4. Wanita di Lobi

1045 Words
“In-ini bos baru kita?” tanya Ellena dengan suara bergetar. “Iya, kenapa, Ell? Ganteng kan?” Ellena tidak menjawab. Dia masih terpaku pada layar ponsel yang ada tangannya. Dia membatu. Sosok yang ada di dalam layar ponsel itu mengingatkan dia pada seseorang. Seseorang di masa lalunya, yang tidak ingin dia ingat lagi. Seseorang yang pernah membantunya menuntaskan semua permasalahan hidupnya dan memberinya sebuah hadiah pangeran tampan di dalam kehidupannya saat ini. Arina melihat wajah Ellena berubah lebih pucat. Dia tahu kalau sahabatnya itu pasti sedang terpesona seperti dirinya tadi. "Wooy!! Ampe ga kedip gitu. Biasa aja dong," ucap Arina sambil menepuk pundak Ellena. Ellena menjadi sedikit gelagapan. Dia meletakkan ponsel itu dan meraih gelas minumnya. “Gimana ... ganteng kan?” "Ah biasa aja," jawab Ellena datar, berusaha menyembunyikan deru di dadanya. "Biasa aja gimana? Jelas-jelas tadi kamu gak kedip pas liat dia. Malu ya ketahuan terpesona?" ledek Arina. “Enggak kok. Udah sana balik ke meja kamu. Malah ngobrol aja,” usir Ellena, menghindari Arina. Ellena menjadi sangat gugup saat ini. Dirinya tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang dari tujuh tahun silam yang pernah menghabiskan satu malam kelam bersamanya. Ellena tidak menyangka dunia menjadi sempit untuknya. Setelah sekian lama, kenapa pria itu muncul lagi di hidupnya. Ellena melihat laptop di depannya. Mengetuk sembarang tombol tidak jelas, karena pikirannya tidak ada di sana. Bayangan wajah Sean tiba-tiba memenuhi pikirannya. Apa dia ingat padaku? Apa dia mencariku? Atau mungkin dia ingin anakku? Berbagai pikiran yang membuat pikiran buruk langsung menyerang Ellena. Arina melihat ke arah sahabatnya. Wajah Ellena semakin pucat dan tidak tampak sehat. "Ell, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Arina yang curiga pada perubahan sikap sahabatnya. “Hemm ... enggak kok. Aku ga papa," sangkal Ellena masih tanpa berani menatap Arina lama-lama. "Tapi kamu kenapa pucet gitu? Kamu yakin kamu gak papa?” Ellena mengangguk mantap sambil tersenyum canggung. “Gak papa kok. I’m fine.” Arina tersenyum. “Ato kamu lagi kena sindrom Pak Sean ya? Sindrom kegantengannya.” Mendengar nama Sean disebut, tangan Ellena bergetar lagi. Dia sampai mengepalkan tangannya, agar tidak terlihat gugup. "Enak aja kalo ngomong. Udah ah, balik kerja lagi. Ntar di tegur Bu Silvia lho.” Ellena berdiri dari tempat duduknya sambil membawa gelas minumnya yang sudah kosong. Dia ingin mengisi kembali gelas minumnya dan juga ingin menghindari tatapan curiga Arina yang masih tidak percaya dengan apa yang Ellena katakan. Ellena mengisi gelas kosongnya di dispenser yang ada di sudut ruangan. Mata Ellena melirik ke berbagai sudut ruangan, seolah sedang waspada, siapa tahu ada orang masuk ke dalam ruangan luas itu. Entah mengapa kini hidupnya seperti sedang diawasi. Padahal dia sendiri belum bertemu Sean secara langsung. Apa Sean mengingatnya? Pertemuan mereka hanya sebentar di dalam keremangan ruangan dan suara desahan liar malam itu. Ellena menepuk kepalanya sendiri pelan. "Ya ampun, Ell. Kok kamu bego banget ya. Mana mungkin dia masih inget sama kamu.” “Ini udah 7 tahun, Ell. Come on, Ell! Dia pasti udah anggep kamu kaya cwe lain yang biasa dia tiduri," gumam pelan Ellena menyadarkan dirinya sendiri. “Udahlah, mending konsen ke promosi aja. Lagian, ngapain aku mikirian dia.” Ellena melangkah kembali ke meja kerjanya. Dia tidak ingin terganggu dengan pikiran yang belum jelas. Nathan membutuhkan banyak biaya. Ini yang perlu dia pikirkan dan perjuangkan sekarang. Sampai jam pulang kantor tiba, Ellena masih berkutat dengan pekerjaannya. Arina menatap sahabatnya itu sambil membereskan barang-barangnya. “Gak pulang, Ell?” tanya Arina. Ellena mengangkat pandangannya sebentar. “Duluan deh, Rin. Aku lagi tanggung nih.” “Beneran gak papa nih kalo aku tinggalin?” Ellena mengangguk. “Iya. Aku naik yang berikutnya aja. Tanggung soalnya.” “Ya udah, aku duluan ya. Jangan malem-malem, si ganteng nungguin loh di rumah.” Ellena kembali menatap sahabatnya lalu tersenyum. “Sip! Kalo lupa, ngambek dia ntar.” Arina balas tersenyum lalu melambaikan tangan pada Ellena. Sedangkan Ellena kembali berkutat dengan laptopnya. Suasana semakin hening. Ellena yang baru saja akan mengambil air minum lagi, mendadak ngeri karena semua staf sudah pulang. Bukan ngeri karena ada hantu, tapi ngeri kalau nanti Sean tiba-tiba datang untuk inspeksi. Dia belum tahu karakter bos barunya itu. “Pulang aja deh. Tinggal dikit lagi ini.” Tanpa buang waktu lagi, Ellena segera mengemasi barang-barangnya. Dia ingin segera pulang, berharap di lobi masih banyak pegawai yang belum pulang. Sementara itu, Sean sedang menuju ke kantornya kembali, setelah dia melakukan kunjungan pabrik yang ada di belakang gedung perkantoran milik keluarganya itu. Dia berjalan bersama Mathias dan juga dua orang manajer di perusahaan. "Kapan produksi untuk ekspor kita mulai lagi? Saya dengar ada permintaan tambahan ke Jepang?" tanya Sean, "Kami akan memulai produksi mungkin lusa, Pak. Besok barang dasar baru akan dikirim ke pabrik. Menurut info, kapal pengangkut bahan baku baru saja menepi di pelabuhan." "Impor barang kita masih dapet harga dan bahan yang bagus kan?" "Masih, Pak, Mereka masih belum ada rencana menaikkan harga ke kita." "Bagus! Saya tunggu laporan kalian selanjutnya. Mathias, siapkan mobil." "Baik, Bos." Sean dan Mathias tetap berjalan menuju ke lobi kantor. Mathias berjalan di belakang Sean sambil menelepon sopir pribadi Sean agar menyiapkan mobil untuk mengantar Sean kembali lagi ke apartemennya. Sean melangkah menuju ke lift yang ada di sisi kiri gedung. Tapi entah mengapa ada yang mengganggu sudut mata kanannya saat ada di lobi. Sean menoleh ke arah kanan di mana di sana ada meja resepsionis kantor. Seorang wanita berdiri membelakanginya dengan postur tubuh yang membuat langkah kakinya terhenti. Tatapan tajam Sean terhenti di punggung wanita itu. Entah mengapa, dia terus tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Mathias ikut melihat ke arah pandang atasannya. "Ada apa, Bos?" tanya Mathias. "Siapa orang itu?" tanya Sean sambil terus menatap punggung wanita yang dia lihat dari tadi. "Kurang tahu, Bos. Saya belum hafal dengan seluruh pegawai di sini." Wanita yang di tatap Sean sejak tadi tiba-tiba melangkah pergi dari meja resepsionis. Dia melambaikan tangan pada resepsionis itu lalu melangkah keluar menuju mobil jemputan yang menunggunya di depan pintu kecil di lobi. Tatapan Sean terus mengikuti langkah wanita itu. Sampai pada saat sang wanita mengibaskan rambutnya yang tergerai. Tati Sean seketika sakit seperti mendapat cubitan. Wajah itu, wajah yang mengingatkan dia pada wanita yang membuatnya jadi pemarah selama tujuh tahun ini. “Ellena? Apa dia di sini?" tanya Sean dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD