3. Kekuatan Takdir

1444 Words
"Ellena," Terdengar panggilan seseorang dari arah depan Ellena berdiri, Wanita cantik itu segera menoleh ke arah depan dan melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Kaca depan mobil itu terbuka dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang sangat dia kenal. "Eh Pak Budi, Maaf ga tau kalo udah dateng " sapa Ellena ramah dan segera masuk ke dalam mobil itu. "Ngelamun aja, liat siapa sih?" tanya Pak Budi, sopir kantor. "Enggak ... itu kayanya Bos baru ya. Penasaran aja sih liat orangnya. Katanya masih muda dan ganteng." "Cewek kalo liat yang muda trus ganteng pasti meleng ya, Kita lewat sana ya, siapa tau bisa liat wajah Bos yang baru." "Eeh ga usah ... malu, Pak." Tapi Pak Budi tidak mendengarkan apa yang diminta oleh Ellena. Mobil itu melaju ke arah dua mobil mewah yang parkir di depan lobi. Di samping dua mobil mewah itu masih ada beberapa orang yang memberi sambutan pada bos baru cabang Pacific Group itu, Ellena menoleh ke arah lobi, dia masih sangat penasaran pada sosok pemuda yang sudah dibicarakan oleh teman-temannya selama beberapa hari ini. Dia sangat ingin tahu karena hari ini dia tidak mengikuti acara penyambutan secara resmi. Terlihat ada banyak punggung yang dilihat oleh Ellena dan juga beberapa wajah petinggi perusahaan yang sudah dia kenal. Tapi entah mengapa, mata Ellena tertuju pada punggung dengan jas hitam yang tampak sangat kokoh dan begitu menarik dibandingkan yang lain. "Punggungnya bagus amat ya. Pasti cakep orangnya," gumam Ellena pelan. "Masa punggung bisa gambarin wajah. Bisa aja kamu ini, Ell," ucap Pak Budi sambil menyetir. "Ya kan siapa tau, Pak, Punggung itu beda banget ama yang lain. Keliatan gagah dan sangat berwibawa." "Ya karena itu Bos barunya, Ntar juga lama-lama tau wajah Bos baru. Tapi denger-denger Bos baru kita tuh galak orangnya. Lebih cerewet dari kakaknya dulu." "Masa? Jadi ini anak kedua Pak Haris Wijaya ya, Pak?” "Iya. Kalo Bos kita yang lama kan sekarang pindah ke Amerika." "Oh ... baru denger saya. Semoga ga nyusahin pegawai ya." Mobil yang dinaiki Ellena segera meluncur menuju ke tempat tujuan. Dia harus memenangkan hati klien lagi hari ini. Ellena ingin mendapatkan sedikit bonus lebih bulan ini karena dia ingin merayakan ulang tahun putranya. Setelah bertemu dengan klien, Ellena segera kembali ke kantor karena masih ada urusan yang harus dia selesaikan. Dia tidak ingin lembur, seperti janjinya tadi pada sang anak. Suara sepatu Ellena terdengar sangat yakin menuju ke ruangan Silvia. Dia ingin melaporkan tentang keberhasilannya mendapatkan klien lagi. Hari ini Ellena semakin merasa kalau keberuntungan sedang menyelimutinya sejak kelahiran Nathan. "Ellena," panggil seorang pria dari arah belakang. Ellena menoleh lalu kemudian tersenyum, "Siang, Pak Devan," sapa Ellena balik. "Ell, kamu bisa ke ruangan saya sebentar?" Ellena mengangguk. "Boleh, Pak." Langkah Ellena kini berbalik arah, dia mengikuti langkah Devan, menuju ruang kerja manajernya itu. Ellena segera duduk di depan meja kerja Devan. Dia melihat di atas meja itu tertulis nama Devan Alex Wijaya manajer pemasaran Pacific Group dengan senyum tipis. Devan menatap teguh wanita di depannya. "Ell, saya sudah mendengar tentang kinerja kamu belakangan ini yang meroket tajam, Itu luar biasa, Ell," ucap Devan dengan senyum bangga. "Makasih, Pak, Tapi mungkin ini cuma keberuntungan saya aja." "Ga ada yang kaya gitu, Ell. Keberuntungan itu hanya ada 30 persen, sisanya adalah kerja keras. Bahkan bukan hanya satu orang yang bilang kamu luar biasa, Bu Silvia yang terkenal sangat ketat saja sampai memuji kamu." “Closing power katanya,” imbuhnya sambil tersenyum lebih lebar. Ellena tersenyum .akin lebar sambil menunduk. “Itu cuma candaan, Pak "ucap Ellena malu. "Mau itu candaan ato enggak yang pasti saya lihat buktinya nyata.” “Oh ya, sampai lupa.” Devan mengubah mimik wajahnya lebih serius. “Gini Ell, kamu tahu kan kalo hari ini Bos baru kita masuk dan seperti biasa akan ada masa promosi bagi pegawai yang prestasinya bagus. Kalo kamu saya daftarkan, sanggup gak?” tanya Devan. Binar bahagia terpancar di netra Ellena. "Promosi, Pak?” “Iya, promosi untuk 3 bulan aja. Kalo lolos, kamu akan naik jabatan.” “Naik jabatan? Gaji juga naik. Ini bagus, aku butuh uang banyak buat persiapan Nathan masuk SD,” gumam Ellena dalam hati. “Iya Pak, saya mau!” tegas Ellena dengan senyum cerah. Devan ikut tersenyum. “Saya yakin kamu pasti bisa, Ell.” “Ok, kalo gitu kamu saya ajukan promosi ya. Syaratnya gampang kok.” Devan menjelaskan prosedur masa promosi ini pada Ellena. Dia berharap banyak agar bawahan andalannya ini akan berhasil, yang akan membantu poinnya untuk naik jabatan juga. “Cuma itu aja Pak syaratnya? Eh, kok sombong saya," ucap Ellena sambil menutup mulutnya karena sadar dia salah. Devan tergelak ringan mendengar jawaban Ellena. “ucapan semangat yang bagus, Ell. Jadi ok ya ... saya daftarkan kamu ya.” “Iya, Pak, Makasih banyak, Pak.” Ellena sangat senang dengan kabar yang di sampaikan oleh Devan. Dia yakin kalau dia pasti akan mampu menjalani semua persyaratannya. Kalau boleh sombong, pertengahan bulan nanti dia sudah mendapatkan lebih dari separuh. Kinerja Ellena bulan ini memang benar-benar banyak dibanjiri oleh keberuntungan. Devan ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang diekspresikan oleh Ellena. Rasa kagumnya kepada Ellena semakin dalam. Wanita cantik, pintar dan juga sangat sederhana itu, sudah lama berdiam di hatinya. Walaupun cintanya belum terbalas, tapi dia yakin suatu saat Ellena akan menerima cintanya. Devan tersenyum ke arah Ellena. “Ya udah, kalo gitu, kamu boleh balik ke ruangan kamu lagi.” Ellena tersenyum. Baiklah, Pak. Kalo gitu saya permisi dulu. Oh ya, sekali lagi makasih ya, Pak.” Devan tersenyum lebih lebar. “Jangan lupa traktir saya dengan gaji pertama sebagai ketua tim ya, Ell." "Pasti, Pak. Nasi goreng kan?," ucap Ellena sambil tergelak ringan. Ada yang tidak baik-baik saja di hati Devan saat dia melihat senyum indah Ellena. Degup jantungnya yang keras, membuatnya sedikit merintih kesakitan. Ellena keluar dari ruang kerja Devan dengan senyum berbinar. Dia sangat senang, karena akhirnya dia akan punya gaji lebih, jika dia benar akan naik jabatan. Uang gaji Ellena selama ini hampir tidak pernah bersisa. Bukan karena gaya hidupnya yang boros, tapi dia menyekolahkan Nathan di sekolah internasional. Meski dia bukan orang kaya, tapi dia ingin putranya mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah melaporkan hasil pertemuannya dengan klien kepada Silvia, Ellena segera kembali ke ruangannya. Di sana Arina yang sudah menanti kabar baik dari temannya tersebut. Senyumnya mengembang, saat dia melihat wajah Ellena sumringah. "Gimana ... gimana? Closing lagi dong?" tanya Arina ingin tahu. "Closing donk, Ellena gitu loh. Eh tapi ada yang lebih penting dari sekedar closing. Ada yang lebih besar lagi,” jawab Ellena sambil duduk di kursinya. “Apa itu? Pak Devan ngajak kamu kencan ya?” Arina asal menebak. "Husst! Gak usah bikin gosip!” Ellena menepuk kursi di sampingnya yang kosong. “Sini deh pindah sini. Ini rahasia soalnya.” “Rahasia? Waah ... pasti seru ini ntar.” Tidak perlu menunggu waktu lama, Arina segera pindah ke samping sahabatnya. Dia sudah siap ingin mendengarkan kabar besar yang akan disampaikan Ellena. “Ada kabar apa?” tanya Arina siap mendengar kabar itu. Ellena tersenyum sambil menyalakan laptopnya. “Dih, semangat banget sih,” ledeknya. “Iya lah. Udah buruan, ada berita apa?” Karena kasihan pada Arina yang sedang sangat penasaran, Ellena pun segera menyampaikan kabar yang tadi dia dapatkan dari Devan. Arina menepuk lengan Ellena. "Waah ... jadi atasan aku dong bentar lagi. Selamat ya, Sayang. ucap Arina sambil memeluk Ellena. "Selamat apaan sih. Belum, Rin, Masih lama kali ah." "Ga papa. Kan ini Clcuma masalah waktu aja. Kalo berhasilnya sih pasti iya,” puji Arina bersemangat. "Doain ya. Semoga bisa naik jabatan.” “Eh iya, mana Bos barunya. Beneran ganteng ga?" tanya Ellena yang teringat akan kabar Bos baru di kantor. "Waah gantengnya itu bikin orang ga kedip, Ell. Bisa pingsan ya kamu kalo liat.” Wajah Arina tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Eh iya, aku ada fotonya. Tadi aku sempet foto dia pas liat di lobi," ucap Arina sedikit malu. "Seniat itu ya kamu, mana coba liat.” Ada rasa tidak sabar di hati Ellena, melihat siapa bos baru yang dikatakan oleh Arina sangat tampan itu. Saat melihat punggungnya tadi saja, Ellena sudah yakin kalau pemuda itu tampan. Apa lagi ditambah dengan pernyataan dari Arina, dia semakin yakin kalau pemuda itu pasti luar biasa. “Nih, potonya,” ucap Arina sambil mengulurkan tangannya yang memegang ponsel. Ellena menerima ponsel itu. Bibirnya masih tersenyum saat dia menerima ponsel Arina. Tapi senyum itu mendadak hilang. Mata Ellena membulat saat dia melihat foto yang ada di ponsel itu. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan saat dia memperbesar tampilan di layar ponsel itu, tangan Ellena malah bergetar dibuatnya. “In-ini bos baru kita?” tanya Ellena dengan suara bergetar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD