”Papa ... tunggu sebentar.”
Langkah kecil Alika mendadak terhenti tepat di tengah lobi RS Bhakti Medika yang sibuk. Dirga, yang sudah melangkah beberapa meter di depan dengan langkah tegap khas seorang prajurit, segera menoleh dengan sigap. Ia memang selalu waspada, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.
”Ada apa, hm?” tanya Dirga lembut.
Alika mengangkat sebelah kakinya yang terbungkus sepatu kecil berwarna putih. “Tali sepatu Alika lepas.”
Benar saja, simpul tali sepatu itu sudah terurai hingga menjuntai menyentuh lantai keramik yang mengilap. Tanpa membuang waktu, Dirga berbalik arah dan mendekat. Ia tidak tampak terburu-buru, meski jadwal latihan penerbangannya di pangkalan sudah menunggu di depan mata. Bagi Dirga, memastikan kenyamanan Alika saat ini jauh lebih prioritas daripada sekadar memanaskan mesin pesawat.
”Duduk di kursi tunggu itu sebentar, ya,” perintah Dirga tenang.
Alika menggeleng cepat. “Enggak mau.”
”Kenapa? Duduk dulu supaya Papa gampang mengikatnya.”
”Nanti celana Alika kotor, Pa,” jawab Alika polos dengan wajah seriusnya yang menggemaskan.
Mendengar alasan itu, sudut bibir Dirga sedikit terangkat. Ketegasan seorang prajurit TNI AU dalam dirinya seketika luluh oleh logika sederhana seorang anak berusia empat tahun. Ternyata, mempertahankan kebersihan celana jauh lebih penting bagi Alika daripada efisiensi waktu seorang pilot tempur.
”Kalau begitu, diam di situ. Jangan bergerak, ya,” ujar Dirga sambil berlutut di hadapan putri komandannya.
Seragam loreng TNI AU yang dikenakannya menyapu lantai lobi yang bersih, namun ia tidak sedikit pun memedulikannya. Baginya, kenyamanan Alika jauh lebih berharga daripada debu yang mungkin menempel di seragam kebanggaannya. Tangannya yang biasanya lihai mengendalikan stick pesawat di angkasa, kini bekerja dengan penuh kelembutan, meraih ujung tali sepatu yang berserabut.
Gerakannya sangat tenang, pelan, dan begitu teliti. Ia tidak asal ikat. Dirga memastikan simpulnya rapi dan tidak terlalu kencang, sehingga kaki Alika tetap bisa bergerak dengan nyaman saat berjalan nanti. Ia benar-benar mengerahkan konsentrasi tingkat tinggi, seolah sedang melakukan pre-flight check pada pesawat tempur tercanggih.
”Nah, coba gerakkan kakinya,” perintah Dirga setelah selesai dengan simpul pita yang sempurna.
Alika mengayun-ayunkan kaki kecilnya. “Enak, Pa. Tidak sakit.”
”Tidak terlalu kencang ikatannya?”
”Enggak, pas banget!”
Dirga merapikan sedikit ujung kaus kaki yang sempat terselip di luar sepatu. Ia memastikan semuanya sempurna sebelum mereka melanjutkan perjalanan. “Sudah, selesai.”
Begitu Dirga berdiri tegak, Alika langsung menghambur memeluk lehernya. “Terima kasih, Papa!”
”Iya, sama-sama, Sayang.”
”Papa hebat sekali,” bisik Alika di sela pelukannya yang erat.
Dirga hanya tersenyum tipis—senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain—sambil mengusap pelan kepala Alika. Momen sederhana dan penuh kehangatan itu berlangsung begitu alami. Hingga tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi mengamati dari balik pintu kaca poli anak yang sedikit terbuka.
Itu Kiara.
Ia baru saja selesai mengurus administrasi pasien terakhir ketika pemandangan di lobi itu menarik perhatiannya. Awalnya, ia hanya berniat memastikan Alika benar-benar sudah pulang dengan kondisi baik, namun langkahnya justru terpaku di tempat. Ia seolah terhipnotis oleh pemandangan yang tersaji di depannya.
Apa yang dilihatnya sungguh di luar ekspektasi Kiara selama ini.
Pria itu—yang dalam ingatannya adalah sosok pria kaku, sok tahu, dan ceroboh—kini tampak berlutut tanpa rasa gengsi sedikit pun hanya untuk mengikat tali sepatu anaknya. Ia tidak terburu-buru, tidak terlihat canggung, bahkan dengan telaten memeriksa kembali simpulnya agar tidak mudah lepas saat anak itu berlari nanti.
Kiara tanpa sadar melipat kedua tangan di depan d**a. Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu hangat di matanya. Selama beberapa hari terakhir, ia terus memupuk prasangka bahwa Dirga adalah sosok ayah yang buruk, terlalu sibuk dengan urusan militer, dan tidak memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan emosional anaknya.
Namun, lelaki yang sedang berjongkok di depan Alika sekarang terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda. Tatapannya lembut, nada bicaranya penuh kesabaran yang luar biasa. Ia mendengarkan setiap celoteh Alika dengan antusias, meski isinya sering kali hanya cerita sederhana tentang boneka kelincinya atau hal-hal lucu yang ditemui sepanjang jalan.
”Mau digendong, Papa,” pinta Alika manja, merentangkan tangannya.
”Boleh, ayo naik ke pundak Papa.”
Dirga mengangkat tubuh mungil Alika dengan satu tangan, seolah gerakan itu sudah menjadi kebiasaan rutinnya yang dilakukan setiap hari. Alika tertawa kecil kegirangan. Boneka Bunga yang dipeluknya hampir saja terjatuh dari dekapan, namun Dirga dengan sigap menangkapnya menggunakan tangan yang satunya, sebelum boneka itu menyentuh lantai.
”Hampir saja jatuh, Bunga jangan diajak jatuh, ya,” canda Dirga sambil menyelipkan kembali boneka itu ke pelukan Alika.
”Hehe ... Papa lucu!”
Kiara mengembuskan napas panjang. Pikirannya mulai dipenuhi oleh tanda tanya besar yang tidak ada habisnya. Jika benar pria itu tidak peduli, mengapa hal-hal kecil seperti ini dilakukan dengan begitu telaten? Apakah penilaiannya selama ini salah total?
Tidak, Kiara segera menepis dugaan itu di dalam hati. Satu pemandangan ini tidak cukup untuk menghapus fakta bahwa beberapa hari lalu Alika datang ke IGD dalam keadaan demam tinggi dan basah kuyup.
Ia tetap tidak bisa membenarkan kejadian hari itu. Meski begitu, satu hal mulai bergeser di dalam benaknya. Penilaiannya terhadap Dirga tidak lagi sehitam dan sepekat sebelumnya. Ternyata, di balik wajah datar dan seragam loreng yang kaku itu, ada sisi yang belum pernah ia lihat.
Di luar dugaan, Suster Laras muncul dari arah belakang sambil membawa tumpukan map pasien yang harus segera diarsipkan. “Dokter Kiara, belum pulang? Sudah lewat jam praktik, lho.”
Kiara tersentak kecil, lamunannya pecah. “Eh, iya, Suster. Ini baru mau beres-beres.”
Suster Laras mengikuti arah pandang Kiara ke lobi. “Oh, itu pasien yang kemarin ya, Dok?”
”Iya,” jawab Kiara singkat, berusaha menetralkan ekspresinya.
”Lucu ya anaknya. Papanya juga kelihatan sabar sekali sama anaknya,” puji Suster Laras sambil berlalu menuju ruang administrasi.
Ucapan Suster Laras membuat Kiara kembali menoleh ke arah Dirga. Sabar? Mungkin memang begitu. Setidaknya, itulah sisi yang baru saja ia saksikan sendiri.
Di lobi, Dirga sama sekali tidak menyadari dirinya sedang diamati oleh dokter yang paling galak di RS Bhakti Medika itu. Ia menurunkan Alika perlahan setelah sampai di dekat pintu keluar.
”Sudah bisa jalan sendiri sekarang?” tanya Dirga.
”Bisa, Papa.”
”Ya sudah, pegang tangan Papa yang kuat. Jangan sampai lepas.”
”Oke!”
Jari mungil Alika menyelip erat di antara jemari besar Dirga. Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir dengan langkah yang selaras. Namun, beberapa langkah kemudian, Alika berhenti lagi karena melihat sesuatu.
”Papa,” panggilnya sambil menarik tangan Dirga.
”Hm? Ada apa lagi?”
”Itu Dokter Kia, Pa. Lihat!”
Dirga spontan mendongak. Refleksnya mengikuti arah telunjuk Alika yang mengarah ke pintu kaca poli anak. Di balik pintu kaca itu, Kiara masih berdiri mematung di tempatnya, terjebak dalam pikirannya sendiri. Tatapan mereka bertemu. Selama beberapa detik, suasana mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang membuka suara, hanya denting pintu otomatis yang terdengar di kejauhan.
Dirga segera mengangguk sopan sebagai tanda hormat—sebuah gestur prajurit yang disiplin. Kiara membalasnya dengan anggukan kecil yang kaku. Kali ini, tidak ada tatapan tajam yang menghakimi seperti pertemuan pertama mereka. Tidak ada ceramah panjang tentang kesehatan. Hanya keheningan yang terasa sedikit canggung dan penuh makna yang tak terucapkan.
Dirga memutuskan untuk segera mengalihkan pandangan agar tidak terlihat aneh. “Yuk, jalan lagi.”
”Iya, Papa!”
Mereka kembali melangkah menjauh menuju pintu keluar. Sementara itu, Kiara masih berdiri mematung di balik kaca, pikirannya kini berkecamuk dengan keraguan yang makin besar. Pria yang selama ini ia cap sebagai “ayah buruk” ternyata menyimpan sisi lembut yang belum pernah ia lihat. Entah mengapa, pertemuan singkat tanpa sepatah kata itu justru meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dan sulit diabaikan daripada perdebatan sengit mereka sebelumnya.
Kiara menarik napas dalam, membiarkan udara sore masuk ke paru-parunya. Sepertinya, aku harus mulai melihat dia dari sudut pandang yang berbeda, batinnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya.