“Papa ... Alika enggak mau!”
Tangisan Alika pecah, memenuhi setiap sudut ruang tindakan poli anak yang bernuansa ceria namun terasa mencekam bagi gadis kecil itu. Suaranya melengking tinggi, penuh ketakutan. Ia memeluk leher Dirga dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang bergelantungan pada satu-satunya jangkar keselamatan di tengah badai. Wajah imutnya sudah basah kuyup oleh air mata sejak Suster Laras dengan santainya mengeluarkan nampan berisi alat-alat medis yang terlihat berkilat—terutama jarum suntik yang bagi Alika adalah musuh nomor satu umat manusia.
“Alika takut, Pa ... jangan, Alika enggak mau ...”
Dirga mengusap punggung putri komandannya dengan gerakan yang lembut namun kaku, berusaha menenangkan badai emosi yang melanda sang gadis kecil. Sebagai seorang pilot tempur yang terbiasa menghadapi manuver ekstrem di angkasa, Dirga tiba-tiba merasa tidak berdaya. Ia lebih baik menghadapi rudal musuh daripada melihat air mata Alika.
“Iya, Papa tahu, Sayang. Cuma sebentar kok, tidak akan lama,” bisik Dirga dengan suara yang ia buat sesabar mungkin, meski dalam hatinya ia juga ikut merasa ngilu.
“Enggak mau ...!”
Tangisan Alika justru semakin kencang, berubah menjadi isakan yang menyayat hati. Ia membenamkan wajah di d**a bidang Dirga sambil menggeleng berkali-kali, seakan dunianya sedang runtuh detik itu juga. Suster Laras yang memegang nampan hanya bisa menatap Kiara dengan wajah pasrah dan sedikit rasa bersalah, memberikan kode bahwa mereka menemui jalan buntu yang nyata.
Kiara, yang berdiri tak jauh dari sana, mengangguk pelan. Ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini. Bagi anak seusia Alika, melihat jarum suntik sering kali lebih menakutkan daripada jatuh dari sepeda atau dikejar anjing galak. Dengan langkah yang tenang dan aura yang terkontrol, Kiara menghampiri mereka perlahan, mencoba memecah ketegangan.
“Alika,” panggilnya lembut, suaranya seperti melodi yang menenangkan.
Gadis kecil itu mengintip sedikit dari balik bahu Dirga dengan mata yang masih bengkak dan sembap, menatap Kiara dengan penuh curiga.
“Tante enggak mau suntik, Tante jahat!” gumam Alika dengan suara serak yang parau karena terus menangis.
Kiara tersenyum hangat, sama sekali tidak tersinggung dengan tuduhan 'jahat' dari mulut mungil itu. Ia justru merasa gemas sekaligus kasihan. “Tante tahu kamu takut. Tidak apa-apa, Tante mengerti.”
“Sakit ...” protes Alika sambil menyeka ingus di hidungnya.
“Iya, memang sedikit sakit, tapi percayalah, itu cuma sekejap saja. Seperti digigit semut nakal.”
“Tetap aja enggak mau!”
Dirga mencoba membujuk lagi, berusaha menjadi ayah yang baik. “Papa temani di sini, ya? Papa pegangin tangan Alika.”
Alika langsung menggeleng kuat, menolak kompromi. “Papa bohong! Kemarin bilangnya sebentar, tapi tetap saja disuntik lama!”
Kiara hampir saja tertawa mendengar logika polos namun sangat akurat itu. Sementara Dirga hanya bisa mengembuskan napas panjang, frustrasi. Ia merasa kalah telak oleh logika balita. Segala teknik yang ia tahu—mulai dari menggendong, membujuk dengan janji cokelat, sampai mencoba mengalihkan perhatian dengan cerita robot—semuanya gagal total. Melihat Alika menangis seperti ini justru membuatnya ikut sesak. Jujur saja, ia lebih terbiasa menghadapi situasi berbahaya di kokpit pesawat tempur daripada menghadapi air mata seorang anak kecil yang merajuk.
Kiara menyentuh lengan Dirga pelan, memberikan tatapan yang menyiratkan, 'Berikan padaku.'
Dirga langsung mengangguk pasrah. “Tentu, silakan. Saya sudah kehabisan akal.”
Kiara berjongkok agar posisi tubuhnya sejajar dengan tinggi Alika, menciptakan jarak yang lebih akrab dan tidak mengintimidasi. Ia tidak langsung membahas soal suntikan yang mengerikan itu. Sebaliknya, ia melirik boneka kelinci usang yang masih didekap erat oleh Alika.
“Bunga ikut ke sini juga?” tanya Kiara dengan nada santai, seolah mereka sedang mengobrol di taman bermain.
Alika mengangguk pelan sambil sesekali masih terisak kecil.
“Bunga takut enggak sama jarum?” tanya Kiara sambil menatap boneka itu.
“Takut,” jawab Alika pelan, suaranya mulai stabil.
Kiara berpura-pura berpikir sejenak, membuat ekspresi yang sangat serius—bahkan sedikit lucu. “Wah, kalau begitu, siapa yang bakal jagain Bunga kalau Alika malah sibuk menangis? Bunga pasti sedih kalau melihat temannya nangis terus.”
Alika menoleh ke bonekanya, lalu ke arah Kiara dengan wajah polosnya. “Bunga jangan nangis ya ...”
Kiara tersenyum penuh kemenangan. “Nah, gimana kalau Alika kasih contoh ke Bunga? Kalau Alika berani, nanti Bunga pasti ikut berani. Bunga kan anak pemberani, sama seperti Alika.”
Gadis kecil itu tampak mempertimbangkan tawaran tersebut dengan serius. Tangisannya perlahan mulai mereda, menyisakan napas yang tersengal.
“Tante punya permainan baru,” lanjut Kiara dengan suara yang lebih ringan dan penuh teka-teki. “Nanti kita hitung sampai tiga. Sebelum selesai hitung, Tante cuma mau dengar Alika bilang, 'Aku berani'.”
Alika menatap Kiara ragu, namun ada ketertarikan yang mulai tumbuh di matanya. Kiara mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian suci. “Janji?”
Dengan perlahan, Alika mengaitkan jari mungilnya ke jari Kiara. “Janji.”
Dirga memperhatikan semuanya tanpa berkedip sedikit pun. Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu kaku dalam mendidik Alika. Cara Kiara menghadapi anak kecil benar-benar luar biasa dan di luar dugaannya. Tidak ada bentakan, tidak ada paksaan yang menakutkan. Ia hanya mengajak Alika masuk ke dunianya dengan cara yang sangat manusiawi, memvalidasi perasaannya tanpa meremehkannya.
“Oke, siap? Kita mulai ya,” Kiara mulai menghitung dengan suara ceria. “Satu ...”
Alika menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya.
“Dua ...”
Gadis kecil itu memeluk boneka bunganya lebih erat, memejamkan mata.
“Tiga.”
“Aku ... berani.”
Tepat saat kata itu terucap, Suster Laras dengan cekatan menyelesaikan suntikannya dalam hitungan detik. Cepat, tepat, dan tanpa drama tambahan.
“Selesai,” ucap Kiara tenang sambil menarik jarumnya.
Alika mengerjap-ngerjapkan matanya, kebingungan. “Hah? Sudah?”
“Iya, sudah. Selesai.”
Alika menoleh ke lengannya, memastikan memang tidak ada lagi yang terjadi dan jarum itu sudah lenyap. Ternyata benar-benar sudah selesai. Air mata yang tadi mengalir deras langsung berhenti begitu saja, berganti dengan ekspresi heran.
“Cuma gitu?” tanya Alika polos, merasa sedikit tertipu.
Kiara mengangguk, lalu mengusap rambut Alika. “Tuh kan, hebat. Alika pemberani. Bunga bangga sama kamu.”
Gadis kecil itu langsung menghambur memeluk Kiara, melepaskan cengkeramannya pada Dirga. “Tante juga hebat!”
Kiara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus di telinga Dirga. “Terima kasih, Alika. Kamu yang hebat.”
Dirga mengembuskan napas lega yang sejak tadi ia tahan. Bahunya yang tegang perlahan terasa lebih ringan, seolah beban satu ton baru saja diangkat dari punggungnya. Ia memandang Alika yang sudah kembali tersenyum, lalu pandangannya beralih pada Kiara. Perempuan itu masih berjongkok di depan Alika, dengan sabar merapikan plester kecil di lengan mungil sang gadis kecil. Gerakannya begitu lembut, tatapannya begitu penuh perhatian—semuanya tampak begitu alami, seolah-olah memang di situlah tempat Kiara berada.
Untuk pertama kalinya, Dirga benar-benar memahami mengapa Alika begitu menyukai dokter itu. Bukan sekadar karena keprofesionalannya di bidang medis, tapi ada rasa aman yang terpancar setiap kali Kiara berbicara. Perasaan itu jelas bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku teks kedokteran dalam satu atau dua hari. Ada empati yang tulus di sana.
“Terima kasih, Dok,” ucap Dirga tulus, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.
Kiara berdiri sambil melepas sarung tangan medisnya dengan sekali sentakan elegan. “Sama-sama, Pak. Semua sudah beres.”
“Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa tadi. Saya benar-benar buntu.”
Kiara menatapnya sesaat, memberikan senyuman tipis yang menyejukkan. “Itu hal yang wajar, kok. Tidak perlu merasa bersalah.”
“Wajar?”
“Banyak orang tua yang jauh lebih panik daripada Bapak kalau anaknya menangis. Malah ada yang sampai ikut menangis juga.”
Dirga tersenyum tipis, merasa sedikit lega dan harga dirinya kembali pulih. “Saya rasa, saya lebih gugup di sini daripada saat harus menghadapi latihan terbang di ketinggian atau simulasi darurat.”
Ucapan itu membuat Kiara tertawa kecil yang renyah. “Tidak semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan keberanian fisik, Bapak Dirga. Anak kecil punya logika mereka sendiri.”
Dirga mengangguk setuju, merasa mendapatkan pencerahan baru. “Saya baru menyadarinya sekarang. Terima kasih sudah membantu saya.”
Alika kembali menggenggam tangan Dirga, kali ini dengan tangan yang lebih santai. “Papa, aku tadi berani, kan?”
“Iya, Papa sangat bangga padamu.”
“Benar bangga?”
Dirga mengusap kepala Alika dengan sayang. “Sangat bangga. Kita rayakan nanti ya?”
Kiara memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Hubungan mereka memang terlihat hangat dan manis. Mungkin belum sempurna, dan mungkin masih banyak yang harus dipelajari Dirga tentang bagaimana caranya menjadi sosok ayah yang ideal, tapi satu hal yang pasti, tidak ada kesan sedikit pun bahwa pria itu tidak menyayangi anak di sampingnya. Ia bisa melihat kesungguhan di balik sorot mata sang pilot.
Dirga kembali mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan mata Kiara. Kali ini rasanya berbeda—tidak lagi ada rasa canggung atau defensif yang biasanya muncul karena kesalahpahaman. Ada rasa hormat yang tumbuh perlahan, sebuah kekaguman baru yang bahkan belum sempat Dirga beri nama.
Sementara itu, Kiara mendadak lupa untuk mengalihkan pandangannya. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti di ruang poli yang tenang itu. Tatapan Dirga terasa lebih dalam dan intens dari biasanya, membuat jantung Kiara berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan yang mampu ia jelaskan secara medis. Ia merasa aneh, tapi dalam cara yang sangat menyenangkan.