BAB 8

1175 Words
Jam makan siang telah mengubah kantin RS Bhakti Medika menjadi medan perang kecil. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen berpadu harmonis—atau mungkin lebih tepatnya, bising—dengan riuhnya obrolan para dokter yang baru selesai operan, perawat yang melepas penat, keluarga pasien yang tampak kelelahan, hingga petugas kebersihan yang berlalu-lalang. Kantin ini adalah titik temu segala emosi, dari tawa ringan hingga gumam doa kesembuhan. Di tengah hiruk-pikuk yang nyaris membuat pening itu, ada satu meja yang tampak kontras, seperti pulau tenang di tengah badai. Dirga duduk sendirian di sana. Posturnya yang tegak lurus seolah membelah keramaian. Sementara itu, Alika sedang asyik mengikuti kegiatan mewarnai di ruang bermain anak bersama Suster Laras. Dirga sengaja memanfaatkan waktu senggang yang terbatas ini untuk makan siang secepat mungkin, memastikan energi cukup sebelum ia kembali menjemput putri komandannya. Sepiring nasi, ayam panggang kecap, tumis brokoli yang masih segar, dan semangkuk sup hangat tersusun rapi di depannya, tampak lebih higienis dibandingkan sajian di meja lain. Sebelum mulai makan, Dirga melakukan ritual yang sama setiap harinya, ia mencuci tangan dengan teliti, merapikan posisi sendok dan garpu agar simetris, lalu menarik kursinya mendekat ke meja dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Gerakannya sangat tenang, teratur, dan begitu efisien. Tidak ada satu pun gerak-gerik yang tergesa, meski ia tahu waktu istirahatnya sangat sempit. Ia menyuap makanan dalam porsi yang konsisten, mengunyah secukupnya dengan ritme yang terjaga, lalu meneguk air putih setiap beberapa suapan. Ia sama sekali tidak memainkan ponsel, sebuah pemandangan langka di zaman di mana orang-orang lebih memilih menatap layar daripada makanan mereka sendiri. Ia tidak menoleh ke kanan atau kiri, tidak pula terdistraksi oleh tawa di meja sebelah. Ia makan dengan ritme yang stabil, seolah kebiasaan militer itu sudah tertanam di bawah alam sadarnya selama bertahun-tahun, menjadikan makan bukan sekadar pemuas lapar, tapi sebuah misi logistik yang harus diselesaikan dengan presisi. Di meja sebelah, dua perawat muda yang sedang menikmati bakso mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Dirga dengan tatapan penasaran. “Itu pasien ya?” tanya salah satunya, mencoba menebak. “Bukan, lihat bajunya. Kayaknya pengunjung atau kerabat,” jawab temannya. “Tapi dia tentara, kan? Lihat deh, cara makannya rapi banget. Piringnya saja bersih total, tidak ada sisa nasi satu butir pun. Itu sih standar kedisiplinan tingkat dewa.” Mereka tertawa kecil, suara tawa yang tertahan, sebelum kembali melanjutkan makan dengan gaya yang jauh lebih santai. Dirga sama sekali tidak menyadari bisik-bisik itu. Pikirannya justru masih terkurung dalam labirin pertanyaan Kiara tadi pagi, “Di mana ibu anak ini?” Kalimat itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang tersangkut. Ia memang berhasil mengelak tadi pagi, tapi ia cukup cerdas untuk menyadari bahwa pertanyaan serupa pasti akan muncul lagi, mungkin dengan intensitas yang lebih tajam. Semakin sering ia harus berurusan dengan dokter anak itu, semakin sulit baginya untuk mempertahankan sandiwara yang ia susun sendiri. Ia merasa seperti pilot yang sedang berusaha mendarat darurat di landasan yang tidak rata. Di sisi lain kantin, Kiara baru saja selesai mengambil makan siang bersama Dokter Ardi, rekan sejawatnya yang sering menjadi tempat curhat dadakan. “Ayo duduk di sana, Kia, masih ada meja kosong,” ajak Ardi sambil menunjuk sudut kantin. Baru beberapa langkah berjalan, langkah Kiara tiba-tiba terhenti. Pandangannya terpaku pada satu titik. “Itu ...” gumamnya tanpa sadar, matanya menyipit. Dokter Ardi ikut menoleh, mencari target pengamatan Kiara. “Kenapa? Ada pasien gawat darurat yang makan bakso?” “Tidak apa-apa, ayo lanjut saja,” elak Kiara, meski hatinya tidak benar-benar sejalan dengan ucapannya. Pandangan Kiara tak bisa lepas dari sosok Dirga yang sedang makan sendirian di ujung sana. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah magnet yang sulit ia jelaskan. Pria itu makan dengan cara yang sangat disiplin—posturnya tegak, gerakannya hemat, dan tidak ada satu butir nasi pun yang tercecer di meja. Semuanya terasa sangat teratur, seolah-olah ia sedang mengikuti SOP (Standar Operasional Prosedur) makan siang. “Kenal?” tanya Ardi yang menyadari perubahan ekspresi Kiara yang mendadak serius. “Pasien,” jawab Kiara singkat, sedikit salah tingkah. “Maksudku, orang tua pasien.” “Oh, kelihatannya orang militer ya? Cara duduknya saja kaku sekali.” “Iya,” jawab Kiara pendek. Kiara masih terus mengamati dari kejauhan. Penilaiannya terhadap pria itu mulai goyah. Memang benar, Dirga sering membuat kesalahan soal urusan anak—ia tak hafal jadwal makan Alika, salah beli camilan yang ternyata tidak disukai anak itu, dan payah dalam menjelaskan latar belakang keluarganya yang misterius. Namun, ada satu hal yang selalu bertolak belakang dengan semua ketidakbecusan itu, cara Dirga memperlakukan Alika. Kesabarannya saat menghadapi rengekan, ketelitiannya saat memeriksa suhu tubuh, dan tatapan lembut yang selalu muncul setiap kali Alika bicara—semuanya terasa tulus. Tidak ada drama di sana. Gambaran ayah yang tidak bertanggung jawab rasanya sangat tidak cocok disematkan pada pria yang sedang makan dengan disiplin tinggi itu. “Melamun?” tegur Ardi, menyenggol lengan Kiara dengan sendoknya. “Hm? Enggak,” Kiara segera mengalihkan pandangan, berusaha terlihat sibuk dengan nasi gorengnya. Ardi tersenyum tipis, sebuah senyum jahil yang sudah hafal luar kepala. “Jarang-jarang aku lihat kamu memperhatikan orang sampai segitunya. Jangan-jangan kamu terpesona sama ketegapan bapak-bapak tentara itu?” “Aku cuma sedang berpikir,” kilah Kiara, berharap wajahnya tidak memerah. “Tentang pasien?” “Iya, tentu saja.” Ardi tidak bertanya lagi, membiarkan rekannya itu dengan pikirannya yang berkecamuk. Sementara itu, Dirga sudah hampir menyelesaikan makannya. Ia melipat tisu bekas dengan rapi, meletakkannya di sisi piring, lalu meraih gelas air. Gerakannya sangat efisien. Tepat saat itulah, Kiara berdiri, seolah ada dorongan impulsif yang tidak bisa ia tahan. “Mau ke mana, Kia? Makanannya belum habis,” tanya Ardi bingung. “Tanya sesuatu. Penting.” Tanpa menjawab lebih lanjut, Kiara melangkah pasti menuju meja Dirga. Ardi hanya bisa mengangkat bahu, melanjutkan makannya sambil menggelengkan kepala melihat perilaku aneh temannya. Dirga baru saja akan menyuapkan sesendok nasi terakhir ketika ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. “Bapak.” Refleks, Dirga mendongak. Kiara sudah berdiri tepat di samping mejanya dengan wajah yang sulit dibaca. Saking terkejutnya karena tidak menyadari kedatangan seseorang, Dirga tersedak suapannya sendiri. “Uhuk! Uhuk!” Ia buru-buru meraih gelas, namun batuknya malah semakin menjadi karena tenggorokannya masih tersumbat. Kiara membelalakkan mata, terlihat cemas sekaligus bersalah karena telah membuat kekacauan. “Bapak! Tidak apa-apa? Butuh bantuan?” Dirga menggeleng cepat sambil berusaha mengatur napas, wajahnya sedikit memerah. “Maaf, Dok. Saya ... tadi tidak siap.” “Aduh, saya mengagetkan ya? Saya sungguh tidak bermaksud membuat Bapak tersedak.” Setelah akhirnya berhasil menelan minumannya dan menormalkan detak jantungnya, Dirga menghela napas panjang. “Iya, sedikit mengejutkan, Dok.” Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di rumah sakit itu, Kiara tampak salah tingkah. Ia tidak menyangka kehadirannya bisa membuat pria yang sedingin dan setenang Dirga sampai tersedak begitu rupa. Suasana di antara mereka mendadak canggung, seolah ada arus listrik statis yang membuat udara di sekitar mereka jadi tidak nyaman. Dirga masih memegang gelas di tangannya, bertanya-tanya dalam hati, ‘Apa lagi yang akan ditanyakan dokter galak ini sekarang? Apakah dia akan menanyakan riwayat hidup saya sampai ke akar-akarnya?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD