Amora duduk terpaku di kursi kerjanya, jemarinya terus bergerak gelisah, menggigiti ujung kuku yang baru kemarin ia manikur dengan rapi. Matanya menatap nanar pada tumpukan berkas yang berserakan di atas meja, seolah tumpukan itu adalah saksi bisu kehancuran reputasinya. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun ia masih terjebak di kantor yang terasa makin menyesakkan. Ia menunggu kedatangan Raffan dengan kecemasan yang mendera.
Sejak Aurelia berani menampakkan diri dan melabraknya di kantor beberapa hari lalu, hidup Amora seolah berubah menjadi neraka. Gosip miring tidak henti-hentinya mengejarnya seperti bayangan. Orang-orang yang dulu memujanya, yang dulu selalu tersenyum manis di depannya, kini berbalik arah. Di lorong-lorong kantor, ia sering mendengar bisik-bisik tajam yang menusuk telinga. Mereka mencibirnya sebagai pelakor murahan, pembohong ulung, dan yang paling menyakitkan, mereka menudingnya sebagai pengkhianat berdarah dingin karena tega memakan hak milik sahabat sendiri.
Semua mimpi buruk ini terjadi gara-gara Aurelia. Aurelia yang dulu ia remehkan, kini berubah menjadi duri dalam daging yang siap mencabik-cabiknya kapan saja. Dan bila semua gosip itu belum cukup buruk, kabar bahwa Raffan akan membawa Aurelia menemui orang tuanya—sebuah tradisi keluarga yang sakral—benar-benar membuat napas Amora sesak oleh amarah yang membakar.
Cinta itu buta. Kalimat itu menjadi satu-satunya mantra yang terus ia gumamkan sebagai tameng setiap kali suara-suara sumbang tentang hubungannya dengan Raffan mulai menggerogoti kewarasannya. Ia selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak bersalah. Bukankah bukan salahnya jika Raffan tiba-tiba jatuh cinta padanya? Bukan salahnya jika laki-laki itu rela menunggu dalam diam sampai hubungannya dengan Aurelia usai, hanya untuk bisa memilikinya. Raffan-lah yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, yang memberikan pelukan hangat saat dunia terasa tidak adil, dan kemesraan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar.
”Bersamamu, aku selalu merasa lebih b*******h, lebih jantan,” bisik Raffan setiap kali mereka b******u.
Amora masih ingat dengan sangat jelas ciuman pertama mereka di dalam mobil, persis setelah Raffan mengantar Aurelia pulang. Malam itu, mereka baru saja menonton film di bioskop. Tanpa sepengetahuan Aurelia yang duduk di sampingnya, tangan mereka saling bertaut erat dalam kegelapan. Raffan tidak tahan lagi. Ia tiba-tiba menepikan mobil di pinggir jalan yang sepi, mengunci pintu, dan menuntut ciuman yang sarat akan gairah yang lama ia pendam.
Apakah itu salahnya? Amora terus menolak untuk merasa bersalah. Raffan yang memulai semuanya. Laki-laki itu terus mengejarnya sejak tahu Amora sedang patah hati. Raffan memberikan perhatian yang tidak pernah didapatkan Aurelia, hadiah-hadiah rahasia, dan segala bentuk kasih sayang yang akhirnya meruntuhkan pertahanan Amora. Hubungan intim pertama mereka terjadi di sebuah hotel saat Aurelia pulang kampung menengok kakeknya yang sakit. Itu malam yang sangat memabukkan bagi mereka berdua. Saat itu, Raffan bahkan berani mengaku dengan jujur bahwa saat bersama Aurelia, ia merasa hambar.
”Tubuhnya bau keringat, bibirnya kering, dan dia selalu mengunyah makanan tanpa henti. Laki-laki mana yang betah? Kalau bukan demi kamu, aku nggak akan sudi pacaran sama si gendut itu,” kata Raffan dengan nada meremehkan saat itu.
Rayuan pahit itulah yang membuat Amora terjebak dan setuju untuk main belakang. Dan sekarang, saat ia merasa sudah mendapatkan segalanya, saat posisinya sebagai kekasih Raffan sudah mapan, Aurelia justru kembali dan mengancam untuk meruntuhkan menara kesuksesan yang sudah ia bangun susah payah dengan manipulasi.
”Sayang, kok melamun? Aku ketok pintu nggak dengar?”
Suara Raffan yang berat membuyarkan lamunan Amora. Laki-laki itu muncul dari balik pintu, lalu duduk di samping Amora dan memberikan kecupan ringan di keningnya.
”Kenapa baru sampai?” tanya Amora dingin, tak membalas kecupan itu.
”Macet sekali di jalan tol,” sahut Raffan enteng.
”Mampir ke mana dulu?” selidik Amora dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
”Nggak ada, langsung dari kantor,” jawab Raffan sambil melepas dasi dan jas mahalnya, lalu menyampirkannya asal di sofa. Ia menggulung lengan kemejanya dan mencoba merangkul bahu Amora. Namun, ia langsung mengerutkan dahi saat merasakan bahu kekasihnya yang terasa kaku seperti kayu. “Kamu kenapa? Ada masalah? Kenapa tegang sekali?”
Amora melepaskan pelukan itu dan menatap Raffan tajam. “Orang tuamu bakal datang ke kota ini, kan?”
Raffan tertegun sesaat, napasnya tertahan. “Hah? Kok kamu tahu?”
”Kamu benar-benar berniat membawa Aurelia menemui mereka?”
”Itu ... karena situasinya rumit—”
”Rumit karena apa, Raffan? Kita sudah bareng setahun lebih! Dan sampai sekarang kamu belum punya nyali untuk bilang ke orang tuamu kalau kamu sudah putus sama dia? Apa-apaan sih ini? Kamu mau main dua kaki?”
Raffan menghela napas panjang, frustrasi dengan nada tinggi Amora. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa, memejamkan mata. “Jangan marah dulu. Niatku memang mau bicara soal kita.”
”Terus kenapa harus membawa Aurelia menemui mereka?”
”Mereka yang minta! Mereka belum tahu apa-apa! Bisakah kamu mengerti posisiku? Kondisi kesehatan Mama lagi nggak bagus. Dokter bilang beliau tidak boleh terkejut. Bagaimana kalau beliau drop gara-gara tahu hubunganku dengan Aurelia kandas?”
”Omong kosong!” sergah Amora panas, suaranya kini melengking tinggi. Hatinya terasa perih mendengar pembelaan itu. “Kamu selalu bilang nggak cinta sama si gendut itu! Tapi kenapa saat harus bersikap tegas, kamu malah jadi pengecut? Apa karena si gendut itu sekarang sudah langsing, makanya kamu nggak mau putus dan masih ingin memanfaatkannya?”
Raffan melongo, wajahnya memerah karena merasa difitnah. “Kamu ngomong apa sih, Amora? Jangan menuduh sembarangan!”
”Buktinya begitu, Raffan! Alasanmu nggak mau jujur cuma karena kamu takut kehilangan dia, kan? Bilang saja kalau kamu masih cinta sama dia!”
”Ngawur!” Raffan bangkit dari sofa dengan kasar, enggan melanjutkan perdebatan yang hanya akan menguras tenaganya. “Aku sudah bilang ini demi kesehatan orang tuaku. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Tapi jujur, aku benar-benar nggak suka cewek yang hobi merengek dan memancing keributan seperti ini!”
Raffan menyambar jasnya tanpa menoleh lagi dan melenggang pergi meninggalkan ruangan. Amora hanya bisa menatap punggung laki-laki itu yang perlahan menghilang ke dalam kegelapan lorong kantor. Ia berteriak frustrasi, memukul bantal sofa hingga isinya terasa hampir meledak. Semua orang kini memusuhinya, dan Amora merasa dunia ini benar-benar dipenuhi oleh laki-laki b******k yang hanya tahu cara melarikan diri.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari ketegangan tersebut, Aurelia sedang menatap Rachel dengan tatapan kagum. Gadis remaja itu tampak sangat cantik dengan seragam sekolahnya yang rapi, meski usianya masih sangat muda.
”Rachel, kamu cantik banget hari ini!” puji Aurelia tulus.
Rachel tersipu malu, pipinya merona merah. “Makasih, Kak. Kak Aurelia juga makin hari makin memesona.”
”Beneran, deh. Aku saja yang cewek sampai terpesona melihat kecantikan kamu. Iya nggak, Lucian?”
Lucian yang duduk di samping mereka hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, tidak tahu bagaimana harus menanggapi pujian tersebut. Aurelia gemas sendiri melihat respons adiknya yang seperti balok es itu. Sesuai janjinya, hari ini Aurelia mengajak Lucian dan Rachel makan burger bersama di pusat perbelanjaan. Aurelia sebenarnya sedang diet ketat demi menjaga penampilan barunya, tapi hari ini ia merasa berhak merayakan kebebasannya.
”Jadi, kejutan Kakak tadi berhasil?” tanya Rachel sambil menyesap minuman sodanya.
Aurelia mengangguk puas, matanya berbinar. “Sangat berhasil. Bosku sampai nawari gaji dua kali lipat supaya aku tetap bertahan, dan si mantan sahabat pelakor itu cuma bisa diam mematung pas lihat aku datang dengan gaya baru.”
”Kakak nggak tampar wajahnya sekalian?” tanya Rachel dengan nada polos namun tajam.
”Ada niat, sih. Tapi aku tahan. Aku mau balas dendam dengan cara yang lebih elegan dan ... mungkin sedikit lebih sadis.”
Rachel tersenyum penuh arti. “Aku sangat mendukung cara elegan tapi sadis itu.”
Lucian yang mendengar percakapan itu hanya bisa menelan ludah. Ia merasa ngeri melihat bagaimana dua perempuan di depannya ini merencanakan pembalasan dengan senyum yang begitu manis dan santai. Ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah berani memancing kemarahan Aurelia maupun Rachel.
”Ada satu cara paling ampuh, Kak,” sahut Rachel lagi. “Cukup muncul dengan pacar baru yang jauh lebih hebat, lebih sukses, dan lebih tampan. Itu bakal bikin dia sadar kalau Kakak sudah menang telak.”
Aurelia terdiam sejenak, wajahnya perlahan memerah seperti kepiting rebus. Pikirannya langsung tertuju pada sosok Aiden—obrolan mereka di kantor, pesan-pesan intens yang dikirimkan setiap hari, dan rencana mereka untuk menonton konser jazz akhir pekan nanti.
”Kenapa, Kak? Sudah ada incaran?” goda Rachel sambil menyenggol lengan Aurelia.
Aurelia tertawa canggung, berusaha mengalihkan perhatian. “Sejujurnya ada, tapi ...”
”Tapi apa, Kak? Ayo cerita!” desak Lucian yang ternyata juga ikut penasaran.
Aurelia berdeham, berusaha menutupi kegugupannya. “Rasanya kurang sepadan. Laki-laki itu terlalu ... wah. Dia sempurna, sementara aku merasa masih harus banyak berbenah. Aku merasa nggak pede.”
”Ah, Kakak! Nggak usah mikirin itu. Semangat, Kak! Jodoh itu nggak akan ke mana kalau kita sudah jadi versi terbaik diri sendiri!” seru Rachel penuh semangat.
Aurelia tersenyum tipis. “Ya, mudah-mudahan. Ngomong-ngomong, kalian temani aku belanja pakaian ya? Besok aku mau ketemu orang tua Raffan, dan aku harus tampil sangat maksimal.”
”Siap, Kak! Kita cari yang paling mewah!”
Biasanya, kalau belanja, Aurelia selalu ditemani Amora. Ujung-ujungnya, dia hanya jadi pembawa barang belanjaan Amora. Amora selalu memaksanya memakai pakaian yang menutupi bentuk tubuhnya. Bodoh sekali aku dulu, pikir Aurelia dengan rasa sesal. Percaya saja sama omongan sahabat ular seperti dia.
”Rok ini kepanjangan, Kak, ganti yang lebih chic,” usul Rachel dengan selera mode yang sangat bagus.
”Tapi ini warnanya terlalu terang, nggak sih?” protes Lucian yang mulai ikut terbawa suasana belanja.
”Ih, kamu itu cowok apa gimana? Ini tuh lagi tren warna sekarang!” sahut Aurelia tertawa renyah.
Perdebatan kecil itu membuat Aurelia merasa sangat hidup. Selera Rachel memang luar biasa. Ia memilihkan gaun merah menyala yang sangat modis dan elegan. Saat melihat dirinya di cermin, Aurelia yakin gaun ini akan membuat orang tua Raffan terbelalak—atau bahkan mungkin membuat mereka langsung mengusirnya. Dan membayangkan reaksi tidak terduga itu justru membuatnya semakin bersemangat.
Aurelia kemudian mengirim pesan singkat pada Raffan, “Raffan, lo harus transfer uang sekarang kalau mau gue ketemu orang tua lo. Gue butuh beli baju baru yang pantas untuk martabat keluarga lo!”
Tak lama kemudian, ponselnya berdenting. Raffan membalas, “Aurelia, sejak kapan lo jadi matre begini?”
Aurelia tertawa kecil sambil mengetik balasan, “Semenjak gue sadar kalau harga pakaian bagus itu nggak murah, sayang! Kalau nggak mau, ya sudah, gue nggak datang.”
Aurelia menatap bayangannya di cermin dengan gaun merah itu. Ia merasa siap untuk tampil memukau dan menutup bab lama dalam hidupnya dengan gaya yang tak terlupakan. Ia tidak lagi peduli pada pendapat orang, baginya, ini adalah babak baru yang harus ia menangkan.