BAB 17

1451 Words
Selama bertahun-tahun, Aurelia merasa seperti “b***k” di kantornya sendiri. Dia terlalu baik, selalu tidak tega jika rekan-rekannya kesulitan, dan itulah kelemahan terbesarnya. Dia dimanfaatkan habis-habisan. Zara sering mencacinya dengan kata-kata kasar, Tristan selalu berlagak paling jenius di ruangan padahal hanya bisa bicara, Joel memimpin tim tanpa wibawa sedikit pun, dan yang paling parah—Amora. Sahabat yang dulu ia percaya itu justru selalu merepotkannya atas nama pertemanan yang sangat timpang. Aurelia-lah yang selama ini memutar otak di tengah malam, membereskan kekacauan yang dibuat tim, dan mencari jalan keluar dari setiap kebuntuan klien, sementara yang lain hanya menumpang nama dan mengambil kredit. Masa-masa pahit itu sudah cukup. Dia telah menarik garis tegas, dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi oleh mereka yang tidak tahu terima kasih. ​”Kamu sudah dapat kerja di tempat lain?” tanya Pak Firman, bos perusahaan itu, mencoba membuka pembicaraan serius di ruang rapat. Suaranya terdengar penuh harap. ​”Belum, Pak,” jawab Aurelia datar, menatap lurus ke depan tanpa beban. ​”Kalau begitu, kenapa nggak kembali ke sini? Kalau kamu memang sudah nggak cocok dengan Tim Dua, bagaimana kalau kita pindahkan kamu ke tim lain? Saya bisa sediakan posisi khusus buat kamu.” ​Ruangan itu mendadak hening. Semua orang menahan napas. Tim Dua adalah “anak emas” di perusahaan ini—tempat berkumpulnya orang-orang kreatif yang memegang klien kelas kakap. Semua orang bermimpi bisa masuk ke sana. Namun, sejak kepergian Aurelia, performa Tim Dua terjun bebas. Mereka baru saja kehilangan klien besar, PT. Real Food, dan dihujani komplain bertubi-tubi karena hasil kerja tim yang jauh dari standar. ​Pak Firman sudah geram. Dia sudah memberikan ultimatum, dia mengancam akan membubarkan tim itu jika proyek terakhir mereka gagal. Kini, melihat Aurelia kembali dengan aura yang begitu berbeda—lebih segar, lebih tegas, dan jauh lebih percaya diri—Firman sadar siapa tulang punggung sesungguhnya di balik kesuksesan tim itu selama ini. ​”Maaf, Pak. Saya merasa belum mampu menjadi bagian dari Tim Dua lagi,” tolak Aurelia dengan suara mantap, tanpa keraguan sedikit pun. ​”Aurelia, dengarkan saya. Pak Aiden dari PT. Real Food sangat menyukai konsep kamu. Sampai sekarang, beliau bilang hanya mau menerima iklan jika kamu yang mengerjakannya. Dia menolak bekerja sama dengan tim lain.” ​Aiden memang sosok yang sangat baik. Aurelia teringat perbincangan hangat mereka sebelumnya. Pria kaya itu tidak pernah sekalipun memandang rendah dirinya. Aiden menyanjung kemampuannya tanpa memedulikan bentuk tubuhnya yang dulu. Jika ada pria yang benar-benar tulus memperlakukannya, itu hanya Aiden dan Lucian. ​Tiba-tiba, Aurelia terpaku sejenak. Tunggu dulu. Warna mata Aiden dan Lucian ... itu sama persis. Rahang tegas dan bentuk alis mereka pun punya kemiripan yang mencolok. Apa jangan-jangan mereka ayah dan anak? Pikiran itu melintas seperti kilat. Aurelia tertawa pelan dalam hati. Ah, konyol sekali pikiranmu, Lia. Kalau Lucian anak jutawan, mana mungkin dia bebas berkeliaran dengan motor butut? Dan bukankah Lucian sendiri pernah bilang dia tidak punya orang tua? Ia segera menepis pikiran itu, meski rasa penasaran masih bergelitik di sudut hatinya. ​Setelah berkali-kali dibujuk, Firman akhirnya meminta waktu untuk bicara berdua di ruangannya. Dia bahkan menawarkan kenaikan gaji yang fantastis. Aurelia merasa tidak enak jika langsung menolak, jadi dia berjanji akan mempertimbangkannya, meski dalam hati ia sudah mantap untuk pergi dari tempat yang menyesakkan ini. ​”Kamu harus benar-benar memikirkan tawaran saya, Aurelia. Jangan biarkan bakatmu terbuang di tempat lain,” desak Firman. ​”Tentu saja, Pak. Terima kasih banyak untuk kesempatannya,” jawab Aurelia sopan, namun matanya menunjukkan bahwa hatinya sudah tidak lagi terpaut di sini. ​Saat Aurelia keluar dari ruangan, Firman hanya bisa menghela napas panjang hingga bahunya merosot. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dia tahu, seharusnya sejak dulu dia tidak mendengarkan hasutan Amora dan Joel yang membuat Aurelia terdepak. Sekarang, dia kehilangan aset paling berharga hanya karena kebodohannya sendiri. ​Aurelia kemudian melangkah menuju ruangan kantornya yang lama dengan langkah pasti. Sesuai dugaan, anggota Tim Dua sudah menunggu dengan cemas. Saat dia mengetuk pintu, semua mata tertuju padanya. Atmosfer di ruangan itu berubah drastis—ada rasa bersalah yang bercampur dengan rasa penasaran. ​”Sorry, gue cuma mau ambil barang-barang, terus pergi,” ucap Aurelia singkat, tidak berniat basa-basi. ​Dia menuju mejanya di sudut ruangan, membuka tote bag-nya, dan mulai mengemasi barang-barangnya satu per satu, foto pribadi, jam meja, hingga pajangan kecil. Dia merasakan tatapan tajam Amora menusuk punggungnya, tapi dia tidak sedikit pun goyah. Dia tetap tenang, seolah sedang melakukan tugas rutin yang biasa saja. ​”Aurelia, gue mau ngomong sama lo!” Amora berdiri di depannya, mencoba menghalangi jalan dan membuat drama. ​”Gue sibuk.” ​”Sebentar aja, sepuluh menit. Kita perlu bicara.” ​Aurelia menggeleng tanpa menoleh. “Sorry, gue nggak ada waktu buat drama.” ​Amora mencengkeram pinggiran meja, wajahnya memerah menahan kesal dan rasa malu yang mulai merayap. “Sombong banget ya lo sekarang! Kenapa? Udah ngerasa lebih cantik dari gue, hah?” ​Aurelia terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. “Gue? Ngerasa kalah sama lo? Yang benar aja. Waktu kuliah kita ikut ajang putri kampus, lo kalah telak sama gue. Kenapa sekarang gue harus takut sama lo?” ​”Buktinya lo nggak mau ngomong sama gue. Kalau bukan takut, apa namanya?” ​”Males aja. Emangnya ada alasan lain?” ​Amora merasa terhina. Jika tidak ada Joel dan rekan-rekan lain di sana, mungkin dia sudah gelap mata dan mencekik Aurelia. Amora mencoba mengubah strateginya, dia bicara dengan mata berkaca-kaca, memainkan peran korban agar orang-orang di ruangan itu merasa iba padanya dan balik menyudutkan Aurelia. ​”Aurelia ... kita dulu sahabat. Kenapa jadi begini? Kita bisa bicara baik-baik sebagai teman,” isak Amora, suaranya parau. ​Aurelia memutar bola mata. “Terus aja lo ngedrama. Udah nggak mempan lagi, Amora. Akting lo basi.” ​”Aurelia, bener-bener ya lo!” Zara yang sudah tak sabar akhirnya ikut angkat bicara dengan nada tinggi. “Amora itu sahabat lo! Hargai dia sedikit!” ​Aurelia menarik napas panjang. Dia butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi orang-orang toksik ini. “Amora, berhenti bersikap kekanak-kanakan. Nggak semua orang di sini bakal termakan sama wajah lugu lo.” ​”Aurelia, tega banget lo ngomong gitu ...” ​”Halah, tai kucing! Daripada lo sok tersakiti, mending lo urus tuh pacar lo. Bilang sama Raffan, dia harus jujur sama orang tuanya. Kita udah putus, dan jangan pernah bawa-bawa gue buat ketemu mereka lagi! Gue muak!” ​Amora ternganga, wajahnya memucat. “Apa maksud lo?” ​”Tanya sendiri sama Raffan. Bukannya kalian tinggal bareng? Lucu banget, orang tuanya datang malah nyariin gue. Kasihan ya, lo capek-capek jadi pelakor, tapi malah nggak dianggap!” ​Ruangan itu mendadak gaduh. Semua orang saling berpandangan tidak percaya. Aurelia menegakkan bahunya, menatap Amora dengan tatapan penuh kebencian yang selama ini ia pendam. “Waktu gue pergoki kalian tidur bareng, gue nggak cuma patah hati. Gue sadar satu hal, gue nggak sudi punya teman ular kayak lo!” ​”Kurang ajar lo!” Amora mencoba maju, tapi Aurelia tidak bergeming. Keberaniannya telah kembali sepenuhnya. ​Aurelia meraih tasnya dan bergegas pergi sebelum dia kehilangan kendali. Saat sampai di pintu, dia berbalik menatap Zara dengan tatapan dingin. “Zara, seingat gue lo punya pacar, kan? Saran gue, jangan pernah kenalin ke Amora kalau nggak mau direbut!” ​Aurelia keluar dengan langkah tegas, diikuti oleh Joel yang masih berusaha mengejarnya, panik karena kariernya terancam. ​”Aurelia, tunggu! Ini penting, tolong dengerin gue dulu!” teriak Joel. ​”Gue buru-buru, Joel! Nggak ada yang perlu diomongin lagi!” ​”Aurelia, please!” ​Begitu sampai di lobi, Aurelia memanggil taksi. Joel masih terus membujuknya dengan wajah memelas. Aurelia akhirnya berhenti dan menoleh, menatap Joel dengan tajam, sebuah tatapan yang membuat Joel terdiam seketika. ​”Gue tahu apa yang mau lo omongin. Lo mau gue balik biar Tim Dua nggak bubar, kan? Pak Firman nawarin gaji dua kali lipat pun gue tolak. Lo tahu kenapa?” ​Joel meneguk ludah, tak mampu berkata-kata. ​”Alasannya bukan cuma Amora, tapi lo sendiri, Joel. Gue nggak sudi punya ketua tim yang pilih kasih dan tukang curi hasil kerja keras orang lain kayak lo!” ​Joel hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan, menatap taksi yang membawa Aurelia menjauh. Rasa marah, malu, dan takut bercampur jadi satu. Dia tidak pernah menyangka akan berada di posisi serendah ini, memohon-mohon pada orang yang dulu ia remehkan demi menyelamatkan kariernya sendiri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Tim Dua akan segera hancur, dan itu adalah tanggung jawabnya sepenuhnya. Aurelia telah bebas, sementara Joel terjebak dalam kehancurannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD