02. Tuan Jaksa, Sang Penolong

1591 Words
Dengan sigap, Adhikara melumpuhkan ayah Eshita. Pria itu dalam kondisi mabuk ketika kedua tangannya berhasil ditahan ke belakang punggungnya. “Anda ditangkap atas kasus kekerasan dalam rumah tangga dan dijerat Pasal 44 ayat 1, dengan ancaman penjara maksimal lima tahun atau denda maksimal lima belas juta,” geram Adhikara dengan rahang mengetat. “Siapa lo, berengsek? Lepaskan gue! Jangan coba-coba ikut campur urusan keluarga gu—ekhhh!” Ayah Eshita langsung meringik ketika tengkuknya ditekan Adhikara ke lantai. Napasnya tersengal, kata-kata terputus, sementara kedua kakinya berontak tanpa arah. Saat tenaganya mulai melemah, Adhikara memanfaatkan celah itu untuk melepas dasi dari lehernya. Dia lalu mengikatnya erat pada kedua tangan ayah Eshita. “Anda adalah salah satu orang terburuk yang pernah saya temui!” desisnya seraya menyeret pria itu dan melemparkannya ke dekat ranjang. Setelah memastikan ayah Eshita kesulitan bergerak, Adhikara menghampiri Eshita dan ibunya untuk memastikan kondisi mereka. Dadanya terasa berat ketika melihat wajah ibu Eshita yang babak belur, dengan bercak darah di beberapa bagian. “Kita akan bawa ibumu ke rumah sakit setelah ayahmu ditangani pihak yang berwenang,” ucapnya dengan nada sungguh-sungguh. Eshita mengangguk sambil tergugu. Dia memeluk ibunya erat-erat. Wanita itu sudah tak sanggup mengeluarkan suara apa pun lagi—bahkan sekadar rintihan—terlalu banyak rasa sakit yang ditanggung hingga tenaganya terkuras habis. Adhikara kemudian menjauh sejenak, mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mencari kontak seorang temannya yang bertugas di kepolisian, lalu meneleponnya saat itu juga. Helaan napas lega keluar ketika panggilannya diangkat. “Van, gue lagi di TKP kasus KDRT. Alamatnya bakal gue kirim. Tolong segera ke sini, pelaku sudah gue amankan dan korban harus segera dibawa ke rumah sakit.” “Wait, siapa korbannya, Kara? Kenapa lo tiba-tiba ngurus hal yang bukan ranah lo?” tanya suara di seberang sana. “Panjang ceritanya. Cepat ke sini dan bawa anak-anak lain. Pelaku masih berontak.” “Oke. Kami otw.” Setelah panggilan berakhir, Adhikara menyimpan ponselnya kembali ke saku celana. Baru saja dia berbalik, giginya langsung bergemeretak saat melihat ayah Eshita merayap, berusaha mendekati anak dan istrinya. Emosinya yang belum sepenuhnya stabil kembali bergejolak. Adhikara menangkap sebelah kaki pria itu dan menariknya dengan sekuat tenaga. “Apa yang Anda lakukan?” tanyanya dengan murka. Tangan kirinya sudah mengepal erat, hanya menunggu waktu untuk melayangkan tinju. Namun demi tidak mempertontonkan kekerasan di hadapan Eshita dan ibunya lagi, dia menahan diri sekuat tenaga. “Bagaimana bisa Anda setega itu melukai anak dan istri sendiri? Hewan pun tidak sekejam Anda!” Suara kekehan bercampur cegukan terdengar. Ayah Eshita menoleh lewat bahunya, menatap Adhikara dengan seringai menjijikkan. “Lo sok pahlawan, ya?” dengkusnya di sela tawa. “Datang-datang ngacak-ngacak rumah tangga orang lain. Lo kira lo siapa, hah?” Adhikara menatapnya dingin. Rahangnya semakin mengeras, urat di pelipisnya menonjol. “Saya aparat penegak hukum. Dan apa yang barusan Anda lakukan adalah tindak pidana.” “Hukum?” Ayah Eshita tertawa terbahak. Suara seraknya menggema di kamar sempit itu. “Hukum mana yang peduli sama orang miskin kayak kami? Istri gue? Anak gue? Mereka milik gue!” katanya lantang, seolah bangga. Kalimat itu membuat Eshita tersentak. Pelukannya pada sang ibu mengerat, tubuhnya gemetar hebat. “Tidak ada manusia yang menjadi milik manusia lain. Apalagi untuk disakiti.” “Ah, omong kosong!” Ayah Eshita meludah. “Besok juga gue keluar. Orang kayak gue kebal hukum. Istri gue pasti balik lagi ke gue. Anak ini juga—” “Cukup!” Suara Adhikara memotong tajam. Dia semakin mendekat, lalu berjongkok sejajar dengan wajah pria itu. “Hari ini berbeda. Dan kali ini, Anda tidak akan bisa lolos.” Belum sempat pria itu menjawab, suara sirene meraung dari kejauhan—mula-mula samar, lalu kian mendekat. Eshita mendongak, matanya membulat. “Om …?” “Polisi,” jawab Adhikara singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari ayah Eshita. Wajah pria itu seketika berubah. Seringainya memudar, digantikan sorot panik yang tak bisa dia sembunyikan. Dia kembali meronta, namun ikatan dasi di kedua tangannya membuatnya hanya mampu menggeram frustrasi. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar di ruang tamu, disusul suara tegas, “Ini polisi! Ada laporan KDRT!” Dua polisi berseragam masuk ke kamar, diikuti satu petugas lain. Pandangan mereka langsung tertuju pada kondisi ibu Eshita dan pria terikat di lantai. “Sial …” gumam ayah Eshita lirih. “Pelaku KDRT-nya sudah dibekukan,” ujar Adhikara singkat sambil berdiri. “Korban dua orang. Istri dan anak. Istri butuh penanganan medis segera.” Salah satu polisi—teman Adhikara—mengangguk cepat. “Siap, Kar. Cepat bawa pelakunya.” Dua petugas langsung menarik ayah Eshita berdiri. Pria itu mengumpat, berusaha melawan, tapi tenaganya sudah habis. Borgol terpasang di pergelangan tangannya, menggantikan ikatan dasi Adhikara. Saat diseret keluar kamar, ayah Eshita menoleh. Matanya menatap Eshita dan istrinya penuh kebencian. “Ini belum selesai,” desisnya. Adhikara segera melangkah ke depan, memutus tatapan itu. “Sudah selesai. Untuk Anda.” Dua polisi membawa pria itu pergi. Sementara itu, teman Adhikara mendekat dan menjabat tangannya. “Thanks udah lapor, Bro.” “Thanks juga udah datang, Van. Sisanya gue serahin ke lo. Tolong proses seadil-adilnya.” “Yoi, pasti.” Sebelum beranjak, Novan menatap dua korban yang diselamatkan Adhikara. Ada simpati di matanya, namun dia tak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk singkat, percaya Adhikara akan mengurus mereka, lalu pergi. Eshita menggenggam tangan ibunya. Suaranya serak saat berbisik, “Bu … kita aman sekarang.” Melihat pemandangan itu membuat perasaan Adhikara terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya, melalui bantuannya, dia telah memutus satu rantai kesengsaraan dalam hidup seseorang. “Bersiaplah, Eshita. Kita akan membawa ibumu ke rumah sakit sekarang,” ucapnya kemudian. Eshita mengangguk cepat. Dia menyeka sisa air mata dengan punggung tangan, lalu berdiri dengan perlahan bersama ibunya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupnya tak lagi dipenuhi ketakutan—melainkan harapan tipis bahwa ke depan, segalanya pasti akan baik-baik saja. *** Setibanya di rumah sakit, ibunya segera dibawa masuk ke ruang pemeriksaan, meninggalkan Eshita di ruang tunggu dengan tangan gemetar dan napas tersengal. Tangisnya telah reda; kini yang tersisa hanyalah harapan agar pemeriksaan berjalan lancar dan luka yang dialami ibunya sebatas luka luar. Setiap detik menunggu terasa begitu panjang, seolah hidupnya menggantung di antara pintu ruang perawatan yang tertutup rapat. Adhikara berdiri tak jauh darinya, memerhatikan pundak kecil itu yang terlihat sangat rapuh. Ada rasa tidak nyaman yang mengendap di dadanya—perasaan asing yang jarang dia izinkan muncul. Tanpa banyak berpikir, dia melangkah mendekat dan merengkuh Eshita dalam pelukan yang canggung, namun hangat. Tangannya menepuk punggung gadis itu pelan, berulang, memberi sentuhan yang menenangkan. “Ibumu pasti baik-baik saja,” ucapnya lirih. “Perlahan-lahan, beliau akan sembuh seperti sedia kala.” Eshita membeku sejenak di dalam pelukan itu, seolah ragu untuk percaya. Namun akhirnya kepalanya mengangguk. Dia mencengkeram jas Adhikara, membiarkan dirinya bersandar—membiarkan, untuk sekali ini saja, ada orang dewasa yang berdiri di hadapannya; bukan sebagai ancaman, melainkan pelindung. Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka lebar. Seorang dokter keluar sambil melepas masker, pandangannya menyapu ruang tunggu. “Keluarga pasien?” tanyanya. Eshita sontak melepaskan diri dari pelukan Adhikara. Dengan langkah tergesa, dia mendekat. “S—saya, Dok. S—saya anaknya.” Adhikara ikut melangkah, berdiri di sisi Eshita tanpa berkata apa pun. Dokter itu menatap mereka bergantian, lalu mengangguk pelan. “Ibu kamu mengalami beberapa memar cukup serius dan satu retakan ringan di tulang rusuk. Ada juga bekas perdarahan di kepala, tapi syukurlah tidak sampai menimbulkan cedera otak.” Napas Eshita tertahan. “Jadi … ibu saya…?” “Tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa,” lanjut dokter itu dengan nada menenangkan. “Kami akan merawatnya inap untuk observasi beberapa hari ke depan. Dia butuh istirahat total dan perawatan intensif, tapi kondisinya stabil.” Kalimat itu seolah mengangkat beban berat dari d**a Eshita. Lututnya melemas, dan jika bukan karena refleks Adhikara yang sigap menopangnya, dia mungkin sudah terduduk di lantai. “Terima kasih, Dok … terima kasih banyak,” ucapnya terbata. Air mata kembali mengalir—kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kelegaan. Dokter tersenyum tipis. “Kalian bisa menemuinya sebentar. Tapi jangan terlalu lama.” Setelah dokter itu pergi, Eshita mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkan diri. Dia menoleh ke arah Adhikara. Matanya masih merah, namun sorotnya berbeda—lebih bercahaya. “Ibu saya … selamat, berkat Om,” katanya lirih. “Makasih banyak. Entah harus dengan cara apa saya membalas kebaikan Om …” Adhikara menggeleng pelan. “Kamu tidak perlu membalas apa pun. Cukup pastikan kamu dan ibumu baik-baik saja setelah ini. Itu sudah lebih dari cukup.” Eshita menatapnya lama, seolah berusaha menyimpan kalimat itu dalam-dalam. Bibirnya bergetar, namun kali ini dia hanya mengangguk kecil—menerima. Mereka kemudian melangkah menuju kamar rawat inap. Ruangannya tak terlalu besar, namun bersih dan tenang. Aroma antiseptik memenuhi udara. Di atas ranjang, ibu Eshita terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya dan beberapa perban membalut tubuhnya. Wajahnya pucat, tetapi napasnya teratur. Eshita mendekat perlahan, seakan takut suaranya akan mengganggu. Dia menggenggam tangan sang ibu yang terasa dingin, lalu menunduk, menempelkan keningnya di sana. “Bu … cepat sembuh, ya. Aku juga sakit kalau lihat Ibu sakit …” Tak ada jawaban. Namun jemari ibunya bergerak samar, seolah membalas genggaman itu. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk menenangkan perasaan Eshita dan membuat matanya kembali basah. Adhikara berdiri agak menjauh, memberi ruang. Dia mengamati pemandangan itu dalam diam. “Kamu temani ibumu,” ucapnya kemudian. “Saya akan mengurus sisanya—laporan, perlindungan, dan kebutuhan hukum ke depan.” Eshita menoleh. Matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini dia tersenyum kecil. “Iya, Om ...” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD