BAB 6

1470 Words
“Dirga, masuk.” Suara Mayor Aditya terdengar lebih berat dan lebih berwibawa dari biasanya. Dirga yang baru saja menuntaskan laporan penerbangan hari itu segera melangkah mantap menuju ruang komandan. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara, seolah tekanan atmosfer di dalam ruangan itu baru saja naik drastis. “Siap, Komandan!” tegas Dirga sambil memberikan hormat sempurna. Aditya berdiri di depan meja kerjanya yang tertata rapi. Ponselnya tergenggam erat di tangan, seakan-akan ia sedang menahan beban dunia di sana. Meski wajahnya tampak tenang seperti permukaan danau, sorot matanya menyiratkan urgensi yang tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun. “Saya baru saja menerima panggilan tugas mendadak,” ujar Aditya tanpa basa-basi, langsung ke inti permasalahan. “Perintah baru, Komandan?” Aditya mengangguk pelan. “Tim kami harus segera berangkat hari ini juga. Operasi ini bersifat terbatas dan rahasia.” “Ke mana tujuannya, Komandan?” “Operasi ini bersifat terbatas, Dirga. Saya tidak bisa bicara banyak. Kamu tahu protokolnya.” Dirga segera mengunci mulutnya. Sebagai prajurit, ia tahu betul batasan informasi. Jika Komandan belum menginstruksikan, berarti memang bukan untuk konsumsi telinganya. Ia hanya perlu patuh dan menjalankan perintah. Aditya mengembuskan napas panjang. Ada raut ragu yang sempat melintas di wajah tegasnya—raut wajah yang jarang sekali ditunjukkan oleh seorang perwira sekaliber Aditya. “Ada satu hal yang ingin saya minta kepada kamu, Dirga. Dan ini bersifat pribadi.” “Siap, apa pun itu, Komandan.” “Tolong jaga Alika seharian ini.” Dirga sedikit tersentak. Ia mengira akan diminta menjaga pangkalan atau memimpin sisa tim, namun permintaan ini jauh lebih tidak terduga. Ia segera mengangguk mantap. “Siap laksanakan, Komandan!” “Saya sudah mencoba menghubungi pengasuhnya, tapi dia sedang berada di luar kota karena urusan keluarga. Orang tua saya pun baru bisa kembali besok pagi.” Aditya menepuk bahu bawahannya dengan tulus, gestur yang menunjukkan kepercayaan penuh. “Selain kamu, saya tidak punya orang lain yang benar-benar saya percaya untuk urusan ini.” “Serahkan pada saya, Komandan. Alika akan saya jaga sebaik mungkin, lebih dari nyawa saya sendiri.” “Saya tahu kamu bisa diandalkan, Dirga. Terima kasih.” Beberapa menit kemudian, mobil dinas Dirga sudah melaju membelah jalanan pangkalan menuju pintu keluar. Di kursi belakang, Alika tampak asyik memeluk boneka Bunga kesayangannya sambil bersenandung lagu anak-anak dengan suara kecilnya yang riang. Dunia anak-anak memang sangat sederhana, berbeda jauh dengan dunia Dirga yang penuh dengan kalkulasi. “Papa,” panggil Alika tiba-tiba, memecah keheningan kabin mobil. “Ya, Sayang?” “Ayah Komandan pergi kerja lagi ya?” “Iya, Nak.” “Kapan pulangnya?” Dirga terdiam sejenak, melirik Alika melalui kaca spion. Ia merasa tidak sanggup memberikan jawaban pasti yang mungkin akan mengecewakan gadis kecil itu. “Papa belum tahu pasti, tapi yang penting Ayah sudah aman di sana.” Alika mengangguk pelan. Meski wajahnya tampak sedikit murung, ia sudah sangat terbiasa dengan rutinitas ayah kandungnya yang sering pergi mendadak karena tugas negara. “Nanti kita cari kegiatan yang seru, ya, supaya tidak bosan,” hibur Dirga dengan nada yang ia buat seringan mungkin. “Aku mau menggambar gunung!” “Boleh, nanti kita cari buku gambar dan krayon yang paling lengkap.” “Aku juga mau ketemu Dokter Kia!” Dirga menghela napas lirih. Keinginan terakhir itu justru membuatnya berpikir keras. Ia masih harus bersiap untuk rapat singkat di pangkalan sore nanti. Membawa Alika ke ruang rapat jelas bukan pilihan yang bijak—bisa-bisa ia ditertawakan oleh rekan-rekannya karena datang bersama balita. Namun, meninggalkannya sendirian di rumah dinas juga bukan opsi yang manusiawi. Akhirnya, ia mengambil keputusan, RS Bhakti Medika. Setidaknya di sana ada area bermain anak yang aman, dan Alika juga sudah cukup akrab dengan para perawat di sana. Dirga berharap keberadaannya di rumah sakit tidak akan memancing keributan baru dengan dokter anak yang super galak itu. “Papa, kita ke rumah sakit lagi?” tanya Alika bingung saat mobil mereka berbelok di gerbang RS. “Iya, sebentar saja, ada urusan sedikit.” “Alika kan sudah tidak sakit lagi, Pa.” “Papa tahu. Kita cuma mau menunggu sebentar di sini, ya.” “Oke!” Sesampainya di sana, Alika langsung berlari kecil menuju sudut bermain di dekat poli anak. Suster Laras yang melihat kedatangan mereka langsung tersenyum ramah. “Lho, Alika? Datang lagi, ya? Cantik sekali hari ini.” “Halo, Suster Laras!” sapa Alika dengan ceria. “Sehat, Sayang?” “Sehat!” Laras mengusap kepala Alika, lalu beralih menatap Dirga dengan alis terangkat. “Kontrol lagi, Pak? Perasaan kemarin sudah bagus kondisinya.” “Bukan,” jawab Dirga singkat, merasa sedikit tidak enak hati. “Terus?” “Saya hanya ... perlu menunggu di sini sampai urusan saya selesai.” Jawaban itu jelas membuat Laras kebingungan, namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang praktik terbuka lebar. Kiara keluar sambil sibuk membaca berkas pasien dengan kacamata yang bertengger manis di pangkal hidungnya. Ia baru mengangkat kepala saat mendengar tawa renyah Alika yang memecah kesunyian poli. “Alika?” Kiara segera menghampiri mereka, ekspresinya berubah dari dingin menjadi khawatir. “Kamu sakit lagi?” Alika menggeleng cepat. “Enggak, Dokter!” Tatapan Kiara kini beralih tajam ke arah Dirga. Seolah-olah Dirga baru saja melakukan pelanggaran berat dalam prosedur kesehatan. “Bapak? Kenapa membawa Alika ke rumah sakit lagi kalau dia sehat? Bapak paham tidak ini tempat apa?” Dirga mencoba menyusun kalimat yang tepat, namun di depan Kiara, otaknya seolah tiba-tiba hang. “Saya ... ada keperluan mendadak dan tidak ada orang di rumah.” “Keperluan?” “Iya, Dok.” Kiara mengernyit tak habis pikir. “Kalau Alika sehat, kenapa tidak diajak ke taman? Atau ke kebun binatang? Atau sekadar jalan-jalan sore yang menyenangkan? Mengapa harus di sini?” Dirga hanya diam. Ia sebenarnya ingin menjelaskan bahwa ia harus tetap siaga sebagai penerbang, dan RS ini adalah tempat paling aman untuk menitipkan Alika sementara ia menunggu panggilan dari pangkalan. Tapi, menjelaskan itu semua pada Kiara tentu akan memancing rentetan pertanyaan baru yang berujung pada ceramah panjang. “Kebetulan tempat ini paling dekat dengan kantor,” jawab Dirga seadanya. Kiara mendengus tidak percaya, melipat tangannya di d**a. “Bapak tahu tidak, rumah sakit itu tempat orang berobat?” “Saya tahu.” “Bukan tempat penitipan anak sehat.” Dirga mengangguk pelan. “Saya mengerti, Dok. Saya benar-benar minta maaf.” “Bapak sepertinya tidak terlihat mengerti,” sindir Kiara pedas, membuat suasana makin panas. Alika yang sejak tadi menyimak perdebatan mereka tiba-tiba menarik ujung jas putih Kiara dengan tangan mungilnya. “Dokter Kia.” “Iya, Sayang?” suara Kiara seketika berubah menjadi sangat lembut, kontras dengan suaranya kepada Dirga. “Papa enggak nakal, kok.” Kiara menoleh, sedikit terkejut dengan pembelaan polos itu. “Papa cuma enggak punya teman main, Dok,” lanjut Alika dengan wajah serius yang amat lucu. Dirga spontan memejamkan mata, menahan malu. Ia merasa seperti prajurit yang tertangkap basah di garis depan tanpa senjata. Suster Laras yang berdiri tak jauh dari sana harus menggigit bibir agar tidak meledak tertawa. “Papa sibuk,” Alika melanjutkan penjelasannya dengan nada bijak. “Ayah Komandan juga sibuk.” Kiara terdiam sejenak. Kalimat anak kecil itu benar-benar menampar nuraninya. Ia tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang tadi menegang. “Ya sudah, Alika main di sana dulu, ya. Jangan lari-lari. Tante Dokter punya banyak mainan di sana.” “Siap, Dokter!” Alika berlari kembali ke sudut bermain dengan riang. Kiara menatap Dirga sekali lagi dengan tatapan yang sedikit lebih tenang. “Kalau lain kali Bapak bingung mencari tempat menjaga Alika, cari tempat yang lebih nyaman. Jangan di sini. Banyak kuman.” “Baik, Dok.” “Dan buatlah anak seusianya punya ruang bermain yang lebih luas daripada sudut rumah sakit ini. Dia anak yang aktif.” “Baik, Dok.” Jawaban Dirga tetap singkat dan patuh. Tidak ada bantahan, tidak ada debat. Sikap legowo dan patuh itu justru membuat Kiara kesulitan mempertahankan kekesalannya. Setiap kali ia ingin marah, pria ini selalu menerimanya dengan datar, yang entah kenapa membuat Kiara merasa bersalah sendiri. Saat Dirga berbalik untuk menghampiri Alika, Suster Laras mendekat ke sisi Kiara. Ia menahan senyum sambil melirik punggung pria berseragam loreng itu yang tampak tegap namun kikuk. “Dok ...” bisik Laras dengan nada jahil. “Hm?” Laras menundukkan suaranya. “Pilot itu ... ternyata ganteng juga ya, apalagi kalau lagi bingung begitu. Mukanya jadi polos banget.” Kiara langsung menatap Laras dengan wajah datar andalannya. “Jangan mulai, Laras.” Sementara itu, Laras buru-buru menahan tawa saat melihat Dirga sedang berdiri di depan rak mainan, memandangi kotak puzzle dengan ekspresi yang sangat serius—seolah-olah sedang menghitung koordinat serangan udara yang rumit. Benar-benar sebuah perpaduan antara pria tangguh dan ayah yang sedang berusaha keras, sebuah pemandangan yang membuat Kiara tak sadar menahan senyum kecil di sudut bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD