Bab 2. Rekaman.
“Kenapa hidup sendiri?” gumamnya pelan sambil mengusap wajah.
Lampu indikator kamera berkedip. Suara statis muncul. Reza memicing, menekan play.
Layar menampilkan pemandangan gudang Revan. Ada suara tawa. Lalu bayangan seseorang jatuh ke atas tumpukan kardus. Reza mundur satu langkah ketika suara Liora terdengar samar.
“Aku cuma… sebentar aja…”
Reza terdiam. Tangan kirinya gemetar. Handycam itu bergerak sendiri, seperti tersenggol saat kejadian aslinya. Lalu wajah Revan muncul. Wajah Liora menyusul. Tidak jelas. Kabur. Namun cukup untuk menghantam dadanya.
“Tolong… jangan,” bisiknya, seolah bisa menghentikan rekaman.
Adegan itu menampilkan gerakan tubuh yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu menghancurkan. Suara napas mereka bercampur. Kemeja Revan terbuka. Blus Liora pun sudah terlepas. Rambut Liora berantakan. Reza menutup mulutnya. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.
“Kenapa?” Reza tercekat.
Rekaman berakhir saat kamera ke lantai mobil.
Reza berdiri kaku. Mobilnya terasa semakin sempit. Udara menusuk. Handycam itu seolah membakar telapaknya. Ia memukul setir dengan menghempas segala kekecewaan.
“Apa salahku?” Reza menyambar kamera itu lagi, menontonnya dari awal. Tubuhnya menegang. Bahunya bergetar.
Ia mengusap wajahnya kasar. Air mata, debu, dan keringat bercampur. Lalu ia menekan gas. Mobilnya melesat kencang. Ia tak tahu kemana.
---
Mobil itu berhenti begitu saja di depan rumah Arman, sepupunya. Ia seperti kehilangan kemudi. Reza mematung di balik setir selama beberapa detik, namun dadanya bergerak cepat, seperti ada sesuatu yang memukul dari dalam.
Handycam itu tergeletak di kursi samping, lampu rekamannya masih menyala samar, merah kecil yang seakan mengejek.
Ia meraih kamera itu dengan tangan gemetar, lalu keluar dari mobil. Tangannya bahkan sempat salah menutup pintu, membuat suara benturan keras menggema di halaman rumah sepupunya itu. Ardan muncul dari dalam rumah sambil mengusap rambut yang acak-adut.
“Za?” Arman menuruni tiga anak tangga. Alisnya terangkat, wajahnya langsung berubah begitu melihat ekspresi Reza. “Loh, kamu kenapa? Kok mukamu—”
Reza tidak langsung menjawab. Napasnya tercekat. Ia mencoba bicara, namun suara yang keluar hanya patahan udara.
Arman melangkah cepat dan menahan bahu Reza. “Masuk dulu. Kamu kelihatan kayak baru dikejar sesuatu.”
Reza mengikuti langkah Arman masuk ke ruang tamu. Bau kopi basi masih menggantung dari mug semalam, namun suasananya cukup tenang untuk membuat lutut Reza goyah. Ia duduk, lalu menunduk sambil menutupi mata dengan tangan.
Arman jongkok di depannya. “Za, ada apa?”
Reza menelan napas kasar. “Dan aku tadi lihat… mereka. Di gudang… Revan.” Suaranya serak. Kamera di tangannya bergetar, hampir jatuh.
Arman refleks menahan handycam itu agar tidak terlempar ke lantai. “Mereka? Mereka siapa?”
Reza menggeleng lirih, lalu menutup wajah dengan telapak tangan. Takut mengucapkannya. Takut mendengar kata dari mulutnya sendiri.
“Za,” Arnan menyentuh lengannya pelan.
Reza tidak menjawab. Namun diamnya justru menjadi jawaban yang paling keras.
Ardan mengembuskan napas panjang, kaget, namun menahan ekspresi agar Reza tidak sedih lebih jauh. “Kamu lihat apa? Mereka siapa? Mereka ngobrol? Atau…”
Reza mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, bukan karena menangis terlalu banyak, melainkan karena menahan tangis terlalu keras. Sesak.
“Aku masuk ke gudang karena dia suruh aku ambil kamera ini.” Reza mengangkat handycam itu, tangannya masih bergetar. “Ternyata kamera ini sudah menyala. Tanpa aku tahu. Kayaknya kepencet saat mereka… aku nggak tahu. Aku cuma tahu waktu aku buka file-nya…”
Ia tak melanjutkan.
Arman duduk di sampingnya, pelan, seperti sedang mendekati seorang bocah yang kehilangan benda kesayangannya.
“Terus, masalahnya apa? Kamu tarik napas dulu, embuskan dengan pelan.”
“Ini. Lihatlah ini!” Reza memberikan handycam itu kepada Arnan.
“Ayo kita lihat bareng,” ujar Arman tenang, meski sorot matanya berubah menjadi tajam.
Reza menelan saliva. “Kamu aja, Man. Aku tadi udah lihat, sebentar, sih.”
Reza menarik napas panjang yang terasa seperti menelan beling. Ia menyerahkan kamera itu. Arman memencet tombol, membuka galeri kecil berisi file-file lama.
Ada satu file terbaru.
Tanggal rekaman sama persis dengan hari ini.
Durasi dua jam lebih.
Arman terdiam sejenak. “Za. Ini rekaman apa. Dua jam. Apa ini proyek kamu dan Revan?”
Reza menutup mata. “Putar saja.”
Ardan menekan tombol play.
Layar kecil itu hidup. Suaranya samar dan sedikit berisik. Bayangan pertama yang terlihat hanyalah kaki-kaki meja gudang dan tumpukan kardus. Kamera seolah terjatuh di lantai miring, menghadap ke ruang tengah gudang.
Arman memiringkan kepala. “Kayak kebuka nggak sengaja. Kayaknya jatuh atau kepencet.”
Reza mengangguk dengan tatapan kosong.
Beberapa detik rekaman menampilkan keheningan. Lalu terdengar suara pintu gudang dibuka.
Suara tawa lirih. Bukan tawa yang seharusnya ada di tempat seperti itu.
Senyum Liora muncul di layar, separuh tubuhnya terlihat dari pinggang ke atas. Rambutnya terburai, sedikit kusut seperti habis berlari. Ia mendekat ke Revan, dan bayangan tangan Revan muncul meraih pinggangnya.
Ardan membeku.
“I-ini Liora, kan? Istrimu? Satunya lagi, i-itu si Revan?” Arman terbelalak. Ia menatap sendu ke arah Reza.
Di rekaman itu, Liora mengusap wajah Revan, lalu menekan tubuhnya ke arah pria itu. Gerakan mereka tidak vulgar, namun cukup untuk membuat siapapun yang melihat merasa itu bukan momen pertama mereka. Ada kedekatan yang terlalu nyaman.Terlalu intens. Seperti sudah sering melakukan.
Desahan napas mereka terdengar jelas.
Arman memandang Reza.”Maaf, aku matiin aja, ya.”
Reza menggeleng lemah. “Lanjut.”
Arnan sebenarnya merasa tidak enak. Karena ia telah melihat separuh tubuh Liora, meskipun sedikit buram
Di rekaman, Liora menunduk ke arah d**a Revan, suaranya pelan sekali, nyaris seperti bisikan memohon. Rekaman tidak jelas, namun tonalitasnya membuat darah siapapun mendidih.
“Kamu beda. Gak seperti dia.” suara Liora terdengar lirih dari rekaman. “Aku bosan jadi istri yang baik.”
Reza menutup mulut dengan punggung tangan, pundaknya berguncang kecil. Karena memang belum sampai tahap bagian ini saat dirinya melihat tadi.
Arman mengepal tangan. “Gila! Mereka gila. Itu sahabat kamu, kan? Oh s**t!”
Rekaman terus berjalan.
Ada bayangan tubuh Liora yang merapat ke Revan. Ada helaan napas berat Revan yang tidak bisa disalahartikan sebagai hal lain. Ada detik-detik ketika mereka seperti lupa dunia.
Namun sepertinya kamera jatuh di posisi yang hanya memperlihatkan pinggiran meja dan bayangan samar mereka. Gerakan yang terlihat hanyalah siluet, tetapi lebih dari cukup untuk menghancurkan.
Reza membungkuk. “Dia. Liora nggak pernah seliar itu kalau sama aku.” tangisnya pecah. “Nggak pernah.”
Arman menutup wajah dengan tangan, tidak sanggup menatap rekaman lagi. “Za, sudah aku matiin.”
Namun Reza menahan tangan Ardan. “Belum habis.”
Beberapa menit kemudian, rekaman menampilkan hal lain, hal yang lebih menjijikan.
Suara Liora terdengar jelas:
“Aku takut kalau Reza tahu. Dia terlalu baik untuk disakiti dengan cara ini.”
Kalimat itu membuat Reza seperti tak ada lantai di bawah kakinya.
Arman memeluk kepalanya dengan kedua tangan. “Za, cukup. Kamu nggak perlu dengerin ini.”
Reza merosot ke sofa. Napasnya berantakan. Matanya basah, tetapi tidak pernah benar-benar menetes. Ada tangis yang tertahan seperti luka yang menolak keluar.
“Man…” Reza berbisik sambil menekan dadanya. “Selama ini aku baginya bukan jadi pasangan, melainkan pajangan?”
Arman meraih bahunya dan menarik Reza ke pelukannya.
Reza akhirnya menangis, namun bukan tangisan histeris. Ini isakan yang sunyi, menahan diri, hanya keluar lewat getaran bahu yang terus naik turun.
Ia meraih handycam itu, memasukkannya ke tas kecilnya. Wajahnya muram. Tubuhnya goyah. Namun yang jelas, ia tidak bisa kembali ke rumahnya malam ini.
Reza membuka pintu, melangkah keluar. Arman berada di belakangnya, menatap punggung sepupunya yang terlihat seperti membawa seluruh dunia sendirian.
“Reza!” Arman memanggil pelan.
Reza berhenti sepersekian detik tanpa menoleh. “Aku pengen sendirian. Aku titip mobil.”
Ia melangkah lagi. Lampu teras menyorot wajahnya yang basah karena tetesan bening dari manik hitam lengannya. Tiada kehangatan, dingin, dan terluka. Ditambah angin malam menyapu rambutnya.
Pintu rumah Arman tertutup di belakangnya, menyisakan keheningan yang menegang.
Reza berjalan tanpa arah, hanya mengikuti suara detak jantungnya yang kacau. Handycam dalam tasnya terasa berat seperti dosa yang bukan miliknya.
Ia tidak tahu ke mana langkah akan membawanya.
Di ujung jalan, lampu mobil menyala ke arahnya, kendaraan roda empat itu melaju kencang ke arahnya. Reza tidak sempat lagi menghindar. Ia menutup mata, terdengar bunyi rem yang berdecit membuat ngilu. Reza pasrah karena tak bisa lagi menghindar.