3, Dipaksa, terpaksa atau menikmatinya.

1006 Words
Sentuhan itu begitu lembut, terlalu nyata, dan bahkan enggan untuk diakhiri, tapi– akhirnya Carolin dapat mengendalikan dirinya dan menarik diri dari pria asing yang ada di hadapannya. Meski ia tampan rupawan, hal itu tak akan membuat Carolin urung untuk mendorong tubuh kekar pria itu. Carolin berhasil melepaskan, dan mendorong tubuh tegap itu, tapi – ia tampaknya bahkan tak bergerak hanya karena dorongan dari tangan kecil Carolin. Carolin kalah tenaga, tapi tampaknya pria itu tidak akan melakukan apa-apa, meski ia merasa sensasi manis setelah apa yang ia lakukan barusan. "Ka–kau! Kau sudah mengambil ciuman pertamaku!" gumam Carolin sembari mengusap bibirnya dengan punggung tangannya dengan sangat kasar. Ingin rasanya ia menangis pada saat itu juga, tapi ada hal yang jauh lebih penting dari pada itu. Carolin menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan lalu, ia tampak menahan tangisnya meski matanya merah sudah berkaca-kaca. "Aku tekankan sekali lagi, bila kamu tidak ingin aku mengambil hartamu, maka jangan coba berani-berani melakukan hal lebih denganku!" Peringatan itu seakan meluncur begitu saja. Nafas Carolin memburu, dan pundaknya sampai naik turun karena menahan emosi yang hampir meledak. "Menarik," ujar pria tampan itu sembari memiringkan bibirnya dan tersenyum semirk! Carolin terdiam sejenak, dan ingin rasanya ia memukul kepala pria itu dengan sangat kasar dan keras! Tapi karena ia takut dijebloskan di penjara, ia akhirnya kembali menahan diri. "Kau tidak mau mengenal aku?! Suamimu sendiri?" tanyanya lagi sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Carolin. Carolin refleks menurunkan tubuhnya ke belakang saat tubuh pria itu makin mendekat ke arahnya. "Sial! Aku malah tidak menanyakannya pada Livy, siapa nama pria itu!" gerutu Carolin dalam hati. Meski ia sangat gugup dan bingung, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak tegang. "Aku pernah dengar, tapi aku melupakannya." balas Carolin dengan santai. Pria itu mendengus kesal, tapi sesaat kemudian, ia tampak mengulurkan tangannya dan seakan hendak mengenalkan diri. "Brian Regan, usiaku 34 tahun. Sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan ini, dan aku sudah memiliki kekasih." Carolin terdiam untuk beberapa saat, ia menatap wajah tampan seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Pernikahan itu memang seakan hanya sebuah pernikahan bohongan yang ia jalani, tapi mengapa hatinya terasa sakit setelah mendengar pria itu mengakui bahwa ia memiliki kekasih? Apa boleh ia terluka? Tidak! Carolin menepis semua hal yang ada di dalam kepalanya kala itu. "Baik, Tuan Muda Regan. Namaku Carolin, aku sudah mengatakan hal jujur padamu, dan aku juga terpaksa menyetujui hal ini. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tanya Carolin dengan tegas. Ia segera melepaskan jabat tangan mereka. Dahi Bian mengernyit saat mendengar ucapan dari Wanita yang ada di hadapannya itu. "Kesepakatan apa?" "Seperti yang aku katakan." balas Carolin singkat. Brian tampak kembali tersenyum semirk. Ia lalu menatap tajam ke arah wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. "Baiklah, tapi kau akan tetap tinggal di rumahku, dan hal itu agar tak menciptakan kecurigaan pada kedua orangtuaku. Tapi, aku mau bertanya, kalaupun aku mau melakukannya denganmu, berapa harga yang harus aku bayar?" Pertanyaan itu seakan menancap di hati Carolin, ia sudah tidak dapat lagi menahan diri tapi ia memaksakan dirinya untuk tetap bertahan. Carolin tersenyum pahit. "Semua tidak akan selesai dengan uang, aku tidak menjual harga diri. Aku akan memberikannya pada seseorang yang mencintaiku juga, bukan sekedar memiliki aku." Setelah mengatakan hal demikian, Carolin tampak meninggalkan tempat itu, ia hendak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya ia keluar dengan memakai mini dress yang membuat Bian mengernyit dahinya pada saat itu. "Kau mau kemana?" tanya Bian dengan suara yang terdengar mengimintidasi. "Aku mau bertemu dengan temanku." Carolin yang merasa tidak perlu meminta izin pada pria itu, karena ia juga kini merasa hanya diperalat dari dua belah pihak yang saling menolak hubungan itu. Tanpa Carolin ketahui, meskipun Bian Regan tidak menganggapnya sebagai istri sungguhan, tapi pria itu selalu menganggap, apapun yang menjadi miliknya tidak boleh dimiliki oleh orang lain. Bahkan Carolin pun, sudah termasuk menjadi miliknya! *** Di dalam sebuah Clubbing, botol mulai Carolin tenggak satu persatu, hingga akhirnya ia berhasil menghabiskan satu botol lebih minuman beralkohol tinggi yang ia pesan. Tapi, bahkan hal itu tidak bisa membuatnya melupakan segala hal yang ia pikirkan untuk saat itu. "Carolin! Sudah hentikan! Kamu sudah minum sangat banyak!" Lily yang sedari tadi berusaha menghentikan Carolin akhirnya tidak berdaya. Temannya itu tampak sengaja membuat dirinya sendiri mabuk! "Apa yang terjadi padanya?!" pekik Lala ia sudah merasa hampir gila saat mengurus temannya yang mabuk itu. "Tidak tahu, datang-datang dia langsung minum." balas Lily. "Aku hancur! Pria itu sangat menggoda, tapi aku malah bahkan seperti tidak dianggap dan bahkan dibenci! Kalian mau tahu kenapa aku minum? Itu karena dia berkata sudah memiliki kekasih, aku harus bagaimana? Kalau Livy tahu seperti apa tampang pria bres*k itu, dia pasti akan menghancurkan semuanya." gumam Carolin yang tampaknya mulai mabuk. Apa yang diucapkan oleh Carolin membuat kedua temannya itu tercengang sepenuhnya. Carolin seakan mencurahkan segala rasa yang ada dalam dad4nya pada saat itu. "Kita akan pikirkan besok, sekarang kita harus cari ruangan aman untuk menyadarkan wanita gila ini! Kita tidak tahu harus kemana dia pulang, karena kita tidak mungkin membawanya pulang! Bisa hancur kita dimarahin papa kalau bawa wanita teler begini ke rumah." balas Lily saat ia mulai merangkul Carolin. Lala akhirnya mengangguk setuju, mereka akhirnya mencari ruangan VIP yang bisa mereka pesan saat itu. Meski mereka bukan orang yang sangat kaya, tapi untuk keadaan mendesak, mereka akhirnya terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk mengamankan teman mereka. Kalau mau membawa Carolin keluar Clubbing, hal itu juga tidak berani mereka lakukan. Di luar ruangan itu, hanya ada banyak ranjau yang mungkin bisa membawa mereka sampai ke ranjang panas seseorang. *** Sementara itu di tempat lain... "Kalian cari kemana perginya wanita itu! Aku tidak mau milikku akhirnya dimiliki orang lain! Sekarang, cepat pergi!" Bian mulai berteriak di dalam sambungan sebuah telepon. Meski ia tidak memiliki rasa pada Carolin, wanita yang ia temui di hotel tadi, ia merasa berhak atas wanita itu, sehingga pada akhirnya – ia memerintahkan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan Carolin yang entah ada di mana. "Baik, Tuan!" balas orang-orang yang ada di sebrang sambungan telepon. Tangan Bian mengeras sepenuhnya setelahnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD