5. Pria di Lift

1164 Words
Sean terdiam di ruang kerjanya sendirian. Dia yang tadinya ingin segera pulang, kini malah hanya duduk diam sambil memikirkan sesuatu. Bayangan wanita di lobi tadi, terus saja berputar di kepalanya. “Siapa dia? Apa mungkin dia Ellena,” ucap Sean lirih. Jarak yang terlalu jauh, membuat Sean tidak bisa melihat wanita yang membuatnya penasaran itu dengan jelas. Tapi dari penampilan dan wajahnya dari samping, Sean yakin benar kalau orang yang tadi, pernah dia temui. Sean menggebrak meja dengan tangannya yang tergenggam. “b******k! Siapa dia sebenarnya!” ucap kesal Sean. Mathias masuk ke dalam ruang kerja atasannya. Dia melihat Sean masih duduk di kursinya, seperti belum ingin pergi dari sana. Mathias berdiri di depan meja kerja Sean. Dia melihat wajah atasannya yang tampak sangat kesal sambil mengepalkan tangannya. “Bos, mobilnya sudah siap,” lapor Mathias. Sean melirik sebentar ke asisten pribadinya. “Apa kamu sudah tau siapa dia?” tanya Sean. “Hah? Dia siapa, Bos?” tanya Mathias tidak tahu maksud atasannya. Sekali lagi tangan Sean menggebrak meja. Tatapan tajamnya juga langsung tertuju ke pria di depannya itu. “Tadi kan saya suruh kamu cari tau siapa wanita di lobi tadi!” bentak Sean. Mathias teringat dengan sosok perempuan yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian atasannya. Namun dia tidak menyangka kalau atasannya masih menunggunya sampai sekarang. Mathias mengangguk pelan, “Baik, Bos. Besok akan saya car—“ “Sekarang!” titah Sean pelan. “Ba-baik, Bos. Saya akan cari tahu sekarang,” ucap Mathias yang kemudian segera keluar dari ruang kerja Sean. Mathias berdiri di depan ruang kerja Sean. Dia melepas napasnya kasar dan punggungnya yang sedari tadi selalu tegap, tiba-tiba saja merosot. “Nyari tau salah satu pegawai di sini? Liat mukanya aja aku tadi enggak, gimana nyarinya ya.” Mathias menyuruh otaknya berpikir cepat karena dia tidak mau gajinya dipotong lagi karena hal ini. Tiba-tiba mata Mathias yang tadi terlihat bingung, langsung terbuka lebar. “CCTV! Iya .. aku minta CCTV lobi aja!” Tanpa buang waktu lagi, Mathias langsung melangkah pergi ke ruang keamanan. Dia akan meminta rekaman CCTV di lobi sore tadi. Tanpa basa-basi lagi, Mathias kini sudah berdiri di depan layar CCTV di ruang keamanan. Tangkapan layar dari berbagai sudut lobi yang luas itu pun tersedia. Mata Mathias melihatnya dengan teliti, mencari perempuan yang dicari atasannya. “Ini jam Pak Sean masuk, Pak,” ucap petugas keamanan sambil menunjuk ke salah satu layar. “Tahan di situ. Putar sedikit ke belakang dan sertakan semua sampai Bos masuk ke lift.” Mathias menoleh dan memberikan benda kecil ke petugas keamanan itu. “Salin di sini,” perintahnya. Petugas itu mengangguk mengerti. “Baik, Pak.” Petugas itu mengambil flash disk di tangan Mathias dan segera kembali ke mejanya. Dia memasukkan data yang diminta asisten orang nomor satu di perusahaan ini. Mathias masih berdiri di sana, di depan layar monitor CCTV. Dia mencoba mencari tahu siapa wanita yang ditanyakan atasannya. “Siapa sih dia. Gak gitu keliatan mukanya,” gumam Mathias pelan. “Ato jangan-jangan .... ah bos, ini baru hari pertama loh. Masa iya bos yang dulu kambuh lagi,” gerutu Mathias di dalam hati sambil menggeleng pelan. Sudah tujuh tahun Sean kehilangan seleranya pada wanita. Hobi tidur dengan seorang wanita demi melepas stres kini digantikan dengan tidur seharian atau langsung meluapkan amarah tidak jelas, pokoknya semua bisa jadi sasarannya. Pastinya Mathias sasaran utama. Tapi karena Mathias sudah hafal karakter Sean, dia tidak pernah mengindahkan kemarahan random Sean itu. “Pak, ini rekamannya,” ucap petugas keamanan itu. Mathias menoleh lalu segera berdiri. Dia mengambil flash disk-nya lalu segera melangkah pergi. “Makasih.” Mathias segera membawa temuannya itu ke atasannya. Siapa tahu, hal ini bisa membantunya. Asisten Sean itu segera membuka pintu ruangan untuk menghadap bosnya. “Saya bawa CCTV-nya, Bos,” ucap Mathias saat dia masuk ke ruang kerja atasannya. Sean langsung berdiri dan berjalan ke sofa di depan meja kerjanya. “Putar sekarang!” Mathias langsung menuju ke TV besar yang ada di tembok. Dia menancapkan flash disk itu di tempatnya dan segera mendekati Sean sambil membawa remot TV. “Ini rekaman sebelum Bos masuk ke lobi tadi,” ucap Mathias sambil menyalakan TV. Sean tidak menjawab, pandangannya langsung tertuju ke layar TV, mencari tahu siapa wanita yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Perbesar wanita di depan resepsionis itu,” perintah Sean. “Baik, Pak.” Mathias segera memperbesar tampilan layar di TV untuk melihat bagian resepsionis. Namun sampai akhir video, wanita yang memakai kemeja warna coklat itu tidak juga menampakkan wajahnya dengan jelas. Wajah itu hanya terlihat sekilas dari bagian samping, sampai membuat Sean harus mengulangnya beberapa kali. “s**t! Kenapa kualitas gambarnya begini!” bentak Sean karena tidak mendapatkan gambar yang dia inginkan. “Saya tidak tahu, Pak,” jawab Mathias takut. “Besok ganti semua kamera CCTV di gedung ini dengan yang lebih bagus!” Sean menoleh ke asisten pribadinya dengan tatapan tajam. “Cari dia!” ucap Sean pelan namun penuh dengan tekanan dan ancaman mematikan kalau sampai Mathias tidak mendapatkannya. “Ba-baik, Bos.” Tidak ada jawaban lain yang bisa Mathias berikan selain menyanggupinya. Kini kepalanya sudah dipenuhi dengan cara menemukan wanita itu di antara ratusan pegawai di gedung ini. Menempelkan selebaran mungkin cara paling cepat. Tapi itu bisa saja membuat incarannya menjadi kabur. ** Tiga hari sudah Ellena mampu mengatasi kehidupannya tanpa bertemu Sean. Kantor ini memang terlalu besar kalau hanya untuk mencari satu orang saja. Bahkan sampai saat ini Ellena belum pernah bertemu sosok Sean secara langsung di depan matanya. Ellena makin tenang bekerja di kantor. Pagi ini pun dia datang ke kantor dengan hati yang ringan dan berjalan masuk sambil bercanda bersama Arina. "Eh ya Rin, nanti bantu aku ketemu ama klien ya. Aku mau ajarin kamu cara cepat bisa tembus dapet persetujuan mereka," ucap Ellena sambil menatap sahabatnya itu. Mata Arina membulat. “Seriusan? Mau dong! Tolong ajarin aku ya. Kalo punya jurus hebat itu harus di bagi," ledek Arina. "Jurus apaan, jurus matok buaya? Eh ... udah hampir jam 9. Buruan yuk, itu lift juga rame banget," Arina mengangguk. Dua wanita itu segera melangkah dengan cepat menuju ke lift. Di sana sudah berjajar empat lift, di mana yang tiga untuk karyawan dan yang satu khusus untuk petinggi perusahaan. Di depan lift khusus karyawan sudah banyak orang yang menanti agar bisa masuk dan menuju ke ruang kerja mereka masing-masing. Ellena dan Arina masih melanjutkan pembicaraan mereka, Kini bukan hanya dua orang itu saja yang berbincang, tapi ada juga dengan teman lain yang bertemu di depan pintu lift. Pintu lift di depan Ellena berdiri terbuka. Dia sedang menunggu orang yang ada di dalam lift keluar lebih dulu lalu masuk. Ellena tidak sadar kalau dia sedang berdiri di dekat pintu lift untuk petinggi kantor yang juga terbuka. Mata Ellena refleks melirik ke arah pintu lift yang terbuka. Tanpa sadar Ellena menoleh, senyum dan wajah cerianya mendadak hilang. Semua berubah menjadi ketegangan. Mata Ellena bertemu dengan mata orang yang ada di dalam lift tersebut. “Ka-kamu. Kam ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD