03. Paman Berkaki Panjang

2164 Words
Sebulan setelah kejadian tragis itu, ayah Eshita resmi ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di penjara. Kehidupan yang normal—tanpa ancaman, tekanan, dan kekerasan—akhirnya bisa Eshita rasakan bersama ibunya berkat bantuan Adhikara. Andai saat itu Adhikara menolak permohonan putus asa Eshita, mungkin sampai sekarang mereka masih hidup dalam bayang-bayang kekejaman ayahnya yang tak pernah berkesudahan. Anggapan bahwa pria itu adalah sosok malaikat penolong yang Tuhan kirimkan kepada mereka terasa begitu nyata. Tidak ada imbalan yang Adhikara minta setelah mengorbankan waktu dan tenaganya di sela kesibukan sebagai jaksa. Bahkan sejak hari itu, dia sesekali berkunjung ke rumah Eshita—sekadar mengecek kondisi mereka, atau membawakan makanan untuk Eshita dan ibunya. “Saya hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja. Tinggal di lingkungan seperti ini terlalu berbahaya untuk dua perempuan tanpa adanya pria,” katanya suatu sore saat mampir sepulang kerja. “Pintu dan jendela rumah ini juga sudah tua. Gembok dan engselnya sebaiknya diganti. Kalau ada orang yang berniat jahat, semuanya bisa rusak hanya dengan sekali dobrak.” “Terima kasih sudah begitu peduli pada kami, Pak Jaksa. Kami benar-benar tidak terpikir sampai sejauh itu. Nanti akan kami usahakan untuk menggantinya,” ucap ibu Eshita lirih sambil menyodorkan segelas teh hangat. “Silakan diminum … maaf hanya seadanya.” “Tidak perlu repot-repot, Bu. Saya hanya sebentar,” jawab Adhikara sopan. “Tidak repot sama sekali,” balas wanita itu cepat. “Justru kami senang Pak Jaksa berkenan berkunjung lagi.” Pandangan Adhikara kemudian beralih pada Eshita yang sejak tadi menyimak, menatap bergantian wajahnya dan wajah sang ibu. “Kamu ada kesibukan setelah ini, Eshita?” Kelopak mata Eshita melebar karena terkejut ditanya. Dia menegakkan punggung sebelum menjawab, “N—nggak ada, Om. Mungkin saya akan membeli engsel dan gembok seperti yang Om sarankan … di toko bangunan.” “Kalau begitu, bersiaplah. Kita pergi sekarang.” “Sekarang?” Eshita melirik ragu ke arah ibunya, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. “Om mau … mengantar saya?” “Iya. Sekalian saya bantu pasang.” “Eh? Nggak apa-apa, biasanya kami yang—” “Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Jaksa,” potong sang ibu dengan suara bergetar halus. Matanya tampak berkaca-kaca. “Anda sudah terlalu banyak membantu kami. Entah dengan cara apa kami membalasnya.” “Sama-sama. Tidak perlu membalas apa pun. Sudah sepantasnya kalian menerima bantuan sekecil ini.” Setelah menandaskan teh yang disuguhkan, Adhikara berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mengangguk ke arah Eshita. “Bersiaplah.” Eshita mengangguk cepat, lalu bergegas ke kamar mengambil tas selempang dan merapikan kunciran rambutnya. Tak lama kemudian dia kembali. “Udah, Om.” Mereka berpamitan pada ibu Eshita. Beliau mengantar sampai ke depan pintu, berpesan agar Eshita pulang tidak terlalu malam, lalu kembali mengucapkan terima kasih pada Adhikara sambil berjanji akan memasakkan sesuatu lain kali. Saat melintas, lampu-lampu jalan di dalam gang mulai menyala karena sore menjelang malam, meski cahayanya redup dan hanya ada di beberapa titik. Adhikara menggeleng pelan sambil melihat sekelilingnya. “Apa kamu tidak takut keluar malam lewat jalan seperti ini?” tanyanya memecah keheningan. Mobilnya terparkir di luar gang, jadi mereka harus berjalan kaki beberapa menit untuk mencapainya. “Nggak, Om. Saya udah terbiasa.” “Mereka tidak mengganggumu, kan?” Yang dimaksud Adhikara adalah beberapa pria tua yang merokok dan ngopi di warung yang baru saja mereka lewati. “Nggak secara langsung. Paling cuma menggoda secara verbal. Tapi saya nggak menanggapi dan langsung pergi.” “Kamu sebaiknya punya alat untuk melindungi diri. Bukan bermaksud menuduh siapa pun, tapi berjaga-jaga itu penting.” Eshita melirik singkat ke arahnya, pipinya sedikit merona. “Seperti apa, Om?” “Pepper spray. Tahu?” Dia menggeleng pelan. “Kalau begitu, sekalian kita beli.” “Makasih banyak, Om.” “Sama-sama.” Setibanya di mobil, Adhikara menekan central lock, lalu membuka pintu penumpang untuk Eshita. “Perhatikan kepalamu, jangan sampai terantuk atap mobil.” Eshita—yang seumur hidup nyaris tak pernah mendapat perhatian seperti ini dari lawan jenis—kembali merona. Dia sempat menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk kecil. “Iya … makasih, Om.” “Sama-sama, Eshita,” jawab Adhikara sambil tersenyum kecil. *** Bel sekolah berdering, menandakan jam pelajaran telah usai. Eshita segera merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas setelah Bu Ratna menutup sesi kelas. “Ingat, latihan soal halaman 124 sampai 126 dikumpulkan besok pagi. Jangan ditunda,” ujar Bu Ratna, guru Fisika mereka, sambil menyapu pandang ke seluruh ruangan. “Dan bagi yang masih bingung dengan materi hari ini, silakan temui Ibu setelah jam pelajaran.” Beberapa siswa mengangguk patuh, sebagian lain sudah berdiri sambil menyampirkan tas ke bahu. Kursi-kursi bergeser, suara riuh perlahan memenuhi kelas, dan satu per satu murid mulai keluar menuju koridor. Eshita turut berdiri bersama Hilda, teman sebangkunya. Mereka melangkah beriringan, menyatu dengan arus siswa dari kelas-kelas lain yang juga hendak pulang. “Ngerjain latihan soal bareng di rumah gue, yuk, Ta. Nggak usah ganti baju, sekalian ikut gue aja. Nanti pulangnya lo dianter sopir gue,” ajak Hilda begitu mereka keluar dari gerbang sekolah. Keduanya berhenti sejenak di trotoar, menoleh ke kiri dan kanan sebelum menyeberang. “Maaf, aku nggak bisa, Hil. Ada rencana lain.” “Rencana apa? Penting, ya? Soalnya baru kali ini lo nolak ajakan nugas bareng.” Eshita mengangguk pelan. Pipinya tiba-tiba merona saat teringat sosok Adhikara. “Ibu nyuruh aku nganterin masakan buatannya ke seseorang. Buat ngucapin terima kasih … karena dia udah banyak bantu kami.” “Seseorang?” Mata Hilda menyipit curiga. “Siapa? Laki-laki?” “Mm … iya.” “Wah, Eshita. Akhirnya lo punya orang yang disukai juga, ya.” “Bukan! Bukan begitu!” Eshita langsung menggeleng cepat sambil mengangkat kedua tangannya. “Dia lebih tua. Aku nganggep dia kayak … paman berkaki panjang!” Hilda terkekeh. “Paman berkaki panjang apaan, sih. Tapi oke, sekarang gue penasaran. Emang sebesar apa bantuannya sampai-sampai reaksi lo segitunya?” “Besar banget. Sampai kami nggak tahu gimana cara membalasnya. Dia orang paling baik yang pernah kukenal.” Hilda terdiam sejenak, menatap Eshita dengan ekspresi berbeda. Tidak pernah dia melihat Eshita seantusias ini membicarakan seseorang. Biasanya gadis itu selalu pendiam, murung, dan menjawab seperlunya ketika ditanya. Tapi belakangan ini wajahnya jauh lebih cerah—dan itu membuat Hilda ikut senang, meski dia selalu menahan diri untuk tidak terlalu jauh bertanya tentang kehidupan pribadi temannya. “Oke, oke. Jadi … boleh dong gue tahu ciri-ciri paman berkaki panjang ini?” godanya lagi. “Tingginya berapa? Kulitnya putih apa cokelat? Kerjanya apa?” Jalanan sudah cukup lengang, dan satpam melambaikan tangan memberi tanda mereka boleh menyeberang. Eshita memperhatikan langkahnya sebentar, memastikan tidak menabrak siapa pun, sebelum menjawab. “Aku nggak tahu pastinya, tapi mungkin di atas 180. Kulitnya cokelat, iris matanya hitam, hidungnya tajam.” Dia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa hangat dan sedikit berdebar hanya karena mengingatnya. “Dia bekerja di bidang hukum. Orangnya rapi, berwibawa, tegas, dan sedikit keras … tapi ramah.” “Too much information,” Hilda tertawa. “Tapi gue ngerti. Itu namanya kagum.” “Kagum?” kelopak mata Eshita sedikit melebar, lalu dia mengangguk kecil. Malu-malu mengakui. “Iya … aku mengaguminya.” Mereka sudah sampai di halte. Baru saja Hilda hendak duduk bersama Eshita, mobil jemputannya keburu berhenti tepat di depan mereka. Hilda pun kembali berdiri dan menoleh pada Eshita. “Besok kita lanjutin lagi cerita soal paman berkaki panjang itu, ya. Gue duluan, Ta. Dadah.” “Iya. Hati-hati di jalan, Hil.” Eshita membalas dengan melambaikan tangan, lalu mengangguk sopan pada sopir Hilda yang turun untuk membukakan pintu bagi nona mudanya. *** Eshita menunggu di pos satpam sambil menenteng tas bekal berisi beberapa menu masakan buatan ibunya. Dia memegang tas itu dengan hati-hati, takut isinya terguncang dan berakhir berantakan—sementara dia ingin tampilannya sebaik mungkin saat diserahkan kepada Adhikara. Kalau melihat jam di rumah tadi, mungkin tinggal setengah jam lagi pria itu pulang. Karena itu Eshita memilih menunggu di sini, alih-alih masuk ke dalam gedung. Namun baru beberapa menit berlalu, kelopak matanya sedikit melebar ketika melihat Adhikara keluar bersama dua rekan kerjanya. Mereka mengobrol santai sambil menuruni anak tangga. Eshita sontak berdiri. Tanpa sadar dia merapikan pakaiannya dan menyelipkan anak rambut yang terlepas dari kunciran ke belakang telinga. Entah kenapa, dia ingin terlihat baik di hadapan pria itu. “Om …” panggilnya lirih ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah. Adhikara langsung menoleh. Ada kilat terkejut di matanya saat pandangan mereka bertemu, sebelum kemudian berubah menjadi senyum tipis. Dia segera menghampiri. “Kamu di sini,” ucapnya. Tatapannya lalu turun ke tas yang dibawa Eshita. “Ada urusan apa?” “Saya … disuruh Ibu ngasih ini buat Om.” “Oh?” Adhikara refleks menyambut ketika Eshita menyodorkannya. “Apa itu?” “Masakan Ibu. Semoga Om suka.” “Wah,” ujarnya sambil tersenyum. “Kebetulan sekali, saya belum sempat makan siang dan nanti akan lembur, jadi pulangnya lebih lambat.” Dia kembali menatap Eshita. “Kamu mau menemani saya makan sebentar, Eshita?” Tawaran itu benar-benar tak pernah dia duga. Eshita tertegun sesaat, sebelum buru-buru mengangguk. “Mau!” jawabnya spontan. Begitu menyadari betapa antusias suaranya terdengar, Eshita langsung menunduk, menyembunyikan rona di pipinya. Tangannya saling bertaut canggung. “M—maksud saya, boleh, Om …” Tawa kecil Adhikara lolos begitu saja. Entah kenapa, tingkah gadis itu terasa menghiburnya. “Terima kasih sudah mau,” katanya lembut. Lalu dia berbalik sedikit dan memberi isyarat. “Ikuti saya. Di belakang kantor ada tempat yang nyaman untuk makan dan mengobrol santai. Kita ke sana saja.” Eshita mengangguk patuh. Dia berjalan satu langkah di belakang Adhikara, menolak berjalan sejajar meski pria itu sempat memintanya—malunya belum sepenuhnya reda, dan dia belum siap berbicara dengan pipi yang masih terasa hangat memerah di hadapan Adhikara. *** “Ibumu pandai sekali memasak. Telur balado ini sangat enak.” Itu pujian pertama yang Adhikara ucapkan setelah menyuap dan mengunyah masakan yang dibawa Eshita. “Cah kangkung bawang putihnya juga segar dan gurih. Saya memang suka masakan rumahan seperti ini.” “Makasih, Om …” jawab Eshita pelan sambil memainkan jemarinya. Dia hanya melirik Adhikara sekilas dari balik bulu mata. “Syukurlah kalau Om suka. Nanti … akan saya sampaikan pujiannya ke Ibu.” “Tolong sampaikan juga terima kasih saya untuk beliau. Maaf sudah merepotkanmu mengantar bekal ini.” “Nggak merepotkan sama sekali.” Eshita menggeleng. “Justru Ibu senang sekali bisa memasak untuk orang yang udah menolong kami. Saya juga nggak keberatan diminta mengantarkannya ke Om.” Adhikara terdiam sesaat. Sendoknya berhenti di udara, lalu dia meletakkannya perlahan. Tatapannya jatuh ke kotak bekal di depannya, kemudian terangkat ke wajah Eshita yang tampak canggung, namun tulus. “Saya tidak merasa melakukan sesuatu yang istimewa,” katanya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” “Tapi bagi kami itu sangat berarti.” Angin sore menggerakkan dedaunan di taman kecil di belakang kantor kejaksaan. Matahari sudah condong ke barat, meninggalkan sisa cahaya yang hangat. Beberapa pegawai melintas di kejauhan, tetapi tempat mereka duduk tetap terasa sepi dan tenang—jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Adhikara menyesap air mineralnya, lalu kembali menyuap makanannya. “Bagaimana dengan sekolahmu?” “Baik. Sekarang siswa-siswi lain sibuk mempersiapkan diri menghadapi UTBK, dan saya …” Eshita berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan, “mempersiapkan diri untuk ujian akhir.” “Kamu juga ikut UTBK, Eshita? Kampus mana yang ingin kamu masuki?” Andai saja dia punya kesempatan memilih, pertanyaan itu tentu mudah dijawab. Tapi Eshita tidak punya pilihan. Itulah sebabnya ekspresinya berubah sendu saat berkata, “Saya nggak kuliah. Mungkin setelah lulus SMA, saya akan langsung cari kerja.” “Oh?” Adhikara tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Langsung bekerja juga bukan sesuatu yang buruk. Selama kamu mau berusaha dan punya kemauan besar, kamu tetap bisa punya masa depan yang baik.” Eshita mengangguk pelan. Ada rasa lega kecil karena pilihannya tidak dipertanyakan lebih jauh, meski di dalam hatinya masih tersisa sedih dan rasa rendah diri yang belum sepenuhnya bisa dia singkirkan. Tak terasa bekal Adhikara sudah habis. Dia menandaskan air mineralnya, lalu menyusun kembali kotak bekal itu dengan rapi. “Ini saya bawa dulu dan akan saya kembalikan setelah bersih.” “Ah, nggak perlu, Om. Kembalikan seperti itu saja, biar nanti saya yang mencucinya di rumah.” “Tidak, Eshita. Ini bentuk kesopanan dan tanggung jawab saya setelah diberi.” Dengan senyum tipis, Adhikara mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menyodorkannya ke hadapan gadis itu. “Tulis nomor ponselmu. Supaya kita lebih mudah berkomunikasi ke depannya.” Eshita sempat ragu sejenak, tapi kemudian menerima ponsel itu dan mengetikkan nomornya. Sederet angka muncul di layar yang masih menyala. “Terima kasih. Nanti akan saya hubungi kalau ingin mengembalikan bekal ini.” Eshita mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyusup di dadanya—karena itu berarti akan ada pertemuan lagi nanti. Dan entah kenapa, diam-diam dia justru menanti saat itu tiba. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD