Aurelia duduk sendirian di pojok restoran cepat saji yang riuh. Di depannya, meja itu tampak menyesakkan dengan tumpukan makanan yang sama sekali tidak mencerminkan porsi konsumsi satu orang: tiga potong ayam goreng besar, dua burger double cheese yang luber, kentang goreng berukuran jumbo, serta dua gelas besar minuman bersoda. Seolah-olah ia sedang mencoba mengisi kekosongan jiwanya dengan kalori, Aurelia terus mengunyah potongan ayam itu dengan rakus, menelannya nyaris tanpa dikunyah, seakan ia sedang berada di ambang kelaparan yang menyiksa.
Padahal, secara fisik perutnya sudah menjerit minta berhenti, namun ada lubang hitam di hatinya yang terus menuntut untuk diisi. Ia kabur dari kantor lebih awal, meninggalkan tumpukan berkas dan tatapan menghina rekan-rekannya. Suasana hatinya sudah hancur lebur sejak pagi, dan ketidakadilan yang ia terima di kantor hari ini menjadi puncak gunung es dari segala kemuakan yang ia pendam. Pekerjaan yang ia susun dengan riset mendalam dirampas, namanya dihapus, dan martabatnya diinjak-injak hanya karena standar fisik yang tidak masuk akal. Akhirnya, ia menyerah. Ia memilih untuk lari, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan yang dibungkus dengan aroma minyak goreng dan kalori berlebih.
Di tengah kesendirian dan kegilaan makannya, seorang remaja berseragam sekolah putih-abu-abu muncul, berdiri ragu di depannya.
"Kak Aurelia?"
Aurelia mendongak, matanya yang sembab mencoba memfokuskan pandangan. Saat mengenali sosok di depannya, ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang justru terlihat lebih menyedihkan daripada menangis. "Lucian, duduklah! Ayo, makan. Maaf ya, aku minta kamu datang dadakan begini."
Lucian mengernyit heran, menatap tumpukan makanan yang seolah menyambut perang. Ia meletakkan tas sekolahnya di kursi kosong lalu duduk di hadapan Aurelia. Tanpa bertanya lebih jauh, ia menerima burger dan kentang yang disodorkan Aurelia. Ia tahu, saat ini Aurelia tidak membutuhkan pertanyaan, tapi kehadiran.
"Ulang tahun ya, Kak?" tanya Lucian hati-hati sembari mencicipi kentang yang mulai dingin.
Aurelia menggeleng pelan, kuncir kuda di rambutnya bergoyang malas. "Enggak, ulang tahunku masih beberapa bulan lagi."
"Oh, terus merayakan apa ini? Tumben banget porsinya begini."
Aurelia terdiam sejenak, menatap gelas sodanya yang berembun. "Merayakan kesedihan dan kesialanku sendiri," jawabnya getir. "Barangkali kalau aku makan sampai kenyang, semua kesialan yang menumpuk di pundakku ini akan ikut hilang tertelan."
Seolah menemukan dermaga untuk melabuhkan segala sesak, Aurelia mulai menumpahkan isi hatinya. Ia bercerita tentang proposal iklannya yang dicuri, tentang bagaimana Joel dan Amora bersekongkol di belakang punggungnya, hingga bagaimana Firman—sang Direktur—dengan entengnya mengatakan bahwa ia tidak cukup layak secara fisik untuk tampil di depan klien. Ia merasa begitu miris menyadari bahwa di dunia yang luas ini, ia merasa benar-benar sendiri. Tak ada bahu untuk bersandar, tak ada suara yang membela. Untunglah ada Lucian, satu-satunya orang yang mungkin masih melihat Aurelia sebagai manusia, bukan sebagai objek yang bisa disingkirkan.
"Maaf ya, Lucian. Harusnya kita ketemu Minggu depan, malah aku majuin. Malah sekarang kamu jadi harus dengerin curhatanku yang nggak enak ini."
Aurelia mengelap mulutnya dengan tisu setelah menghabiskan potongan ayam keempatnya. Meski perutnya sudah terasa penuh dan mual, ia merasa rasa lapar itu masih menghantui. Ia meneguk sodanya hingga tersisa setengah, merasakan sensasi gas yang membakar tenggorokannya.
"Kakak marah sama mereka? Sudah dilampiaskan?" tanya Lucian pelan.
"Percuma, Lucian. Semua orang di kantor tutup telinga. Bayangkan, aku yang kerja siang malam, melakukan riset, menyempurnakan strategi, sementara mereka yang mencuri kreditnya. Alasannya? Karena aku nggak cukup cantik dan terlalu gemuk untuk tampil di depan klien Real Food. Memang kalau aku gemuk, aku bukan manusia? Memangnya isi otakku nggak ada harganya?" Aurelia menatap Lucian tajam, matanya yang mulai berkaca-kaca menuntut jawaban. "Menurutmu, aku sehina itu ya sebagai manusia?"
Lucian menggeleng tegas, tatapannya tulus. "Enggak, Kak. Kakak itu hebat. Aku tahu seberapa keras Kakak berjuang."
"Hebat apanya, Lucian? Kalau hebat, aku nggak akan membiarkan mereka menginjak-injak harga diriku seperti ini. Aku merasa gagal menjadi diriku sendiri."
Tiba-tiba, ponsel Aurelia berdering nyaring di atas meja. Nama Joel muncul di layar. Aurelia hanya meliriknya dengan tatapan jijik, membiarkan panggilan itu berlalu. Tak lama kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini, nama kontak "Cantikku" muncul. Amora. Aurelia mendengus muak; ia berencana mengubah nama itu menjadi "Si Binal" segera setelah ini. Amora benar-benar pantas mendapatkannya.
"Dia bukan cuma ambil tunanganku, Lucian, tapi juga pekerjaanku. Padahal selama ini aku baik sekali padanya."
Hati Lucian terasa perih. Ia teringat momen perselingkuhan yang dulu mereka pergoki. Beban Aurelia begitu berat karena harus berurusan dengan orang-orang yang wajahnya harus ia temui setiap hari di kantor.
"Mungkin selama ini dia cuma memanfaatkan kebaikan Kakak saja," saran Lucian bijak.
Aurelia mengangguk setuju. "Benar juga. Dulu dia cuma admin perusahaan kecil dengan nilai yang buruk. Aku yang menariknya masuk ke perusahaan ini, aku yang membimbingnya dari nol. Ibarat memelihara anak harimau, sekarang tanganku sendiri yang digigit."
"Orang bilang, binatang saja nggak bakal gigit orang yang kasih dia makan," sahut Lucian prihatin.
"Nah, itu dia. Rupanya aku memang salah pelihara harimau."
Ponsel Aurelia kembali berdering, kali ini panggilan dari Direktur. Aurelia tidak punya pilihan. Ia menyalakan pengeras suara.
"Aurelia, kamu di mana?" suara Firman terdengar penuh tekanan, tidak sabar.
"Di luar, Pak!" jawab Aurelia datar.
"Kenapa berani keluar saat jam kerja? Kita harus meeting sekarang!"
"Maaf, Pak. Waktunya nggak cukup untuk kembali."
"Kalau begitu besok pagi. Ingat, rapat di ruanganku. Ini menyangkut masa depan iklan PT. Real Food!"
Panggilan dimatikan secara sepihak. Aurelia menutup ponselnya, lalu tiba-tiba rasa mual yang sedari tadi ia tahan meledak. Ia bangkit dengan terburu-buru, meninggalkan sisa makanannya. "Lucian, aku ke kamar mandi sebentar."
Di dalam toilet, ia memuntahkan semua makanan yang tadi ia lahap hingga perutnya terasa kosong melompong. Napasnya memburu, asmanya kambuh lagi karena tekanan batin yang luar biasa. Ia sudah dua kali mengalami serangan ini dalam satu hari.
"Nggak apa-apa, Kak?" tanya Lucian khawatir saat Aurelia kembali dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
"Cuma kebanyakan makan," elak Aurelia lemah.
"Muntah?"
"Iya, semuanya keluar. Maaf ya, Lucian."
Lucian menggeleng pelan. "Kakak nggak salah sama aku. Kantor lagi ada masalah, ya?"
"Begitulah. Setelah mereka mencuri proposalku, sekarang mereka panik dan memintaku memperbaikinya. Kenapa orang-orang itu kejam sekali padaku?" Aurelia merintih, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia berharap vertigo tidak menyerangnya di tempat umum ini.
Tiba-tiba, ponselnya berdering lagi. Kali ini dari kerabatnya di kampung. Firasat buruk langsung menyergap.
"Kak, ada kabar soal Kakek?"
"Aurelia... bisa pulang sekarang? Kakek kritis. Keadaannya memburuk drastis."
Dunia Aurelia seakan runtuh seketika. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. "Lucian, aku harus pulang kampung sekarang. Aku minta maaf nggak bisa nemani kamu sampai selesai."
"Aku antar ke terminal!" tawar Lucian sigap. "Aku bawa motor, biar lebih cepat!"
Aurelia tidak mampu menolak. Selama perjalanan menuju kontrakan, ia menangis sesenggukan di belakang punggung Lucian. Hidupnya terasa begitu kejam; pertunangan hancur, pekerjaan yang dicintai dirampas, dan sekarang kakek satu-satunya sedang berada di ambang maut. Angin malam menerpa wajahnya, menambah dinginnya luka di hati.
Setibanya di kontrakan, Lucian membantu Aurelia berkemas dengan sigap. "Kakak tenang dulu, tarik napas, lalu mandi. Aku tunggu di luar untuk antar ke terminal."
"Terima kasih, Lucian. Kamu baik sekali, padahal kita baru kenal."
"Kakak sudah menyelamatkan nyawaku. Ini sudah semestinya," jawab Lucian tulus.
Setelah sedikit tenang, Aurelia bergegas mandi dan berganti pakaian. Ia mengirim pesan di grup kantor bahwa ia akan cuti selama beberapa hari. Balasan yang ia terima sangat kejam dan tidak manusiawi. Aurelia tidak peduli. Ia membisukan semua notifikasi agar ocehan mereka tidak menghancurkan sisa kewarasannya.
Di terminal, Lucian membantu Aurelia hingga naik ke bus yang akan membawanya pulang. "Kak, baik-baik di jalan. Semoga Kakek cepat sembuh."
"Terima kasih, Lucian. Aku pasti kembali," janji Aurelia lirih.
Saat bus mulai bergerak perlahan meninggalkan terminal, ponsel Aurelia berdenting. Pesan dari Amora muncul dengan nada ancaman: "Gendut! Jangan coba-coba cuti besok. Kalau sampai nggak masuk, gue aduin ke HRD biar lo dipecat! Sekarang tahu kan kenapa Raffan nggak suka sama lo? Karena lo itu ngeselin!"
Aurelia menghapus pesan itu tanpa membacanya lebih jauh. Namun, sedetik kemudian, panggilan dari kerabatnya masuk. Kali ini, tidak ada lagi harapan.
"Aurelia... Kakek baru saja meninggal."
Di dalam bus yang melaju membelah kegelapan malam, Aurelia hanya bisa terdiam. Ia tidak lagi menangis, hanya menatap kosong ke luar jendela. Hidup, benar-benar terlalu kejam untuknya yang sebatang kara.