20. Terbuka Pada Arelia

1538 Words

Selama makan bersama, Eshita menceritakan keseruan mereka saat berfoto di studio. Dia harus mengulang beberapa kali karena terlalu kaku. Hilda sampai gemas sebagai penata gaya; dia mengomeli Eshita karena sulit diatur. “Anak lain ada juga yang sekaku saya, tapi setelah diarahkan hasilnya langsung bagus. Kalau saya beda.” Eshita tertawa kecil saat mengingat kejadian siang tadi. “Pertama kalinya saya lihat Hilda sepusing itu. Tangannya sampai mengepal, kayak ingin meremas saya, tapi ditahan.” “Lalu bagaimana akhir pemotretan itu?” “Untungnya selesai dengan hasil yang memuaskan. Berkat Hilda. Selain idenya memang dari dia, dia juga terlibat langsung menentukan konsep masing-masing orang.” Adhikara menandaskan minumannya lalu mengelap mulut dengan tisu karena makannya telah selesai. Perhat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD