BAB 13

1612 Words
​​Dunia Aurelia seolah menemukan ritme baru yang lebih sehat dan terarah. Setiap hari, ia mulai terobsesi dengan detail kalori yang masuk ke tubuhnya, memperlakukan pola makan sebagai bentuk disiplin diri yang baru. Atas saran dan dorongan Lucian, ia bahkan menyewa jasa personal trainer di pusat kebugaran terdekat agar setiap sesi latihannya benar-benar maksimal. Lucian adalah sosok yang luar biasa sabar, ia membantu Aurelia menyusun daftar makanan, memisahkan mana yang rendah kalori dan mana yang harus ia singkirkan dari menu sehari-harinya. Kini, isi kulkas Aurelia nyaris seragam, d**a ayam tanpa kulit dan tulang yang diolah dengan berbagai cara. Terkadang direbus, terkadang ditumis dengan sedikit saus tiram, atau sekadar dikukus dengan irisan bawang putih. Semuanya tanpa minyak, tanpa bumbu berlebih, dan tanpa rasa bersalah. ​Hanya dalam waktu satu minggu, timbangan menunjukkan penurunan dua kilogram. Angka itu mungkin terlihat kecil bagi orang lain, namun bagi Aurelia, itu adalah bukti nyata bahwa usaha kerasnya melalui diet protein tinggi dan latihan beban mulai membuahkan hasil. Namun, di balik transformasi fisik yang menjanjikan, ada satu tantangan yang masih belum bisa ia taklukkan, kesunyian di malam hari. Setiap kali lampu kamar dipadamkan dan keheningan menyelimuti, bayangan Kakek sering kali muncul. Ia masih sering terbangun di tengah malam dengan mata sembab, meratapi kepergian pria yang paling ia cintai di dunia ini. Rasa kehilangan itu begitu dalam, menancap di ulu hati hingga tidurnya hampir tak pernah terasa nyenyak. ​Selama masa jeda ini, Aurelia mengandalkan tabungan warisan Kakek untuk menyambung hidup sambil memfokuskan diri sepenuhnya pada perombakan mental dan fisik. Baginya, mencari pekerjaan baru bukanlah prioritas utama saat ini. Ia merasa perlu memulihkan diri terlebih dahulu. Jika pun nanti tak ada perusahaan yang mau menerimanya, ia mulai menimbang opsi untuk merintis usaha sendiri, meski bentuk bisnisnya masih sebatas angan-angan di kepala. ​Suatu hari, saat Aurelia sedang asyik memeras keringat di area latihan beban, ponselnya berdering nyaring. Nama “Raffan” tertera di layar, membuat Aurelia mendengus pelan. Ia sama sekali tidak punya keinginan untuk bicara dengan pria itu—mantan tunangan yang telah menghancurkan dunianya. Namun, Raffan seolah tidak punya malu, ia terus menelepon berkali-kali hingga Aurelia akhirnya mengangkat panggilan tersebut dengan nada yang dingin dan penuh kejengkelan. ​”Ada apa lagi?” tanya Aurelia ketus. ​”Aurelia, bisa kita ketemu di tempat biasa? Ada barang milikmu yang harus aku kasih. Sore ini jam empat, jangan sampai kamu nggak datang!” suara Raffan terdengar dingin dan otoriter. ​Masih seperti dulu, Raffan selalu merasa bisa memerintah seenaknya, seolah dunianya masih berputar di sekitar pria itu. Aurelia baru saja akan menutup telepon dengan kasar saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. ​”Aurelia, barang ini penting. Lo pasti mau tahu apa barangnya.” ​Aurelia mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi yang mulai membuncah. Ia meletakkan ponsel dan kembali ke alat latihan, memaksa tubuhnya bekerja lebih keras agar pikiran tentang Raffan bisa hilang bersama cucuran keringatnya. Ia membenci Raffan, si pria angkuh yang dulu merasa berkuasa hanya karena Aurelia jatuh cinta padanya. Namun, ia menyadari satu hal krusial, ia sudah tidak lagi merasa patah hati. Rasa kehilangan Kakek telah melampaui segala rasa sakit dan kekecewaan yang pernah diberikan oleh Raffan. Pria itu kini hanyalah babak masa lalu yang sudah ditutup rapat-rapat. ​Setelah mandi dan menyegarkan diri, Aurelia bersiap. Sayangnya, ia dihadapkan pada masalah kecil, semua pakaian lamanya kini terasa kedodoran, tidak lagi pas di tubuhnya. Ia terpaksa memilih minidress yang sudah longgar, berjanji pada diri sendiri untuk membeli baju baru yang lebih keren setelah target berat badannya benar-benar tercapai. Ia pun memesan ojek online menuju kafe langganan mereka dulu. Sesampainya di sana, ia memesan es americano—mengganti kopi karamel manis favoritnya dulu demi memangkas asupan gula yang tidak perlu. ​Lima belas menit berlalu, Raffan akhirnya muncul dengan gaya angkuhnya. “Aurelia, sudah lama nunggu?” tanyanya saat duduk di hadapan Aurelia. ​Aurelia melirik ponselnya dengan tatapan datar. “Lima belas menit,” jawabnya dingin. ​”Sori, jalanan tadi macet banget,” Raffan duduk seraya memperhatikan Aurelia dengan saksama, matanya meneliti perubahan pada wajah mantan tunangannya. “Kamu sakit? Kok kelihatan kurusan?” ​Aurelia tidak menanggapi basa-basi itu. Ia hanya meneguk kopinya, membiarkan Raffan memesan minum sendiri. Ingatan masa lalu melintas, dulu, Aurelia selalu repot menyiapkan segalanya, bahkan membayar tagihan kencan mereka agar Raffan merasa nyaman. Memikirkannya sekarang, ia merasa begitu bodoh dan naif. ​”Ada apa ngajak ketemu?” tanya Aurelia langsung pada intinya. ​Raffan mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya dan meletakkannya di meja. “Ini milikmu, bukan? Ketinggalan di mobilku waktu itu.” ​Aurelia mengambil tablet itu dan memasukkannya ke dalam tas dengan tenang. “Makasih. Kenapa harus repot ketemu kalau bisa dikirim lewat kurir?” ​”Aku memang ingin bicara denganmu,” jawab Raffan dengan nada yang dibuat semanis mungkin, sebuah strategi yang ia yakini bisa meluluhkan hati Aurelia. “Sudah lama sekali kita nggak ngobrol berdua.” ​Aurelia memutar bola mata, merasa muak. “Soal apa? Jangan bertele-tele, Raffan.” ​”Aku dengar kamu resign. Kenapa mendadak sekali? Apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu mengambil keputusan senekat itu?” ​Aurelia menghela napas panjang. Ternyata dugaannya benar, ini semua pasti campur tangan Amora. Raffan mencoba membujuknya kembali demi menyelamatkan proyek Real Food yang berantakan. Muak dengan drama ini, Aurelia langsung berdiri. ​”Apa yang aku lakukan bukan urusanmu, Raffan!” ​”Aurelia, please, duduk dulu. Kita bisa bicara baik-baik.” ​”Nggak perlu! Berhenti memerintahku seolah aku masih milikmu. Bilang saja sama pacarmu itu, jangan ganggu aku lagi. Aku benar-benar muak melihat kalian berdua!” ​”Aurelia, tunggu! Aku belum selesai bicara!” ​Aurelia tidak memedulikan teriakan Raffan. Ia setengah berlari keluar dari kafe itu, ingin menjauh dari pria itu sejauh mungkin. Namun, di anak tangga pintu keluar, ia tidak sengaja hampir menabrak seseorang. ​”Ups, maaf,” ucap Aurelia dengan napas yang memburu. ​”Aurelia? Sedang apa di sini?” ​Aurelia terbelalak melihat sosok di depannya. “Pak Aiden! Pak, tolong saya! Ada orang gila yang mengejar saya di dalam!” ​Aiden menangkap situasi dengan cepat. Tanpa bertanya lebih lanjut, ia meraih pergelangan tangan Aurelia dan membawanya menuju mobilnya. Ia segera melaju kencang meninggalkan kafe, menjauh dari Raffan yang masih berdiri mematung di ambang pintu kafe, tampak frustrasi karena rencananya gagal total. ​Setelah napasnya mulai teratur, Aurelia menatap Aiden dengan penuh rasa terima kasih yang mendalam. “Pak, terima kasih banyak sudah menolong saya.” ​Aiden melirik Aurelia yang sedang menyeka keringat di wajahnya dengan tisu. “Siapa laki-laki tadi?” ​”Mantan tunangan saya, Pak.” ​”Apa yang dia inginkan?” ​”Sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya penuhi lagi,” jawab Aurelia datar, matanya menatap ke luar jendela. ​Aiden tidak bertanya lebih jauh. Ia merasa tidak sopan untuk mengorek kehidupan pribadi karyawannya, meski pertunangan yang rusak itu pasti meninggalkan luka yang dalam. “Aurelia, temani aku minum kopi. Niatku membeli kopi tadi gagal gara-gara harus menolongmu.” ​Aurelia tersenyum tipis, merasa sedikit lega. “Bolehkah saya yang traktir sebagai tanda terima kasih?” ​Aiden tertawa kecil, mengarahkan mobil ke kafe yang lebih mewah di pusat kota. “Simpan uangmu, nanti saja kalau aku yang meminta.” ​Mereka duduk di teras belakang kafe yang tenang dan asri. Aiden memesan kopi hitam pahit, sementara Aurelia menyesap es lemon tea. Untuk beberapa saat, mereka terdiam menikmati suasana sore. Aurelia merasa nyaman, duduk berdua dengan Direktur Utama sebuah perusahaan multinasional tanpa perlu sok akrab. ​”Aurelia, kenapa kamu belum menyerahkan revisi proposal? Aku menolak draf dari timmu karena aku ingin kamu yang melakukan presentasi langsung,” tanya Aiden memecah keheningan. ​Aurelia menggigit bibir, bingung harus mulai dari mana. Ia tidak ingin mengecewakan Aiden, tapi kenyataan harus diungkap. “Pak, maafkan saya. Tapi saya sudah resign beberapa minggu lalu. Kakek saya meninggal, dan saya memutuskan berhenti dari perusahaan.” ​Aiden menatapnya dengan raut menyesal. “Turut berduka cita. Pasti kalian sangat dekat?” ​”Dia satu-satunya orang tua saya. Sekarang, saya benar-benar sebatang kara,” ujar Aurelia dengan suara bergetar menahan tangis. ​Aiden membiarkannya tenang, menghargai kejujuran Aurelia. “Kamu nggak ada rencana untuk pindah kerja?” ​”Ada, Pak. Tapi saya masih butuh waktu untuk memulihkan diri.” ​”Kenapa? Apa karena ingin mengubah pola hidup ini?” Aiden menunjuk penampilan Aurelia yang berubah. “Kamu terlihat lebih segar dan bersemangat, itu bagus. Tapi kamu bisa melakukannya sambil bekerja.” ​”Masalahnya, saya belum berani mengambil barang-barang di kantor. Mantan tunangan saya berselingkuh dengan sahabat sekaligus rekan setim saya. Saya nggak sanggup harus melihat mereka setiap hari,” jujur Aurelia. Ia tidak menyangka dirinya bisa senekat itu mencurahkan isi hati pada Aiden, tapi pria itu mendengarkannya dengan tulus, tanpa penghakiman. ​Aiden terdiam sejenak, lalu mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Aurelia. “Aku mengerti. Hidup harus tetap berjalan, Aurelia. Kalau kamu sudah siap untuk bekerja lagi, hubungi aku.” ​Aurelia menerima kartu itu dengan bingung. “Maksud Bapak, Anda ingin memberikan saya pekerjaan?” ​”Aku sedang merencanakan perusahaan baru. Aku rasa kamu akan mendapatkan posisi yang cocok di sana.” ​Mata Aurelia berbinar. Setelah duka bertubi-tubi, sebuah cahaya harapan akhirnya datang dari tempat yang tidak disangka. “Pak, terima kasih banyak! Untuk tawaran ini, dan untuk waktu Anda mendengarkan saya. Ini lebih berharga daripada apa pun.” ​Aiden menatap Aurelia yang kini tampak lebih bersinar, sementara pikirannya sendiri mulai dipenuhi dengan rencana baru yang melibatkan wanita di depannya ini. Sore itu, di antara riuh pengunjung, mereka menghabiskan waktu dengan obrolan yang jauh lebih akrab dan hangat dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD