“Papa ... Alika haus sekali.”
Dirga, yang sedari tadi duduk di kursi ruang tunggu dengan pose kaku—khas seorang prajurit yang sedang berjaga—langsung menoleh dari layar ponselnya. Ia baru saja selesai membalas pesan koordinat dari markas, dan kini perhatiannya sepenuhnya teralih pada gadis kecil yang duduk di sampingnya.
“Mau minum apa, Sayang? Air putih dingin atau yang biasa?” tanya Dirga lembut.
Alika mengangguk pelan dengan wajah imutnya yang tampak sedikit lelah. Dirga melihat botol minum di tangan putri komandannya itu, yang ternyata sudah benar-benar kosong, menyisakan embun di permukaannya.
“Ya sudah, tunggu sebentar ya. Papa beli minum dulu di kantin bawah. Jangan ke mana-mana, tetap di sini dan main sama Bunga saja, oke?”
“Siap, Papa!” sahut Alika dengan semangat yang dibuat-buat, khas anak kecil yang berusaha patuh.
Dirga mengusap lembut kepala Alika sebelum beranjak berdiri. Langkah kakinya lebar dan teratur saat ia berjalan menjauh. Ia berjalan cepat menuju kantin rumah sakit di lantai dasar. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, tapi bagi seorang ayah yang sedang dalam mode protektif tinggi, meninggalkannya sendirian selama beberapa menit terasa seperti meninggalkan pos penjagaan yang paling krusial. Untungnya, Suster Laras masih berjaga di meja perawat tak jauh dari ruang bermain.
“Sus, titip Alika sebentar ya. Saya beli minum di bawah,” pinta Dirga singkat dengan nada sedikit cemas yang disembunyikan.
“Tenang saja, Pak Dirga. Aman, saya pantau dari sini,” jawab Laras sembari memberikan senyum meyakinkan.
Dirga mengangguk mantap, lalu bergegas pergi dengan langkah yang hampir seperti derap sepatu bot saat latihan baris-berbaris.
Sementara itu, Alika duduk dengan tenang di atas karpet ruang bermain. Jemarinya sibuk menyusun balok-balok plastik warna-warni yang kini membentuk struktur tidak beraturan—entah itu kastil atau markas militer, hanya imajinasi Alika yang tahu. Boneka kelinci kesayangannya, Bunga, duduk tegak di sampingnya sebagai penonton paling setia. Sesekali, Alika mengajak boneka itu berbicara dengan nada yang diimut-imutkan.
“Ini rumah Bunga, ya,” gumamnya sambil menata balok dengan hati-hati. “Terus, yang ini kamar Papa. Papanya harus tidur yang nyenyak, Bunga.”
Suster Laras yang memperhatikan dari meja perawat hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah polos anak itu yang begitu ceria, seolah-olah dunia ini tidak memiliki masalah sedikit pun. Tepat saat itu, pintu ruang praktik terbuka dan Kiara melangkah keluar setelah menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhirnya. Matanya yang tajam dan terbiasa mengamati gejala medis langsung menangkap sosok Alika yang sedang bermain sendirian.
Langkahnya terhenti sejenak, lalu ia menghampiri Alika dengan langkah anggun namun tegas. “Lho, Papa ke mana? Kok ditinggal sendirian?”
“Belum tahu, Dok,” jawab Alika santai, masih fokus pada balok-baloknya.
“Tadi pamitnya beli minum sebentar, Dok,” sahut Suster Laras dari mejanya, memberikan laporan cepat.
“Oh, begitu,” gumam Kiara. Ia kemudian ikut duduk di atas karpet, tepat di samping Alika. Auranya yang biasanya dingin mendadak melunak saat berhadapan dengan pasien kecilnya ini. “Lagi main apa nih, hm? Seru sekali kelihatannya.”
“Main rumah-rumahan, Dokter Kia!”
“Wah, bagus sekali buatannya. Itu bangunan apa?”
Alika tersenyum bangga, memamerkan hasil susunannya yang miring-miring itu. Kiara memperhatikannya lekat-lekat. Sejak pertemuan pertama, ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal di benaknya—sebuah pertanyaan yang bukan bersifat medis, melainkan lebih ke arah rasa ingin tahu manusiawi. Ia belum pernah sekalipun melihat ibu Alika. Setiap kontrol, hanya Dirga yang datang dengan seragam lorengnya atau pakaian kasual yang rapi. Jika memang ayahnya sibuk sebagai pilot, seharusnya ada seorang ibu yang bergantian mengantar atau setidaknya menelepon.
Rasa penasaran itu akhirnya menang. Ia merasa ini saat yang tepat.
“Alika,” panggil Kiara lembut, suaranya nyaris seperti bisikan.
“Iya, Dokter?”
“Tante boleh tanya sesuatu tidak?”
Alika berhenti sejenak, lalu mengangguk antusias. “Boleh!”
Kiara menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar netral. “Di mana Mama?”
Gerakan tangan Alika yang sedang menyusun balok tiba-tiba berhenti. Kepala kecilnya miring ke kiri, tampak berpikir keras—seolah sedang memproses data intelijen yang sangat rahasia. “Mama?”
“Iya, Mama. Mama Alika.”
“Mama ... ada di rumah.”
Kiara tersenyum tipis, mencoba menggali lebih dalam, penasaran apakah ada sesuatu yang janggal. “Oh ya? Lagi sakit, kah?”
“Enggak.”
“Lagi kerja ya, makanya tidak antar Alika?”
Alika mulai terlihat bingung. Ia teringat pesan Ayah Komandan sebelum pergi tugas, 'Kalau ada yang tanya soal Papa atau Mama, Alika jangan cerita macam-macam dulu ya.' Begitu juga dengan pesan tegas dari Papa, 'Kalau bingung, jawab yang sederhana saja.'
Anak kecil itu mulai menggigit bibir bawahnya, menatap Bunga seolah meminta bantuan untuk jawaban yang paling aman.
“Kenapa, Sayang? Kok diam?” tanya Kiara dengan nada sabar yang luar biasa.
“Mama ...” Alika menggantung kalimatnya. Ia tahu Mama memang ada di rumah—rumah Ayah Komandan. Tapi kalau ia bilang begitu, nanti ia harus menjelaskan kenapa Papa tinggal di tempat lain dan kenapa situasinya serumit ini. Alika merasa dadanya sesak karena bingung harus menjawab apa.
Kiara menangkap perubahan ekspresi Alika yang mendadak cemas. Ia tidak ingin memaksanya. “Tidak apa-apa kalau tidak mau cerita sekarang. Mungkin lain kali saja?”
“Tapi ...”
“Iya, mau bilang apa?”
Alika menggeleng cepat, seolah ingin mengusir pikiran itu. “Enggak jadi, Dok.”
Kiara tidak menyerah begitu saja. “Papa sering di rumah?” ia mencoba memancing dengan pertanyaan yang lebih umum.
Alika spontan mengangguk mantap. “Iya, Papa sering di rumah. Kami masak bareng!” Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong, karena beberapa hari terakhir Dirga memang selalu berada di rumah dinas tempat Alika tinggal sementara.
“Papa masak juga? Wah, Papa masak apa?”
“Iya, Papa masak enak! Masak nasi goreng!”
“Papa antar sekolah?”
Alika terdiam, mencoba mencerna pertanyaan itu. Namun, sebelum ia sempat menjawab, terdengar langkah kaki yang familiar dan tegas mendekat dari arah lorong.
“Alika.”
Dirga muncul sambil membawa dua botol air mineral. Ia langsung menangkap raut wajah Alika yang tampak tertekan dan bingung saat berhadapan dengan Kiara.
“Papa!” Alika berlari kecil menyambutnya, merasa terselamatkan.
“Nih, minum dulu, pelan-pelan,” Dirga menyerahkan botol air itu dengan sigap, lalu memberikan tatapan penuh selidik pada Kiara.
“Terima kasih, Pa.”
Kiara perlahan berdiri, menatap Dirga dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara curiga dan penasaran. “Tadi saya sempat menemani Alika bermain sebentar.”
“Terima kasih sudah menjaga Alika, Dok,” ucap Dirga formal, suaranya terdengar dingin dan menjaga jarak.
“Kami sempat mengobrol sedikit soal sekolahnya.”
Dirga mengangguk, mencoba bersikap biasa meski firasatnya mulai tidak enak. “Begitu ya, Dok. Pasti Alika cerewet sekali, ya?”
Sampai akhirnya, Kiara memutuskan untuk membuang basa-basinya. Ia kembali membuka suara dengan nada yang jauh lebih serius, menusuk, dan tidak bisa diabaikan. “Bapak Dirga.”
“Iya, Dok?”
“Saya tadi sempat bertanya soal ibunya Alika.”
Jantung Dirga serasa berhenti berdetak selama satu detik. Namun, dengan latihan militer yang keras, ia tetap berusaha menjaga wajahnya tetap datar dan tenang. “Oh ya? Memangnya apa kata Alika?”
“Dia bilang Mamanya ada di rumah.”
Dirga menarik napas lega secara tersembunyi. Syukurlah, Alika tidak mengatakan hal-hal yang aneh atau rahasia yang tidak boleh terbongkar. Namun, Kiara tidak melepaskan tatapannya dari Dirga. Ia memperhatikan setiap pergerakan otot wajah pria itu dengan teliti. Meski Dirga bisa menguasai diri dengan cepat, ada jeda singkat yang tidak luput dari mata seorang dokter yang terbiasa memperhatikan detail pasiennya.
“Bapak,” panggil Kiara lagi, suaranya kini merendah, menuntut perhatian penuh.
“Iya, Dok?”
“Selama ini saya belum pernah bertemu langsung dengan ibunya anak ini. Tidak pernah sekali pun.”
Dirga terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Kalau berbohong terlalu jauh, masalah akan makin rumit. Kalau jujur, rahasia besar yang dititipkan Komandan bisa terbongkar dalam sekejap.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan di poli anak itu. Kiara akhirnya mengajukan pertanyaan yang sudah lama ia simpan, sebuah pertanyaan yang membuat suasana mendadak dingin dan penuh ketegangan.
“Jadi ... di mana sebenarnya ibu dari anak ini? Mengapa seolah-olah dia tidak ada di dunia ini bagi Anda?”