19. Feeling Hilda

2302 Words

Suara muntah yang disamarkan dengan bunyi keran air membuat langkah Eshita terhenti sesaat. Dia menoleh ke arah pintu kamar mandi, keningnya berkerut dalam. Apa Ibu sakit? Atau salah makan sesuatu yang memicu maag-nya naik? Tidak ingin hanya menebak-nebak, dia mengurungkan niat ke dapur untuk merebus air hangat. Memilih bersandar di dinding, menunggu sampai Ibu keluar. Lima menit kemudian pintu ditarik dari dalam. Muncul Ibu dengan wajah pucat yang telah dibasuh air. Pemandangan itu langsung mencuri perhatian Eshita begitu tatapan mereka bertemu. Punggungnya otomatis menegak. Tak sabar menunggu Ibu benar-benar melangkah keluar, dia lebih dulu mendekat. “Ibu sakit?” Nada khawatir tak bisa dia sembunyikan. Tangan kanannya terangkat, menyentuh dahi Ibu untuk merasakan suhu tubuhnya. “Hanga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD