BAB 18

1648 Words
Begitu keluar dari pintu kantor, Aurelia segera menepi ke sudut lobi yang agak sepi. Ia mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas, memoles tipis bedak di area hidung dan memulas kembali lipstiknya. Ia butuh memastikan bahwa tidak ada jejak emosi yang tertinggal di wajahnya—tidak ada bekas lelah, apalagi sisa air mata atau amarah. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara sore yang sedikit berdebu itu masuk ke paru-parunya, mencoba menetralisir rasa sesak yang selama ini mengurungnya. ​Dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang, seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari sana. Keluar dari lingkungan yang selama ini menekannya dan memperlakukannya seperti pajangan kantor adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Bayangan wajah Amora yang pucat dan penuh kekesalan saat terakhir kali mereka bertemu tadi terus berputar di benaknya. Ia tidak berniat jahat, namun harus diakui, ada rasa puas yang membuncah. Pembalasan yang manis, pikirnya sambil tersenyum tipis. ​Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan masuk muncul di layar. Nama Raffan terpampang di sana, dan seketika perasaan enggan menjalar ke seluruh sarafnya. ​”Jangan lupa janjimu, hari Minggu nanti.” ​Aurelia membacanya dengan dahi berkerut. Tanpa membuang waktu atau berpikir panjang mengenai etika, ia membalasnya dengan ketus. “Kenapa lo nggak ajak pacar lo aja?” ​Balasan Raffan muncul seketika, seolah ia memang sedang memegang ponselnya menunggu jawaban Aurelia. “Aurelia, setelah ini kita nggak perlu berhubungan lagi. Gue bakal bayar berapa pun yang lo minta buat kedatangan lo.” ​”Deal!” jawab Aurelia singkat, menutup percakapan itu tanpa perlu lagi memikirkan harga diri atau kenangan masa lalu. ​Selesai membalas, ia memasukkan ponselnya dan menyandarkan kepala di jendela taksi yang melaju membelah keramaian kota. Pikirannya melayang pada orang tua Raffan. Mereka adalah tipikal keluarga harmonis yang terpandang di kalangan kelas atas, sang ayah adalah pejabat pemerintah yang disegani dengan tutur kata yang dingin, sementara ibunya adalah seorang sosialita aktif yang selalu terlihat sempurna di setiap acara. ​Sejak awal, mereka memang tidak pernah merestui keberadaan Aurelia. Mereka menganggap Aurelia bukan pasangan yang layak bersanding dengan putra emas mereka. Namun, mereka terpaksa menelan pil pahit itu karena pertunangan telah terikat secara formal. ​Aurelia teringat jelas kata-kata pedas ibunda Raffan saat makan malam keluarga dulu. “Raffan itu murid teladan, lulusan terbaik, manajer sukses. Dia harusnya bisa dapat yang jauh lebih baik, kenapa malah milih kamu yang biasa saja?” ​Hatinya selalu mencelos setiap kali teringat cibiran itu. Yang paling menyakitkan adalah saat mereka menghina statusnya sebagai yatim piatu. “Kamu yatim piatu, cuma punya kakek yang sakit-sakitan. Nanti kalau sudah menikah, tetap harus kerja ya. Jangan sampai kamu jadi beban Raffan.” ​Dulu, kata-kata itu seharusnya menjadi alarm baginya untuk mundur. Namun, rasa cintanya saat itu benar-benar membutakan. Ia terlalu naif, mencoba mengejar kasih sayang orang-orang yang bahkan tidak pernah melihatnya sebagai manusia, melainkan sebagai noda dalam garis keturunan mereka. Ia rela menginjak-injak harga dirinya sendiri demi hubungan yang ternyata beracun itu. ​Aurelia menghela napas panjang, menatap gedung-gedung yang berlalu di luar jendela. Ia merasa lega karena kini ia sudah sepenuhnya terbebas dari jeratan toxic itu. Saat taksi berhenti di depan gedung PT. Real Food, ia turun dengan keyakinan baru. Pertemuan dengan orang tua Raffan nanti pasti akan menjadi momen yang menarik, dan kali ini, ia akan menghadapinya dengan kepala tegak, tanpa rasa takut lagi. ​Ia berdiri sejenak di lobi gedung berlantai sepuluh yang megah itu. Lantai marmernya yang mengilap mencerminkan sepatunya. Gedung ini adalah markas besar PT. Real Food, jauh lebih mewah daripada kantor lamanya yang hanya berupa sewa tahunan di gedung tua. Sesaat sebelum melangkah masuk, ia mengirim pesan singkat pada Aiden. ​”Sekretaris saya akan menjemputmu di lobi.” ​Tak lama kemudian, seorang wanita muda berambut pendek berjalan cepat menghampirinya. “Kak Aurelia?” ​”Iya, benar,” jawab Aurelia ramah, menyesuaikan langkahnya dengan wanita itu. ​”Mari ikut saya. Pak Aiden sudah menunggu di ruangannya.” ​Aurelia mengikuti sekretaris yang memperkenalkan diri sebagai Sandri itu naik ke lantai delapan. Suasana di dalam lift terasa sangat profesional. Sesampainya di lantai delapan, ia dibawa ke sebuah ruangan luas dengan karpet tebal dan pendingin udara yang sejuk. Aiden sudah berdiri di dekat jendela besar saat mereka masuk, menyambutnya dengan senyum hangat yang tulus. ​”Aurelia, apakah mataku yang salah, atau kamu benar-benar jadi jauh lebih ramping dan segar sekarang?” tanya Aiden dengan nada kagum. ​Aurelia tersipu malu, tak menyangka akan mendapat pujian langsung seperti itu. “Apa kabar, Pak?” ​”Kabar baik. Aku benar-benar pangling, padahal kita belum lama bertemu.” ​”Saya berusaha merawat diri, Pak. Apakah sekarang sudah terlihat cantik?” goda Aurelia sedikit bercanda untuk mencairkan suasana. ​Aiden tertawa lepas, suara tawanya memenuhi ruangan yang luas itu. “Hei, dari dulu pun kamu sudah cantik. Bentuk tubuh itu cuma bonus, yang penting adalah pancaran kepercayaan dirimu sekarang!” ​”Pak Aiden bisa saja, terima kasih pujiannya,” balas Aurelia tulus. ​Sandri, sang sekretaris, berdiri tertegun di dekat pintu. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Aiden, bosnya yang dikenal sangat serius, kaku, dan jarang sekali berbasa-basi di kantor, kini bisa tertawa begitu lepas dengan seorang perempuan. Sandri memang pernah bertemu Aurelia sebelumnya, tapi itu hanya pertemuan sekilas terkait urusan klien. Ia tidak menyangka kedekatan mereka sudah sejauh ini. ​”Aurelia, duduklah. Sandri akan buatkan kopi enak untukmu,” ujar Aiden mempersilakan. ​Sandri pun segera menyiapkan kopi dengan gerakan cekatan. Selagi mesin kopi bekerja mengeluarkan aroma harum, ia berusaha fokus pada pekerjaannya, meski telinganya terus mencuri dengar obrolan akrab mereka. ​”Kamu sudah benar-benar keluar dari perusahaan yang lama?” tanya Aiden dengan nada yang lebih serius. ​”Iya, Pak. Saya mengundurkan diri dengan hormat tadi pagi,” jawab Aurelia mantap. ​”Lalu, Firman melepasmu begitu saja setelah kamu menjadi aset penting di sana?” ​”Tentu tidak. Beliau bahkan menawari gaji dua kali lipat dan janji posisi baru, tapi saya tolak dengan tegas.” ​”Bagus! Di dunia kerja, yang dicari itu kemampuan dan integritas, bukan penampilan. Perusahaan lama kamu itu benar-benar nggak tahu cara menghargai orang berbakat!” ​Mereka terus mengobrol dengan seru. Aiden bahkan meminta Sandri menunda beberapa jadwal rapat agar ia bisa mengobrol lebih lama dengan Aurelia mengenai posisi baru yang akan ia tempati. Aiden menjelaskan visi perusahaannya, dan Aurelia merasa didengar untuk pertama kalinya setelah sekian lama. ​”Untuk sementara, kamu jadi asisten Sandri untuk menyesuaikan diri dengan sistem kami. Setelah beberapa bulan, kamu akan pegang jabatan baru sebagai creative lead. Bagaimana, bisa?” ​”Tentu saja, Pak. Terima kasih banyak atas kepercayaannya.” ​”Aku berharap kamu bisa memberikan yang terbaik di sini. Saya percaya pada instingmu.” ​”Saya berjanji, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” ​Saat hari mulai sore, Aiden berniat mengantar Aurelia pulang karena kebetulan ia juga harus pulang lebih awal. “Kebetulan aku ada janji dengan anakku di rumah, jadi sekalian aku antar kamu.” ​Aurelia awalnya merasa sungkan, tapi Aiden meyakinkannya. Namun, karena jalanan kota sore itu macet parah—sebuah pemandangan yang biasa di Jakarta—Aiden memutuskan untuk singgah di sebuah restoran tenang untuk makan malam terlebih dahulu sambil menunggu kemacetan mereda. ​”Jangan sungkan, Aurelia. Kita teman kalau di luar jam kantor. Makan yang kenyang, aku yang traktir hari ini.” ​Awalnya Aurelia malu, tapi sikap Aiden yang begitu hangat dan sopan membuatnya tenang. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan hingga selera musik. Ternyata, selera musik mereka sangat mirip, sebuah fakta yang membuat percakapan mereka semakin mengalir. ​”Kamu suka musik jazz?” tanya Aiden sambil menikmati makanannya. ​”Suka sekali, Pak. Menurutku musik jazz itu sangat menyentuh perasaan. Ada sesuatu yang menenangkan di dalamnya,” jawab Aurelia antusias. ​Aiden tersenyum lebar. Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan dua tiket dari dalam sana. “Minggu depan ada pertunjukan musik jazz di kafe dekat sini. Grup yang akan tampil cukup terkenal. Kamu mau menemaniku?” ​”Tentu saja, Pak. Dengan senang hati.” ​Aurelia menerima tiket itu dengan antusias. Sempat terlintas di pikirannya untuk bertanya apakah Aiden punya pacar atau pasangan yang mungkin cemburu, tapi ia segera menepisnya. Itu terlalu pribadi dan tidak sopan. Lagi pula, sikap Aiden yang begitu sopan dan berwibawa membuat Aurelia semakin kagum pada kematangan pribadinya. ​Sembari menunggu Aiden selesai menerima telepon dari rumahnya, Aurelia diam-diam memperhatikan pria itu. Ketenangan dan kedewasaannya membuat Aurelia terpesona. Jauh sekali bedanya dengan Raffan dulu yang selalu sibuk dengan ponselnya atau mengeluh saat makan bersama. ​Aurelia kemudian mengirim pesan pada Lucian, berbagi kabar bahagia. “Lucian, bulan depan aku kerja di PT. Real Food. Sampaikan salamku pada Rachel, kapan-kapan ajak dia makan bersama kita ya.” ​”Kerja di PT. Real Food? Wah, hebat Kak! Selamat ya!” balas Lucian cepat. ​Hidupnya benar-benar berubah. Ia punya sahabat yang baik seperti Lucian, sudah lepas dari lingkungan kerja yang toxic, dan kini punya pekerjaan baru yang menjanjikan. ​”Aurelia, melamun apa?” tegur Aiden setelah menutup telepon. ​”Nggak ada, Pak,” jawab Aurelia malu. ​”Sudah kenyang?” ​”Sudah, Pak. Terima kasih makanannya.” ​”Yuk, kita pulang. Jalanan pasti sudah agak lancar sekarang.” ​Sepanjang perjalanan pulang, Aurelia merasa Aiden adalah sosok teman yang luar biasa. Ia sampai pada satu titik di mana ia merasa berterima kasih saja tidak cukup. Namun, tepat saat ia merasa terlalu nyaman, ia segera memperingatkan dirinya sendiri dalam hati dengan nada tegas. ​Dilarang jatuh cinta, Aurelia. Sadarlah siapa kamu dan apa tujuanmu saat ini. ​Ia harus tetap berpijak di bumi. Aiden terlalu baik untuknya, dan ia tidak ingin merusak hubungan profesional yang baru saja ia bangun. Ia akan membiarkan semuanya berjalan alami, tanpa ekspektasi yang bisa mematahkan hatinya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD