07. Tuan Jaksa, Sang Pengganti

1929 Words
“Ma, bagaimana kalau kita piknik hari ini? Mumpung Papa sedang libur kerja,” tanya Adhikara setelah selesai sarapan. “Yeay, piknik! Mau, Pa, mau,” sahut Ravindra dengan antusias.. Namun Arelia bereaksi berbeda. Dia hanya melirik sekilas, lalu menggeleng. “Mama sudah janji kemarin mau bawa Ravin ke playground. Pikniknya lain kali saja.” “Oh, sudah ada rencana? Kalau begitu Papa siap-siap dul—” “Mama pergi sama Ravin berdua,” potong Arelia. “Papa bisa istirahat di rumah saja. Pasti capek, ‘kan, sudah bekerja selama lima hari. Silakan nikmati me time Papa, kami tidak akan ganggu.” Langkah Adhikara seketika terhenti, padahal dia baru saja berdiri dari kursinya. Senyum yang sempat terbit di bibirnya pun perlahan luntur, tergantikan ekspresi datar. Namun demi Ravindra, dia berusaha menarik kembali sudut bibirnya—meski terasa begitu sulit. “Baiklah kalau begitu. Selamat bersenang-senang kalian berdua.” Tatapannya beralih pada Ravindra. Dia mengusap puncak kepala anak itu, lalu menunduk agar sejajar saat berbicara. “Jangan nakal di playground, ya, Nak. Main yang aman, dan jangan bikin Mama kerepotan.” “Padahal aku mau main ditemani Papa juga. Ma, Papa nggak bisa ikut kita aja?” rengek Ravindra. “Tidak bisa, Ravin. Jangan ganggu Papa,” geleng Arelia tegas. “Sudah, turuti saja apa kata Mama. Bukannya kalau Mama marah bisa jadi seram?” timpal Adhikara setengah bercanda. Seketika mata Ravindra melebar, lalu dia mengangguk kecil. Dia berbisik di telinga Adhikara agar ucapannya tak terdengar sang mama. “Iya, Pa. Marahnya Mama kayak Kak Ros, kakaknya Upin dan Ipin.” “Nah, makanya jangan sampai bikin Mama marah. Nanti keluar sisi Kak Ros itu,” ujar Adhikara terkekeh pelan. Sebelum menegakkan punggung, dia mengusap pipi Ravindra dengan lembut, penuh kasih. Meski Ravindra bukan darah dagingnya, rasa sayang itu telah tumbuh sejak hari pertama anak itu lahir. Apalagi wajah Ravindra yang begitu mirip mendiang kakaknya—membuat Adhikara tak pernah mampu bersikap biasa saja. Karena itulah, meski hubungannya dengan Arelia dingin dan berjarak, Adhikara selalu berusaha menampilkan kehangatan orang tua yang utuh di hadapan Ravindra—agar anak itu tak perlu bertanya-tanya mengapa keluarganya terasa berbeda dari keluarga anak-anak lain. Tak lama kemudian, Adhikara meninggalkan ruang makan. Jika tetap di sana, dia tak tahu lagi harus membicarakan apa. Langkahnya berbelok menuju ruang kerja, lalu dia memutuskan membaca berkas perkara. Lagi-lagi, pekerjaan menjadi pelariannya. Begitu bokongnya menyentuh kursi, Adhikara menghela napas berat dan menyandarkan punggung. Suasana hatinya mendadak memburuk, padahal jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Dia memang tak pernah terbiasa ditolak Arelia, meski itu bukan pertama kalinya. Seharusnya dia sudah tahu jawaban istrinya, namun tetap saja dia berpikir kemungkinan itu masih ada. Dia masih berharap—meski harapan itu mengecil setiap harinya. Bagaimana bisa seseorang memiliki hati sekeras batu karang? Dingin, tajam, dan tak tersentuh. Dulu, saat terpaksa menuruti permintaan ibunya, Adhikara selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa masa-masa berat mungkin hanya ada di awal pernikahan. Dia percaya, seiring waktu, Arelia akan ikhlas melepas kakaknya dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Namun ternyata Arelia tak pernah benar-benar melihat siapa pun sejak Andhirama terkubur di dalam tanah. Perasaannya seolah ikut mati bersama jasad itu. Satu-satunya alasan dia bertahan hingga detik ini hanyalah anaknya—darah dagingnya dengan Andhirama. Adhikara tetap menjadi orang asing, dan mungkin akan selamanya demikian. Lantas, bagaimana caranya keluar dari hubungan yang tak pernah berkembang ini? Sementara untuk melepaskan diri, masih terlalu banyak pertimbangan yang harus dia hadapi. Sebab berpisah tak pernah semudah memulai. *** Getaran ponsel membangunkan Adhikara dari tidur siangnya. Dia lebih dulu mengusap sudut mata sebelum meraih benda tipis itu. Setelah pandangannya kembali jelas, barulah dia mengangkat panggilan. “Halo, Bu,” sapanya dengan suara serak. “Halo, Kara. Kenapa kamu nggak bawa anak-istrimu ke rumah utama? Ini Sabtu, lho. Ibu sama Ayah nungguin kalian dari pagi. Kami kira agak siang datangnya, tapi sekarang udah sore. Kalian juga nggak ada kabar.” Adhikara melirik jam di layar ponselnya—pukul empat lewat sepuluh menit. Rupanya dia tertidur cukup lama. Dia mengusap wajah perlahan sebelum menjawab, “Aku lupa ngabarin. Arelia mengajak Ravindra ke playground. Aku juga belum tahu mereka sudah pulang atau belum.” “Memangnya kamu nggak ikut?” “Tidak, Bu.” “Hah?” Nada suara ibunya langsung meninggi. “Bisa-bisanya. Harusnya akhir pekan itu diisi dengan waktu bersama keluarga. Kamu ini sebagai suami dan ayah kok nggak ada peka-pekanya? Anakmu itu butuh peran kamu. Arelia juga pasti capek jaga Ravin dua puluh empat jam dalam seminggu. Dia aktif sekali. Harusnya sekarang giliran kamu ambil alih—kamu, ‘kan, papanya.” “Aku tadi sudah menawarkan diri untuk ikut, Bu. Tapi Arelia menolak. Dia mau pergi berdua saja dengan Ravin.” “Terus kamu nggak ada usaha lagi?” Ibunya berdecak nyaring. “Memang kalau nyerah, kamu itu juaranya. Pantas saja istrimu terus memasang batas. Kayaknya kamu juga jarang nunjukin perhatian. Mau sampai kapan sih bersikap kaku begitu, Kara? Capek Ibu nasihatin kamu terus.” Bibir Adhikara mengatup. “Bukan aku yang kaku, Bu. Tapi Arelia. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi dia selalu menepis semuanya. Lalu aku harus bagaimana lagi?” “Jangan tanya Ibu—cari cara!” potong ibunya tegas. “Kalau kamu berniat mempertahankan pernikahan, usahanya harus lebih keras lagi. Ingat Ravin, Kara. Kalau kamu menyerah, dia akan kehilangan figur ayah. Dia udah kehilangan Andhirama selamanya bahkan sebelum sempat mengenali rupanya. Apa kamu mau dia kehilangan kamu juga?” Tenggorokan Adhikara seketika tercekat. Dadanya terasa sesak. Kenapa selalu dia yang dituntut? Kenapa tak pernah ada tuntutan yang sama pada Arelia? Padahal semua tak akan serumit ini jika saja Arelia mau sedikit meliriknya. “Setiap orang punya batas, Bu,” ucapnya akhirnya, setelah lama terdiam. “Mungkin aku juga sebentar lagi sampai di batas itu. Jadi, mulai sekarang berhenti terus-terusan memojokkanku. Bukan aku yang membuat semuanya jadi sulit—tapi menantu kesayangan Ibu.” “Nak, apa kamu nggak kasihan sama istrimu? Nggak gampang jadi dia. Dia sudah ditingg—” Klik. Adhikara memutus panggilan sepihak. Ponsel itu dia letakkan di atas nakas dengan layar menghadap ke bawah. Setelah itu, dia turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, berniat mencuci muka sebelum keluar kamar. Di depan cermin, pantulan wajah itu terasa asing baginya. Gurat-gurat lelah tampak jelas, meski dia baru saja terbangun dari tidur. Sejak kematian kakaknya, hidup seolah tak lagi berpihak. Dia terus dituntut ini dan itu—bukan hanya menjalani perannya sendiri, tapi juga memikul peran orang lain yang ditinggalkan. Andai ada satu orang saja yang mau melihatnya apa adanya, mungkin dia tak akan menuntut apa pun lagi. *** Pada akhirnya, Adhikara tetap membawa anak dan istrinya ke rumah utama untuk makan malam bersama. Namun, saat hendak pulang, sang ibu bersikeras meminta mereka menginap. Alhasil, tak ada pilihan lain selain menuruti keinginannya. Mereka sempat berbincang santai di ruang keluarga sambil menonton televisi, sebelum ibunya tiba-tiba mengajak Adhikara ke teras belakang—berbicara berdua. Topik yang dibahas pun tak jauh berbeda dari percakapan mereka di telepon sebelumnya. Ibunya kembali mengomeli sikap Adhikara yang dianggap tidak sopan karena menutup panggilan sepihak. Adhikara yang benar-benar muak hanya mendengarkan sambil lalu. Dia bahkan tak memberi satu pun tanggapan, hingga akhirnya sang ibu lelah sendiri dan memilih masuk kembali ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Adhikara menyusul masuk. Rumah sudah tampak sunyi. Sepertinya semua orang telah masuk ke kamar masing-masing. Adhikara pun berbalik menuju kamarnya. Namun saat membuka pintu, tak ditemuinya Arelia dan Ravindra di sana. Helaan napas berat spontan keluar. Itu berarti Arelia berada di kamar Andhirama. Dengan terpaksa, dia keluar lagi dan melangkah menuju kamar mendiang kakaknya. Dia harus membujuk mereka untuk tidur di kamarnya—atau kalau tidak, ibunya pasti akan heboh keesokan pagi saat tahu mereka tidak tidur bersama. Dia mengetuk pintu dua kali sebelum bersuara, “Ma, boleh Papa masuk?” Beberapa detik berlalu hingga akhirnya terdengar jawaban Arelia. “Iya, Pa. Masuk saja.” Saat pintu terbuka, Adhikara mendapati Arelia bersandar pada headboard ranjang, dengan Ravindra berbaring di sebelahnya. Di tangan mereka, sebuah foto Andhirama tergenggam. Pemandangan itu membuat perasaan Adhikara jadi tak menentu. “Papa, sini ikut bobo sama kami,” ajak Ravindra sambil menepuk sisi kosong di sebelahnya. “Mama lagi ceritain soal Papa Andhi. Siang tadi kami juga habis dari makam Papa Andhi.” “Iya, Nak. Nanti Papa gabung.” Senyum Adhikara terulas tipis. Tatapannya lalu berpindah ke Arelia. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan—tentang ziarah itu, tentang kenapa dia tak diberi tahu. Dia tak pernah melarang, andai saja Arelia meminta izin. Namun karena tak ingin Ravindra mendengar, Adhikara memilih menanyakan hal lain. “Mama sama Ravin tidur di kamar Papa, kan?” “Entah, Pa. Kami belum memutuskan,” jawab Arelia. “Ke kamar Papa saja. Oma cerewet kalau tahu soal ini. Papa tidak siap ditanya ini-itu besok pagi.” Arelia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Nanti kami pindah kalau Ravin sudah mengantuk. Papa duluan saja.” Adhikara tak meminta lagi. Dia langsung berbalik dan menutup pintu, meski Ravindra sempat memanggilnya sekali lagi untuk bergabung di ranjang. Dia menuju kamarnya hanya untuk mengambil ponsel dan sebungkus rokok. Adhikara selalu menyelipkan nikotin itu di dalam lemari setiap berkunjung ke rumah utama—karena dia tahu, kepalanya pasti akan pening. Entah karena ibunya, atau karena Arelia. Adhikara kembali ke teras belakang dan menyalakan rokok di sana. Asap berembus keluar dari bibirnya, lalu lenyap diterpa angin malam. Di sela kesendiriannya, tiba-tiba sosok Eshita terlintas di benaknya. Belakangan ini, hanya gadis itu yang mampu membuatnya tersenyum—bahkan tertawa. Eshita menjadi penghiburan di tengah kepenatan hidupnya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, membuka ruang obrolan mereka. Jarinya tanpa sadar mengetik, berharap semoga saja gadis itu belum tidur. Adhikara: [Sudah tidur, Eshita?] Pesan terkirim. Dia menunggu sambil terus mengisap rokoknya. Tak terasa, satu batang habis. Saat dia menyulut rokok kedua, balasan masuk. Eshita: [Belum, Om. Baru habis belajar, terus lanjut edit video sedikit-sedikit. Hilda nyaranin saya jadi konten kreator sekalian affiliate di aplikasi TikTok.] Adhikara: [Itu seperti vlog dan sejenisnya?] Eshita: [Om juga belum tahu soal t****k?] Adhikara: [Iya. Baru pertama kali dengar.] Eshita: [Saya juga baru download. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya diri, tapi kalau bisa menghasilkan uang, saya mau coba menumbuhkan rasa percaya diri itu.] Rokok kedua Adhikara pun habis. Dia memutuskan tak menyalakan lagi dan memilih fokus pada percakapan mereka. Namun karena mulai bosan mengetik, dia menekan ikon telepon dan memilih berbincang langsung. Sudut bibirnya terangkat saat panggilan itu diterima. “Halo, Om,” suara Eshita terdengar lirih, nyaris berbisik—mungkin agar ibunya tak terganggu. “Video apa yang kamu edit, Eshita?” tanyanya membuka percakapan. “Mm … karena itu pertama kalinya saya buat, jadi dimulai dari perkenalan diri dulu.” “Oh, ya? Siapa yang merekamnya? Temanmu?” “Saya sendiri. Mana mungkin dibantu Hilda, saya …” Eshita terdiam sejenak. “Malu bicara banyak di depan orang lain.” Kekehan Adhikara pecah begitu saja. Dia bisa membayangkan pipi Eshita yang merona, kepala yang tertunduk. Gadis itu memiliki seribu ekspresi saat rasa malu menyerangnya. “Kalau di depan saya bagaimana?” Tak ada jawaban. “Eshita? Kamu masih di sana?” “Masih, Om …” sahutnya pelan. “Lalu apa jawabanmu untuk pertanyaan saya tadi?” “Malu juga, tapi … karena kita berteman, saya akan mencoba buat nggak merasa begitu lagi ...” Adhikara tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Aneh—berbicara dengan Eshita selalu berhasil membuatnya merasa ringan. “Bagus. Nanti saya mau lihat videonya kalau sudah selesai diedit. Saya ingin jadi orang pertama yang menonton, sekaligus menilai apakah hasilnya sudah bagus atau masih ada yang perlu diperbaiki.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD