BAB 16

1551 Words
Di SMA Pelita Bangsa, nama Rachel adalah sinonim dari kesempurnaan. Dia adalah paket lengkap yang membuat banyak orang berdecak kagum. Wajahnya menawan dengan proporsi yang nyaris tanpa cela, otaknya encer hingga langganan peringkat pertama di kelas, dan suaranya yang merdu menjadikannya primadona dalam setiap perhelatan seni. Rachel adalah pusat gravitasi di sekolah itu, dia idaman para cowok, kebanggaan guru-guru, dan sosok yang fotonya sering muncul di akun i********: sekolah. Namun, di balik popularitasnya, Rachel adalah sosok yang sangat tertutup. Banyak yang berusaha mendekatinya hanya untuk mendongkrak status sosial mereka, tapi Rachel sangat selektif. Baginya, teman bukan sekadar pajangan untuk mempercantik media sosial. ​”Cewek secantik itu sih wajar kalau pilih-pilih. Maunya pasti yang tajir melintir, kan? Mana mungkin mau sama orang biasa,” celetuk salah satu murid laki-laki di sudut kantin, matanya menatap Rachel yang sedang duduk tenang membaca buku di kejauhan. ​”Gila, ya. Jemi yang bokapnya orang penting di BUMN aja ditolak mentah-mentah. Lo bayangin, Jemi! Apalagi Hassan, si influencer kondang yang pengikutnya jutaan itu. Ditolak juga!” sahut temannya dengan nada tak percaya. ​”Wah, Rachel mah over proud banget. Emang dia pikir dia siapa sampai bisa nolak cowok-cowok keren kayak mereka? Mentang-mentang cantik, jadi sombong,” timpal yang lain dengan nada sinis. ​Rachel hanya bisa menarik napas panjang, pura-pura fokus pada buku di depannya meski telinganya menangkap setiap bisik-bisik itu dengan jelas. Inilah hidupnya. Semua orang seolah terobsesi mengatur kehidupannya, mendikte siapa yang pantas jadi pacarnya. Seolah-olah di usia tujuh belas tahun, status pacaran adalah kewajiban hukum yang harus dipenuhi. Bagi Rachel, pemikiran itu sangat konyol. Ia tidak rela menghabiskan uang jutaan untuk sekolah di tempat bergengsi hanya untuk sibuk mengurus drama percintaan yang dangkal dengan cowok-cowok kaya. Ia punya mimpi besar, cita-cita yang ia bangun sendiri tanpa campur tangan ekspektasi orang lain. ​Hidupnya di rumah sudah cukup mencekik dengan tuntutan orang tua yang perfeksionis, ditambah ekspektasi sekolah yang menuntutnya selalu tampil sempurna. Satu-satunya waktu Rachel bisa bernapas lega dan menjadi diri sendiri adalah sore hari, saat ia sudah berada di luar gerbang sekolah. Namun sayangnya, privasi itu pun mulai terganggu. Seseorang telah memergokinya dalam keadaan “asli”—tanpa riasan tebal dan topeng siswi teladan—dan orang itu adalah Lucian, si anak bengal yang reputasinya sebagai tukang pukul sudah melegenda di sekolah. ​Bagi Rachel, Lucian adalah antitesis dari segalanya. Jika Rachel dianggap sebagai berlian yang dipuja, Lucian adalah duri yang selalu membuat masalah. Tak terhitung berapa kali Rachel melihat wajah cowok itu babak belur gara-gara tawuran. Aneh, pikir Rachel. Apa sih yang mereka perebutkan sampai harus adu jotos? Bukankah mereka seharusnya belajar demi masa depan? ​Mungkin pikiran Rachel terlalu naif. Dunia ini memang tidak hitam putih seperti yang ia pelajari di buku teks. Namun, yang lebih menyebalkan, pertemuan mereka di dekat toilet sekolah kemarin ternyata bocor dan menjadi bahan gosip baru. Orang-orang mulai membandingkan Lucian yang miskin dan berandalan dengan deretan cowok kaya yang dulu mendekati Rachel. ​”Gila kali ya, kalau sampai Rachel lebih milih Lucian daripada Jemi atau Hassan! Itu mah namanya turun kasta!” ​”Cinta itu buta, Guys! Mungkin dia bosan sama cowok kaya!” ​”Ya emang, tapi ya jangan buta banget lah. Harus sering-sering diracunin biar nggak salah pilih! Lucian itu ancaman buat reputasi dia!” ​Rachel mengepalkan tangan di balik saku roknya. Ia benci sekali ketika urusan pribadinya dihakimi publik. Ia merasa berhak menentukan dengan siapa ia ingin berteman atau menjalin hubungan. Tak tahan lagi dengan racun di kantin itu, ia bangkit dari kursi dan menyambar tasnya. Ia lebih memilih kesunyian perpustakaan daripada mendengar omong kosong yang tidak berdasar. ​”Rachel!” ​Langkah Rachel terhenti di koridor yang sepi. Ia menoleh dan mendapati Lucian berlari kecil ke arahnya. Sial, cowok itu seolah bisa membaca arah langkahnya. ​”Rachel, jangan kabur. Gue butuh bantuan lo!” suara Lucian terdengar mendesak. ​Rachel mendengus, menunggu Lucian sampai di depannya. Ia mencoba bersikap acuh, meski ia sadar dari jarak sedekat ini, Lucian terlihat jauh lebih jangkung dan—entah kenapa—wajahnya punya pesona yang sulit dijelaskan, bahkan meski rambutnya agak berantakan. Tunggu, kenapa aku malah memuji dia dalam hati? batin Rachel kesal pada dirinya sendiri. ​”Apaan? Gue punya utang apa sama lo sampai harus nungguin gue?” tanya Rachel ketus, berusaha menutupi kegugupannya. ​Lucian menatapnya lekat dengan bola mata kecokelatan yang tampak teduh di bawah sorot lampu koridor. “Gue tahu rahasia lo.” ​”Rahasia apa?” ​”Soal make-up dan diri lo yang sebenarnya. Gue tahu lo lebih suka tampil polos daripada pakai bedak tebal kayak sekarang. Tenang aja, buat gue dua-duanya oke. Tapi ... gue bener-bener butuh bantuan lo.” ​Rachel menaikkan alisnya tinggi-tinggi. “Kenapa harus gue?” ​Lucian tampak salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gimana ya ngomongnya ... Gue sebenarnya nggak suka cara ini, tapi kalau lo nggak mau bantu, ya terpaksa foto-foto lo saat nggak pakai make-up itu gue sebarin ke grup sekolah.” ​Rachel melotot, kakinya menghentak lantai dengan keras. “Lucian, lo beneran ngancam gue?” ​Lucian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. “Ups, jangan ngamuk. Lo kalau marah malah hilang cantiknya. Cool down.” ​”Lo nggak punya hak buat ngancem gue!” ​”Memang nggak punya. Tapi gimana lagi, cuma lo yang bisa bantu gue. Gimana kalau ancamannya kita ganti jadi permohonan? Please, Rachel? Ini penting banget buat seseorang.” ​Awalnya Rachel berniat menolak, tapi rasa penasarannya menang. Apa yang membuat seorang berandalan seperti Lucian sampai memohon dengan tulus seperti ini? Saat ia akhirnya membantu Lucian dan bertemu dengan Aurelia, semua keraguannya sirna. Ia melihat sisi lain dari Lucian yang ternyata punya empati besar terhadap perempuan yang sedang terpuruk. ​”Rachel, bantu Kakak ini dandan secantik mungkin. Tolong kita, ya?” ​Kata “kita” yang diucapkan Lucian membuat Rachel sadar ada hubungan istimewa di antara mereka. Ia pun mengeluarkan bakat terpendamnya. Selama satu jam, Rachel merombak penampilan Aurelia dengan penuh ketelitian. Ia tidak hanya merias wajah, tapi juga memilihkan pakaian yang pas agar kepercayaan diri Aurelia bangkit kembali. Hasilnya luar biasa. Saat melihat Aurelia di depan cermin, Lucian sampai terpana. ​”Kak, kamu cantik sekali! Rachel, tangan lo ajaib banget!” seru Lucian girang, matanya berbinar melihat transformasi tersebut. ​Setelah hari itu, hubungan mereka berubah. Lucian mengajak Rachel makan di restoran fast food, dan dari sana, Rachel akhirnya tahu cerita pilu di balik hidup Aurelia. Ia sadar, Lucian bukan sekadar berandalan. Dia cowok yang setia kawan dan memiliki hati yang besar. ​Di ruang rapat yang tegang, suasana mendadak hening. Joel terus mencuri pandang, begitu pula yang lain. Aurelia tahu, kejutannya berhasil. Ia melirik Amora, Zara, dan Tristan yang tampak seperti orang yang baru melihat hantu. Aurelia sengaja mengabaikan tatapan Amora yang terlihat penasaran sekaligus jengkel karena rencana mereka untuk mempermalukan Aurelia gagal total. ​”Aurelia, apa kabar?” tanya Joel memecah keheningan, suaranya terdengar ragu. ​Aurelia tersenyum tipis, sorot matanya tajam namun tenang. “Kabar baik, Joel.” ​”Lo ke mana aja? Menghilang total.” ​Aurelia mengedikkan bahu dengan elegan. “Nggak ke mana-mana, cuma fokus sama diri sendiri dan membenahi hidup yang sempat berantakan.” ​”Lo kerja di kantor lain?” timpal Zara dengan nada nyinyir yang khas. ​”Belum. Mungkin sebentar lagi,” jawab Aurelia datar. ​Zara tertawa sinis. “Berarti selama ini lo pengangguran? Kok bisa? Wah, jangan-jangan karena tunangan kaya lo itu yang biayain semua ini? Lifestyle lo berubah drastis, ya?” ​Aurelia menatap Zara tajam. Tatapan itu membuat Zara perlahan kehilangan kepercayaan dirinya. “Bisa nggak lo tutup mulut, Zara? Urusan hidup gue bukan konsumsi lo. Fokuslah pada pekerjaan lo sendiri daripada mengurus hidup orang lain.” ​Zara terperangah. “Gue cuma—” ​”Nggak ada cuma-cuma. Kita nggak sedekat itu sampai lo berhak ikut campur urusan pribadi gue.” ​”Zara, diam!” bentak Joel pelan, memberikan kode agar Zara berhenti sebelum keadaan memburuk. ​Di kursinya, Amora mengamati perubahan Aurelia dengan intens. Tidak ada lagi Aurelia yang gemuk dan penakut. Di depannya kini berdiri sosok yang anggun dan penuh percaya diri. Amora merasa terancam, apalagi saat pintu ruangan terbuka dan Pak Firman masuk. ​”Oh my God, ini beneran Aurelia?” tanya Pak Firman tak percaya, matanya meneliti penampilan baru mantan karyawannya. ​”Apa kabar, Pak?” sapa Aurelia ramah. ​”Aurelia, saya senang sekali melihatmu. Penampilanmu luar biasa. Kamu akan kembali bekerja di sini, kan? Perusahaan butuh orang berbakat seperti kamu.” ​Aurelia menatap Pak Firman dan seluruh orang di ruangan itu secara bergantian, lalu menggeleng mantap. “Sayangnya, tidak, Pak.” ​”Kenapa? Kamu nggak mau kembali?” ​”Karena menurut saya, bukan di sini tempat saya lagi. Saya sudah menemukan lingkungan yang lebih menghargai kemampuan saya daripada sekadar melihat fisik atau drama yang tidak perlu.” ​Jawaban itu seperti petir di siang bolong. Ruangan seketika membeku. Tak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara, bahkan Pak Firman sendiri sampai kehilangan kata-kata. Aurelia telah menetapkan batasnya, dan dia sudah tidak bisa lagi diremehkan oleh siapa pun di ruangan itu. Ia melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan mereka dalam keterkejutan yang tak berujung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD