04. Bukankah Kita Sudah Berteman?

1769 Words
Dulu. Dulu sekali, Eshita pernah merasakan kehidupan yang normal. Meski bukan berasal dari keluarga berada, hidup mereka serba cukup. Ayah bekerja sebagai mandor produksi di sebuah pabrik garmen, sementara ibunya memiliki keterampilan menjahit dan menjadi satu-satunya penjahit di kampung tempat mereka tinggal. Namun semuanya berubah. Saat Eshita berusia tujuh tahun, ayahnya terkena PHK karena pabrik tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan akibat relokasi ke luar negeri. Sebagai tulang punggung keluarga sekaligus sosok yang dihormati di tempat kerja, kehilangan itu terasa seperti runtuhnya seluruh dunia bagi ayahnya. Dia merasa gagal dan kehilangan harga dirinya. Usianya yang tak lagi muda, ditambah pendidikan yang hanya sampai SMA dan tidak memiliki keahlian khusus di luar pekerjaannya, membuat ayah kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Frustrasi perlahan menggerogotinya. Dia mengurung diri di rumah, menjadi semakin pendiam, murung, dan mudah tersulut emosi oleh hal-hal sepele. Dan ketika dia akhirnya keluar rumah, dia tidak mencari jalan keluar—melainkan jalan pelarian. Minuman beralkohol dan judi menjadi pelampiasan. Dia pulang dalam keadaan mabuk, membentak Eshita dan ibunya, melampiaskan kemarahan karena kekalahan yang dia derita. Kekerasan dalam rumah tangga dimulai ketika ayah benar-benar kehabisan uang. Dia memaksa ibunya menyerahkan tabungan, dan melayangkan tamparan saat ibunya menolak karena uang itu untuk kebutuhan rumah. Sejak hari itulah neraka mereka dimulai. Eshita yang dulu begitu menyayangi dan membanggakan ayahnya di hadapan teman-temannya, perlahan berubah menjadi takut … lalu membenci. Sosok ayah yang hangat dan dia kagumi lenyap dari benaknya, digantikan oleh bayangan seorang pria kejam yang tetap dia panggil “Ayah”, tapi tak lagi dia anggap sebagai pelindung. Keluarga mereka pun mulai terjerat utang pada rentenir karena ayah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang yang menakutkan setiap kali para penagih itu datang. Mereka tidak hanya menggedor pintu, tetapi juga membanting kursi dan barang-barang hingga pecah berserakan di ruang tamu. Ancaman demi ancaman dilontarkan—bahkan mereka pernah mengatakan akan membakar rumah itu jika utang tidak segera dilunasi. Ancaman itu tidak berhenti di satu malam saja. Mereka datang lagi, dan lagi—sampai rumah itu tak lagi terasa seperti tempat tinggal, melainkan perangkap tanpa jalan keluar. Utang-utang itulah yang akhirnya memaksa mereka kabur diam-diam di suatu malam, pergi ke kota lain untuk memulai hidup baru. Namun tabiat buruk ayah tak ikut tertinggal. Di tempat baru pun, dia kembali mengulangi semua kesalahan yang sama. Suatu hari Eshita pernah bertanya mengapa ibunya tidak meninggalkan ayah saja. Ibunya hanya tersenyum dan menjawab bahwa dia tidak tinggal karena dia bodoh. Dia tinggal karena dia pernah bahagia bersama ayah Eshita, karena dia pernah dicintai, dan karena dia masih berharap ayah Eshita bisa kembali seperti dulu. Ada banyak alasan lain yang ibunya sampaikan—alasan-alasan yang terlalu rumit untuk dipahami Eshita saat itu. Mungkin karena dia masih terlalu muda. Atau mungkin karena dia tidak berada di posisi ibunya, sehingga dia tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang juga menyakitinya. Percakapan itu berakhir tanpa kesimpulan, tapi meninggalkan sesuatu yang berat di d**a Eshita—sesuatu yang bahkan sampai hari ini belum sepenuhnya dia mengerti. Kehidupan yang terus berpindah-pindah membuat pendidikan Eshita tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya. Dia beberapa kali terputus sekolah, hingga akhirnya masih SMA di usia sembilan belas tahun—menjadikannya siswi paling tua di angkatannya. Namun keinginannya untuk terus bersekolah jauh lebih kuat daripada rasa malunya. Dia tidak peduli jika menjadi bahan bisik-bisik atau tatapan aneh. Setelah melalui begitu banyak hal berat, dikucilkan atau diabaikan bukanlah sesuatu yang berarti baginya. Karena itu, dia tak pernah merasa keberatan jika tidak memiliki teman. Tapi Hilda Cendana Brawijaya berbeda. Di saat yang lain memilih menjaga jarak, Hilda justru mendekat. Dia menyapa, mengajak bicara, dan duduk di sebelah Eshita tanpa peduli latar belakangnya. Perlahan, tanpa disadari Eshita, Hilda menjadi satu-satunya orang yang benar-benar hadir di hidupnya di sekolah—satu-satunya teman yang dia miliki. *** Hari ini Eshita pulang sekolah pukul lima sore. Meski tidak mendaftar UTBK seperti Hilda dan teman-temannya yang lain, ada pendalaman materi umum dan try out internal yang wajib diikuti, sehingga dia pulang lebih lambat dari biasanya. Setelah turun dari mobil dan menutup pintu, Eshita mengangguk sopan ke arah Hilda dan sopirnya. “Makasih banyak udah kasih aku tumpangan,” ucapnya dengan senyum sungkan. “Hati-hati di jalan.” “Sama-sama, Ta. Gue lanjut jalan, ya.” Hilda melambaikan tangan, yang langsung dibalas Eshita dengan lambaian kecil. Setelah mobil itu perlahan melaju dan kaca jendelanya tertutup, barulah Eshita berbalik masuk ke dalam gang menuju rumahnya. Awalnya langkahnya biasa saja—pelan dan hati-hati, karena jalanan masih licin dan tergenang sisa air hujan dua jam lalu. Namun saat melewati warung kopi tempat para pria tua biasa berkumpul, pelukan Eshita pada buku paket di dadanya mengencang. Punggungnya menegang ketika siulan dan godaan terdengar. “Baru pulang sekolah, Dek Shita? Kok telat? Main dulu, ya, sama temen cowoknya?” Rasa gugup langsung merayap, tapi Eshita memaksa langkahnya tetap stabil, berpura-pura tak mendengar. “Mampir dulu sini, minum-minum sama Aa. Nanti Aa bayarin. Mau apa aja tinggal ambil.” “Hus! Jangan digangguin. Kalau dilaporin ke polisi kayak bapaknya gimana?” tegur pemilik warung sambil menyindir. “Dia punya g***n orang hukum. Salah dikit, masuk penjara lu pada.” “Ah, dipenjara mah nggak ada apa-apanya, Dek Bunga. Kalau itu demi bisa duduk berdua sama Dek Shita, Aa nggak keberatan.” Derai tawa mereka membuat perut Eshita mengencang. Dia hanya ingin cepat berlalu, sampai ke rumah, menutup pintu, dan berada di tempat aman. Namun harapan itu buyar ketika seorang pria lain datang dari arah berlawanan, membuat mereka berpapasan. “Eh, si Eneng cantik. Buru-buru amat?” Bau tembakau dan alkohol dari napas pria itu membuat Eshita nyaris mual. Keringat dingin muncul di pelipis, campuran rasa takut dan jijik. “S—saya permisi, Kang,” ucapnya lirih. Dia hendak melangkah pergi, tapi bahunya tiba-tiba ditahan. Napas Eshita tercekat. Tangan kanannya yang bebas bergerak perlahan ke arah kantong rok, meraih pepper spray pemberian Adhikara yang selalu dia bawa. “Eeh jangan takut sama Akang. Meski muka Akang serem, Akang nggak jahat, kok.” Botol kecil itu sudah berada di genggamannya. Nyaris dia keluarkan dan dia semprot ketika tiba-tiba suara lain menyela. “Muka lu dekil! Jangan gangguin anak orang!” Mbak Bunga, pemilik warung kopi, sudah berdiri di dekat mereka. Tatapannya tajam menusuk pria itu. “Kalau lu tahu bekingannya siapa, lu bakal lari kocar-kacir sampai kencing di celana.” Dia lalu menarik kerah pria itu dengan kasar dan menyeretnya menuju warung. Tanpa sempat mengucapkan terima kasih—atau sekadar mengangguk kecil pada Mbak Bunga—Eshita langsung berlari sampai akhirnya tiba di rumah. Dia bahkan menutup pintu dengan napas terengah-engah. “Kenapa, Nak?” tanya Ibu yang muncul dari arah dapur, keningnya berkerut. Pakaian kerja masih melekat di tubuhnya, menandakan dia juga baru saja pulang. “Ng … nggak apa-apa, Bu.” Eshita menggeleng kecil, lalu segera berlalu menuju kamar. Dia tak ingin bercerita dan berakhir membuat ibunya khawatir. Sesampainya di kamar, Eshita meletakkan tas di samping meja belajar lipat dan buku paket di atasnya. Sambil berusaha menenangkan diri, dia mengeluarkan ponsel Android seri lama yang dibelinya dua tahun lalu dari tabungan hasil mengajar anak pemilik kontrakan dan anak rekan kerja ibunya di pabrik. Dengan ragu—sambil menggigit bibir bagian dalam—dia membuka w******p dan mencari kontak Adhikara. Entah kenapa, dia ingin menceritakan kejadian barusan pada pria itu. Ibu jarinya bergerak pelan di layar. Eshita: [Om, saya … nyaris menyemprot seseorang ... dengan pepper spray yang Om belikan ...] Pesan itu terkirim. Eshita segera mengunci ponselnya dan meninggalkannya dalam keadaan mengisi daya. Dia penasaran apakah Adhikara akan membaca dan membalasnya, tapi dia tidak ingin menunggu. Dia … malu. Juga gugup, karena ini pertama kalinya dia mengirim pesan lebih dulu. Malamnya, setelah selesai makan malam, Eshita mencuci piring sementara ibunya masih duduk di meja makan meminum obat—maag kronis membuatnya tak pernah lepas dari itu. “Besok Ibu mau menjenguk ayahmu di penjara. Kamu mau ikut juga, Nak?” Gerakan Eshita yang meletakkan piring di rak langsung terhenti. Dia terdiam sejenak sebelum menoleh menatap ibunya. “Kenapa Ibu masih mau menjenguknya? Dia udah menyakiti kita, bikin hidup kita jadi sengsara.” Ibu tersenyum lembut, seolah meminta pengertian. “Mau bagaimana pun dia tetap ayahmu. Ibu tidak minta kamu melupakan perbuatannya. Ibu hanya berharap kamu menyisakan sedikit ruang maaf di hatimu. Dan doakan semoga dia menyesal, lalu menyadari kesalahannya.” Eshita tak segera menjawab. Dia menyelesaikan cucian piringnya terlebih dahulu, mengeringkan tangannya dengan lap bersih, lalu berkata pelan sebelum beranjak pergi, “Maaf, Bu. Sulit rasanya melakukan itu. Ibu saja yang menjenguk. Aku nggak mau ikut.” *** Eshita baru membuka ponselnya setelah selesai belajar dan bersiap tidur. Jantungnya kembali berdebar; ibu jarinya sedikit gemetar saat menyentuh layar. Napasnya langsung tertahan begitu melihat ada tiga balasan dari Adhikara. Dia tak mampu menahan senyum yang muncul begitu saja di bibirnya. Dengan antusias yang berusaha dia redam, Eshita membuka chat itu dan membacanya perlahan. Om Jaksa: [Apa orang itu sudah mengganggumu?] Om Jaksa: [Benar, lakukan perlawanan. Kamu punya hak untuk membela diri, Eshita. Setelah dia lengah, lari sekencang mungkin dan bersembunyilah.] Om Jaksa: [Untuk berjaga-jaga agar tidak ada gangguan susulan, besok saya akan mampir ke rumahmu. Saya akan memperingatkan orang itu supaya tidak menyentuhmu lagi.] Bagian tentang Adhikara yang ingin mampir ke rumah dibacanya sampai berulang-ulang. Eshita lalu mendekap ponsel itu ke d**a, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin menggila. Ah … Eshita tidak pernah tahu bahwa dikunjungi seseorang bisa terasa se-menyenangkan ini. Dia bahkan mendadak tak sabar menunggu hari esok tiba. Sebelum benar-benar memutuskan tidur, Eshita menatap kembali layar ponselnya. Lalu dia membalas pesan Adhikara dengan senyum yang belum sepenuhnya luntur. Eshita: [Orang itu sempat menyentuh bahu saya. Untung ada Mbak Bunga, pemilik warung kopi, yang datang membantu. Saya bisa langsung pergi setelah itu.] Eshita: [Maaf kalau cerita saya malam ini ... malah membuat Om ikut terlibat lagi. Padahal Om udah sibuk dengan pekerjaan, jadi bertambah sibuk karena masalah saya.] Dia nyaris mematikan data ponsel untuk menghemat kuota sekaligus mencegahnya panas. Namun di luar dugaan, balasan dari Adhikara masuk begitu cepat. Rupanya pria itu belum tidur. Om Jaksa: [Dugaan saya benar—lingkungan itu tidak aman untukmu dan ibumu.] Om Jaksa: [Tidak apa-apa. Bukankah kita sudah berteman? Sesama teman memang seharusnya saling membantu, Eshita.] Eshita tak menyangka Adhikara akan menganggapnya teman, padahal mereka baru saling mengenal. Dia juga tak pernah tahu bahwa sebuah sebutan sederhana bisa terasa begitu istimewa—jika itu datang darinya. Balasan terakhir pun dia ketik dengan mata yang mulai berkaca-kaca, karena perasaan hangat dan haru yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Eshita: [Makasih banyak … karena mau menganggap gadis menyedihkan dan merepotkan seperti saya sebagai teman. Saya, sungguh, berutang banyak pada Om ...] ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD