Sejak pertemuan tak sengaja di gym waktu itu, Lucian punya kebiasaan baru, ia mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Rachel. Setiap kali gadis itu lewat di koridor bersama teman-temannya, mata Lucian seolah terkunci pada sosoknya. Sikap anehnya ini tentu saja memicu kesalahpahaman di antara teman-teman Lucian.
”Lucian! Gue perhatiin lo kayaknya demen banget mandang-mandangin si Rachel. Naksir, ya?” ledek Sahid suatu hari.
Lucian hanya mengedikkan bahu, wajahnya tampak bingung. “Gue cuma heran aja, kok bisa ada orang yang mukanya beda banget gitu.”
”Hah? Maksudnya gimana?”
”Nggak tahu, ya. Gue cuma... bingung aja,” jawab Lucian, terdengar tidak yakin.
”Emang apa yang beda dari Rachel?”
”Semuanya. Terutama wajahnya,” gumam Lucian.
”Lo pernah lihat wajahnya dari dekat emangnya?”
Lucian terdiam sejenak. Ia teringat kejadian di depan gym sore itu, saat mereka berdiri cukup dekat. Tapi, apakah itu bisa disebut “melihat dari dekat”? Ia pun tak tahu.
”Nggak tahu, ah. Ngomong sama lo bikin gila!” Sahid akhirnya menyerah dan pergi begitu saja.
Lucian merasa hal yang sama, ia merasa gila karena terus memikirkan Rachel. Di depannya kini, gadis itu sedang tertawa bersama teman-temannya di kantin. Rachel adalah primadona sekolah, cantik, modis, dan anggun—sangat kontras dengan sosok Rachel yang ia temui di depan minimarket waktu itu. Tapi, kenapa Rachel harus setakut itu? Bahkan sekarang, Lucian merasa Rachel sesekali mencuri pandang ke arahnya. Padahal, Lucian sama sekali tak peduli dengan penampilan, mau Rachel pakai dandan tebal atau polosan, baginya sama saja.
Selesai makan, Lucian berpamitan pada teman-temannya. Ia perlu ke kamar mandi sebelum rencana pembalasan dendamnya dijalankan sore nanti—ia akan menghadapi anak sekolah lain yang tempo hari berani mengeroyoknya. Saat ia melangkah keluar dari kamar mandi sambil bersenandung kecil, ia tertegun melihat Rachel berdiri di dekat pintu, seolah menunggunya.
Lucian hanya mencuci tangan, melirik Rachel sekilas lewat cermin, lalu hendak melenggang pergi.
”Lucian, tunggu! Gue mau bicara sama lo,” panggil Rachel pelan.
Lucian menoleh. “Gue?”
Rachel mengangguk ragu, lalu menunjuk ke ujung lorong yang sepi. “Iya, ini penting.”
Lucian mengikuti gadis itu. Mereka berdiri berhadapan di ujung lorong dekat taman sekolah. Aroma parfum Rachel yang semerbak menusuk hidungnya. Baru kali ini Lucian berdiri sedekat ini dengan gadis itu.
”Ada apa?” tanya Lucian.
Rachel menggigit bibir bawahnya, terlihat cemas. “Lo pasti ingat kejadian pas kita ketemu sore-sore itu, kan?”
”Oh, yang lo pakai baju training buluk itu?”
”Ssst! Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya!” Rachel melotot panik.
Lucian tertawa kecil. “Lah, elo aneh. Ngapain takut orang tahu lo pakai baju training? Kalau lo telanjang baru deh wajar kalau takut.”
Rachel menghentakkan kakinya ke lantai, kesal. “Lo nggak bakal paham! Buat cewek kayak gue, penampilan itu segalanya. Kalau gue nggak bisa dandan, nggak akan ada yang mau temenan sama gue. Di rumah, gue bisa jadi diri sendiri tanpa make-up. Tapi di sekolah? Gue bisa dicaci maki kalau sampai kelihatan nggak sempurna.”
Lucian hanya bisa mengedipkan mata, merasa penjelasan itu sangat tidak masuk akal. “Gue nggak ngerti pola pikir lo. Asal lo tahu, ya, teman sejati itu nggak akan peduli lo pakai make-up atau nggak.”
Lucian pun meninggalkan Rachel yang terpaku sendirian di lorong dengan perasaan campur aduk. Rachel menatap punggung Lucian yang menjauh. Entah kenapa, bicara dengan cowok urakan itu justru membuat dadanya terasa sesak. Lucian yang berandalan saja bisa sekeren itu tanpa perlu topeng, sementara dirinya harus mati-matian menjaga citra. Hidup memang tidak seadil itu.
Sementara itu, Aurelia semakin bersemangat memperbaiki diri setelah pertemuannya dengan Aiden. Ia kini menyimpan kartu nama pria itu layaknya harta karun. Uang simpanan Kakek ia gunakan dengan bijak untuk membiayai kursus komputer guna meningkatkan skill. Hari-harinya kini sangat produktif, kursus, olahraga, dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Sesekali Lucian datang menemani, dan Aurelia merasa beruntung memiliki teman seperti dia.
”Aku dapat tawaran kerja,” ucap Aurelia bangga saat Lucian menemaninya di gym.
”Wah, keren! Di mana, Kak?”
”Perusahaan multinasional. Awalnya aku cuma mau melamar posisi iklan, tapi direkturnya malah menawarkan kerja sama langsung dengan dia.”
Lucian mengangguk takjub. “Gila, hebat banget direkturnya bisa lihat potensi Kakak. Nama perusahaannya apa?”
”PT Real Food and Health. Kamu pasti pernah dengar, kan?”
”Hehe, tentu saja,” sahut Lucian santai.
Lucian memang belum pernah menceritakan jati dirinya kepada Aurelia. Baginya, statusnya sebagai anak seorang manajer sudah cukup untuk menutup rasa ingin tahu orang-orang di sekolah. Ia belum siap untuk jujur tentang siapa orang tuanya yang sebenarnya.
”Ngomong-ngomong, kenapa wajahmu memar-memar?” Aurelia menyentuh pelipis Lucian dengan lembut.
”Oh, ini... gara-gara berantem. Kemarin aku dan teman-teman samperin anak-anak yang ngeroyok aku ke sekolahannya. Kita serang balik,” jawab Lucian enteng.
Aurelia tercengang. “Berani sekali kalian? Itu bisa memicu tawuran antarsekolah!”
”Biar mereka kapok dan nggak macam-macam lagi.”
”Terus, orang tua kamu nggak marah? Pihak sekolah gimana?”
Lucian menggeleng. “Nggak, aman aja.”
Tentu saja aman, karena ayahnya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai tak pernah sadar apakah anaknya pulang dalam keadaan terluka atau tidak. Rumah mereka hanya sebatas tempat singgah, mereka tinggal di atap yang sama namun jarang bertegur sapa. Ayahnya sering pulang larut malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali karena asyik dengan kekasih barunya. Lucian membencinya, meski ia tak punya hak untuk memprotes.
”Bulan depan aku harus ke kantor buat ambil barang-barangku. Semoga aku kuat,” gumam Aurelia, membuyarkan lamunan Lucian.
”Pasti kuat, Kak. Apalagi sekarang Kakak sudah lebih bugar. Hadapi mereka dengan percaya diri!”
Aurelia mengangguk mantap. Ia pun kini merasa bangga dengan perubahan dirinya, dari berat 90 kilogram menjadi 65 kilogram. Diet ketat, menghindari gula, dan konsumsi protein tinggi akhirnya membuahkan hasil.
Namun, drama lama belum usai. Amora masih sering mengirim pesan penuh makian karena Aurelia resign tiba-tiba, yang berakibat pada kacaunya kerja sama dengan PT Real Food. Begitu juga Raffan, yang kini sering meneror dengan alasan orang tuanya akan berkunjung dan belum tahu soal pembatalan pertunangan mereka.
”Aku harap kamu mau datang pas orang tuaku datang dan jelaskan semuanya,” desak Raffan lewat pesan.
Aurelia membalasnya dengan tajam, “Boleh aja, tapi bayar. Nggak ada yang gratis di dunia ini.”
Ia sudah lelah menjadi orang baik yang terus diinjak-injak.
Malam itu, Lucian baru saja melangkah masuk ke ruang tamu ketika hardikan ayahnya membuat jantungnya mencelos.
”Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!”
Lucian mengangkat wajah, melihat papanya yang tampak rapi dengan setelan jas mahal, seolah siap pergi berpesta dengan kekasihnya. “Dari sekolah,” jawab Lucian acuh.
Aiden mendekat, mengamati putranya dari atas ke bawah dengan tatapan tajam. “Sekolah mana yang pulangnya malam begini?”
”Kenapa nggak tanya langsung ke pihak sekolah kalau mau tahu?” tantang Lucian.
”Berani kamu membantah?”
”Daddy mau pergi pacaran, kan? Sana pergi. Aku nggak akan ganggu,” sahut Lucian sinis.
Aiden mencengkeram lengan putranya. “Kenapa wajahmu lebam? Tawuran lagi? Begitu cara kamu menjalani masa sekolah?”
”Apa urusan Daddy?”
Kesabaran Aiden nyaris habis. Ia ingin memukul, tapi Lucian bukan lagi anak kecil. Membentak pun tak ada gunanya. Menjadi orang tua tunggal ternyata jauh lebih sulit daripada mengurus perusahaan besar. Ia ingin memberikan kasih sayang, tapi hubungan mereka sudah terlanjur seperti api dan jerami.
Ponsel Aiden berdering. Kekasihnya, Thalia, sudah menelepon berkali-kali menanyakan keberadaannya. Aiden terpaksa melepaskan cengkeramannya dan melangkah gontai meninggalkan rumah, meninggalkan Lucian yang berdiri mematung di tengah ruang tamu.
Lucian menatap punggung ayahnya yang menjauh. Ada secercah rasa sesal karena telah bersikap kasar, namun hatinya masih terlalu keras untuk memaafkan. Rasa sepi itu kembali menyelimuti, lebih menyesakkan dari dinding rumah yang dingin ini.