Kedatangan seorang pria dengan tatapan mata tajam setajam mata elang, rahang kokoh tubuh nyaris sempurna. Wajah tampan itu seakan memikat dan menjerat Carolin yang sudah cukup lama menutup mata pada lawan jenis.
Ia terpaku cukup lama, memandangi seorang pria tampan yang datang bak seorang dewa, tapi beberapa saat kemudian ia akhirnya tersadar saat mendengar suara rintihan dari pria gempal yang kini tampak memohon ampunan.
"Ampun! Jangan pukuli saya!" ujar pria itu dengan suara yang terdengar sangat kesakitan.
Carolin tidak bisa berbuat banyak, dan ia bahkan terlihat mematung dan memandangi suatu hal yang ia lihat pada saat itu.
Bibirnya terkatup, dan ia tak bisa berkata-kata. Perasaan bingung serta terkejut membuatnya malah mematung pada saat itu juga.
"Siapa kau berani-beraninya kau datang ke sini?!" tekan pria tampan itu, tapi tangan dan kakinya tampaknya tidak bisa berhenti memberikan pelajaran.
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya suara langkah kaki terdengar ramai masuk kedalam kamar tersebut. Carolin tampak tak bergeming dan masih berdiri di atas ranjang, dan ia bahkan menginjak bantal yang ada di sana.
"Tuan! Hentikan, anda bisa saja melenyapkan nyawa orang kalau begini!" pekik salah seorang dengan ekspresi wajah panik pada saat itu.
Sesaat kemudian, akhirnya pria itu menghentikan segala hal yang ia lakukan. Pria gembal yang ia beri pelajaran tampak bersimbah cairan merah.
Setelah pria gempal itu dibawa pergi, akhirnya mereka semua mulai menatap ke arah seorang wanita yang berdiri di ranjang. Pria paling tampan yang ada di sana tampak menatap ke arah Carolin dengan tatapan dingin dan datar.
Carolin tampak menelan ludahnya kasar pada saat itu juga.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?!" teriak pria itu sembari menatap tajam ke arah Carolin. Carolin yang mendengar teriakan itu tentu terkejut.
"Ka–kamarmu? Apa aku salah kamar?" gumam Carolin dengan suara bergetar karena begitu takut dan bingung.
Pria tampan yang menolongnya hanya memandangnya dengan tatapan datar, dan ia bahkan akhirnya memperlihatkan rasa kesal yang sudah membalutnya dalam diam.
"Kurang ngajar sekali, kau! Kau sudah menginjak-injak ranjang yang seharusnya aku pakai tidur untuk malam ini, sekarang katakan padaku, siapa kau?!" tekan pria itu dengan suara makin meninggi.
Carolin berusaha turun dari ranjang, meski sebenarnya langkah kakinya mulai gemetaran karena merasa takut dan khawatir ia salah kamar.
"Ma–maaf, Tuan. Sa–saya sepertinya salah masuk kamar." gumam Carolin dengan sangat gugup. Ia berusaha mendekat ke arah pria itu, bukan untuk benar-benar mendekati pria itu, tapi ia sebenarnya ingin lari dari sana.
Pria tampan yang ada di sana tampak tidak bereaksi, tapi sesaat kemudian ia mencekal lengan Carolin yang hendak lari dari sana.
"Kau sudah masuk, dan tidak akan begitu mudahnya keluar! Kalian pergi dan urus pria asing yang masuk tanpa izin itu. Ini kamar yang tepat, 'kan?" tanya pria itu pada bawahannya.
"Benar, Tuan. Dan wanita itu adalah wanita yang harus menikah dengan anda, namanya – Carolin."
Degh! Batin Carolin. Awalnya ia merasa tidak terima dan menyesali keputusannya menyetujui pernikahan itu setelah ia melihat pria buruk rupa yang tiba-tiba saja datang ke kamar mewah tersebut.
Tapi untuk sekarang, ia malah mulai merasa beruntung. Meskipun ada satu hal yang membuatnya tertegun. Selain itu–ia mulai bertanya-tanya, mengapa namanya kini tetap nama asli, dan kenapa tidak memakai nama samaran.
Ada rasa senang saat suaminya mungkin akan mengenalinya sebagai dirinya, tapi rasa takut itu juga datang setelah ia kambali mengingat apa yang ia lakukan.
Ia takut suatu saat kebohongan ini terbongkar, dan mungkin suaminya akan mengetahui semuanya dengan cepat atau lambat, lantas – apa ia akan baik-baik saja? Apa ia bisa menaruh rasa cinta pada pria yang ternyata mencuri hatinya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia menutup pintu hati?
"Ah, ha–halo. Sa–salam kenal." gumam Carolin dengan canggung. Saat pintu terdengar tertutup, pada saat itu keheningan tampak menyelimuti mereka.
Carolin menelan ludah saat melihat ekspresi wajah tampan itu makin datar. Ia tentu saja bingung harus berbuat apa pada saat itu.
Sesaat kemudian, tangan kekar pria itu menarik tubuh Carolin untuk lebih dekat dengan dirinya.
"Katakan padaku, apa yang sedang kau rencanakan?! Apa kau mengincar hartaku? Atau uang?!" tekan pria itu lagi dengan sangat tegas dan tatapan penuh kebencian.
Carolin hanya mampu menelan ludahnya dengan sangat kasar, ia bahkan tidak bisa berkata-kata, karena ia bukanlah wanita yang sebenarnya harus pria itu nikahi.
"Atau kau memang ingin uang? Dasar wanita jal*ng!" Makian itu terdengar menyakitkan bagi Carolin, ia menarik lengannya yang dicengkeram, lantas ia melayangkan tangannya ke pipi pria tampan itu.
Suara hantaman mulai terdengar nyaring dan renyah suaranya. Dengan tatapan menyimpan amarah yang besar, Carolin menatap pria di hadapannya dengan penuh murka!
"Tentu saja karena aku dipaksa, juga karena uang! Kalau aku tidak melakukannya, bukankah mereka tak akan memberiku sepeserpun?! Kau kira hidup ini tidak butuh uang?!" tekan Carolin dengan penuh emosi.
Pria di hadapannya tentu saja sudah sangat geram mendengar ucapannya, tapi – apa Carolin perduli? Tentu saja, tidak! Ia bicara terus terang, meski tidak sepenuhnya benar. Dan alasannya mau menerima penawaran pernikahan itu tentu karena uang.
"Kami takut aku akan mengambil uang kamu? Tidak perlu khawatir, aku tidak akan memintanya, apa lagi mencurinya. Aku sudah memiliki uang lebih dari cukup, aku hanya ingin menjalankan suatu kewajiban yang sudah aku setujui. Tapi tampaknya kamu sangat tidak menyukai ikatan ini, benar begitu, 'kan?" tanya Carolin.
Sayangnya, pernyataan dan pertanyaan yang Carolin katakan tidak dijawab sama sekali, dan Carolin akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang. "Kalau begitu, aku ingin membuat kesepakatan denganmu, Tuan. Karena kamu takut aku akan mengambil sesuatu hal yang kamu miliki, salah satunya harta, maka aku berjanji tidak akan mengambilnya dengan satu syarat! Anda tidak bisa meminta kewajibanku sebagai istri! Aku tidak akan melayani kebutuhan biologis anda!" tekan Carolin.
Kali ini, mata pria itu terbelalak lebar. Bagaimana ia tidak bisa menikmati tubuh gadis itu, sedangkan mereka kini sudah menikah?
"Jangan macam-macam denganku! Itu adalah salah satu hal wajib yang kamu harus puaskan!" tekannya sembari menarik tengkuk leher Carolin.
Bibir mereka bertemu, sensasi hangat dan lembut dapat Carolin rasakan, beberapa saat ia mulai tak berdaya dan menikmati suatu hal yang seharusnya tidak seharunya mereka lakukan.
Carolin tersadar, dan ia akhirnya berusaha mengakhiri!