Aiden nyaris tidak punya waktu untuk bernapas siang itu. Klien demi klien datang silih berganti untuk membahas proyek dan kerja sama, sampai-sampai ia tidak sadar perutnya sudah melilit lapar. Baru saja klien kedua meninggalkan ruangannya, ia segera meminta sekretarisnya untuk memesan makanan. Sayangnya, baru satu suap masuk ke mulut, pintu ruangannya diketuk lagi. Kali ini, tamu yang datang adalah seseorang yang tidak bisa ia tolak.
Thalia muncul dengan setelan berwarna merah muda lembut. Rambut berponinya tertata rapi, penampilannya begitu memukau hingga orang awam mungkin mengira ia adalah seorang model papan atas, bukan pebisnis. Perempuan itu tersenyum tipis melihat Aiden yang masih memegang sumpit.
“Sandri bilang kamu lagi makan, tadinya aku takut mengganggu. Tapi ya ampun, sekretarismu itu lucu sekali,” ujar Thalia dengan nada yang terdengar sedikit menyindir, menyiratkan kekesalan karena sempat dihalangi untuk masuk.
Thalia meletakkan tas kulit hitamnya ke atas meja, lalu tanpa sungkan menghempaskan diri di kursi depan Aiden. “Kenapa makan sendirian? Harusnya kamu ajak aku makan bareng.”
Aiden mengunyah sushinya perlahan. “Aku lagi pengin sushi, dan kamu tahu sendiri kan, kamu nggak suka sushi.”
“Ya, lagipula kalori sushi terlalu tinggi. Bisa bikin gemuk,” sahut Thalia acuh tak acuh.
“Ya sudah, berarti memang nggak bisa makan siang bareng, kan?” jawab Aiden santai.
Thalia mendengus kesal. Ia datang jauh-jauh ke sini di tengah kesibukannya hanya untuk menemui Aiden, tapi sambutan yang ia terima malah terasa dingin. Sikap sekretaris yang sok penting tadi, ditambah ketidakpedulian Aiden, benar-benar menguji kesabarannya.
“Kamu nggak perlu seketus itu, Aiden,” protesnya.
Aiden menatap kekasihnya sejenak, lalu mencoba melunakkan suaranya. “Maaf. Aku lagi banyak pikiran hari ini.”
Thalia menghela napas panjang, amarahnya perlahan mereda. Ia menatap kotak sushi yang kini kosong. Sedikit lega melihat kekasihnya akhirnya bisa makan, meski terlambat. “Kita sudah lama nggak ketemu, lho. Telepon pun jarang.”
“Waktu kita memang susah sekali dikondisikan,” dalih Aiden.
“Memang. Apalagi sekarang, anakmu itu sering sekali bikin masalah, ya?”
Aiden mengangguk setuju. Ia memang sering kehabisan sabar menghadapi Lucian. Pertengkaran mereka akhir-akhir ini benar-benar menyita waktu dan energinya. “Namanya juga remaja. Suka memberontak dan membantah itu sudah biasa. Kita dulu waktu seumur dia juga sama saja.”
Pembelaan Aiden membuat Thalia tidak puas. Ia ingin menegaskan bahwa saat remaja, ia sangat serius belajar dan patuh pada orang tua. Disiplin itulah yang membuatnya sukses dan disegani di dunia bisnis saat ini. Menurutnya, Lucian seharusnya bisa mencontoh hal itu, mengingat ia lahir di keluarga kaya. Sayangnya, anak itu dianggapnya sudah tidak bisa diharapkan.
Apalagi, hubungan Thalia dan Lucian juga tidak pernah akrab. Lucian tahu Thalia adalah calon ibu tirinya, tapi setiap bertemu, anak itu hanya mengangguk kecil tanpa menyapa, lalu pergi secepat kilat. Bagi Thalia, menghadapi remaja seperti Lucian sangat melelahkan.
“Sayang, kapan kamu ke rumah? Orang tuaku ingin sekali mengajakmu makan malam,” tanya Thalia penuh harap.
Aiden terdiam sejenak, memikirkan jadwalnya yang sangat padat. Ia sudah menolak ajakan itu beberapa kali, dan kali ini ia merasa tidak sopan jika harus menolak lagi. “Aku usahakan Minggu depan. Bagaimana?”
“Memangnya Minggu ini kenapa?”
“Tim marketing sedang mengerjakan iklan sereal yang baru. Kamu tahu sendiri, sereal adalah produk andalan kita. Kali ini aku ingin turun tangan langsung untuk memastikan semuanya berjalan sempurna.”
Membahas soal iklan, ingatan Aiden tiba-tiba melayang pada Aurelia. Wajah pucat dan tatapan lelah gadis itu kembali terbayang. Aiden terkesan dengan bakat yang dimiliki Aurelia, meski ia merasa ada banyak kesedihan yang disembunyikan di balik senyum tipis gadis itu. Baginya, Aurelia mengingatkannya pada masa mudanya dulu; penuh semangat dan tekun. Ia sudah tidak sabar menunggu proposal lanjutan dari gadis itu.
“Aiden, kamu itu Dirut. Apa harus sampai turun tangan langsung ke hal teknis begitu?” tanya Thalia dengan nada meremehkan.
“Untuk yang satu ini, aku memang ingin terlibat sepenuhnya.”
Di bawah meja, jari-jemari Thalia mengepal kuat. Sikap Aiden yang keras kepala membuatnya cemas. Sudah satu tahun mereka menjalin kasih, dan Thalia merasa belum bisa sepenuhnya menaklukkan hati pria itu. Di usia 33 tahun dengan karier cemerlang, Thalia merasa ia adalah pasangan yang sempurna. Mengapa dalam hubungan ini, justru ia yang selalu merasa harus mengejar?
Thalia memilih untuk bersabar. Ia bangkit dari kursi, mendekati Aiden, lalu memeluknya mesra. Ia menyandarkan kepala di bahu Aiden, tersenyum saat merasakan tangan pria itu mengusap rambutnya.
“Aku mengalah kali ini, demi bisnis kamu. Tapi Minggu depan, tepati janjimu, ya,” bisik Thalia.
Aiden mengangguk. “Aku janji akan bertemu Papa dan Mama.”
Thalia cukup puas. Ia tidak akan membiarkan Aiden berkelit lagi, apa pun alasannya. Bahkan jika Lucian mencoba menghalangi, ia akan menyingkirkannya. Ia sudah menunggu lamaran selama setahun, dan ia bertekad untuk memastikan pernikahan ini terjadi, bagaimana pun caranya.
Sementara itu, di kantor, perselisihan antara Aurelia dan rekan setimnya menjadi gosip hangat. Terlebih lagi, keretakan persahabatan Aurelia dan Amora benar-benar mengejutkan semua orang. Banyak yang berspekulasi bahwa penyebabnya adalah perebutan inisiatif presentasi dengan PT. Real Food.
Teman-teman tim lebih memihak Amora, menganggap Aurelia terlalu ambisius dan sulit diajak bekerja sama. Amora, dengan wajah polos dan kemampuan manipulasinya yang lihai, tidak segan-segan mengumbar air mata di depan banyak orang.
“Gue sebenarnya ingin melakukan yang terbaik buat Aurelia. Bagaimanapun, kami kan bersahabat,” ujar Amora terisak. “Setelah gue sembuh, yang gue mau cuma kembali berteman baik, tapi Aurelia malah menolak.”
Aurelia hanya bisa memutar bola mata mendengar sandiwara itu. Ia mencoba tidak peduli, fokusnya hanya ingin merampungkan proposal untuk Aiden. Namun, mantan sahabatnya itu terus saja memancing keributan.
“Aurelia, nggak boleh gitu jadi orang. Sok amat! Kalau nggak ada Amora, lo nggak bakal punya teman di sini,” cela Zara sengit.
“Lebih baik gue nggak punya teman daripada punya teman kayak kalian,” tukas Aurelia dingin.
“Wah, sudah berani ya? Lo sadar nggak sih, selama ini Amora yang bikin lo punya kehidupan sosial? Ngajak jalan, belanja, senang-senang. Masih saja lo nggak tahu diri!”
“Zara, kalau menurut lo Amora itu teman yang sempurna, kenapa bukan lo saja yang akrab sama dia?” tantang Aurelia.
Zara terdiam, mulutnya terbuka tapi tidak bisa membantah. Ia sebenarnya enggan berurusan dengan sikap Amora yang selalu ingin diutamakan. Hanya Aurelia lah yang selama ini paling sabar menanggung beban itu, sampai akhirnya ia sadar dengan siapa ia berteman selama ini.
Ruang kerja yang terasa menyesakkan membuat Aurelia lebih banyak menghabiskan waktu di tangga darurat saat istirahat. Ia menikmati bekalnya sambil berkirim pesan dengan Lucian. Anak itu adalah hiburan baginya, dan mereka sudah berencana untuk makan bersama minggu depan.
“Lo di sini?”
Aurelia mendesah kasar melihat Amora yang melangkah turun ke arahnya. “Mau apa lagi sih?”
“Makan apa lo? Bawa bekal dari rumah? Palingan nasi uduk langganan lo yang murahan itu,” sindir Amora.
Aurelia tidak ingin terpancing. Ia merapikan kotak makannya, menyeka bibir, dan berniat pergi. Namun, Amora menahan jalannya.
“Hei, mau ke mana lo? Gue belum selesai ngomong!” sentak Amora dengan wajah merah padam. “Belagu banget ya lo sekarang. Lupa kalau kita temenan? Sengaja mau bikin gue malu di depan orang-orang? Lo merasa tersaingi, ya?”
Aurelia berhenti dan menoleh. Kali ini, ia tidak takut lagi. “Kenapa gue harus tersaingi sama lo? Jatuh harga diri gue kalau harus bersaing sama pelakor macam lo.”
Amora mendongakkan dagu angkuh. “Oh, jadi masih sakit hati soal Raffan? Salah sendiri kenapa jadi cewek gendut dan jelek! Mana mau Raffan, seorang manajer, punya pacar kayak lo!”
Aurelia memejamkan mata, berusaha menahan sesak di dadanya. “Gue nggak pernah ngejar Raffan duluan. Dia yang mendekati gue!”
“Lo yang kepedean! Raffan mendekati lo cuma karena dia ingin dekat sama gue!” Amora tertawa sinis. “Lo pikir Raffan cinta sama lo? Dia bahkan punya rencana selingkuh sama gue kalau terpaksa harus nikah sama lo!”
Aurelia menatap Amora dengan jijik. “Menjijikkan. Omongan lo benar-benar sampah.”
“Sorry, nyatanya Raffan memang tergila-gila sama tubuh gue. Dia juga bilang ke gue, dia jijik sama lo!”
“Lo yang perempuan sampah!” bentak Aurelia.
“Berani-beraninya lo maki gue! Lo nggak sadar ya, kalau nggak ada gue, nggak bakal ada orang yang mau dekat sama lo. Sudah gendut, bau, penyakitan pula!”
Darah Aurelia mendidih, tapi ia berusaha tetap tegar. Ia tidak boleh jatuh sekarang; ia tidak akan memberi kepuasan bagi Amora untuk melihatnya tersiksa. Dengan sisa tenaga, Aurelia segera menaiki tangga untuk menjauh dari Amora.
Begitu sampai di ujung tangga, ia membuka pintu dan bersandar di dinding sambil terengah-engah. Tangannya gemetar saat mengambil alat pereda asma. Aurelia sadar, ini baru permulaan. Teror Amora akan terus berlanjut, dan ia tidak punya pilihan lain selain melawan balik.