Obat Perangsang

1124 Words
Nadila masih mematung di atas ranjang. Tubuhnya gemetar hebat, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia bendung. Dokter menatapnya dengan wajah prihatin. "Ibu Nadila, apakah selama ini obat yang Ibu konsumsi selalu Ibu ambil sendiri?" Nadila menggeleng pelan. "Tidak, Dok. Selama ini Edwin yang selalu menyiapkan obatku. Dia bilang takut aku lupa minum vitamin, jadi setiap pagi dan malam dia sendiri yang memberikannya." Dokter dan perawat saling berpandangan. "Apakah kemasan obatnya pernah Ibu periksa?" Nadila kembali menggeleng. "Aku percaya penuh padanya. Aku tidak pernah curiga sedikit pun." Dokter menutup map rekam medis di tangannya. "Kalau begitu, kami menyarankan agar sisa obat yang masih ada di rumah dibawa ke laboratorium untuk diperiksa kandungannya. Dengan begitu kita bisa memastikan apakah obat tersebut memang sesuai dengan resep atau tidak." Nadila mengepalkan kedua tangannya. Selama tiga tahun pernikahan... Edwin selalu bersikap manis setiap kali ia menjalani program bayi tabung. Pria itu pula yang mengingatkannya untuk minum obat tepat waktu. Bahkan, Edwin sering berkata, "Biar aku saja yang siapkan vitaminnya. Kamu tinggal minum." Kenangan itu kini terasa begitu mengerikan. "Jadi..." suara Nadila bergetar. "Selama ini... yang membuat anak-anakku meninggal..." Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dokter tidak langsung menjawab. "Ibu, kami belum bisa menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kami menemukan adanya paparan obat yang tidak seharusnya dikonsumsi selama kehamilan. Karena itu, bila Ibu merasa ada kejanggalan, sebaiknya simpan semua bukti dan laporkan kepada pihak yang berwenang agar dapat dilakukan penyelidikan." Air mata Nadila kembali jatuh. Lima kali… Lima kali ia kehilangan calon buah hatinya. Selama ini ia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengira rahimnya lemah. Ia mengira tubuhnya tidak mampu menjadi seorang ibu. Bahkan ia rela dihina sebagai wanita mandul. Namun kini, semuanya berubah. Jika benar obatnya telah ditukar… Berarti kelima anaknya bukan meninggal karena takdir semata. Melainkan karena ada seseorang yang sengaja merenggut nyawa mereka bahkan sebelum sempat melihat dunia. Nadila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah memenuhi ruangan rumah sakit. Hatinya hancur membayangkan kemungkinan bahwa orang yang paling ia cintai selama ini justru menjadi penyebab dari seluruh penderitaan yang ia alami. Tiga hari kemudian, kondisi Nadila Veronica akhirnya berangsur membaik. Dokter mengizinkannya pulang setelah memastikan kondisinya stabil. Karena tidak ada seorang pun yang menjemput, Nadila memutuskan pulang menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi perkataan dokter. Hatinya terasa sesak setiap kali mengingat kemungkinan bahwa lima kali kegugurannya bukanlah sebuah kebetulan. Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan rumah yang dulu ia anggap sebagai rumah tangganya. Nadila turun perlahan. Baru saja ia hendak melangkah masuk, sebuah mobil mewah berhenti di halaman. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tiga tahun turun lebih dahulu. Penampilannya rapi dan berwibawa. Di sampingnya, seorang wanita muda berparas cantik ikut turun sambil menggandeng lengannya. Nadila segera bersembunyi di balik batang pohon di dekat pagar. Pintu rumah terbuka. Edwin keluar bersama ibunya, Ajeng, menyambut tamu tersebut dengan wajah penuh senyum. "Om, apa kabar?" sapa Edwin ramah sambil menjabat tangan pria itu. "Baik," jawab Garendra Abraham singkat. Ajeng tersenyum begitu manis. "Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan Pak Garendra Abraham." Nadila menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Senyum itu… Senyum yang sudah sangat lama tidak ia lihat. Senyum yang dulu menyambutnya dengan hangat ketika pertama kali menjadi menantu keluarga itu. Namun setelah pernikahan berlangsung, Ajeng menunjukkan wajah aslinya. Wanita itu berubah menjadi sosok yang dingin dan selalu mempersulit hidupnya. Lamunan Nadila buyar ketika Edwin meraih tangan wanita cantik yang datang bersama Garendra. "Sayang, ayo masuk." Edwin menggandeng wanita itu dengan penuh kemesraan. Garendra mengamati rumah mewah di hadapannya, lalu mengangguk kagum. "Rumahmu sangat bagus. Dulu kamu masih miskin, Edwin. Aku benar-benar tidak menyangka, baru empat tahun berlalu kamu sudah menjadi sekaya ini." Edwin tersenyum bangga. "Iya, Om. Sekarang saya sudah membuktikan bahwa saya memang layak bersanding dengan Pevita." Mendengar nama itu, d**a Nadila terasa seperti diremas. Jadi… Wanita itulah alasannya. Wanita yang membuat Edwin tega menghancurkan rumah tangga mereka. Nadila mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menusuk telapak. "Jadi karena wanita itu..." gumamnya lirih dengan mata memerah. "Kamu merebut seluruh hartaku, Edwin." Tatapannya berubah tajam, dipenuhi amarah dan kebencian. "Lihat saja… Aku akan membalas semua yang telah kamu lakukan kepadaku.” Nadila mengepalkan ponselnya erat. Tatapannya masih tertuju ke arah rumah yang kini telah direbut darinya. Senyum tipis penuh kebencian perlahan terukir di bibirnya. "Aku akan mendekati Garendra Abraham," gumamnya pelan. "Lalu menikah dengannya. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah bagiku menghancurkan mereka." Senyumnya semakin sinis. Tanpa membuang waktu, Nadila membuka ponselnya dan mulai mencari informasi tentang Garendra Abraham. Pria itu adalah seorang pengusaha sekaligus CEO Abraham Group. Berstatus duda berusia empat puluh tiga tahun, Garendra kehilangan istrinya saat proses melahirkan. Sejak saat itu, ia memilih tidak menikah lagi dan membesarkan putri semata wayangnya yang kini telah berusia dua puluh tiga tahun. Setelah membaca informasi tersebut, Nadila langsung menghubungi sahabatnya. "Hallo, Mel. Aku mau minta tolong sama kamu." "Minta tolong apa?" tanya Mel. "Eh, beneran kamu cerai sama suami kamu? Gue juga dengar kabar kalau Edwin sekarang lagi dekat sama anaknya Pak Garendra Abraham, bos gue di kantor." Nadila menarik napas panjang. "Iya, gue diceraikan. Bukan cuma itu, seluruh harta gue juga dirampok sama dia." "Apa?" "Yang lebih gilanya lagi, selama ini dia diduga ngasih gue obat yang bisa bikin kandungan gue gagal bertahan. Gue keguguran sampai lima kali. Bahkan sekarang gue curiga dulu selama dua tahun gue nggak hamil karena pil KB gue ditukar. Dokter bilang kalau ini terus terjadi, rahim gue bisa rusak." Mel terdiam beberapa detik. "Jahat banget..." ucapnya tidak percaya. "Gue benar-benar nggak nyangka Edwin bisa sekejam itu. Gue kira dia tulus sama lo. Apalagi dulu dia cuma staf biasa. Setelah nikah sama lo, dia bisa jadi direktur utama. Dasar nggak tahu diri, malah nendang pemilik rumah yang sebenarnya." Nadila mengusap air matanya, tetapi sorot matanya tetap dipenuhi tekad. "Makanya gue mau balas dendam. Bantuin gue, ya." Mel langsung menjawab tanpa ragu. "Dengan senang hati. Gue pasti bakal lakuin apa pun yang gue bisa buat bantu lo.” Nadila terdiam sejenak sebelum akhirnya mengucapkan rencananya dengan suara pelan, tetapi penuh keyakinan. "Gue pengen lo bikin Garendra Abraham tidur satu kamar hotel sama gue," ujar Nadila. Mel langsung membelalak. "Hah? Maksud lo apa?" Nadila menatap sahabatnya lekat. "Lo kan sekretarisnya. Harusnya lebih mudah buat ngatur supaya dia ketemu sama gue." Mel mengernyit. "Lo mau pakai obat perangsang?" Nadila tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tajam, seolah telah mempertimbangkan segala risikonya. "Yang penting gue harus bisa mendekatinya," ucapnya pelan. Mel menghela napas panjang. "Kalau cuma ngatur supaya Pak Garendra datang ke hotel atau ketemu sama lo, mungkin masih bisa gue usahain. Tapi kalau soal yang lain..." Ia menggantungkan kalimatnya sejenak. "Lo yakin mau ngelakuin semua ini?" Nadila mengangguk pelan tanpa sedikit pun keraguan. "Aku sudah kehilangan segalanya. Sekarang, aku hanya ingin membalas apa yang sudah mereka lakukan kepadaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD