajahnya tampan, berwibawa, tetapi kini dipenuhi kekecewaan. Pria itu adalah Garendra Abraham, CEO Abraham Group. Tatapannya tertuju pada putrinya, Pevita, yang masih bersandar lemah di atas ranjang rumah sakit setelah sempat pingsan. Beberapa menit yang lalu, dokter baru saja memastikan bahwa Pevita positif mengandung. Garendra menghembuskan napas panjang. "Pevita." Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. "Iya, Pah." "Papa benar-benar kecewa sama kamu." Pevita terdiam. Garendra menatap putrinya dengan sorot mata tajam. "Kamu hamil sama Edwin? Laki-laki miskin itu?" Suasana ruangan mendadak hening. "Papa sudah berkali-kali mengingatkan kamu supaya menjauhi dia." Nada suara Garendra semakin berat. "Dia tidak punya masa depan. Papa juga tidak pernah melihat kesungguhan dalam dirinya." "Pah..." "Dimana otak kamu?" potong Garendra tegas. "Papa sudah membesarkan kamu dengan segala yang terbaik. Apa kurangnya? Kenapa justru memilih laki-laki seperti dia?" Pevita menggigit bibir bawahnya. "Pah, stop." Garendra menatapnya tanpa berkedip. "Edwin sekarang sudah berubah," lanjut Pevita membela kekasihnya. "Dia punya masa depan yang cerah. Sekarang dia sudah sukses dan memiliki perusahaan sendiri." Mendengar itu, Garendra hanya menggeleng pelan. "Perusahaan?" Tatapannya berubah semakin dingin. "Papa tidak peduli sebesar apa perusahaannya." Baginya, harta bukanlah ukuran seseorang. Yang lebih penting adalah karakter. Dan sejak awal, Garendra tidak pernah menyukai Edwin. Saat suasana masih dipenuhi ketegangan, pintu kamar perlahan terbuka. Edwin melangkah masuk dengan wajah penuh penyesalan. Begitu melihat Garendra, ia langsung menundukkan kepala. "Om..." Garendra menoleh. Edwin menghela nafas panjang. "Maafkan saya." "Saya khilaf." Garendra memandang pria itu beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian, Garendra akhirnya membuka suara. "Sudahlah." Nada bicaranya terdengar lebih tenang. "Yang sudah terjadi tidak bisa diulang." Ia bergantian menatap Edwin dan Pevita. "Karena Pevita sedang mengandung anakmu, kamu harus bertanggung jawab." Edwin segera mengangguk mantap. "Iya, Om." "Pokoknya kalian harus segera menikah." Edwin menjawab tanpa ragu. "Bulan depan saya akan menikahi putri Om." Garendra mengangguk pelan. "Papa pegang ucapanmu." "Saya tidak akan mengecewakan Om." Tak lama kemudian, dokter masuk ke dalam ruangan. "Pak Garendra, kondisi Nona Pevita sudah stabil. Beliau sudah diperbolehkan pulang." "Baik, Dok." Garendra membantu putrinya turun dari ranjang. Edwin segera menghampiri dan memegang tangan Pevita dengan hati-hati. Ketiganya kemudian berjalan keluar dari ruang perawatan. Saat melewati lorong rumah sakit, langkah Garendra tiba-tiba melambat. Tatapannya tanpa sengaja tertuju ke dalam sebuah kamar perawatan yang pintunya masih terbuka. Di sana, seorang wanita muda tampak duduk sendirian di atas ranjang pasien sedang berbincang dengan Dokter. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus karena kurang gizi. Matanya merah dan sembab akibat terlalu banyak menangis. Wanita itu adalah Nadila Veronica. Garendra memandangnya beberapa saat. Garendra menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya tanpa sengaja tertuju ke arah seorang wanita yang sedang duduk lemah di atas ranjang pasien. Entah mengapa, wajah itu terasa begitu familiar. Sepertinya aku pernah melihatnya... Keningnya berkerut pelan, berusaha mengingat. Bukankah dia salah satu primadona Kampus Cakrawala Buana? Perlahan ingatannya kembali. Sebagai donatur utama kampus tersebut, Garendra beberapa kali menghadiri acara akademik dan pemberian beasiswa. Di sanalah ia pernah beberapa kali melihat Nadila. Meski tidak pernah berbincang secara langsung, sosok wanita itu cukup mencuri perhatiannya. Nadila dikenal sebagai mahasiswi yang cantik, cerdas, dan berprestasi. Senyumnya yang cerah selalu menjadi daya tarik tersendiri. Namun, wanita yang kini berada di hadapannya sangat berbeda. Dulu dia selalu tersenyum ceria... Kenapa sekarang terlihat begitu rapuh? Tatapan Garendra dipenuhi rasa iba. Wajah Nadila memang tampak pucat, tetapi kecantikannya tetap tidak memudar. Cantik sekali… Bahkan tanpa riasan sedikitpun, wajahnya masih terlihat anggun. Pandangan Garendra kemudian beralih pada infus yang masih terpasang di tangan Nadila. Ia juga memperhatikan mata wanita itu yang sembab, seolah baru saja menangis cukup lama. Kenapa dia dirawat dirumah sakit apa sakit? Di mana keluarganya kenapa sendirian? Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya. Namun, sebelum sempat memikirkan lebih jauh, suara Pevita membuyarkan lamunannya. "Pah, ayo." Garendra mengalihkan pandangannya dari kamar perawatan Nadila. "Iya." Ia kembali melangkah bersama Pevita dan Edwin meninggalkan lorong rumah sakit. Sementara itu, Nadila sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang yang pernah melihatnya bersinar sebagai mahasiswi berprestasi kini memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya dan rasa iba.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
758.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.9K
bc

Not just, the Beta

read
351.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook