BAB 11

1268 Words
Selama dua puluh enam tahun hidupnya, Aurelia tidak pernah merasakan beban seberat ini. Bahkan saat kedua orang tuanya pergi untuk selamanya akibat kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu, ia masih memiliki Kakek—satu-satunya jangkar yang menjaga hidupnya tetap stabil. Beliau bukan sekadar pemberi kasih sayang, melainkan sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang rela mencurahkan seluruh tenaga, waktu, dan setiap sen hasil keringatnya demi masa depan Aurelia. Beliau banting tulang dari fajar hingga senja, mengabdi di kantor pemerintahan dengan gaji yang tak seberapa, hanya agar cucunya bisa mengenyam pendidikan tinggi dan tidak perlu merasakan pahitnya hidup seperti dirinya. Lucunya, selama Aurelia bekerja di kota, ia selalu menyisihkan setengah gajinya untuk sang Kakek. Harapannya sederhana: membantu meringankan beban hidup beliau yang sudah renta. Namun, siapa sangka, Kakek justru tidak pernah menyentuh uang itu. Beliau menabung setiap rupiah pemberian cucunya, dan kini, saat beliau tiada, uang itu dikembalikan dalam bentuk simpanan yang cukup besar. Sebuah bukti cinta yang membuat d**a Aurelia sesak oleh penyesalan. Aurelia tiba di kampung halaman tepat di detik-detik terakhir pemakaman. Langit tampak mendung, seolah turut berduka atas kepergian pria yang paling dicintainya. Sepanjang hari, dunianya benar-benar runtuh. Ia meratap, menangis histeris hingga suaranya serak saat melihat peti sang Kakek perlahan diturunkan ke liang lahat. Saat tanah mulai menimbun peti itu, Aurelia merasa separuh jiwanya ikut terkubur di sana. Ia benar-benar ingin ikut terjun ke dalam lubang itu; dengan begitu, ia tidak perlu lagi menghadapi dunia yang begitu kejam dan penuh pengkhianatan ini seorang diri. Setelah pemakaman, kerabatnya bercerita banyak hal tentang sang Kakek. Mereka bilang, setiap kali Kakek mengobrol dengan tetangga, beliau selalu membanggakan Aurelia. Beliau memuji betapa pintar, mandiri, dan dewasanya cucu kesayangannya itu. Saat kerabatnya menyerahkan barang peninggalan Kakek—termasuk buku tabungan yang ternyata isinya jauh lebih banyak dari yang ia bayangkan—hatinya semakin hancur. "Kakekmu punya uang pensiun, Aurel. Jadi, uang yang kamu kirim dulu itu semuanya beliau tabung. Beliau tidak pernah memakainya. Beliau benar-benar sangat menyayangimu," ucap salah satu kerabat dengan nada haru sambil mengusap pundak Aurelia. Hari itu, Aurelia tidak berhenti terisak. Ia menghabiskan waktu dengan meratap di atas pusara, menangis di kamar tua sang Kakek yang masih menyisakan aroma kayu cendana, hingga tersengal-sengal saat menggenggam buku tabungan itu. Hidupnya seketika terasa hampa. Ia teringat masa kecilnya; saat ia dititipkan ke saudara ketika siang hari dan Kakek akan menjemputnya tepat setelah pulang kerja. Malam harinya, mereka akan makan bersama sambil mengobrol ringan. Kakek bukan hanya pelindung, tapi juga guru terbaiknya. Semua tugas sekolah yang sulit selalu terasa ringan berkat bimbingan beliau yang sabar. "Aurelia, kamu itu gadis yang pintar," suara Kakek seolah terngiang di telinganya, sejelas saat beliau masih hidup. "Kalau nanti Kakek ada rezeki, kamu harus sekolah setinggi mungkin. Jadi apa pun yang kamu mau, kejarlah cita-citamu sampai ke langit. Jangan takut pada siapa pun." Kenangan itu terus berputar saat ia diterima di kampus bergengsi. Meskipun mereka harus tinggal berjauhan, Kakek tidak pernah keberatan. Setiap bulan, beliau pasti menyempatkan diri datang menjenguk, membawakan banyak makanan dan uang saku meski harus naik bus berjam-jam. "Makan yang banyak, ya? Jangan sampai sakit. Sesekali keluarlah bersama teman-temanmu, jangan cuma mengurung diri di kamar," pesannya saat itu dengan senyum tulus yang kini hanya bisa Aurelia lihat di foto. Aurelia pun menuruti saran sang Kakek. Ia mulai membuka diri dan populer karena dikenal pintar dan cantik—waktu itu tubuhnya masih langsing. Hingga pada tahun ketiga, ia bertemu Amora. Awalnya, mereka dekat karena sebuah pemilihan mahasiswi idaman di kampus. Amora mulai masuk ke hidupnya, sering memanjakannya dengan makanan enak dan traktiran mewah. Hingga tanpa sadar, gaya hidup itulah yang mengubah Aurelia sampai berat badannya naik drastis dan popularitasnya perlahan direbut oleh Amora. Ia merasa dikhianati oleh ingatannya sendiri. Mengenang masa itu sambil memeluk pakaian peninggalan Kakek membuat air mata Aurelia kembali tumpah. Kerabatnya terus memintanya untuk tabah, tapi bagaimana mungkin ia bisa tenang jika hatinya baru saja hancur berkeping-keping? Selama lima hari, Aurelia mengurung diri di kamar. Nafsu makannya hilang, setiap melihat masakan ia merasa mual. Asmanya kambuh terus-menerus hingga pada hari kelima, ia ambruk karena kelelahan. Berat badannya turun lima kilo, wajahnya sepucat kertas, hingga ia terpaksa dilarikan ke dokter untuk diinfus. "Kamu boleh saja ingin diet, tapi lakukan dengan cara yang benar," nasihat dokter wanita yang merupakan tetangganya itu. "Untuk apa menyiksa diri demi tubuh ideal kalau kita melakukannya dengan menderita? Lagipula, kamu pikir Kakekmu akan senang melihat cucu kesayangannya menyiksa diri sampai sakit seperti ini?" Aurelia terdiam, air matanya menetes lagi. Dokter Dina, wanita berumur lima puluhan yang lembut itu, menatapnya dengan penuh pengertian. "Saya mengerti rasanya kehilangan, Aurel. Tiga tahun lalu saya kehilangan suami saya. Orang yang meninggal hanya menyisakan kenangan, tapi kita yang hidup harus terus berjalan. Kamu masih muda, Kakek tidak akan tenang di sana melihatmu menyiksa diri seperti ini." Nasihat itu menjadi titik balik bagi Aurelia. Hari-hari berikutnya, ia sering mengunjungi ruang kerja Dokter Dina untuk berbagi cerita. "Teman-teman kantormu itu terlalu mengandalkanmu," ujar Dokter Dina suatu sore. "Kamu terlalu baik sampai tidak bisa menolak. Mereka iri dengan kepintaranmu, itulah kenapa mereka memanfaatkan keluguanmu." Aurelia menyeka air matanya. "Mereka bukan cuma manfaatin saya, Dok. Mereka benci saya. Dan yang paling sakit, sahabat yang saya percaya justru tidur dengan tunangan saya." "Benarkah dia sahabat?" Dokter Dina tertawa sinis. "Coba buka ponselmu. Aku yakin, di balik makian mereka, pasti ada permohonan bantuan." Aurelia membuka ponselnya dengan tangan gemetar. Benar saja, ada rentetan pesan dari Joel, Zara, dan Tristan yang memintanya masuk kerja karena mereka panik dengan proyek Real Food. Lalu, ada pesan dari Amora: "Lo nggak masuk kantor karena marah ama gue? Merasa hebat? Harusnya lo tahu, sedari dulu gue yang selalu diandalkan buat presentasi, bukan lo! Aurelia, sadar diri, dong. Dengan tubuh lo yang gendut dan kucel, mana ada perusahaan yang mau nerima lo presentasi? Tapi gue kasih lo kesempatan. Cepat masuk kerja, gue janji nggak akan ngadu ke HRD." Dokter Dina mengernyit. "Kamu bilang dia sahabat? Dia itu ular yang kamu pelihara sendiri, Aurel. Dia memanipulasi keadaan agar kamu selalu mengalah." "Lantas, saya harus bagaimana?" tanya Aurelia lirih. "Lawan! Tunjukkan kalau kamu jauh lebih hebat tanpa dia. Tapi ingat, kamu harus mulai dari membenahi dirimu sendiri. Kalau kamu terus membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirimu, selamanya kamu hanya akan jadi anak tangga bagi mereka." Aurelia akhirnya mengerti. Ia menerima resep dari Dokter Dina—bukan hanya obat, tapi rencana perubahan pola hidup. Ia berjanji akan bangkit sebagai versi terbaik dari dirinya sendiri. Sebelum kembali ke kota, Aurelia memberi kabar kepada Lucian yang sedari tadi mencemaskannya. "Lucian, aku baik-baik saja. Aku akan kembali minggu depan. Ngomong-ngomong, kamu tahu tempat gym yang bagus di dekat rumahku?" Lucian menjawab dengan antusias, "Aku akan cari tahu, Kak! Aku jemput di terminal ya nanti?" Aurelia menolak dengan halus. Ia merasa sudah waktunya untuk mandiri. Sebelum benar-benar kembali, ia melakukan satu hal yang sudah lama ingin ia lakukan: keluar dari grup kantor. Setelah itu, ia mengirim surat pengunduran diri resmi kepada HRD. Ia tidak peduli lagi pada cacian atau tuduhan pengecut. Baginya, ketenangan mental adalah harga mati. "Kek, aku akan kembali ke kota demi masa depanku. Maaf ya, aku nggak bisa menemani Kakek saat sakit," bisiknya di pusara sebelum pergi. Di dalam bus yang melaju membelah malam, ponselnya terus bergetar. Pesan terakhir dari Amora berbunyi: "b******k! Kenapa lo pergi gitu aja? Eh, gendut! Balik lo sini!" Aurelia menatap pesan itu lekat-lekat. Ia tidak menghapusnya. Ia justru menjadikannya cambukan. Lihat saja nanti, Amora. Kamu akan membayar mahal atas semua perbuatanmu padaku. Ia mematikan ponselnya, memejamkan mata, dan bersiap menyambut babak baru dalam hidupnya yang tidak lagi dikendalikan oleh orang lain. Ia akan membuktikan bahwa harimau yang dulu dianggap lemah, kini telah siap untuk menerkam balik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD