BAB 7

1484 Words
Suasana di area belakang sekolah siang itu cukup ramai oleh gerombolan siswa laki-laki. Mereka berkumpul dalam lingkaran kecil, asyik mengunyah camilan dan meneguk minuman kemasan sambil membahas rencana tawuran—lengkap dengan strategi agar aksi mereka tidak terendus pihak sekolah. Di antara kepulan asap rokok yang sesekali terlihat dan gelak tawa yang kasar, ketegangan justru terasa kental di udara. "Gila, ya. Bisa-bisanya mereka nyergap Lucian di luar sekolah kemarin. Kurang ajar banget," umpat salah satu dari mereka, matanya menyiratkan dendam yang membara. "Pengecut semua itu," sahut yang lain sembari memukul meja besi di dekatnya. "Kapan kita hajar balik? Gue udah muak banget, nih! Harus ada yang bayar mahal atas apa yang mereka lakuin ke Lucian." Lucian, yang duduk di tengah mereka, tampak tidak fokus. Ia hanya sesekali menangkap potongan percakapan itu karena perhatiannya tersita sepenuhnya pada ponsel di tangannya. Ia sudah berkali-kali mengirim pesan pada Aurelia, namun belum ada balasan. Ada rasa khawatir yang mengganjal di hatinya; ia cemas membayangkan kondisi perempuan yang telah menolongnya itu di tengah patah hati yang hebat. Ia tahu Aurelia sedang terluka, dan kesunyian dari ponselnya hanya menambah kecemasan Lucian. "Lucian! Lo dengerin nggak, sih?" bentak Sahid, membuyarkan lamunannya dengan kasar. Lucian tersentak. Ia mengacak rambutnya frustrasi, menyimpan ponsel ke dalam saku, lalu menyandarkan punggung ke kursi besi dengan kasar. Matanya menatap murid-murid lain yang berlalu-lalang di jam istirahat. Di saat teman-temannya sibuk menyusun rencana keributan, ia justru merasa sangat lelah. Dunianya sedang tidak baik-baik saja, bukan hanya soal musuh di sekolah, tapi juga tekanan di rumah. "Lagi pusing sama Bokap," gumam Lucian pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin. "Bokap lo ngamuk lagi?" tanya Sahid, nadanya berubah sedikit lebih rendah. Lucian mengangguk lemah, menatap lantai semen yang retak di bawah kakinya. "Dua hari lalu gue pulang babak belur, dia ngamuk besar. Habis itu gue dikasih hukuman berat." "Hukuman apa? Uang jajan lo disunat?" timpal Bian, si anak berwajah bulat yang biasanya selalu punya komentar sarkastik. "Ya gitu, plus jam malam. Anjrit, jam sembilan gue udah nggak boleh keluar kamar! Rasanya kayak dipenjara di rumah sendiri," keluh Lucian. "Bokap lo sadis juga ya," Sahid menimpali dengan nada simpatik. "Jangan-jangan kantornya lagi banyak masalah? Bukannya dia manajer? Bokap gue juga manajer, kerjaannya emang nggak habis-habis, bikin stres terus tiap hari." Lucian hanya diam. Ia tidak pernah mau bercerita terlalu dalam tentang ayahnya. Di sekolah yang isinya rata-rata anak orang kaya ini, ia memilih untuk bersikap sewajarnya, menutupi kehampaan di rumah dengan topeng kenakalan di sekolah. Baginya, sang ayah hanyalah orang asing yang membiayainya karena tuntutan tanggung jawab, bukan karena kasih sayang yang tulus. Ayahnya terlalu ambisius mengejar harta sampai lupa memiliki keluarga. Lucian merasa pria itu sama sekali tidak layak dibanggakan, meski bagi orang lain, jabatan manajer adalah sesuatu yang prestisius. "Jadi gimana rencana kita? Jadi balas dendam?" tanya Putu, anggota termuda di kelompok itu, sambil mengunyah permen dengan gelisah. "Lucian lagi dihukum, nanti kalau ketahuan tawuran makin berabe," sahut Sahid membela, meski sebenarnya ia pun ingin segera melakukan pembalasan. "Kita tunda dulu," potong Lucian akhirnya, suaranya tegas meski pelan. "Tunggu sampai keadaan tenang. Jangan sampai pihak sekolah tahu. Gue nggak mau kita semua kena drop out karena hal sepele sekarang." Pembicaraan mereka terhenti saat serombongan siswi populer berjalan lewat. Pandangan semua anak laki-laki di sana langsung tertuju pada kelompok cewek berrok kotak-kotak itu. Di barisan depan, ada Rachel, gadis paling populer di sekolah yang selalu tampak sempurna. "Rachel makin hari makin cakep, ya," puji Sahid sambil berdecak kagum. "Badan oke, wajah gemas. Kira-kira siapa ya yang bakal jadi pacarnya nanti?" Rachel tertawa lepas bersama teman-temannya sambil mengibaskan rambutnya yang tertata rapi. Tanpa sengaja, pandangan mata Lucian bertemu dengan gadis itu. Senyum Rachel mendadak hilang, tergantikan oleh ekspresi kaku. Ia menatap Lucian dengan tatapan tajam, lalu buru-buru memalingkan wajah dan mempercepat langkah seolah-olah Lucian adalah sesuatu yang harus dihindari. "Eh, lihat nggak? Dia tadi liatin gue, kan?" tanya Sahid antusias, salah mengartikan tatapan itu. "Ngaco! Jelas-jelas dia ngelirik gue!" sergah Putu yang juga merasa percaya diri. "Mana mungkin cewek secakep Rachel mau liat muka lo yang kayak martabak gosong," ledek Sahid lagi, memicu tawa gerombolan itu. Lucian memilih diam, sibuk mengunyah keripik dengan pikiran yang melayang jauh. Ia tidak tertarik pada Rachel yang terlalu glamour. Namun, fokusnya kembali teralih saat ponselnya bergetar panjang di saku celananya. "Lucian, aku sudah baikan. Hari ini mulai kerja. Kapan-kapan kita makan ayam goreng, ya?" Senyum yang sedari tadi hilang dari wajah Lucian akhirnya merekah tipis. Kabar dari Aurelia membuatnya sedikit lebih tenang. Ia membalas pesan itu dengan cepat: "Traktir aku ya, Kak." "Iyaa, aku traktir kamu sampai kenyang!" Bel masuk kelas membuyarkan dunianya. Ia buru-buru menyimpan ponsel dan bergegas ke kelas bersama teman-temannya. Berharap hari ini tidak ada drama macam-macam di kelas yang membuatnya harus bentrok dengan guru atau murid lainnya. Aurelia sudah menyiapkan mental sepenuhnya saat melangkah masuk ke kantor pagi itu setelah tiga hari absen. Ia sudah membayangkan rentetan sindiran dan tuduhan yang akan diterimanya. Baginya, diperlakukan buruk oleh rekan setimnya sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, yang membuatnya benar-benar penasaran adalah sikap Amora. Bagaimana perempuan itu akan berakting setelah perselingkuhannya dengan Raffan terbongkar? Apakah masih akan berpura-pura baik atau justru menunjukkan sisi aslinya yang kejam? Firasat Aurelia mengatakan Amora akan memilih opsi kedua. Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih brutal dari dugaan Aurelia, hingga membuat perutnya terasa mual. Ia merasakan hawa tidak enak saat melintasi pintu masuk agensi. "Aurelia, lo ke mana aja? Sakit lama banget!" Tristan sudah menyambut dengan tangan berkacak pinggang di depan mejanya, suaranya yang keras menarik perhatian rekan-rekan lain. "Kerjaan kita jadi berantakan gara-gara lo!" "Harusnya kalau tahu fisik lemah, sadar diri dikit dong. Kerja yang becus, jangan nyusahin tim!" Zara menyambung, sambil membanting setumpuk dokumen di meja Aurelia dengan kasar. Aurelia tetap diam. Ia tahu Aiden sudah tahu kondisinya dan tidak menuntut apa-apa, tapi teman-temannya? Mereka seperti kawanan serigala yang menunggu mangsa lemah untuk diinjak. Aurelia menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai membuncah di dadanya. "Teman-teman, jangan gitu sama Aurelia. Dia kan baru sembuh," suara manis Amora memecah ketegangan. Ia tampil memukau dengan setelan putih yang modis, kontras dengan kondisi Aurelia yang masih terlihat lelah. "Kasih dia kesempatan napas dulu." "Nggak ada napas-napasan! Selama dia sakit, kita yang dibikin sesak napas!" Tristan tidak terima, wajahnya memerah karena amarah yang dibuat-buat. "Eh, Aurelia! Lo denger nggak sih kita ngomong apa? Jangan pura-pura budek!" Aurelia tetap bungkam. Ia lebih memilih untuk segera bekerja daripada meladeni ocehan mereka yang tak ada habisnya. Joel, sang ketua tim, akhirnya bangkit dari kursinya dan duduk di depan meja Aurelia dengan tatapan mengintimidasi yang membuat suasana semakin mencekam. "Lo yakin udah sembuh?" tanya Joel ketus, matanya meneliti setiap inci wajah Aurelia. Aurelia mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Sudah." "Bagus. Minggu ini selesaikan semua proposalnya. Gue yang akan bawa proposal lanjutan ke Pak Aiden nanti." Aurelia mendongak bingung, matanya melebar. "Kenapa kalian? Seharusnya kan gue yang presentasi? Gue yang ngerjain risetnya dari awal sampai akhir." Amora tersenyum kecil, lalu menyela dengan nada yang dibuat-buat polos dan penuh simpati yang menjijikkan. "Bener kata Aurelia, Joel. Dia kan yang bikin konsepnya dari awal. Gue takut salah nanti kalau harus presentasi sendirian." "Jangan gitu, Amora. Lo lebih pengalaman, dan Pak Aiden lebih nyaman sama lo," sahut Joel cepat, berusaha membungkam sanggahan Aurelia. "Gue nggak mau dibilang menyerobot, Joel," desak Amora lagi, tetap dengan mimik wajah "malaikat"-nya yang manipulatif. Ia tahu betul cara membuat dirinya terlihat paling bijak. Joel mengetuk meja Aurelia dengan keras, memecah ketegangan yang kian memuncak. "Aurelia, kalau lo nggak mau gue kasih laporan buruk ke pimpinan, setuju aja sekarang. Lo selesaikan semua, gue dan Amora yang akan bawa proposalnya ke Pak Aiden! Ini demi kebaikan agensi, paham?" Kemarahan yang tertahan selama ini akhirnya meledak. Sikap tidak adil mereka yang selalu memuja Amora dan menginjak-injak harga dirinya sudah mencapai batas. Aurelia bangkit berdiri, kursi kerjanya terdorong ke belakang hingga berbunyi nyaring. Ia menatap tajam ke arah Amora yang sedang memasang wajah korban dengan air mata yang mulai menggenang. "Menyingkir dari meja gue! Najis gue liat lo!" teriak Aurelia, suaranya memenuhi seluruh ruangan kantor. Seketika ruangan hening. Teman-temannya terbelalak, tak menyangka akan mendengar makian dari Aurelia, apalagi ditujukan pada "sahabatnya" sendiri. Semua orang berhenti bekerja, menatap Aurelia dengan tatapan kaget dan tak percaya. Dalam keheningan itu, Amora mulai terisak. "Aurelia, ja—ngan marah. Ma—aaf kalau gue salah!" Ia berbalik dan pergi dengan gaya yang dramatis, meninggalkan ruangan yang kini riuh oleh bisik-bisik menghakimi yang jelas-jelas menyudutkan Aurelia. Aurelia kembali duduk, tangannya gemetar hebat. Ia memang menyesal telah kehilangan kendali dan membiarkan emosinya menang, tapi untuk pertama kalinya, hatinya terasa lebih ringan. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan mencela rekan-rekannya yang menganggapnya gila. Ia sudah terlanjur terluka, dan ia sadar, inilah saatnya untuk melawan balik demi harga dirinya sendiri. Ia tahu hari-hari ke depan akan menjadi neraka karena dia baru saja menyatakan perang terbuka, tetapi ia tidak akan membiarkan Amora menginjak-injaknya lagi. Perjuangannya untuk lepas dari belenggu ini baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD