06. Kehidupan Pelik Tuan Jaksa

1481 Words
Eshita: [Saya nemu anak kucing lucu sepulang dari perpustakaan daerah. Mau dibawa pulang, tapi … ibu pasti nggak kasih izin buat pelihara. Soalnya alergi.] Adhikara tersenyum setelah membaca pesan itu. Gambaran wajah Eshita saat cemberut langsung terlintas di benaknya—mata yang selalu berbinar, entah karena sedih ataupun bahagia. Ada sesuatu yang menggemaskan dari caranya mengekspresikan perasaan, sampai tanpa sadar sudut bibir Adhikara terangkat begitu saja. Niatnya untuk menyalakan mesin mobil pun seketika diurungkan. Dia memilih membalas pesan Eshita lebih dulu, sama sekali tak ingin membuat gadis itu menunggu. Adhikara: [Memang sulit kalau menyangkut alergi—kecuali kamu bisa mencoba bernegosiasi dan ibumu akhirnya memberi pengecualian. Misalnya menaruhnya di luar, tanpa membawanya masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum itu, kamu sudah memastikan anak kucing itu tidak punya pemilik, ‘kan, Eshita?] Setelah mengirim pesan itu, Adhikara menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu menyalakan mesin mobil. Perlahan kendaraan itu keluar dari area parkir kantor kejaksaan dan bergabung dengan arus lalu lintas jalan raya. Dua puluh menit kemudian, dia memasuki kompleks perumahan elit tempatnya tinggal beberapa tahun terakhir. Perasaan yang tadi sempat terasa ringan kini mulai mengendap, berubah pengap. Helaan napasnya terdengar berat—terutama saat mobilnya melambat di depan sebuah rumah, dan semakin terasa ketika kendaraan itu akhirnya terparkir rapi di carport. Rasanya enggan sekali pulang. Bekerja justru jauh lebih membuat Adhikara tenang daripada berada di rumah. Namun sebagai kepala keluarga, dia memiliki rumah—dan rumah itu membutuhkan perannya, entah sampai kapan. Setelah turun dari mobil, Adhikara melangkah masuk. Kedatangannya tidak disambut siapa pun. Hanya asisten rumah tangga yang berjalan tergesa menghampiri, lalu dengan sopan mengambil alih tas kerjanya. “Selamat datang, Pak.” Adhikara mengangguk singkat sebagai respons. Setelah mengucapkan terima kasih, dia berlalu menuju kamarnya. Saat melewati ruang tengah, dia melihat sang istri, Arelia Anindya Ratna, sedang menemani putra mereka mewarnai buku gambar. Tatapan mereka sempat bertemu, namun Arelia hanya mengangguk singkat. Berbeda dengan Ravindra—yang baru menyadari kehadiran ayahnya dan langsung menoleh dengan wajah sumringah. “Papa!” Ravindra Mahesa Pradana segera bangkit, berlari kecil menghampiri, lalu memeluk kaki Adhikara. Bocah berusia empat tahun itu kemudian mengulurkan tangan, meminta digendong. “Halo, Jagoan. Papa pulang,” sapanya sambil mengangkat tubuh gembul Ravindra. “Selamat datang di rumah, Papa. Tadi aku lagi mewarnai gambar Bumblebee. Mama juga bantu aku.” “Oh, ya? Warna apa saja yang kamu pakai?” “Kuning cerah, kuning keemasan, sama hitam.” “Sudah selesai gambarnya?” “Sedikit lagi.” “Baiklah. Nanti Papa lihat kalau sudah selesai. Sekarang Papa mandi dulu, ya, Nak. Badan Papa bau.” Ravindra tertawa. Dia menutup hidungnya sambil mengangguk. “Iya, bau asem.” Sebagai balasan, Adhikara menggelitiki perutnya. Tawa Ravindra langsung memenuhi ruang tengah, sampai akhirnya bocah itu merasa kelelahan dan meminta ampun. “Lanjut gambar lagi sama Mama. Papa mau ke kamar.” Adhikara menurunkan Ravindra, lalu mengusap lembut puncak kepalanya. Bocah itu pun berlari kecil kembali ke arah Arelia, duduk di tempatnya semula, mengambil pensil warna, dan kembali fokus melanjutkan gambarnya. Tatapan Adhikara sempat beralih pada Arelia. Tak ada sepatah kata pun terucap. Setelah kembali saling mengangguk singkat, Adhikara benar-benar berlalu. Dia menuju kamar—kamarnya sendiri. Kamar yang selama empat tahun terakhir selalu dia tiduri sendirian. *** Pukul sepuluh malam, Adhikara belum juga bisa tidur. Dia keluar dari kamarnya dengan niat membuat kopi, sekalian begadang memeriksa beberapa pekerjaan. Namun begitu mendapati lampu ruang tengah masih menyala, langkahnya seketika terhenti. Di salah satu sofa, Arelia terlihat tertidur dengan televisi yang masih menyala di hadapannya. Adhikara mendekat perlahan, setenang mungkin agar tidak membangunkannya. Setelah televisi berhasil dimatikan, dia bersiap menggendong Arelia. Tubuhnya sudah condong, kedua tangannya hampir menyelip ke tengkuk dan bawah lutut wanita itu, ketika mata Arelia tiba-tiba terbuka. Tangan Arelia reflek menahan d**a Adhikara, diiringi gelengan kepala kecil. “Maaf, tahu-tahu aku tertidur di sini.” Adhikara langsung mundur selangkah. Arelia menegakkan punggungnya, lalu mengusap wajah dan menahan kuap kantuk yang nyaris lolos. “Makasih buat inisiatifnya, Pa,” lanjutnya tenang. “Tapi lain kali tidak perlu. Mama pasti bangun sendiri.” “Maaf, Ma. Untuk sesaat Papa lupa.” “Tidak apa-apa, Pa.” Arelia menggeleng singkat sebelum berdiri. “Kalau begitu—” dia menunjuk ke arah lorong kamar, “aku ke kamar dulu. Good night, Pa.” “Night too, Ma.” Setelah Arelia berlalu, Adhikara kembali melangkah menuju dapur. Namun di tengah jalan, dia tertawa pelan—lebih tepatnya tawa miris—sambil menggelengkan kepala. Percakapan mereka terdengar normal, seperti suami-istri pada umumnya. Namun yang tidak normal adalah hubungan mereka. Empat tahun pernikahan dijalani tanpa cinta—setidaknya dari satu sisi. Terutama dari Arelia. Tinggal di bawah atap yang sama tidak pernah benar-benar membuat istrinya menoleh padanya. Kebersamaan tidak lantas menumbuhkan keakraban. Arelia tetap terasa asing, seolah ada dinding tak kasatmata yang selalu berdiri di antara mereka. Sekeras apa pun Adhikara berusaha mendekat, Arelia selalu menarik garis batas, membuat setiap upayanya berakhir sia-sia. Pernikahan mereka sendiri terjadi atas permintaan ibunya. Empat tahun lalu, Arelia Anindya Ratna adalah tunangan almarhum kakaknya. Mereka nyaris menikah, jika saja tiga hari sebelum akad sang kakak tidak meninggal akibat kecelakaan. Arelia yang saat itu tengah berbadan dua, akhirnya terpaksa menerima tanggung jawab dari Adhikara—karena tak mungkin bayi itu lahir tanpa seorang ayah. Terlebih ketika ibunya telah terlanjur menyayangi Arelia dan tak sanggup membiarkan perempuan itu menanggung segalanya sendirian. Adhikara yang tak kuasa menolak akhirnya menuruti permintaan ibunya. Namun menjalani rumah tangga tanpa setitik pun perasaan bukanlah perkara mudah. Arelia menerima perannya sebagai suami dan sebagai ayah bagi anaknya, tetapi tak pernah mampu memberinya cinta. Padahal saat itu Adhikara—perlahan—belajar menerima status barunya, bahkan berusaha menumbuhkan rasa. Empat tahun pun berlalu tanpa perubahan berarti. Adhikara sudah tiba di ujung kehampaan. Dia tidak lagi berharap apa pun dari pernikahan ini dan hanya menjalaninya sebagaimana bernapas—tanpa emosi, tanpa tujuan. Entah akan seperti apa rumah tangga mereka ke depannya, dia tak lagi ingin tahu. Adhikara berhenti memikirkan semua itu dan memilih memfokuskan diri pada pekerjaan, satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup dan memiliki kepastian. Sesampainya di dapur, dia segera membuat kopi. Barangkali rasa pahitnya bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari kepenatan yang menumpuk. Berkutat dengan pekerjaan di jam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat adalah bentuk pelarian paling masuk akal baginya. Setelah kopi selesai dibuat, Adhikara melangkah kembali—bukan menuju kamar, melainkan ke ruang kerja. Dia menyalakan laptop dan membuka beberapa berkas yang menunggu untuk ditelaah. Perlahan namun pasti, Adhikara pun tenggelam dalam pekerjaannya. *** “Ibu tetap nggak kasih izin memelihara kucing, sekalipun saya berjanji nggak akan pernah membawanya masuk rumah.” Tiga hari setelah pesan yang Eshita kirim, siang ini mereka akhirnya bertemu di kafe depan kantor kejaksaan. Mereka duduk di tempat yang sama persis seperti saat pertama kali bertemu. Bedanya, kali ini Adhikara mendengarkan curhatan tentang seekor kucing, bukan lagi tentang ayah Eshita. “Kalau bukan saya yang membawanya pulang, kucing itu akan sebatang kara. Saya udah pastikan, dia belum punya pemilik. Satpam perpustakaan bilang, induknya meninggal sepuluh hari lalu karena ditabrak motor.” “Apa kamu sudah menawarkan pada teman-teman atau orang terdekatmu untuk mengadopsinya?” Pertanyaan Adhikara sontak membuat mata Eshita melebar. Seakan baru terpikirkan, dia spontan menepuk pelan pelipisnya. “Saya baru ingat. Ya ampun, kenapa sebelumnya nggak kepikiran sama sekali, ya?” “Karena kamu terlalu fokus ingin memeliharanya sendiri, sampai lupa memikirkan kemungkinan lain. Tapi coba saja dulu tanyakan pada teman-temanmu, barangkali ada yang bersedia.” “Makasih atas sarannya, Om.” Eshita akhirnya tersenyum, setelah sejak tadi hanya mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir. Pesanan mereka pun datang: choco frappe dan espresso. Ada pula sepotong tiramisu yang Adhikara pesan khusus untuk Eshita. “Makanan manis cocok untuk mengisi ulang tenagamu. Bukankah sebentar lagi kamu ujian, Eshita?” “Seminggu lagi,” jawab Eshita lesu. “Belakangan ini saya merasa kurang puas dengan cara belajar saya. Padahal jamnya udah saya tambah, bahkan waktu tidur pun saya kurangi.” “Bagian mana yang membuatmu merasa kurang puas?” “Semuanya.” “Sepertinya kamu mulai jenuh. Jadi suasananya perlu diubah.” Mata Eshita berkedip, seolah bertanya apa maksudnya. Adhikara tersenyum sebelum melanjutkan, “Besok bawa bukumu saat kita bertemu. Kita coba belajar di taman belakang kantor saya.” “Mm … memangnya nggak apa-apa, Om?” “Tidak apa-apa. Selama tidak mengganggu jam kerja saya, semuanya aman.” Binar itu pun muncul—binar senang—disertai rona merah di pipinya yang selalu berhasil mencuri perhatian Adhikara. “Makasih banyak sudah kasih solusi buat saya.” Eshita sempat terdiam sejenak, bingung harus mengatakan apa lagi, sebelum akhirnya mengangguk sopan. Senyum yang terbit di bibirnya kali ini tampak malu-malu, seolah dia baru menyadari betapa cerewetnya dirinya sejak tadi. Melihat itu, Adhikara hanya terkekeh pelan. Dia menyesap espressonya, lalu mengedarkan pandangan. Entah kenapa, semakin ke sini, bertemu Eshita terasa kian menyenangkan. Pertemanan yang tak sengaja terjalin ini … ternyata menghadirkan sesuatu yang baru dalam hidupnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD