BAB 12

1410 Words
Di atas ranjang berukuran king size yang berantakan itu, dua tubuh menyatu dalam gelora yang membakar. Napas Amora memburu, memecah kesunyian kamar yang pengap oleh aroma parfum mewah bercampur keringat. Tubuhnya menegang hebat mengikuti setiap gerakan Raffan yang semakin intens dan menuntut. Jemarinya mencengkeram sprei sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih, sementara bibirnya melenguh pelan saat sensasi demi sensasi menghantam syarafnya. Dalam diam, jauh di lubuk hatinya, Amora mengakui bahwa meski ia benci pada banyak hal dalam hidupnya, ia tak bisa memungkiri betapa ahlinya Raffan dalam memuaskan hasratnya. Pria itu tahu persis titik mana yang harus disentuh untuk membuatnya kehilangan kendali. “Amora... suaramu serak sekali,” bisik Raffan parau, seraya menatap tubuh Amora dengan pandangan yang kabur oleh gairah yang memuncak. “Kamu suka ini, kan? Katakan padaku, apa kamu menyukainya?” Amora tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh dengan kepercayaan diri yang angkuh. Ia menggigit bibir bawahnya lalu mendesah panjang, membiarkan suaranya memenuhi ruangan. “Kenapa masih tanya, Sayang? Kamu tahu jawabannya. Jangan banyak bicara, puaskan aku sekarang.” Raffan tak membuang waktu. Ia merengkuh tubuh Amora dengan gerakan yang cepat dan penuh tuntutan. Irama mereka liar, tanpa kompromi—bukan tentang kelembutan atau romansa, melainkan ledakan hasrat yang menggebu. Amora tidak mendambakan belaian manis atau kata-kata cinta yang membosankan; ia justru menginginkan ritme yang kasar, panas, dan memabukkan, seperti dua arus laut yang bertubrukan hebat di tengah badai tanpa kendali. “Panas sekali, Amora... kamu luar biasa!” erang Raffan, suaranya terdengar seperti raungan puas. Raffan membalikkan tubuh Amora ke posisi yang lebih menantang. Genggamannya pada bahu Amora begitu erat, meninggalkan bekas kemerahan seolah ingin memberi tanda kepemilikan yang mutlak. Tubuh Amora terayun mengikuti ritme yang semakin dalam, suara lirihnya pecah di tengah ruangan yang dipenuhi napas memburu. Setiap hentakan Raffan tak membuatnya mengeluh, justru semakin memicu gairah yang sudah di ubun-ubun. Bagi Amora, menyatu dengan Raffan adalah pelampiasan paling jujur atas segala ambisi dan rasa kosong di hatinya. Saat bibir mereka bertemu dalam ciuman yang dalam dan sarat akan nafsu, pikiran Amora sekilas melayang pada ucapan Aurelia dulu—tentang bagaimana Raffan tak pernah menyentuhnya sedekat dan seintens ini. Sebuah senyum kemenangan tipis terukir di wajah Amora. Dalam hatinya, ia merasa superior. Tak ada pria waras yang bisa berpaling dari pesonanya. Ia tahu betul Aurelia hanyalah perempuan naif yang tidak sadar bahwa ia sedang dimanipulasi; Aurelia adalah alat, sementara ia adalah pemenangnya. "Aaargh!" Raffan mencapai puncaknya dengan desahan tajam yang panjang, lalu tubuhnya jatuh lemas di atas punggung Amora. Keduanya terbaring dalam hening yang berat, kulit mereka basah oleh keringat dengan napas yang masih tersengal-sengal mencari oksigen. Perlahan, Amora bangkit, mencoba mengatur kembali sisa kesadarannya. Ia melangkah tertatih ke sisi tempat tidur, menyalakan sebatang rokok, dan mengembuskan asapnya ke udara. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, berusaha meredakan ketegangan yang masih tersisa. “Kenapa kamu kelihatan galau? Tumben sekali,” tanya Raffan sambil menatap Amora yang tampak murung di balik kepulan asap. “Si gendut itu mengirim pesan di grup kantor setelah berhari-hari hilang,” jawab Amora sinis, suaranya setajam silet. Raffan bangkit dan bersandar pada kepala ranjang, alisnya bertaut. “Apa katanya? Masih berani bicara dia?” “Dia resign.” Raffan tertegun, matanya melebar. “Apa? Resign? Kamu tidak bercanda, kan?” Amora mengangguk kasar, abu rokoknya jatuh ke lantai. “Iya, dia benar-benar berhenti. Sialan! Padahal kita baru saja dapat klien besar. Dia tahu persis kamu butuh dia untuk revisi dan eksekusi teknis, tapi dia pergi begitu saja dengan kurang ajar tanpa pamit!” Raffan terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi tersebut. “Aneh sekali. Setahu aku, Aurelia itu tipe penakut. Dia pengecut yang akan melakukan apa saja demi mempertahankan pekerjaannya. Meski sedang kesal, dia nggak akan berani mundur dari perusahaan. Apa yang membuat dia tiba-tiba berani mengambil keputusan itu?” “Nggak ada yang tahu. Dia pergi begitu saja, barang-barangnya masih tertinggal di meja. Sisa gajinya bahkan belum dia ambil. Manajer sudah mencoba membujuknya, tapi dia tidak membalas apa pun. Babi sialan itu benar-benar cari masalah denganku!” Raffan mengusap rambut Amora yang lembap karena keringat. Amora tampak sangat kesal, merusak suasana yang seharusnya intim setelah percintaan mereka tadi. “Bukankah kalau dia keluar, itu bagus untuk kamu? Saingan kamu berkurang, kan? Kamu bisa lebih bersinar.” Amora mendesah panjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. “Dia bukan cuma batu sandungan, tapi justru dia 'otak' di balik kesuksesan kita selama ini. Semua presentasi dia yang kerjakan, dan aku yang mengambil kreditnya. Biasanya cara ini berhasil sempurna, tapi sialnya, klien Real Food hanya mau Aurelia yang presentasi. Sekarang, kita semua di ujung tanduk kalau tidak bisa menemukan penggantinya.” Raffan akhirnya mengerti. Secara fisik, Amora memang mempesona dan memiliki daya tarik luar biasa, tapi soal kecerdasan dan kreativitas, Aurelia memang tidak tertandingi. Raffan menyukai Amora, tapi ia juga mengakui otak Aurelia yang cemerlang. Hanya saja, bentuk tubuh Aurelia selalu membuatnya merasa risih untuk bersanding dengannya di depan umum. Cinta memang tidak pernah tumbuh di hatinya untuk wanita itu, namun ia butuh otak Aurelia untuk menunjang gaya hidupnya. “Kamu mau aku cari tahu di mana keberadaan Aurelia?” tawar Raffan. Amora menoleh cepat, tatapannya menyalang. “Boleh. Kalau perlu, bujuk dia untuk kembali. Kamu bisa, kan?” “Tentu saja. Mudah sekali. Aku yakin dia masih punya perasaan padaku. Dia terlalu lemah untuk membenciku.” “Wah, terima kasih, Sayang,” Amora tersenyum puas, kali ini jauh lebih tenang. “Tentu saja tidak gratis, Amora. Kamu tahu itu.” Raffan menatapnya nakal. Amora mematikan rokoknya, lalu mengusap kejantanan Raffan yang mulai menunjukkan reaksi kembali. “Dengan apa?” “Kamu tahu jawabannya, Sayang.” Raffan menarik tubuh Amora dengan lembut, membimbingnya hingga berlutut di hadapannya. Ia terpejam, membiarkan dirinya tenggelam kembali dalam keintiman yang kotor. Baginya, Aurelia hanyalah bidak catur yang harus dimanipulasi agar dunia yang ia bangun bersama Amora tetap utuh dan mapan. Sementara itu, Lucian mondar-mandir di depan area gym yang megah. Ia baru saja mendaftar keanggotaan dan memastikan tempat itu cukup layak, bersih, dan privat untuk Aurelia berolahraga tanpa harus merasa dihakimi orang lain. Ia baru saja mengirim pesan pada Aurelia, berjanji untuk bertemu di sini. Lucian merasa senang bisa membantu Aurelia, terutama setelah melihat bagaimana wanita itu dihantam berbagai masalah hidup yang bertubi-tubi. Selama ini, Lucian merasa hidup tanpa tujuan. Mentalnya lelah menghadapi pertengkaran tiada akhir dengan ayahnya di rumah. Hubungan mereka sudah seperti bom waktu. Terakhir, mereka bahkan hampir baku hantam kalau saja kepala pelayan tidak segera melerai dengan panik. Baginya, membantu Aurelia adalah pelarian dari rumah yang tidak pernah terasa seperti rumah. Saat sedang menunggu di pinggir jalan, pandangan Lucian menangkap sosok yang familier keluar dari minimarket. Seorang gadis memakai kacamata tebal, training biru yang sudah pudar, dan sandal jepit. Ia sama sekali tidak memakai make-up. Meski penampilannya jauh berbeda, Lucian mengenalinya seketika sebagai teman masa sekolahnya dulu. Ia segera menghampirinya. “Rachel, ini beneran elo?” Gadis itu terlonjak kaget hingga es krim di tangannya jatuh ke trotoar. “Bu-bukan,” jawabnya terbata dengan suara bergetar. Lucian memicingkan mata, menatap lekat. “Ah, bener kok. Elo Rachel! Biarpun lo nggak dandan kayak dulu, gue tetap bisa ngenalin mata itu.” Rachel memucat. Ia panik, tak menyangka akan bertemu teman sekolahnya di tempat seperti ini, apalagi Lucian yang cukup populer di sekolah dulu. Ia mencoba menunduk dan menghindar, tapi Lucian meraih lengannya. “Hei, kenapa kabur, sih? Gue nggak jahat!” “Lepasin!” “Lucian? Ada apa?” suara Aurelia muncul tiba-tiba dari belakang. Lucian segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Rachel yang langsung lari terbirit-b***t menjauh. “Siapa tadi?” tanya Aurelia heran sambil menatap punggung gadis yang menghilang itu. “Teman sekolah, Kak.” “Kenapa dia takut banget sama kamu?” Lucian mengangkat bahu, merasa risih. “Nggak tahu. Cewek itu emang aneh sejak dulu.” Ia kemudian menatap Aurelia dari atas ke bawah dan berseru ceria, mencoba mencairkan suasana. “Kaaak, lo kurusan? Wajah lo kelihatan lebih segar!” Aurelia terkekeh, meski masih canggung dengan perubahan dirinya. “Iya, makanya aku minta bantuan kamu cari tempat gym ini. Menurut kamu, tempatnya recommended?” “Iya, ayo kita masuk! Aku sudah bayar biaya daftar untuk kita berdua!” Mereka pun melangkah masuk ke dalam gym, tanpa menyadari ada tatapan heran dan penuh tanda tanya yang mengarah dari gadis berkacamata yang sedang bersembunyi di balik tiang lampu jalanan jauh di seberang sana. “Siapa cewek itu? Kenapa dia bersama Lucian?” gumam Rachel pelan, tangannya gemetar memikirkan pertemuan tak terduga ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD