“Kam-kamu. Kamu kan—“
Suara Mathias tercekat di tenggorokannya. Wanita tujuh tahun silam itu tiba-tiba muncul di depannya.
Melihat sosok Mathias, bayangan di malam kelam itu langsung kembali terputar di kepala Ellena.
Selangkah. Dua langkah, Ellena menjauh dari lift.
Arina yang sudah masuk ke dalam lift, kaget melihat reaksi sahabatnya. Baru saja dia akan memanggil Ellena, pintu besi itu sudah tertutup dan membawanya naik.
"Ellena," panggil Mathias saat melihat Ellena semakin mundur dari jangkauannya.
Mendengar panggilan dari Mathias, tentu saja hal itu membuat Ellena segera berbalik arah dan berlari menjauhi Mathias.
Entah kenapa rasa takut itu kembali menyerang Ellena saat ini. Dia takut Mathias akan menyeretnya pergi ke hadapan Sean lagi.
Masa yang tidak akan pernah diulangi lagi oleh Ellena.
“Loh eh, Ellena!” panggil Mathias saat Ellena mulai menjauh.
“b******k! Dia ada di sini ternyata!”
Mathias segera melangkah cepat mengejar Ellena. Dia tidak mau kehilangan wanita itu lagi, karena pasti kali ini hukumannya bukan pemotongan gaji lagi. Tapi bisa saja dia akan dipecat.
Ellena berjalan cepat ke arah lobi. Sesekali dia melihat ke arah belakang, melihat ke Mathias.
Bruuk!
Ellena yang berjalan cepat tanpa melihat arah tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya. Badan Ellena terpental namun langsung dipegangi oleh orang yang dia tabrak tadi.
"Heeyy Ell, kamu kenapa?" tanya Devan sambil memegang kedua lengan Ellena.
“Pak Devan," ucap Ellena dengan wajah kebingungan.
Tangan Ellena refleks menegang lengan Devan seperti sedang meminta pertolongan.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?”
"Emmm anu ... anu, Pak," ucap Ellena terbata-bata.
Ellena kembali menoleh ke belakang. Dia masih melihat Mathias ada di belakangnya dan berjalan ke arahnya.
Dia segera menegakkan badannya yang sedikit bergantung di lengan Devan. Tentu saja dia tidak mau terlihat seperti orang sedang bermesraan di kantor.
Mathias mendekat. "Selamat pagi, Pak Devan," sapa Mathias di belakang Ellena.
Ellena langsung bergeser ke sebelah Devan, sambil menunduk. Dia berharap Devan akan membantunya.
"Pag. Kamu udah dateng, apa Sean udah dateng juga?" tanya Devan.
"Sudah Pak, Pak Sean sudah ada di ruangannya, Akan ada meeting pagi hari ini membahas kinerja perusahaan."
Ellena menoleh ke pria di sebelahnya. “Sean? Bukannya itu terlalu kasar buat manggil pimpinan ya? Ato mereka saling kenal?” tanya Ellena dalam hati.
Devan mengangguk pelan. "Iya aku tahu itu. Rajin banget dia ternyata," puji Devan pada sepupunya itu.
Mathias melirik ke Ellena. “Siapa dia, Pak?” tanya Mathias sok tidak mengenal Ellena.
Devan menoleh ke Ellena lalu tersenyum. “Dia ini ratunya divisi pemasaran. Kerjanya sangat bagus dan dia yang akan saya ajukan untuk progam promosi kemaren.”
"Ell, kamu gak papa kan? Hari ini kita ada rapat penting lho," tanya Devan sambil mengingatkan Ellena.
Ellena memejamkan matanya. “Duh iya, hari ini ada rapat promosi,” gumam Ellena dalam hati penuh frustrasi.
Kalau dia ikut rapat, dia pasti akan bertemu lagi dengan Sean. Kalau tidak ikut, mungkin dia akan kehilangan promosinya atau mungkin pekerjaannya juga.
“Aaack! Kenapa harus dia sih bosnya!” teriak frustrasi Ellena di dalam hati.
“Ell, kamu kenapa?” tanya Devan saat melihat Ellena sedikit bersikap aneh.
Ellena membuka matanya. Dia melihat ke Devan sebentar lalu kembali menunduk.
“Saya ga papa, Pak. Saya cuma ... saya mau ke kamar mandi. Maaf Pak, saya duluan, permisi," jawab Ellena asal lalu dengan segera pergi meninggalkan dua pria itu.
Mathias membiarkan Ellena pergi saat ini. Dia hanya melihat Ellena yang kini berjalan semakin menjauh darinya ke arah kamar mandi.
Setidaknya dia sudah tahu di mana dia akan menemukan wanita itu setelah ini.
“Dia ada di perusahaan ini, Aku akan segera membawa dia ke hadapan Bos sebelum dia menghilang lagi.” Mathias tersenyum tipis.
“Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencari kamu, Ell,” gumam hati Mathias.
Mathias segera berpamitan pada Devan. Dia segera menuju ke ruang kepegawaian untuk mencari tahu segala hal tentang Ellena bekerja.
Kali ini Mathias harus melaporkan secara lengkap kepada Sean sebelum pemuda yang juga atasannya itu akan memarahinya lagi.
Mathias berdiri di depan seorang pegawai HRD yang sedang mencari datang yang diminta oleh Mathias.
“Maaf Pak, yang dicari Ellena yang mana ya? Ada tiga nama Ellena di kantor ini, Pak," ucap staf bagian kepegawaian.
"Ellena siapa ya. Pokoknya dia kenal sama Pak Devan, mungkin bawahannya," jawab Mathias yang kebetulan juga tidak tahu nama lengkap Ellena,
"Ooh Ellena Hartono. Dia di bagian pemasaran, Pak.” Tangan pegawai itu bergerak lagi untuk mencetak data Ellena.
“Dia mau dapat promosi lagi ya, Pak? Dia udah sering banget dapet promosi loh,” lapor pegawai itu.
"Oh ya?" tanya Mathias lagi.
"Iya, Pak, Hasil kerjanya bagus banget. Para atasan juga udah akuin itu kok. Dia bisa naik jabatan lebih cepat kayanya," puji staf itu tentang Ellena.
“Ini datanya, Pak,” ucap staf itu sambil memberikan hasil cetakkannya.
Mathias melihat kertas di tangannya lalu mengangguk pelan. “Ok, makasih.”
Mathias segera pergi meninggalkan ruang bagian kepegawaian. Dia akan segera menuju ke ruangan kerja Sean yang ada di lantai atas.
Mathias masuk ke ruangan Sean dan menghadap pemuda tampan yang sedang duduk di singgasananya sambil memeriksa berkas yang ada di atas meja
"Ada apa?" tanya Sean tanpa melihat ke arah Mathias.
"Saya sudah bertemu dengan Ellena, Bos,” lapor Mathias.
Mendengar nama Ellena disebut, aktivitas Sean langsung terhenti.
Tangannya tidak lagi bergerak untuk memeriksa berkas yang ada di depannya dan secara perlahan dia mengangkat wajahnya melihat ke arah Mathias.
"Ellena? Maksud kamu Ellena yang waktu itu?" tanya Sean berusaha memastikan.
"Iya, Bos. Ellena yang menghilang pagi itu,"
Braaak!!
Sean menggebrak meja melampiaskan rasa kesalnya. Rasa kesal pada Ellena yang sudah sangat pintar bersembunyi selama tujuh tahun ini darinya.
"Di mana dia? Bawa dia ke sini sekarang!" perintah Sean dengan nada kesal.
"Sabar, Bos. Sebentar lagi Bos akan bertemu dia di ruang rapat. Dia ternyata bekerja di perusahaan ini.
“Kamu yakin itu Ellena yang sama? Apa kamu ga salah orang?"
"Tidak, Bos. Itu Ellena yang sama. Ellena Hartono."
Sean mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya saat ini. Dia sangat geram saat mendengar Ellena ternyata bekerja di perusahaannya.
Kenapa selama beberapa hari ini dia tidak pernah melihat sosok Ellena sekali pun. Padahal mereka hanya terpisah beberapa lantai saja.
Bayangan wajah Ellena malam itu langsung memenuhi kepala Sean. Wajah wanita yang membuatnya tidak bernafsu lagi pada wanita lain.
“b******k! Sepintar itu ternyata dia sembunyi dari aku,” geram Sean.
Rahang Sean kian mengetat. “Mathias, seret dia ke sini sekarang juga!”