Melody terdiam beberapa saat, seolah sedang memikirkan rencana yang baru saja disampaikan Nadila. Tak lama kemudian, ia mengangguk pelan.
"Oke, gue bantu," ucap Melody. "Nanti malam Pak Garendra ada jadwal ketemu klien di sebuah bar. Setelah urusan bisnisnya selesai, lo tinggal datang ke sana dan langsung ajak dia ngamar."
Nadila menatap sahabatnya dengan penuh harap.
"Lo emang bisa diandalkan, Melody Fransiska."
Melody tersenyum tipis.
"Kalau lo benar-benar berhasil jadi Nyonya Abraham, otomatis nasib gue juga bakal ikut berubah. Siapa tahu gaji gue ikutan naik."
Nadila ikut tersenyum, meski sorot matanya masih dipenuhi tekad.
"Tenang saja, itu bisa diatur."
Ia kemudian menggenggam tangan Melody dengan erat.
"Asal lo mau terus bantu gue menemukan bukti kejahatan suami dan mertua gue. Gue mau mereka mempertanggungjawabkan semua yang sudah mereka lakukan dan berakhir di penjara."
Melody mengangguk mantap.
"Tenang, Nad. Gue bakal bantu semampu gue. Kali ini mereka nggak boleh lolos."
Nadila terdiam sesaat sebelum kembali membuka suara.
"Mel, gue minjem uang lo dulu sepuluh juta. Nanti kalau gue berhasil nikahin om-om itu, gue bakal balikin semuanya."
Melody terkekeh pelan.
"Kayak sama siapa aja. Udah gue transfer."
Mendengar jawaban itu, Nadila mengembuskan napas lega.
"Thanks."
"Sama-sama. Semoga rencana lo berjalan lancar."
Setelah percakapan itu berakhir, sambungan telepon pun terputus.
Nadila segera membuka aplikasi pemesanan transportasi di ponselnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi datang menjemputnya.
Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
"Ke salon, Pak," ucap Nadila.
"Baik, Bu," jawab sopir itu ramah sambil menjalankan mobil.
Sepanjang perjalanan, Nadila menatap keluar jendela dengan sorot mata penuh tekad.
Malam ini aku harus berdandan secantik mungkin.
Aku harus membuat Garendra Abraham terpikat.
Senyum licik perlahan terukir di bibirnya.
Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan sebuah salon kecantikan.
"Sudah sampai, Bu."
"Terima kasih, Pak."
Nadila turun dari mobil, merapikan pakaiannya sejenak, lalu melangkah masuk ke dalam salon untuk mempersiapkan penampilannya.
Sesampainya di dalam salon, Nadila langsung disambut oleh salah seorang pegawai.
"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa kami bantu?"
Nadila tersenyum tipis.
"Saya ingin makeover total. Rambut, makeup, semuanya."
"Baik, Kak. Ada acara khusus malam ini?"
Nadila menatap bayangannya di cermin.
"Bisa dibilang begitu."
Beberapa pegawai salon segera mulai bekerja. Rambut panjang Nadila ditata menjadi gelombang lembut yang jatuh anggun di bahunya. Riasan wajah dibuat lebih tegas, dengan sentuhan yang memperlihatkan kecantikan alami sekaligus memberi kesan elegan dan berkelas.
Setelah selesai dirias, seorang pegawai membawa beberapa pilihan gaun.
"Kalau untuk acara malam, kami sarankan yang ini."
Gaun berwarna hitam itu membentuk siluet tubuh dengan anggun. Potongannya modern, memperlihatkan bahu dan lengan secara elegan tanpa terkesan berlebihan.
Nadila memandang dirinya di depan cermin.
Wanita yang tadi datang dengan wajah pucat kini telah berubah menjadi sosok yang sexy,anggun, percaya diri, dan memikat.
"Bagaimana, Kak?" tanya pegawai salon.
Nadila tersenyum tipis.
"Bagus."
Ia mengusap lembut ujung gaunnya sambil menatap pantulan dirinya sendiri.
Malam ini... aku harus membuat Garendra Abraham tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku.
Sorot matanya berubah tajam, dipenuhi tekad.
Ini bukan sekadar tentang penampilan. Ini adalah langkah pertama dalam rencana balas dendam ku.
Setelah membayar seluruh biaya perawatan, Nadila mengambil tas kecilnya, lalu melangkah keluar dari salon.
Ia menarik nafas panjang. Tujuan berikutnya sudah menantinya.
Setelah keluar dari salon, Nadila berhenti sejenak di tepi jalan. Penampilannya kini jauh berbeda. Dengan riasan yang anggun dan gaun malam yang elegan, ia tampak lebih percaya diri.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi pemesanan transportasi.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depannya.
Nadila membuka pintu dan duduk di kursi belakang.
"Ke Club Night Velvet, Pak," ucapnya tenang.
"Baik, Bu," jawab sopir itu sambil menjalankan mobil.
Sepanjang perjalanan, Nadila memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Malam ini adalah langkah pertamaku.
Aku harus mendekati Garendra Abraham dan membuatnya mengenalku.
Edwin... Ajeng... kalian sudah menghancurkan hidupku. Sekarang giliran aku yang akan menghancurkan kehidupan kalian.
Senyum tipis penuh tekad terukir di bibirnya.
Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan sebuah klub malam yang dipenuhi deretan mobil mewah.
"Sudah sampai, Bu," kata sopir.
"Terima kasih, Pak."
Nadila membayar ongkos perjalanan, lalu turun dari taksi. Ia merapikan gaunnya, mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri, kemudian melangkah memasuki klub malam tempat Garendra Abraham dijadwalkan bertemu dengan kliennya.
Lampu-lampu redup memenuhi suasana klub malam. Alunan musik terdengar mengiringi para tamu yang memenuhi ruangan.
Nadila melangkah masuk dengan tenang. Penampilannya yang anggun langsung menarik beberapa pasang mata. Ia berjalan menuju area bar, lalu duduk di salah satu kursi di depan bartender.
Tak lama kemudian, seorang wanita menghampirinya.
"Akhirnya lo datang," sapa Melody sambil tersenyum tipis.
Nadila menoleh.
"Udah dikasih obat perangsangnya?"
Melody mengangguk santai.
"Aman, beres pokoknya."
Senyum puas terukir di bibir Nadila.
"Bagus. Malam ini Garendra Abraham akan tunduk di bawah kungkungan gue. "
Melody terkekeh pelan.
"Semoga sukses. Gue dengar punya dia g*de dan panjang pasti sangat memu*skan bikin merem melek."
Nadila mengangkat sebelah alisnya.
"Yakin,Lo? Jangan-jangan pas dibuka cuma molen mini."
Melody menggeleng.
"Jangan diragukan lagi. Itu informasi yang gue dengar dari beberapa perempuan yang pernah tidur sama dia. Tapi anehnya, setiap kali gue boking in Lc, dia selalu kehilangan minat dan nggak pernah benar-benar cocok."
Nadila menyunggingkan senyum penuh percaya diri.
"Kalau begitu, gue bakal jadi perempuan pertama yang bikin dia ketagihan rasa stroberi gue."
Melody tersenyum lebar.
"Semoga rencana lo berhasil, Nad.”
Pintu lounge VIP perlahan terbuka. Garendra melangkah keluar dengan langkah sedikit sempoyongan. Wajahnya tampak memerah, sementara rasa panas yang menjalari tubuhnya membuat ia refleks mengangkat tangan untuk membuka beberapa kancing kemejanya.
Di saat yang bersamaan, Melody tanpa sengaja mendorong Nadila hingga tubuh gadis itu menabrak Garendra.
Duk!
"Maaf, Om. Aku tidak sengaja," ucap Nadila pelan sambil menatap pria di hadapannya. "Om tidak apa-apa?"
Garendra membalas tatapan itu tanpa berkedip. Pandangannya bergerak perlahan dari ujung kepala hingga kaki Nadila, seolah mengagumi setiap detail penampilannya. Tatapan matanya dipenuhi hasrat yang sulit disembunyikan.
"Kamu sangat seksi sekali," gumamnya dengan suara berat. "Kenapa rasanya kamu begitu menggoda imanku?"
Dikuasai gejolak hasrat, Garendra melangkah mendekat hingga tubuh Nadila terpojok di dinding. Tanpa banyak kata, ia mengecup bibir wanita itu.
"Mmmhh… Ahh…"
Di saat yang sama, Melody menghampiri mereka sambil menyerahkan sebuah kartu akses.
"Pak, ini kartu akses kamar hotelnya."
Garendra menerima kartu itu tanpa mengalihkan pandangan dari Nadila.
"Ayo, Sayang. Temani aku malam ini," bisiknya lirih di dekat telinga Nadila.
"Dengan senang hati," jawab Nadila sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Garendra.
Garendra kemudian mengangkat tubuh Nadila ke dalam gendongannya, lalu melangkah menuju lift yang akan membawa mereka ke kamar hotel.
Sesampainya di depan pintu lift, Garendra kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Nadila.
"Aku sudah tidak t*han ingin menikmati surga dunia besama mu, Sayang," bisiknya dengan suara rendah yang terdengar serak, menahan gejolak yang memenuhi dirinya.