”Papa, kata Dokter Kia harus makan sayur.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Dirga sejak mereka meninggalkan RS Bhakti Medika kemarin. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan daftar menu yang dibuat dokter itu dengan sangat mendetail. Bagi seorang pilot tempur yang terbiasa dengan prosedur navigasi yang kaku, daftar menu ini terasa seperti perintah misi yang lebih sulit daripada bermanuver di ketinggian tiga puluh ribu kaki.
Pagi itu, sesaat setelah menyelesaikan briefing singkat di pangkalan, Dirga langsung membawa mobilnya menuju supermarket terdekat dari rumah dinas. Ia bahkan tidak sempat mengganti seragam loreng TNI AU yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Sepatu botnya masih tampak mengilap, mencolok di antara ibu-ibu yang sedang sibuk memilih cabai.
Alika berjalan di sampingnya dengan antusias sambil memeluk erat boneka kelinci kesayangannya, Bunga. Rambutnya diikat dua, membuatnya tampak seperti peri kecil yang siap menaklukkan dunia sayuran.
”Papa, Bunga juga mau ikut belanja!” seru Alika dengan nada riang yang mampu mencairkan wajah kaku Dirga.
Dirga melirik boneka itu sekilas, lalu berjongkok sedikit agar tingginya setara dengan Alika. “Memangnya Bunga makan apa, hm?”
”Bunga makan pura-pura, Pa! Jadi Bunga harus makan sayur supaya sehat!”
”Baiklah kalau begitu, kita beli yang terbaik untuk Bunga dan Alika.”
Alika terkikik geli. Beberapa pengunjung supermarket sempat menoleh ke arah mereka. Pemandangan seorang prajurit gagah berseragam lengkap yang tampak serius mendorong troli sambil mengajak balita berdiskusi soal sayuran organik memang bukan pemandangan yang biasa dilihat orang. Beberapa orang bahkan berbisik-bisik, mungkin mengira Dirga sedang menjalani hukuman dari istrinya.
Dirga akhirnya berhenti di depan rak sayur organik. Ia memandangi deretan bayam, brokoli, wortel, buncis, dan sawi yang tersusun rapi dengan label harga yang membuat alisnya sedikit berkedut. Semuanya tampak ... sama saja di matanya. Ia mengambil satu bungkus brokoli, membacanya dengan teliti seperti sedang membaca manual pesawat tempur, lalu meletakkannya lagi. Ia mencoba mengambil bayam, membacanya lagi, lalu mengembuskan napas panjang.
Mana yang paling bagus untuk anak usia empat tahun? batinnya frustrasi. Ia bisa mendeteksi target musuh dari jarak jauh, tapi memilih brokoli yang “segar” ternyata jauh lebih menantang.
Dirga mengeluarkan ponsel dari saku seragam. Nama pertama yang muncul di daftar kontaknya adalah Lettu Bima, rekan sesama penerbang yang kebetulan sudah memiliki dua anak. Telepon segera tersambung.
”Ada apa, Ga? Tumben menelepon jam segini?” tanya Bima dari seberang.
”Bim, saya mau tanya sesuatu yang krusial.”
”Ya?”
”Kalau anak empat tahun, sayur apa yang bagus untuk dikonsumsi?”
Suasana di seberang mendadak hening. Terdengar suara tawa tertahan sebelum Bima menjawab, “Kamu nanya apa barusan? Sayur?”
”Iya, sayur. Anak empat tahun bagusnya makan apa supaya tidak dimarahi dokter?”
”Dirga, kamu habis kebentur kanopi pesawat atau kamu salah sambung ke nomor pusat informasi kesehatan?”
”Bukan. Cepat jawab saja, saya sedang diawasi di sini!”
”Ya mana saya tahu kenapa kamu tanya itu ke saya! Kamu kan punya tangan, buka Google!”
Dirga memijat pelipisnya yang mendadak pening. “Kamu punya keponakan, kan? Jangan banyak tanya.”
”Oh ...” Bima tertawa terbahak-bahak. “Kirain urusan penting soal latihan gabungan. Kalau keponakan saya sih suka brokoli sama wortel. Dibuat sup, enak.”
”Brokoli?”
”Iya, kasih bumbu sedikit.”
”Wortel?”
”Iya, dipotong kecil-kecil, jangan lupa.”
Dirga menarik napas dalam. “Bukan itu maksudnya. Dokter bilang makanan harus sehat, bersih, dan higienis.”
”Ya ampun, Dirga! Semua sayur di supermarket itu sehat! Jangan terlalu dipikirkan!”
Dirga menatap lagi rak di depannya dengan lesu. Jawaban Bima sama sekali tidak membantu ketenangannya. “Ya sudah, terima kasih.”
Telepon ditutup. Dirga berdiri mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna saran Bima. Alika menarik-narik ujung seragamnya. “Papa, aku mau apel yang warnanya merah itu!”
Dirga langsung mengambil beberapa buah apel ke dalam troli. “Lagi? Apel saja?”
”Aku juga mau pisang, Pa!”
”Oke, siap. Apa pun untuk bos kecil.”
Troli mereka kini mulai terisi penuh dengan buah, s**u, telur, roti gandum, dan yogurt. Dirga merasa sudah menjalankan instruksi yang ditulis Kiara dengan cukup baik. Ia sudah merasa seperti “Papa” yang sangat bertanggung jawab. Namun, saat melewati lorong makanan ringan, Alika tiba-tiba berhenti. Matanya berbinar menatap rak camilan yang penuh warna-warni dan sangat tidak sehat.
”Papa ...”
”Hm? Apa sayang?”
”Itu kayaknya enak. Bunga juga mau,” Alika menunjuk sebungkus biskuit berwarna cerah dengan karakter kartun di depannya.
Dirga mengikuti arah telunjuk mungil Alika. Ia mengambil satu bungkus tanpa berpikir panjang. Di kemasannya tertulis rendah gula. Ia merasa pilihannya sudah cukup aman. Rendah gula artinya sehat, pikirnya menyederhanakan logika.
Siang harinya, sesuai jadwal, Dirga kembali membawa Alika ke RS Bhakti Medika untuk pemeriksaan singkat. Alika duduk di ruang tunggu dengan kaki yang tidak berhenti bergoyang, sambil memegang kantong belanja kecilnya.
”Papa.”
”Iya, sayang?”
”Boleh makan camilannya sekarang? Aku lapar setelah dari supermarket tadi.”
Dirga melirik jam tangannya. Masih ada sepuluh menit sebelum giliran mereka dipanggil masuk ke poli. “Boleh, silakan.”
Alika tersenyum lebar dan mengeluarkan camilan yang dibeli tadi pagi. Namun, belum sempat bungkusnya terbuka, sebuah suara tegas yang sudah sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang.
”Alika.”
Alika spontan menoleh dengan wajah ceria. “Dokter Kia!”
Kiara baru saja keluar dari ruang poli setelah mengantar pasien terakhir. Melihat Alika, wajahnya yang tadi tampak lelah langsung melunak, senyum manis menghiasi wajahnya. “Kontrol lagi, ya? Bagaimana kabarnya hari ini?”
”Iya, Dokter. Aku sudah sehat!”
”Bagus kalau begitu.”
Kiara mengangguk puas. Namun, saat tatapannya turun ke tangan Alika, senyumnya perlahan memudar. Ia menatap benda di tangan Alika dengan tajam. “Coba Tante lihat camilannya sebentar, boleh?”
Alika dengan polos menyerahkan bungkus camilan itu. Kiara membaca bagian depan kemasan, lalu membaliknya dengan cepat. Matanya menyapu tabel komposisi dengan teliti, seolah sedang mencari kesalahan fatal.
Gula. Pemanis tambahan. Perisa.
Tatapannya langsung beralih ke Dirga. Dingin, tajam, dan penuh interogasi. “Bapak yang membeli ini?”
”Iya, saya,” jawab Dirga mencoba tetap tenang, meski di dalam hati ia merasa seperti pilot yang baru saja melakukan kesalahan navigasi fatal.
”Kenapa memilih yang ini?”
”Di kemasannya tertulis rendah gula, Dok. Saya pikir itu aman.”
Kiara kembali melihat bungkus itu dengan tatapan datar yang membuat Dirga menelan ludah. “Lalu, apakah Bapak membaca bagian belakangnya juga?”
Dirga terdiam. Belum. Ia hanya membaca tulisan besar di depan karena terburu-buru. Kiara menghela napas pelan. Nada bicaranya tetap tenang, tapi sorot matanya kembali membuat Dirga merasa sedang diinterogasi di markas oleh komandan yang sangat galak.
”Boleh saya jelaskan sedikit, Bapak?”
”Tentu, Dok. Silakan.”
”Rendah gula di depan kemasan itu bukan berarti otomatis produknya baik untuk anak-anak,” ujar Kiara sambil menunjuk daftar komposisi yang panjang dengan pulpennya. “Orang tua sebaiknya tetap membaca kandungan bahan di belakangnya. Di sini masih banyak pemanis dan perisa buatan yang justru tidak baik untuk anak usia Alika.”
Dirga memperhatikan dengan saksama. Baru kali ini ia benar-benar melihat tulisan kecil yang berderet di belakang kemasan itu. Ia merasa sangat bodoh. Alika menatap keduanya bergantian dengan bingung, tidak mengerti kenapa suasana mendadak tegang.
”Papa salah lagi ya?” tanya Alika polos, membuat suasana hati Dirga makin tidak keruan.
Dirga tersenyum tipis, menatap putri komandannya itu. “Iya, Papa salah lagi.”
Jawabannya begitu jujur sampai Kiara sempat kehilangan kata-kata. Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan, tidak ada argumen. Pria itu langsung mengakui kesalahannya begitu saja dengan kerendahan hati yang mengejutkan. Beberapa detik kemudian, Kiara mengambil camilan itu dari tangan Alika dan mengangkatnya setinggi d**a, tepat di depan wajah Dirga.
”Bapak ...” Kiara menggantung kalimatnya.
Dirga menatap kemasan itu, lalu menatap mata Kiara yang kini tampak sedikit melembut, meski tetap saja menghujam.
”Apa penjelasan Bapak kali ini untuk yang satu ini? Apakah Bapak masih ingin memberikan ini kepada Alika, atau Bapak akan mulai belajar membaca komposisi dengan lebih teliti mulai besok?”
Dirga terdiam, ia tahu ini bukan sekadar soal camilan, ini soal kepercayaan. Dan dia merasa harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan itu.