My Ice Boss - 04

1545 Words
Tragedy ---------- Seminggu yang lalu... Dinni sedang sibuk mengatur napasnya. Degup jantungnya kini berdetak lebih cepat. Dia benar-benar gugup dan cemas. Suara gemeretak giginya yang beradu pun terdengar jelas. Dia duduk dengan gelisah menantikan gilirannya tiba. Tatapannya beralih pada sebuah pintu di pojokan sana. Satu persatu orang yang duduk di ruangan itu mulai masuk ke sana secara bergantian untuk melakukan interview. Dinni menatap nomor urut yang kini ditempel di pakaiannya, kemudian menelan ludah. Sebentar lagi nomor urutnya akan dipanggil. Sebentar lagi gilirannya datang. Dinni pun kembali merapikan pakaian dan memeriksa penampilannya sekali lagi. “Kamu kenapa duduk di sini?” seseorang menyentuh pundak Dinni dengan pelan. Dinni menengok ke sumber suara sambil menatap bingung. "M-maksudnya?" “Ayo ikuti saya... Oh iya, nama saya Rieta,” ucap wanita itu. “B-baik.” Walau bingung Dinni pun segera mengikutinya. Wanita yang memiliki gaya berjalan yang khas seperti peserta kontes kecantikan itu membawa Dinni ke sebuah ruangan lain yang juga berisi antrian para pelamar kerja. “Nama kamu Andinni, bukan?” tanya mbak Rieta sambil menatap sebuah berkas di tangannya. “I-iya Mbak,” jawab Dinni. Mbak Rieta tersenyum. "Berarti kamu interview-nya di sini, bukan di sana.” Dinni hanya mengangguk, kemudian dia dipersilakan duduk untuk menunggu intruksi selanjutnya. Dinni menatap orang-orang yang memenuhi ruangan ini. Situasinya cukup kontras dengan ruangan interview sebelumnya. Jika di ruangan sebelumnya semua orang-orang itu terlihat elit dan berkelas. Di sini semua peserta interview terlihat lebih santai. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang hanya berpakaian kasual dan mengenakan sandal jepit saja. Sembari menunggu, Dinni kembali menatap keadaan sekitarnya. Perusahaan Ardhana Luxury itu terlihat begitu megah dan mewah. Perusahaan yang memiliki bisnis perhotelan, perumahan elit, dan resort mewah itu memang sudah menggurita di seluruh pelosok Indonesia. Dinni sendiri tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan panggilan interview mengingat tingginya standar dan persyaratan yang diajukan oleh perusahaan itu. “Andinni...!”  panggil mbak Rieta dari ujung sana. Dinni pun tersadar dari lamunannya. Dia segera bangun dan menghampiri mbak Rieta dengan lutut bergetar. “Ayo ikuti saya!” ucap mbak Rieta. "B-baik, Mbak," jawab Dinni. _ Mbak Rieta membawa Dinni memasuki sebuah lorong yang panjang dan gelap. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang terlihat seperti hunian minimalis. Dinni menatap heran. Terdapat susunan sofa yang terletak di tengah ruangan. Di depannya ada sebuah televisi LED berukuran besar yang menempel di dinding. Di sisi sebelah kanan ruangan itu terdapat sebuah sudut yang berfungsi sebagai dapur. Semantara di bagian ujung ruangan terlihat sebuah tempat tidur yang hanya dibatasi dengan kaca transparan. “Okey, Dinni... Saya tinggal sebentar, ya,” ucap mbak Rieta. “Oh, iya, Mbak.” Dinni menjawab dengan wajah bingung. “Selagi menunggu kamu bisa bikin teh atau kopi dulu di sana.” mbak Rieta menunjuk sudut yang berfungsi sebagai dapur itu. “I-iya Mbak,” jawab Dinni. Mbak Rieta bergegas keluar dari sana. Dinni pun duduk manis di sofa itu menunggu mbak Rieta kembali. Namun, setelah lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit berlalu, mbak Rieta masih belum juga kembali. Dinni mulai merasa bingung. Dia bangun dari duduknya, lalu menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. “Mbak tadi itu ke mana, sih?” Dinni menatap gelisah ke arah pintu. Dinni pun beranjak menuju dapur yang terdapat dipojok ruangan itu. Dia mengambil sebuah cangkir, lalu menyeduh kopi instan kemasan yang sudah di sediakan. Setelah menuang semua isi kopi instan kemasan itu, Dinni kebingungan karena tidak ada tempat sampah di sana. Tanpa pikir panjang, dia memasukkan sampah kemasan kopi itu ke dalam kantong bajunya. Saat berbalik, Dinni terkejut karena sebuah rak buku tiba-tiba saja roboh dan membuat buku-buku itu berserakan di lantai. Dinni menelan ludah, seketika bulu kuduknya meremang. Tidak ada siapapun di sana, tetapi kenapa dia merasa seperti sedang diawasi?  “Kenapa bisa tiba-tiba roboh gitu, sih?” gumamnya. Dinni meletakkan cangkir kopinya, lalu memperbaiki dan menata lagi rak buku yang roboh itu. Ketika menyusun buku-buku itu ke tempatnya semula, beberapa helai uang kertas pecahan seratus ribu tiba-tiba berjatuhan dari dalam buku-buku itu. “U-uang?” Dinni memungut lembaran-lembaran uang itu, kemudian menatapnya sejenak. Sesaat sebuah pikiran nakal mulai menggelitik pikirannyanya. Namun kemudian, Dinni kembali tersadar dan menyisipkan uang itu kembali ke dalam buku, lalu meletakkannya kembali di tempatnya semula. Tak lama kemudian, mbak Rieta pun kembali. Dia tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya kepada Dinni. “A-ada apa, Mbak?” tanya Dinni. “Selamat ya, Dinni... kamu diterima bekerja di sini.” Mbak Rieta mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun, Dinni malah terpana dengan mata yang terus berkedip dengan cepat. Dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. “S-saya di terima, Mbak?” tanya Dinni. “Iya, kamu diterima,” jawab mbak Rieta. “I-ini serius, kan, Mbak? Ini bukan prank buat konten youtube-nya, Mbak, kan?” Dinni masih meragu. “Iya... kamu diterima untuk bekerja. Sekarang juga kamu harus mendatangi bagian ketenagakerjaan untuk keterangan selanjutnya,” ucap mbak Rieta. _ Dinni melangkah dengan wajah sumringah. Kaki gempalnya menghentak kuat dengan irama yang sesuai dengan siulan mulutnya. Semua orang yang ada di lobi memerhatikan aksinya itu. Kali ini Dinni bahkan berputar-putar seraya membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Pemandangan itu tentu saja menyulut gelak tawa dari semua orang. Namun, sepertinya Dinni tidak peduli akan hal itu. Dinni segera menghempaskan badannya pada sebuah meja tinggi yang terdapat keterangan ‘bagian ketenagakerjaan’.   “Nama...?” seorang bapak-bapak dengan wajah yang kurang ramah langsung bertanya pada Dinni dengan nada kasar. “Andinni, Pak.” Bapak itu langsung memeriksa berkas yang ada dihadapannya. Dia mengernyitkan dahinya, kemudian kembali membolak-balik lembaran kertas itu dengan gusar. Bapak itu mendesah pelan, kemudian menurunkan kacamatanya menatap Dinni. “Apa kamu tidak salah tempat?” tanya Bapak itu. “Maksud, Bapak?” “Nama kamu tidak ada di sini,” jawab Bapak itu. Dinni menatap heran. “T-tapi saya bener-bener diterima, Pak. Mbak Rieta sendiri yang bilang ke saya.” “Buk Rita? Oalah... kamu memang salah tempat. Ini tempat pelamar posisi sekretaris. Kalau posisi ART di sana sama Pak Sukiman,” terang bapak itu. “A-apa...? ART? saya itu melamar posisi sekretaris, Pak!” Dinni mendadak panik dan bingung. “Hahaha.” Bapak itu tertawa pelan, lalu menatap Dinni dengan tatapan yang seakan merendahkannya. Kumisnya bahkan ikut bergerak-gerak seakan sedang meledek Dinni. “Udah, kamu ke Pak Sukiman sana... itu di belakang kamu masih banyak yang antri,” sergah bapak itu. Dinni menatap ke belakangnya. Orang-orang dibalik punggungnya terlihat kesal. Mereka mulai saling berbisik sambil menatap Dinni dengan pandangan meremehkan. “Tapi, Pak... saya itu melamar posisi sekretaris.” Dinni kembali meyakinkan bapak itu. “Nama kamu itu tidak ada di sini. Lagian kamu bilang, kamu di interview sama Buk Rieta, kan? Yang di-interview sama Buk Rieta itu memang untuk posisi ART!” bentak bapak itu. “A-apa?” Dinni masih belum percaya. “Lagian dengan sekilas melihat pun juga kelihatan jelas kalau kamu itu bagian ART.” Dinni menatap nanar. “Bapak bilang apa barusan?” Ucapan bapak itu membuat semua orang menahan tawa. Dinni pun tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia memanjat meja tinggi yang membatasi dia dan bapak itu dan langsung menyerang dengan membabi buta. “Bapak jangan sembarangan ya, ngatain saya... apa karena penampilan saya, Bapak bicara seperti itu, ha?” Dinni terus berteriak-teriak sembari mengguncang-guncang bapak itu tanpa ampun. “Gadis gila!” “Ayo bantu Bapak itu!” “Jangan ikutan deh, cewek itu kayak banteng. Bahaya!” “Atlit sumo sedang unjuk bakat.” Semua orang menjadi heboh dan berkomentar miring. Dinni yang sudah kalap terus berusaha mencakar si bapak yang sekarang sudah menggigil ketakutan. Situasi pun semakin ricuh. Orang-orang berusaha menarik Dinni dari sana. Namun, hanya dengan sekali kibasan, orang-orang yang memeganginya langsung terpelanting jauh. Dinni berada dipuncak rasa amarahnya. Kedua matanya kini memerah dengan geraham yang terus bergesekan kuat. Saat ini Dinni sudah meraih kerah baju Bapak itu dan perlahan mengangkatnya ke udara. . “M-maafkan saya.... Hoek. Maafkan saya,” rintih bapak itu. Kaki bapak itu mulai mengawang. Dinni pun bersiap untuk menghempaskan tubuh bapak itu. “Apa-apaan ini...!?” Sebuah suara yang lantang menghentikan aksi Dinni. Lehernya bergerak-gerak mencari pemilik suara itu. Kerumunan orang-orang mulai terbelah menampakkan sosok pemuda berbadan tegap yang kini menatap tajam padanya. “Kenapa kamu membuat keributan di kantor saya?” tanya pemuda itu. Dinni menelan ludah. Tangannya kini melemah. Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh si bapak tadi untuk segera melarikan diri. “Ada apa, ha?” pemuda itu kembali bertanya sambil mengarahkan pandangannya pada semua orang. “Jadi begini Pak, Mbak ini diterima bekerja sebagai ART. Tapi dia malah ngotot mengatakan kalau dia melamar posisi sekretaris,” jelas seorang karyawan yang berdiri di sana. Pemuda itu beralih menatap Dinni. Dia menatap Dinni dari ujung kaki hingga kepala, kemudian tertawa pelan. “Hahaha... dia? menjadi sekretaris?” Dinni menatap pemuda itu lekat-lekat. Tatapan dan senyumannya itu terasa bagai sembilu di hatinya. Ingin rasanya Dinni meluapkan kekesalannya pada sosok arogan itu. Tapi, tatapan kerumunan orang-orang membuat Dinni tidak lagi berkutik. Dia sadar akan posisinya. Dia sendirian. Dia lemah. Tidak akan ada seorang pun yang akan memihak padanya. Dinni pun terpekur menatap ujung sepatunya sendiri.   “Mana Mbak Rieta?” tanya pemuda itu lagi. “Panggil dia SEKARANG...!!!” hardikan pemuda itu membuat semua orang tergelinjang kaget, termasuk Dinni. Tidak lama kemudian mbak Rieta datang dengan napas tersengal-sengal. Dia terlihat ketakutan dan hanya menunduk dengan jari tangan saling berpilin. “Jadi gadis tengil ini diterima sebagai apa?” tanya pemuda itu. “D-dia—” “Jawab yang jelas!” bentak pemuda itu. Semua yang ada di sana kompak menahan napas. Pemuda berparas tampan itu benar-benar terlihat murka. “Dia diterima sebagai asisten rumah tangga,” jawab mbak Rieta. Jawaban itu pun membuat Dinni tersentak. Lidahnya terasa kelu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara, pemuda itu kini menatapnya sinis dengan tersenyum miring. “Kamu sudah dengar sendiri, kan? Lagipula siapa juga yang mau mempekerjakan orang brutal seperti kamu sebagai sekretarisnya,” ucap pemuda itu. Air mata Dinni menetes pelan. Pemuda itu pun kembali beralih menatap mbak Rieta. “Siapa juga yang mengadakan penerimaan ART di kantor? Benar-benar menggelikan.” “I-itu perintah Nyonya Ani,” jawab mbak Rieta. Pemuda itu tidak lagi bersuara dan hanya menggertakkan giginya. Dia melonggarkan ikatan dasinya, kemudian melangkah pergi dari sana. Kerumunan masa itu pun kembali membelah membentuk ruang untuknya berjalan. Semua orang pun juga mulai membubarkan diri dan hanya menyisakan Dinni dan mbak Rieta yang masih membeku di tempatnya berdiri. _ Bersambung...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD