BAB 15

1539 Words
Pesta yang awalnya dijanjikan “tertutup” dan intim ternyata jauh meleset dari bayangan Aiden. Begitu ia melangkah masuk ke ballroom hotel yang megah, matanya langsung diserbu oleh kemewahan yang berlebihan, dekorasi kristal yang berkilauan, tatanan bunga segar di setiap sudut, dan barisan pelayan berseragam rapi yang hilir mudik membawa nampan perak berisi minuman mahal. Suasananya riuh, sesak oleh tamu undangan dari kalangan elit yang sibuk pamer perhiasan dan koleksi pakaian desainer terbaru. ​Mood Aiden yang sejak siang sudah berantakan karena pertengkaran sengit dengan Lucian, kini benar-benar hancur lebur. Ia merasa seperti boneka pajangan yang diseret Thalia ke sana kemari. Thalia dengan bangga menggandeng lengannya, memperkenalkan dirinya kepada kolega-kolega berpengaruh orang tuanya seolah-olah mereka adalah pasangan tuan rumah yang siap membangun dinasti bisnis bersama. Aiden harus terus menebar senyum palsu, menyambut uluran tangan orang-orang asing, dan mendengarkan basa-basi membosankan yang sama sekali tidak ingin ia dengar. Baginya, setiap detik di pesta ini adalah siksaan. ​”Kenapa kamu nggak bilang tamunya sebanyak ini?” bisik Aiden di sela-sela senyum paksa, suaranya sarat dengan kelelahan yang nyata. ​Thalia menoleh, memamerkan senyum manis yang membuat orang lain terpesona, namun di balik itu, matanya menatap Aiden dengan sorot tajam yang memperingatkan. “Kenapa merajuk di tempat umum begini, Sayang? Ini perayaan ulang tahun pernikahan orang tuaku. Wajar dong kalau dirayakan dengan meriah? Apa salahnya berbagi kebahagiaan?” ​”Aku nggak merajuk, Thalia. Aku cuma heran, kenapa nggak sesuai omongan kamu? Bukannya tadi dibilang cuma makan malam keluarga yang sederhana?” ​Aiden terus menggerutu, membuat Thalia mulai jengah. Ia tahu betul kekasihnya itu seorang introvert yang anti-keramaian, tapi menggerutu di tengah pesta megah ini sungguh tidak pantas dilakukan. Thalia menarik napas panjang, mencoba menekan kekesalannya. Ia mendekat, melingkarkan lengannya di leher Aiden dengan manja, berusaha menutupi ketegangan di antara mereka dari pandangan tamu lain. ​”Memang awalnya aku rencanakan hanya makan malam. Tapi, aku jadi kasihan sama orang tuaku. Mereka sudah kerja keras sepanjang hidup demi memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku cuma ingin memberi mereka momen spesial, meski menurutmu ini berlebihan, bagiku ini cara sederhana untuk membalas kasih sayang mereka.” ​Percakapan mereka terpotong saat pembawa acara memegang mikrofon, mengumumkan momen puncak acara, pemotongan kue. Thalia segera melepaskan pelukan manja itu dan menarik lengan Aiden menuju tengah ruangan, tempat kue bertingkat tinggi dengan dekorasi emas berdiri megah. ​”Hadirin sekalian, sekarang mari kita undang pasangan kita yang berbahagia untuk memotong kue, dan memberikan potongan pertama kepada sang anak serta calon menantu kesayangan kita!” ​Gemuruh tepuk tangan membahana. Thalia menarik Aiden dengan setengah memaksa menuju tempat orang tuanya berdiri. Sang ayah, Setiawan, tampak sangat bersemangat. ​”Potongan kue terbesar dan paling spesial ini, Papa berikan untuk anak perempuan Papa satu-satunya, Thalia,” ujar Setiawan dengan suara menggelegar. ​Thalia menerima piring kecil itu dengan wajah berseri, tampak begitu bahagia. “Terima kasih, Pa.” ​”Dan harapan Papa tahun depan sudah bisa menimang cucu dari Thalia. Karena itu, Papa menaruh harapan besar pada kalian berdua. Semoga ada kabar bahagia soal pernikahan tahun ini,” ucap sang Papa dengan lantang, seolah sengaja memproklamirkannya agar semua orang mendengar. ​Tepuk tangan kembali pecah, jauh lebih riuh dari sebelumnya. Thalia memeluk kedua orang tuanya dengan penuh haru, sementara Aiden hanya berdiri kaku di tempatnya, terjepit di antara tuntutan keadaan dan harga dirinya sendiri. Ia memberikan senyum tipis yang sangat dipaksakan. Ini gila, pikir Aiden getir. Bukankah ini sama saja dengan mendesak seseorang di depan umum? Pernikahan adalah masalah pribadi yang sakral, tapi di sini, terutama Thalia, seolah sedang memojokkannya ke sudut ruangan tanpa jalan keluar. ​Aiden menarik napas panjang, merasa dadanya sesak. Begitu prosesi potong kue selesai, ia tak menunggu lama untuk bergegas menyelinap ke lobi samping dengan dalih ingin merokok. Ia butuh oksigen untuk sekadar bernapas. ​Namun, kesendiriannya tak berlangsung lama. Ayah Thalia menghampirinya, membawa segelas anggur di tangannya. ​”Aiden, sendirian saja? Kenapa tidak bergabung dengan tamu lain?” ​Aiden mengembuskan asap rokoknya pelan ke udara, berusaha menetralkan pikirannya. “Thalia kurang suka saya merokok, Pak. Saya hanya perlu udara segar sebentar.” ​Setiawan terkekeh sambil menepuk bahu Aiden dengan akrab, seolah mereka sudah sangat dekat. “Namanya juga perempuan. Memang suka mengomel tentang kebiasaan kecil kita. Tapi ya, itu semua sebenarnya bentuk perhatian, demi kebaikan kita juga.” ​”Benar sekali, Pak,” jawab Aiden datar. ​”Ngomong-ngomong, Thalia sudah cerita soal investor Jepang yang sangat tertarik dengan pabrik mi instan kita? Saya dengar kamu berencana buka pabrik baru, ya?” ​”Iya, Thalia sudah menginformasikan hal itu kepada saya.” ​”Dengar, Aiden. Saya sudah puluhan tahun di bisnis ini dan tidak pernah kesulitan mencari investor, dan hal yang sama akan berlaku untukmu jika kamu bekerja sama dengan saya. Syaratnya mudah, jadilah bagian dari keluarga besar saya. Segeralah menikah dengan Thalia, maka kita akan menjadi korporasi yang tak terkalahkan di pasar global.” ​Lagi-lagi desakan. Aiden menahan napas. Kegagalan pernikahan pertamanya masih menyisakan trauma yang belum sepenuhnya sembuh, dan ia tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sekarang, ia bahkan tidak yakin apakah ingin menikah lagi atau tidak. Semakin mereka mendesaknya dengan ambisi bisnis, semakin hilang rasa itu dari hatinya. ​Di tempat lain, Aurelia menerima telepon dari kantor lamanya. Mantan direkturnya—karena ia sudah resign—memanggilnya dengan nada menuntut. Gajinya pun masih ditahan dengan alasan konyol yang dibuat-buat, harus diambil langsung ke kantor. Memangnya zaman sekarang tidak ada teknologi bernama transfer bank? ​Mereka mengklaim ingin merundingkan sesuatu yang penting terkait sisa administrasi. Aurelia bingung. Bukannya Aiden sudah membatalkan proyek iklan itu karena masalah perjanjian yang tidak sesuai? Apa lagi yang perlu dibahas? ​Sejak resign setengah tahun lalu, Amora tidak pernah berhenti menerornya. Perempuan itu bahkan nekat mendatangi kontrakan lama Aurelia, mencoba mengintimidasi. Untunglah Aurelia sudah pindah, meski akhirnya mereka tahu juga di mana ia sekarang. ​Pesan dari Amora masuk ke ponselnya: “Lo pindah? Ke mana? Kasih alamat baru sekarang!” ​Aurelia hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalas. Ia sudah lelah dengan drama tidak penting. ​Pesan susulan tak lama kemudian: “Sombong banget ya lo. Emang lo punya apa sekarang setelah nggak kerja? Jangan-jangan jadi gelandangan? Raffan bilang lo kurusan sekarang. Kenapa? Sakit hati? Ingat ya, jangan sampai lo mati tanpa gue tahu!” ​Aurelia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tidak habis pikir kenapa Amora bisa sebenci itu. Padahal dulu, ia selalu berusaha menjadi sahabat yang baik, bahkan sampai mengorbankan kepentingannya sendiri demi membuat Amora senang. Apakah ini wajah asli Amora selama ini? Atau mungkin Amora memang punya masalah kepribadian? ​Tok! Tok! Tok! ​Aurelia bergegas membuka pintu. Lucian berdiri di sana dengan senyum lebar yang menularkan energi positif, di sampingnya ada seorang gadis cantik berkacamata. ​”Lucian? Ada apa malam-malam begini?” ​”Kak, aku datang membawa bala bantuan! Kenalin, ini Rachel!” ​Aurelia tersenyum ramah kepada gadis itu. “Halo, Rachel. Ayo masuk. Kalian mau bantu apa nih?” ​”Keluarkan baju Kakak buat besok ke kantor. Rachel yang bakal ngerias wajah Kakak biar lebih fresh dan elegan,” sahut Lucian antusias. ​Setelah dibantu memilih gaun yang pas, Rachel mendudukkan Aurelia di kursi dan mengeluarkan peralatan make-up dari tas besarnya. ​”Aku akan pakai teknik no make-up look, Kak. Hasilnya tipis, tidak medok, tapi justru menonjolkan fitur wajah Kakak yang cantik agar lebih keluar,” jelas Rachel dengan tenang. ​Selama satu jam penuh, tangan Rachel menari-nari di wajah Aurelia. Dari sapuan kuas di pipi hingga polesan tipis di mata, semuanya dilakukan dengan ketelitian seorang seniman. Saat Rachel menyerahkan cermin besar, Aurelia terpaku melihat bayangannya sendiri. ​”Ya ampun, ini aku?” Aurelia nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat. ​”Iya, itu Kakak. Kakak aslinya memang cantik, cuma selama ini kurang dandan saja,” sahut Rachel sambil tersenyum tulus. ​Lucian bertepuk tangan heboh saat Aurelia keluar dengan penampilan yang sudah total berubah. Ia mengenakan gaun hijau daun sebatas lutut, rambut hitam tebalnya dibiarkan tergerai menutupi pundak, dan ia tampak sangat anggun dengan sepatu hak putih. Auranya benar-benar berbeda. ​Aurelia berangkat ke kantor keesokan harinya dengan taksi, meski jantungnya berdebar kencang. Ia teringat kenangan buruk di kantor itu, bagaimana ia dulu sering dicaci dan diremehkan meski ia adalah pekerja yang paling giat. ​Saat melangkah masuk ke lobi, resepsionis sempat bingung. Wajah Aurelia yang dulu bulat kini tampak lebih tirus dan segar. Setelah mendapat konfirmasi dari Joel, Aurelia diizinkan naik. Sepanjang jalan menuju ruang rapat, ia menyapa beberapa orang yang dikenalnya, namun mereka hanya mematung menatapnya dengan mulut ternganga. ​Aurelia membuka pintu ruang rapat dengan tenang. Ia berdiri di ujung meja, menyapu pandangan pada wajah-wajah yang dulu sering menghinanya. Ia tersenyum ramah dan penuh percaya diri. ​”Maaf semua, saya terlambat.” ​Amora adalah orang pertama yang bereaksi. Ia membelalak, jari telunjuknya menunjuk Aurelia dengan kaget yang luar biasa. “Aurelia? Ini beneran lo?” ​Aurelia mengangguk santai. “Iya, ini saya. Ada masalah?” ​Ruangan mendadak hening, lalu berubah riuh seperti sarang lebah. Aurelia tetap berdiri dengan tenang di tempatnya, menatap mereka satu per satu dengan kepala tegak, sebelum membisikkan satu kata. ​”Kejutan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD