Bab 3. Pertemuan yang Salah
“Ya Tuhan!”
Suara perempuan bergetar tercampur teriakan rem mobil.
Reza tersentak. Tubuhnya terpaku. Cahaya lampu mobil menyinari wajahnya, seakan menamparnya keluar dari kepalanya sendiri. Ban mobil berhenti hanya beberapa jengkal dari lututnya.
Pintu pengemudi terbuka cepat, lalu seorang wanita cantik melangkah turun. Tumit sepatunya mengetuk aspal. Napasnya tersengal karena shock.
“Kamu?”
Nada suaranya menggantung antara terkejut, marah, dan takut.
Reza mengangkat wajah. Mata yang basah itu berusaha mengikuti arah suara. Aroma parfum lembut menghampiri lebih dulu sebelum sosoknya menjadi jelas.
Rambut panjangnya bergeser tertiup angin, sebagian menutup pipi. Wajahnya masih muda, terawat, dengan garis-garis halus yang justru membuatnya tampak elegan. Pakaian mahaa yang melekat ditubuh wanita itu, membuat ia bertambah cantik. Cahaya lampu depan mobil memantulkan kilau tipis di bawah matanya.
“Astaga… kamu hampir ketabrak barusan. Hati-hati, dong kalau jalan.”
Wanita itu mengambil langkah cepat, namun kemudian memperlambat ketika melihat kondisi Reza.
Reza menunduk, tangan gemetarnya menggenggam kain baju. Tidak ada suara keluar. Tenggorokan terasa menyempit.
Alena mendekat hingga satu langkah di depannya. “Hei… kamu kenapa? Apa ada yang luka?”
Tidak ada jawaban.
Reza menarik napas dalam-dalam, namun d**a itu malah bergetar. Kepalanya menunduk semakin dalam. Perasaan sadar dan tidak sadar saling tabrakan dalam tubuhnya. Hanya suara isak lirih yang lolos.
Alena memiringkan tubuh sedikit, mencoba menangkap wajahnya. “Kamu, kamu Reza, kan? Temannya Revan. Kita pernah ketemu beberapa kali pas kalian main ke rumah. Aku Mamanya Revan, kamu lupa?
Kelopak mata Reza bergerak, sekilas mengakui, namun tetap tanpa kata. Hanya satu yang jelas, saat nama itu disebut, hatinya yang memang telah berparut, makin bertambah perih.
“Ya Tuhan… aku hampir nabrak temen anakku sendiri.”
Tangan Alena refleks menyentuh lengan Reza. Memegang dahi dan pipi selayaknya perhatian seorang ibu.
Reza bergeser setengah langkah, bukan menjauh, lebih seperti tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Alena langsung menangkap maknanya. “Reza, kamu gemetar. Kamu demam atau gimana?”
Kalimat itu menggantung saat melihat mata Reza yang merah. “Kamu habis nangis? Cowok, kok, nangis.”
Kelopak Reza tiba-tiba basah lagi. Entah kenapa, diperhatikan seperti itu malah makin membuat hatinya terharu dan pilu.
“Kamu sendirian? Setahuku kamu punya istri. Dia di mana?
Pertanyaan itu pelan, tetapi tepat mengena pas di ulu hati.
Reza mengangguk sedikit. Hanya gerakan kecil, namun cukup untuk membuat Alena menarik napas panjang. Wajahnya berubah lembut.
“Ayo ke pinggir dulu. Duduk bentar.”
Alena memberi isyarat ke pembatas trotoar.
Reza tidak melawan. Kakinya mengikuti begitu saja. Mereka duduk berdampingan, namun dengan jarak sopan yang terbaca jelas. Lampu mobil Alena menerangi sisi jalan, menciptakan bayangan mereka yang goyah di permukaan aspal.
Angin malam melewati mereka, membawa aroma rumput basah dan sisa hujan sore tadi.
Alena memperhatikan Reza. “Aku takut banget barusan. Kamu berdiri di tengah jalan tanpa lihat apa-apa.”
Reza membuka suara untuk pertama kali. “Aku… nggak lihat.”
“Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Reza menarik napas keseluruhan tubuh, bukan hanya dadanya. Tatapannya jatuh ke tanah. “Gak apa-apa, Bu. Hanya ingin sendiri.”
Alena tidak memotong. Bahunya sedikit menegang, akan tetapi wajahnya tetap lembut.
“Oh.”
Alena memahami tanpa bertanya berlebihan.
Reza memijit pelipis, gerakan yang menunjukkan betapa berat yang ia pikul. “Aku cuma mau jalan-jalan. Lagi gak mikir apa-apa.”
“Sampai kamu hampir ketabrak,” balas Alena lirih.
Reza mengangguk pelan. “Maaf Bu”
Alena merapikan rambut yang jatuh ke wajahnya. “Reza, kelihatannya kamu lagi gak baik-baik saja. Kamu kayak shock karena sesuatu. Kamu nggak seharusnya jalan sendirian dalam kondisi begini.”
Reza memejamkan mata sejenak. “Entahlah Bu. Aku cuma lagi mau sendiri.”
Ucapan itu seperti pengakuan paling jujur yang ia miliki malam itu.
Cahaya lampu mobil menyorot pipi Alena, membuatnya tampak semakin lembut. Kerutan di antara alisnya muncul, bukan karena kesal, melainkan karena khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan. Bagaimana tidak,ia hampir saja menabrak orang malam ini.
“Kamu mau pulang?”
Pertanyaan itu pelan.
Reza menggeleng cepat. “Aku nggak mau pulang.”
“Gak apa-apa. Aku akan antar, kamu mau kemana?”
Gelengan kepala Reza yang kedua, lebih lambat.
Suasana hening sejenak. Angin membawa suara serangga dari taman kecil di seberang.
Alena lalu menatap Reza dengan mata yang lebih jernih. “Kalau begitu ikut aku. Kita ke tempat yang lebih tenang. Tapi, jangan lagi panggil saya Ibu. Saya belum terlalu tua.”
Reza melihatnya. Bolak-balik. Ragu. Takut. Lelah. Pandangan mereka saling bertemu, dan Reza melihat kecantikan yang murni dan senyuman tulus. Entah kenapa saat melihat manik hazel itu, Reza berdesir. Dadanya berdebar hebat. Hal, yang belum pernah ia rasakan saat menatap Liora. Bahkan setelah Liora menjadi istrinya.
“Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa,” ujar Alena pelan. “Aku tahu kamu temannya Revan. Meskipun dia nggak tinggal sama aku, aku pernah lihat kalian main bareng. Berarti kamu bukan orang asing.”
Reza menelan saliva. Mendengar nama Revan membuat hatinya berdenyut perih. Anehnya,saat ini dirinya malah bersama ibu di sahabat sekaligus pengkhianat.
Alena mengangguk untuk membujuk. “Ayo. Kita bicarakan pelan-pelan di tempat lain. Mungkin kamu butuh teman curhat. Anggap aja, aku ini tantemu, atau… tunggu kamu sepertinya lebih tua dari Revan, ya?”
Reza mengangguk. “Saya lebih tua lima tahun.”
“Oh, kalau gitu biar kamu curhatnya lebih rileks dan enak. Panggil aku kakak aja. Oke.” Alena memapah Reza. Sentuhan kulit yang beradu membuat aliran darah Reza berdesir.
Reza tidak tahu kenapa ia akhirnya berdiri mengikuti Alena. Mungkin karena malam terasa terlalu berat. Mungkin karena lututnya sudah tidak mampu menyangga beban tanpa pegangan apa pun. Atau mungkin karena tatapan Alena yang tulus menggenggam sesuatu dalam dirinya yang sudah hampir runtuh.
Mereka berjalan kembali ke mobil. Alena membuka pintu penumpang, mempersilakan Reza masuk.
“Aku bakalan nyetir pelan-pelan. Kamu istirahat dulu,” ujar Alena.
Reza duduk, tangannya gemetar ketika menarik sabuk pengaman. Napasnya masih belum stabil, namun lebih teratur daripada beberapa menit sebelumnya.
Alena menutup pintu, lalu masuk ke kursi pengemudi. Mobil bergerak perlahan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, menciptakan pola cahaya yang seolah mengiringi kepergian mereka.
Reza menatap luar jendela. “Aku nggak tahu harus cerita apa, dan mulai dari mana?”
“Kamu nggak perlu ngomong dulu,” suara Alena menenangkan. “Cukup duduk dengan tenang.
Reza menutup mata, bukan untuk tidur, namun untuk menyembunyikan sisa air mata yang jatuh diam-diam.
Alena melirik sekilas, bibirnya menegang menahan sesuatu yang tidak ia ucapkan. Ia bukan ibu yang keras. Ia bukan wanita yang dingin. Jadi, ia sangat paham apa yang terjadi. Kebetulan sekali malam itu membawanya ke seorang pemuda yang hampir roboh. Mobil pun terus melaju.
Reza membuka mata perlahan. “Kita mau ke mana?”
“Kamu, kan temannya Revan. Kalau kamu gak mau curhat atau berbagi cerita ke Kakak. Kamu bisa cerita ke Revan.”
“Revan?! Terus apa tadi, Kakak? Tante nyuruh aku manggil Kakak? Emang gak apa-apa?” Reza tersentak baru menyadari ada yang salah. Dari tadi ia tidak begitu menggubris. Jad tidak menyimak apa saja yang telah Alena katakan.
“Ternyata masih sadar. Ya, gak, lah. Terserah kamu mau panggil apa. Asal jangan ibu. Kesannya udah gimana gitu. Sekarang kamu tenang. Kamu kayaknya lagi ada masalah. Kita kerumah Revan aja, ya?
“Hah?!”
Sedangkan kendaraan terus melaju dan di persimpangan, Alena mengendarai mobil belok kekirim ke arah rumah Revan.