Sementara itu, di ruang rawat VIP tempat Agnes di rawat, ia duduk bersandar, menunggu kedatangan seseorang setelah Daniel pamit pergi ke kantor.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Agnes.
Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya bersetelan rapi melangkah masuk. Markus Steward, pengacara keluarga yang sudah dipercaya turun-temurun, membawa map hitam di tangannya. Ia mengangguk hormat sebelum mendekat.
“Nona Agnes,” sapanya lembut, “Saya sudah siapkan dokumen yang Anda minta.”
Ia mengambil salah satu lembaran dan menyerahkannya pada Agnes.
“Ini surat wasiat yang Anda tanda tangani setelah pernikahanmu dengan Daniel, tiga tahun lalu,” ucapnya. Agnes menerima kertas itu dengan tangan bergetar. Matanya berkaca-kaca menahan sakit hati yang ia rasakan hingga detik ini.
Matanya membaca setiap huruf yang tertulis di sana. Dalam lembaran itu Agnes menulisnya dengan hati yang berbunga-bunga, saat hatinya dipenuhi cinta pada Daniel.
“Jika aku meninggal karena kecelakaan, penyakit, atau sebab serius lainnya, seluruh harta, aset, dan sahamku akan jatuh pada suamiku tercinta, Daniel,” ucapnya lirih seolah menyesali semua tulisan itu.
Agnes menghapus air mata lalu menatap Markus dengan serius, “Markus … aku ingin membatalkannya.”
Markus menatapnya terkejut. “Anda ingin membatalkan surat wasiat ini? Lalu Anda akan menggantinya dengan apa?”
Agnes meletakkan kertas itu di pangkuannya. Tangannya mengepal pelan. “Aku ingin seluruh harta, aset, dan sahamku diberikan kepada yayasan keluargaku. Tidak boleh ada satu pun jatuh ke tangan Daniel selain itu.”
“Boleh saya bertanya … kenapa tiba-tiba Anda berubah pikiran?” tanya Markus hati-hati.
Agnes menunduk, senyum kecil terulas di bibirnya saat mengingat masa lalu. “Ucapanmu benar, Markus … bahwa aku tidak bisa mempercayai siapa pun. Bahkan orang yang aku cintai sekali pun. Tapi kali ini … aku sudah tersadar. Aku tidak akan buta lagi.”
Markus mengangguk pelan, ia memahami beban yang ada di depan Agnes saat ini. Tanpa banyak bertanya lagi, ia menutup map hitamnya, lalu mengeluarkan satu lembar kertas kosong dari slot lain, beserta pulpen perak yang selalu ia bawa. Ia mengulurkannya kepada Agnes.
“Kalau begitu … tulislah yang baru. Saya akan pastikan semuanya sah secara hukum setelah Anda selesai.”
Agnes menatap kertas kosong itu lama, seperti memandang babak baru dalam hidupnya yang pahit, tapi jujur. Tangannya terangkat perlahan, jemarinya menggenggam pulpen. Satu demi satu kata mulai ia tulis, sebuah harapan baru yang ia taruh dalam setiap hurufnya.
Setelah selesai menulisnya, Agnes menyerahkannya lagi pada Markus. “Cepat kau urus surat wasiat ini. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padaku sebelum semuanya selesai,” ucap Agnes sedikit merasakan takut yang menjalar dalam hatinya.
Markus menerima surat wasiat baru itu, “Lalu ... bagaimana dengan pernikahanmu dengan Daniel?” tanya Markus seolah mengerti alur dari keputusan Agnes hari ini.
“Tunggulah sebentar lagi, kau mungkin akan mengurus perceraianku cepat atau lambat,” jawab Agnes dengan mantap.
Markus pun menunduk memberi hormat lalu pergi dari sana. Meninggalkan Agnes yang menghela napas. Keputusannya tadi sangatlah berat, seolah beban yang selama ini ia tanggung begitu menusuk hatinya.
Pengkhianatan yang Daniel lakukan di kehidupannya yang lalu, membuat Agnes memahami bahwa cinta juga bisa dimanipulasi. Bahwa perasaan tulusnya bisa dimanfaatkan karena dirinya yang terlalu lena pada kebahagiaan yang fana.
Tapi, kali ini semua itu tidak akan pernah terjadi. Dan Agnes akan pastikan bahwa Daniel akan menerima akibat dari semua yang sudah ia lakukan hingga membuat Daniel memohon ampun padanya.
***
Esok hari, Daniel sedang rapat di kantornya, Diamond Real Estate. Saat pegawai sedang melakukan presentasi, Rachel, sekretaris pribadinya tiba-tiba masuk dengan wajah pucat menahan panik.
Ia menunduk dan berbisik di telinga Daniel tanpa suara yang mengganggu rapat hari itu.
Sekejap, sorot mata Daniel berubah tajam. “Kau yakin?” tanyanya dengan rahang yang mulai mengeras.
Rachel mengangguk sekali dengan tegas. Daniel segera bangkit dari kursinya dan menghentikan semua orang dari aktivitasnya.
“Rapat selesai. Minggu depan kita lanjut,” ucapnya dan melangkah keluar tanpa mendengarkan pendapat pegawai yang lain. Rachel pun mengikuti langkah Daniel menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, Daniel melempar jasnya ke sofa, menggebrak meja, lalu menoleh tajam ke arah Rachel.
“Apa yang kau katakan tadi, benar?” tanyanya menahan amarah.
Rachel menelan ludah, lalu menjawab hati-hati. “Saya tidak berani berbohong soal ini, Pak. Saya melihat sendiri Pak Markus datang ke kantor notaris tadi pagi. Saya memang tidak tahu persis apa isi dokumen yang dia urus, tapi orang dalam di sana mengonfirmasi bahwa Nyonya Agnes telah mengubah isi wasiatnya.”
Daniel mendengus penuh amarah. “Dari mana kau tahu sedetail itu?”
“Saya punya orang yang biasa memantau hal-hal seperti ini untuk keamanan Bapak. Sudah lama sejak terakhir Markus datang ke notaris. Dan saat saya cari tahu lebih jauh, nama Nyonya Agnes muncul dalam berkas yang ia bawa.”
Daniel mengusap wajahnya keras-keras, lalu menatap kosong ke dinding seolah mencoba menahan badai yang bergemuruh di kepalanya. Dadanya naik turun, pikirannya penuh tanda tanya, ketidakpercayaan, dan amarah bercampur takut kehilangan kendali.
“Agnes … apa yang sedang kau lakukan?” gumamnya menggeram marah.
Daniel menghela napas berat, lalu berkata,“Cari tahu semua. Aku mau detailnya. Siapa notarisnya, kapan dia tanda tangan, dan siapa saja yang tahu.”
Rachel mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Daniel lalu duduk, bersandar di kursinya, kedua tangannya mengepal di atas meja. Matanya menajam memikirkan hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Jika perkiraannya benar, maka seluruh rencananya akan hancur seketika.
***
Sementara itu, Agnes sedang merapikan pakaiannya. Infus sudah dilepas, bekas plesternya masih tertempel di pergelangan tangan. Hari ini ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi dia tidak memberitahu Daniel perihal kepulangannya ini. Setelah selesai, ia menarik napas panjang lalu keluar kamar dengan penuh percaya diri.
Ia turun dari lift rumah sakit, menuju lobi yang ramai oleh lalu-lalang pasien dan perawat. Begitu sampai di depan pintu kaca besar, matanya terpaku.
Harry sudah menunggu kedatangannya dengan mobil hitamnya. Entah bagaimana pria itu tahu kalau hari ini jadwal Agnes keluar rumah sakit. Namun, Agnes tidak peduli, dia tetap berjalan mendekati Harry meski tanpa senyum di wajahnya.
Pria itu bersandar di kap mobil, saat matanya melihat Agnes mendekat, Harry berdiri tegak, mengambil alih tas kecil di tangannya tanpa bicara, lalu dengan satu gerakan membuka pintu mobil untuknya.
Tanpa suara, Agnes masuk, duduk di kursi penumpang. Pintu mobil tertutup, dan Harry segera menyusul duduk di kursi kemudi.
Mobil perlahan meninggalkan area rumah sakit. Keduanya masih diam dengan pikiran masing-masing. Hubungan keduanya mulai terjalin setelah mereka memutuskan untuk bekerja sama membalas pengkhianatan yang dilakukan Daniel dan Emma di belakang mereka. Mengubah takdir hidup mereka untuk mendapatkan keadilan dan kebahagiaan yang sebelumnya telah direnggut dengan tragis tanpa kesempatan untuk memahami semuanya.
Harry sesekali melirik ke arah Agnes yang masih pucat. Namun, ia mulai memberikan kepercayaannya pada Agnes dan akan melakukan segalanya untuk tujuan keduanya. Sementara Agnes semakin yakin dengan langkah yang akan ia lalui selanjutnya.