"Apa kamu yakin melepaskan Tania Victoria?" tanyaku penasaran, walau sebenarnya hati ini panas. "Dia model terkenal, sepadan dengan kamu, Dewa?" Aku mendengar suara Dewa di seberang telepon, terdengar menghela napas. "Tentu saja, Sayang," katanya. "Sudah jangan membicarakan dia lagi. Nanti aku jemput kamu, kita makan siang bersama," tambahnya. Kali ini aku harus percaya dengannya. "Ok, aku tunggu," jawabku seraya menghela napas panjang untuk menetralkan emosi. Aku menutup panggilan telepon dengan perasaan sedikit lega. Helaan napasku yang panjang sedikit membantu menenangkan pikiranku yang kacau. Aku merasa lebih tenang, walaupun masih ada sedikit keraguan di dalam hati. Waktu cepat berlalu, jam makan siang pun tiba. Aku menunggu Dewa dengan tidak sabar, sambil menunggu Dewa aku turun

