bc

My Ice Boss

book_age18+
13.5K
FOLLOW
92.7K
READ
billionaire
possessive
second chance
badboy
drama
comedy
office/work place
chubby
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

WARNING (MENGANDUNG MUATAN DEWASA)

Untuk kesekian kalinya Andinni (24 tahun) kembali gagal pendapatkan pekerjaan karena penampilannya. Apakah bertubuh gemuk itu adalah dosa? Kenapa ‘penampilan menarik’ selalu saja tertulis dalam point persyaratan lowongan sebuah pekerjaan? Dia sudah penat mengikuti ratusan wawancara yang melelahkan dan pada akhirnya Dinni tetap dikalahkan oleh para pesaing yang cantik jelita.

Frustasi karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, Dinni memutuskan untuk menanggalkan gengsinya sebagai seorang Sarjana. Lelah dengan status pengangguran, akhirnya Dinni bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga di sebuah kediaman orang kaya yang terkenal seantaro negeri. Di sanalah Dinni bertemu dengan Reyhan Presetio (24 tahun) sosok pria berhati batu yang kemudian menjadi Bosnya. Reyhan adalah sosok yang dingin, kasar, dan tidak mempunyai perasaan. Dia pun mendapat julukan Ice Prince oleh kalangan pekerja di rumah itu. Sialnya lagi, Dinni malah mendapatkan tugas khusus sebagai pelayan Reyhan.

Kehidupan Dinni sebagai ART elit pun dimulai...

Apakah yang terjadi...?

Bisakah Dinni bertahan menjadi pelayan Reyhan...?

You are My Ice Boss. Dinginmu mampu menghangatkan hati.

chap-preview
Free preview
PROLOG

Karena manusia tidak selalu mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya...

-Yong Jian

___________________

"Mohon maaf, berdasarkan hasil tes dan wawancara, anda dinyatakan tidak lolos untuk bekerja di sini...."

Dinni melangkah gontai keluar dari gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Kalimat penolakan itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Wajahnya kini berubah lesu. Matanya menatap nanar pada langit yang cerah. Gadis berbadan tambun itu terlihat seperti kehilangan semangat hidupnya.

Cukup lama Dinni berdiri mematung di sana. Hingga kemudian, dia berbalik menatap gedung perkantoran itu. Helaan napasnya terdengar sesak. Dia menatap kantor itu dengan perasaan hancur. Pupus sudah segenap harapan untuk bisa bekerja di sana.

Tatapannya lalu beralih pada beberapa karyawan yang sibuk berlalu lalang. Dinni pun menelan ludah. Dia ingin seperti mereka. Dia ingin menjadi bagian dari mereka. Dia sudah berharap terlalu banyak kali ini, namun Dewi Fortuna masih belum berpihak padanya.

Gadis itu lekas menyeka air mata yang jatuh sebelum orang lain sempat melihatnya. Sedetik kemudian Dinni merobek nomor urut wawancara yang masih melekat di pakaiannya. Dia meremukkan kertas itu, lalu melemparnya dengan gusar.

"Kamu masih di sini?"

Dinni berbalik menatap sosok itu. "I-iya, aku baru mau pulang."

Gadis bersuara cempreng itu menatap Dinni lekat-lekat. "Kamu nangis?"

"Nggak kok. Aku cuma kelilipan debu aja," kilah Dinni.

Sosok berparas cantik itu memasang wajah sendu. "Kamu nggak apa-apa, kan? aku jadi ngerasa nggak enak sama kamu."

Dinni menggeleng cepat. "Kamu emang pantes kok, ngedapetin pekerjaan itu. Sekali lagi selamat, ya, Mona."

"Kamu yakin baik-baik, aja?" Mona menggenggam tangan Dinni dan meremasnya pelan.

Dinni mengangguk seraya memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Iya, aku yakin."

Dinni mengenal Mona saat mereka sama-sama mengantarkan berkas lamaran ke kantor itu. Awalnya Dinni menyapa hanya untuk sebatas basa-basi, tapi kemudian mereka terlibat obrolan panjang dan menjadi lebih dekat satu sama lain.

Siapa sangka, sosok berbadan ramping dan cantik itu menjadi satu-satunya saingan Dinni dalam tes dan wawancara tahap akhir. Setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan, Dinni dan Mona berhasil menyisihkan para kandidat lainnya.

Dinni sendiri sudah merasa optimis bisa mendapatkan pekerjaan itu. Hal itu lantaran performa Mona yang sedikit lemah di sepanjang tes dan wawancara. Mona bahkan tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh HRD. Jika ditelisik lebih jauh, latar belakang pendidikan Mona memang tidak cocok untuk mengisi posisi itu. Namun, ajaibnya Mona-lah yang keluar sebagai pemenang.

"Oh, itu Papa aku udah datang. Aku duluan, ya, Din." Mona pun bergegas pergi.

Dinni pun tersenyum dan melambaikan tangannya pelan.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan sana. Terlihat seorang lelaki paruh baya keluar dengan senyum merekah. Mona pun tampak bahagia saat berbicara dengan ayahnya itu. Dia merangkul sang ayah sambil melompat-lompat girang. Sementara, Dinni hanya mendesah pelan menyaksikan pemandangan itu.

Tiba-tiba seorang pria berlari tergopoh-gopoh menghampiri Mona dan ayahnya. Dinni pun membelalak kaget dan langsung menggeleng tidak percaya.

Jemarinya terangkat pelan menunjuk pria itu. "D-dia...."

Pria itu adalah HRD yang tadi mewawancarainya. Dia terlihat sedang berbicara dan menjabat tangan ayah Mona dengan penuh rasa hormat. Mereka terlihat akrab dan sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain.

Dinni pun tersenyum getir dengan bola mata yang terasa panas. Kedua tangannya kini mengepal kuat. Dia menatap pemandangan itu dengan dada yang terasa sesak. Setetes bening pun kembali meluncur di pipinya. Sepertinya dunia memang selalu tidak adil untuknya dan akan terus begitu selamanya.

_

 

 

 

 

 

 

 

 Jangan lupa juga untuk mampir di cerita Author lainnya ya...

1. Istri Satu Semester (kisah tentang perjodohan)

2. Alia (kisah cinta terhalang restu)

3. (Series bos lainnya ada) The housemates with the boss.

4 Too Young To Marry (kisah tentang nikah muda)

5. Dosa Terindah (kisah tentang pelarian cinta, perselingkuhan)

6. The Wo(Man) yaitu kisah seorang perempuan yang lari dari rumah dan hidup menyamar sebagai laki²

silakan dipilih dan mampir ya

dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play