Mayoritas pria paruh baya yang tinggal di gang yang sama dengan Eshita adalah pengangguran atau pekerja kasar. Karena itu, mereka mudah ditemui di siang hari—berkumpul di warung kopi milik Mbak Bunga, saat Adhikara datang di sela jam istirahat kerjanya.
Dengan punggung tegak dan sorot mata yang dingin, Adhikara berdiri di hadapan mereka. Suaranya tenang, terukur, namun sarat intimidasi. Tak sedikit pun dia menunjukkan kegentaran, meski sadar betul bahwa posisinya rawan dikeroyok karena yang dia hadapi bukan hanya satu atau dua orang.
“Eshita dan ibunya berada di bawah perlindungan hukum,” ucapnya datar. “Sejak kasus KDRT terakhir yang mereka alami, aparat memberi perhatian khusus pada keluarga itu. Jadi, kalau sewaktu-waktu kalian berniat macam-macam, jangan kaget—atau mencoba kabur—kalau pihak kepolisian tiba-tiba datang mencari.”
Keramaian yang semula dipenuhi tawa dan ejekan seketika lenyap. Suasana berubah senyap. Bahkan Mbak Bunga, yang tadi berpura-pura acuh sambil mengelap gelas, kini menghentikan gerakannya dan menyimak dengan wajah serius.
“Pelecehan verbal bernuansa seksual—termasuk siulan, komentar tak diinginkan, atau ucapan yang membuat orang lain merasa terancam—memiliki konsekuensi hukum,” lanjut Adhikara. “Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 mengatur bahwa kekerasan seksual secara verbal dapat dipidana penjara hingga sembilan bulan dan/atau denda maksimal sepuluh juta rupiah.”
Tatapan Adhikara menyapu satu per satu wajah di hadapannya, ekspresinya tetap dingin—seperti jaksa yang sedang membacakan dakwaan di ruang sidang.
“Pasal 281 KUHP mengatur perbuatan yang dengan sengaja melanggar kesusilaan di muka umum. Pasal ini kerap digunakan dalam perkara pelecehan verbal.”
Dia berhenti sejenak. Jeda singkat yang justru terasa menekan.
“Pasal 289 hingga 290 KUHP mengatur perbuatan c***l yang dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, termasuk sentuhan tanpa persetujuan. Ancaman pidananya jauh lebih berat—bisa berujung beberapa tahun penjara, tergantung unsur dan tingkat kekerasannya.”
Nada suaranya tetap tenang saat dia menutup peringatannya. “Jadi, kalau tidak ingin berurusan dengan hukum, jaga sikap kalian. Selama ini lingkungan ini tampak ‘aman’ bukan karena tak diawasi, melainkan karena para korban memilih diam. Tapi begitu satu orang berani melapor, semuanya berubah. Setelah itu, pelaku tidak akan pernah benar-benar merasa tenang—karena setiap gerak-geriknya berada dalam pengawasan.”
Beberapa pria saling pandang. Ada yang refleks meneguk kopi yang sudah dingin, ada pula yang tertawa kecil—terdengar sumbang dan dipaksakan.
“Ah, lebay amat lu,” salah satu dari mereka akhirnya bersuara, mencoba terlihat santai. Bahunya disandarkan ke kursi plastik, tapi jari-jarinya terus mengetuk gelas. “Kita-kita cuma bercanda doang.”
Adhikara menoleh. Tatapannya keras dan menusuk, seolah mengunci saksi di kursi pemeriksaan.
“Dalam hukum,” ujarnya tenang, “yang menentukan bercanda atau bukan bukan pelakunya—melainkan korban.”
Tawa kecil itu langsung terhenti.
Pria lain mendecak, wajahnya mengeras. “Kalau gitu semua bisa dilaporin dong? Di kampung begini—”
“Kampung atau bukan,” potong Adhikara tanpa meninggikan suara, “undang-undang tetap berlaku.”
Kursi digeser. Suara gesekannya terdengar kasar, memecah kesunyian yang mulai mencekik. Seorang pria yang sejak tadi paling banyak bicara kini menunduk, menghindari tatapan Adhikara. Keringat mengilap di pelipisnya, meski siang itu tak terlalu terik.
“Ada lagi yang mau bilang itu cuma bercanda?”
Tak ada jawaban.
Seorang pria yang tampak lebih tua berdehem. “Ya … ya sudah, Pak. Kita juga nggak ada niat macam-macam.”
“Bagus. Karena niat buruk pun bisa terbaca dari kebiasaan.” Adhikara lalu merapikan manset kemejanya. “Biasakan menghormati perempuan di lingkungan ini. Bukan karena takut pada saya, tapi karena hukum selalu mencatat apa yang kalian lakukan.”
Beberapa pria menghindari tatapan, yang lain berpaling pura-pura sibuk. Tak ada lagi siulan, tak ada ejekan. Bahkan setelah Adhikara berbalik pergi, suasana warung tetap kaku—seolah kata-katanya masih menggantung di udara, menempel di kepala mereka satu per satu.
***
Eshita langsung berdiri begitu melihat Adhikara masuk. Wajahnya jelas memancarkan kekhawatiran; bahkan sebelum pria itu sempat mendekat, dia sudah lebih dulu menghampiri.
“Om nggak apa-apa, kan?” tanyanya tergesa. Tangannya tanpa sadar meremas tangan Adhikara. “Harusnya tadi saya nggak biarin Om ke sana. Mereka kasar, berbahaya kalau—”
“Tenangkan dirimu dan lihat saya baik-baik.”
Adhikara melepaskan genggaman itu, lalu menggantinya dengan tepukan ringan di punggung tangan Eshita. Senyum kecil terukir di bibirnya, tatapannya teduh dan meyakinkan. “Saya tidak apa-apa.”
“Syukurlah … Ya Tuhan.” Eshita menghela napas panjang. “Tadi saya khawatir sekali. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Om, saya bakal menyalahkan diri sendiri karena udah menyeret Om ke dalam bahaya.”
“Itu tidak akan terjadi,” jawab Adhikara tenang. “Lagipula saya pandai bela diri, Eshita. Satu atau dua orang saja masih bisa saya hadapi.”
Nada bercanda yang samar di ujung kalimatnya membuat ketegangan di bahu Eshita perlahan luruh. Tatapannya melembut, napasnya kembali teratur.
“Kalau begitu … Om silakan duduk dulu. Saya buatkan minum. Om pasti haus, kan?”
“Haus sedikit. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Setelah Adhikara duduk di salah satu kursi, Eshita bergegas ke dapur. Dia membuatkan teh hangat, lalu memotong bolu pisang kukus yang dibuatnya sejak pagi buta. Potongan itu ditata rapi di piring kaca—harapannya sederhana: semoga Adhikara menyukainya.
Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa nampan dan meletakkannya di atas meja.
“Silakan, Om. Maaf seadanya.”
Adhikara meraih gelas teh, menyesapnya perlahan, lalu mengambil sepotong bolu dan menggigitnya. Dia mengunyah sejenak sebelum bertanya, “Ini buatanmu sendiri?”
Eshita yang sejak tadi menunggu reaksi itu langsung mengangguk cepat. Matanya berbinar.
“G—gimana, Om?”
“Lembut. Manisnya pas.” Dia mengangguk kecil. “Dapat dua jempol dari saya.”
Pipi Eshita seketika merona. Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga, menunduk sambil tersenyum kecil.
“Makasih … atas pujiannya.”
Tiba-tiba Adhikara tertawa pelan. Membuat Eshita mendongak, heran—tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, khawatir ada sikapnya yang terlihat menggelikan.
“Itu …” Adhikara menahan tawanya, “apa memang selalu seperti itu setiap kamu merasa senang?”
“M—maksud Om?”
“Rona di pipimu.” Karena jarak duduk mereka cukup dekat, Adhikara sedikit mencondongkan tubuhnya. Tangannya—entah sadar atau tidak—menyentuh pipi kanan Eshita. “Sejak tadi saya memperhatikan. Menarik sekali setiap kali muncul. Bisa jelaskan bagaimana itu terjadi, Eshita?”
“S—saya … nggak tahu.”
Eshita menahan napas saat ibu jari Adhikara mengusap pipinya dengan gerakan ringan. Jantungnya berdegup kencang, posisi mereka yang begitu dekat membuat dia takut pria itu bisa mendengarnya.
“Lihat,” ujar Adhikara lirih, “sekarang malah semakin merah. Cantik sekali.”
Kata itu terlepas begitu saja—dan mereka berdua sama-sama terdiam setelahnya. Seolah baru menyadari batas yang barusan terlampaui, Adhikara segera menarik tangannya dan kembali duduk tegak.
Dia berdehem pelan, senyumnya sedikit canggung.
“Maaf. Tanpa sadar saya … sudah lancang.”
Tidak apa-apa.
Eshita sama sekali tidak merasa risih atau tersinggung. Justru—entah kenapa—ada bagian kecil di hatinya yang menyukai momen itu.
Namun terlalu memalukan untuk diakui. Dia hanya mengangguk pelan sambil meremas jemarinya sendiri.
“Nggak apa-apa, Om …” jawabnya lirih.
***
“Berdasarkan alat bukti yang telah dihadirkan di persidangan, Yang Mulia, jelas bahwa terdakwa mengetahui dan dengan sengaja melakukan perbuatan tersebut. Unsur kesengajaan dalam perkara ini terpenuhi. Terdakwa bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga berperan aktif.”
Suara itu menggema tenang di ruang sidang.
Eshita, yang baru saja memasuki ruangan, segera mengambil tempat di bangku paling belakang. Ransel dipeluk erat di d**a, punggungnya sedikit menegang—bukan karena gugup, melainkan takzim. Pandangannya tertambat pada sosok pria di depan sana.
Adhikara.
Jas hitam yang dikenakannya membuat posturnya tampak semakin tegap dan berwibawa. Tatapan matanya fokus, gesturnya terkendali. Saat membacakan dakwaan, suaranya terdengar jelas dan mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Setiap kalimat mengalir dengan ritme yang terukur, seolah dia benar-benar tahu ke mana perkara ini akan bermuara.
Tanpa disadari, d**a Eshita terasa menghangat.
Dia sendiri tidak tahu sejak kapan kekaguman itu tumbuh. Namun belakangan ini, dia semakin sering menyadari keinginannya untuk terus melihat Adhikara—menemuinya, berbincang dengannya, bahkan sekadar berharap pesan singkat di ponsel pada malam hari bisa menjadi penghubung di antara mereka.
Hari-harinya tak lagi terasa monoton. Sepulang sekolah, Eshita memiliki rutinitas baru: menemui Adhikara di sela jam istirahatnya. Mereka mengobrol layaknya dua orang teman. Eshita bercerita tentang sekolahnya, sementara Adhikara sesekali membagikan kisah singkat tentang pekerjaannya—tanpa detail berlebihan, namun cukup membuat Eshita merasa dilibatkan.
Hari ini adalah pertama kalinya Eshita duduk di ruang sidang. Beberapa jam sebelumnya, Adhikara mengundangnya—sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahu Eshita. Untuk memperlihatkan padanya seperti apa dirinya saat berdiri di hadapan banyak orang.
Dan kini, menyaksikan sosok itu dari kejauhan, Eshita menyadari satu hal: kekagumannya tak lagi sebatas rasa hormat, melainkan juga rasa nyaman. Terlebih ketika tatapan mereka sempat bertemu sekilas, dadanya langsung bergejolak—senang hanya karena momen singkat itu.
Beberapa saat kemudian, ketika hakim menutup sidang dan semua orang mulai berdiri, Eshita ikut bangkit. Dia memilih menunggu pria itu di luar.
Lorong pengadilan lebih ramai. Suara langkah kaki bercampur dengan obrolan orang-orang yang berlalu-lalang. Eshita berdiri di dekat dinding, kedua tangannya saling bertaut memeluk tas, sementara pandangannya jatuh ke bawah—menatap sepatunya yang mulai usang.
Saking fokusnya menatap sepatu itu, Eshita baru menyadari kehadiran sepasang sepatu lain yang ujungnya tanpa sengaja membentur miliknya. Perbedaan yang kontras membuatnya langsung mendongak. Senyum tanpa sadar terulas saat melihat sosok pria tinggi berbahu lebar di hadapannya.
“Tadi naik apa ke sini?” tanya Adhikara.
“Angkot,” jawabnya dengan suara kecil.
“Kalau begitu pulangnya saya antar. Tapi sebelum itu, kita makan dulu. Saya melewatkan makan siang dan perut saya sekarang luar biasa lapar.”
Eshita tertawa mendengar pengakuan itu, lalu mengangguk. Langkahnya kemudian berayun pelan di sisi pria itu, meninggalkan gedung pengadilan sambil mendengarkan Adhikara mulai menceritakan alur persidangan tadi—yang terjadi sebelum Eshita datang.
***