Aurelia benar-benar tidak menyangka hidupnya bisa berantakan secepat ini. Rentetan masalah yang datang bertubi-tubi membuat kondisi fisiknya ambruk. Asma kronisnya kambuh parah, memicu batuk yang menyiksa hingga membuat keringat dingin bercucuran, bahkan rasa mual yang luar biasa membuatnya hanya bisa tergeletak tak berdaya.
Seharusnya hari ini ia sudah harus kembali ke kantor untuk merampungkan proposal lanjutan bagi PT. Real Food. Namun, jangankan bekerja, untuk bangkit dari tempat tidur saja tubuhnya sudah tidak sanggup. Di kamar kontrakan yang sempit itu, Aurelia harus merangkak jika ingin beraktivitas—entah itu sekadar menuju kamar mandi, menyeduh mi instan, atau mengambil obat. Belum lagi vertigo yang menyerang, membuat dunia di sekitarnya seolah jungkir balik. Dalam kondisi separah ini, ia sadar betul: tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya selain dirinya sendiri.
Sambil menatap langit-langit kamar yang rendah, berbagai perasaan berkecamuk di d**a Aurelia. Ia sangat ingin pergi ke rumah sakit, tetapi tenaganya benar-benar habis. Hatinya terlampau sakit, membuatnya merasa dunia ini begitu kejam dan tidak adil padanya.
Sebenarnya, Aurelia punya cukup simpanan di tabungan. Namun, selama ini ia hidup sehemat mungkin agar bisa tetap mengirim uang untuk biaya hidup kakeknya di desa. Ia lebih mengutamakan kesejahteraan kakeknya daripada kenyamanan diri sendiri. Jika mau, Aurelia sebenarnya bisa saja menyewa apartemen yang lebih layak atau mencicil mobil seperti yang dilakukan Amora, tetapi ia memilih menahan diri demi masa depan. Semua rencana yang ia bangun, termasuk impiannya memiliki tabungan yang cukup untuk bekal menikah nanti, kini hancur lebur.
Karena batuk yang terus-menerus, Aurelia kembali muntah. Tubuhnya yang lemah akibat asma membuatnya tak punya pilihan lain selain ke rumah sakit. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memejamkan mata sejenak, mengecek saldo di ponselnya, lalu memutuskan untuk memberanikan diri. Ia mencuci muka, membasuh tangan dan kaki, memakai sedikit deodoran, lalu tertatih-tatih menyusuri gang untuk mencari taksi. Inilah risiko hidup seorang diri; saat sakit pun, ia harus tetap berdiri tegar.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ponselnya tak berhenti bergetar. Teman-teman kantornya terus mengirim pesan, menuntutnya untuk segera datang ke kantor atau setidaknya online untuk rapat.
"Sakit lagi, lo? Asma? Makanya jangan gendut-gendut biar nggak asma terus!" Zara kembali melontarkan hujatan kejamnya seperti biasa.
Joel pun menimpali tanpa rasa iba sedikit pun, "Aurelia, kita lagi dikejar target! Lo sakit di saat begini? Yang benar aja!"
Tristan tak mau ketinggalan, "Bisa-bisanya lo tumbang sekarang? Buruan ke kantor!"
Satu-satunya pesan yang tampak "beradab" datang dari Amora, yang justru membuat Aurelia semakin sesak napas karena tahu betapa palsunya sikap sahabatnya itu. "Teman-teman, tolong jangan desak Aurelia. Kalian tahu sendiri kan, asma kambuh itu nggak nyaman?"
Pesan dari Amora justru memancing reaksi negatif dari anggota grup lainnya.
"Amora, lo jarang sakit, tapi Aurelia ini sering banget ngeluh gini," balas Zara.
"Amora, jangan belain Aurelia, mentang-mentang kalian sahabatan!" sahut Joel.
Rentetan pesan itu membuat kepala Aurelia semakin riuh. Akhirnya, ia memutuskan untuk mematikan ponsel tepat saat tiba di UGD. Kesehatan adalah prioritasnya sekarang, bukan celaan mereka. Nyawanya sedang terancam, namun orang-orang itu justru menekannya. Terlebih lagi, kata-kata "palsu" dari Amora justru membuat semua orang membencinya. Aurelia merasa terlalu lelah dan lemah untuk terus menghadapi tekanan tersebut.
Seorang perawat memintanya berbaring untuk memeriksa tekanan darah. Tak lama kemudian, dokter datang memberikan suntikan dan memasangkan tabung oksigen. Selama satu jam berikutnya, Aurelia berbaring untuk menenangkan vertigo dan napasnya. Ia merenungkan nasibnya yang terasa sangat sial. Aurelia tahu ia cukup pintar, dengan kemampuan dan kreativitas yang jauh di atas rata-rata. Namun, semua itu seolah tidak berharga hanya karena fisiknya dianggap tidak ideal oleh lingkungan kerjanya.
Penghakiman dan kata-kata dengki dari rekan kerjanya memang sudah biasa ia terima—meskipun menyakitkan, ia selalu mencoba menganggapnya sebagai candaan. Namun, pengkhianatan Raffan sama sekali bukan candaan. Sampai detik ini, Raffan bahkan belum menghubunginya, apalagi meminta maaf.
Aurelia menghela napas panjang, jemarinya menggenggam masker oksigen dengan erat. Apa yang bisa ia harapkan dari pria yang berselingkuh dan terang-terangan mengaku tidak pernah mencintainya?
"Aku mendekati kamu demi Amora."
Kalimat itu lebih menyayat hati daripada rasa perih saat jarinya teriris pisau. Aurelia tidak mengerti di mana letak kesalahannya hingga orang-orang tega memperlakukannya seburuk ini. Padahal, selama ini ia selalu berusaha menyenangkan hati orang lain hingga sering kali mengabaikan dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, dokter menyatakan Aurelia sudah cukup stabil untuk pulang. Ia melewati lorong rumah sakit dengan langkah tertatih, lalu memutuskan duduk sejenak di bangku dekat area parkir untuk memulihkan tenaga. Perutnya terasa melilit karena belum makan sejak pagi, dan ia mulai memikirkan untuk mencari makanan di kantin.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Suara berat yang maskulin itu membuat Aurelia tersentak. Ia menyipitkan mata, berusaha melihat dengan jelas siapa yang menegurnya. Keterkejutan luar biasa melandanya saat ia sadar siapa yang berdiri di depannya.
"Pak Aiden?"
Aiden menatap Aurelia dengan pandangan yang sulit diartikan. Wajah Aurelia pucat pasi, dengan bekas infus di punggung tangan dan kantong obat yang tergeletak di sampingnya. Perempuan itu tampak begitu lelah dan berantakan. Apakah ia sakit sampai separah itu?
"Kamu sakit?"
Aurelia mengangguk malu, merasa salah tingkah. Ia tidak menyangka akan bertemu Aiden di tempat seperti ini, dan lebih terkejut lagi karena Aiden menyapanya dengan ramah, seolah-olah mereka adalah teman lama.
"Asma kambuh, Pak."
"Nggak opname?"
"Nggak, Pak. Tadi sudah ditangani di UGD."
Keduanya terdiam sejenak. Aurelia menunduk, berharap Aiden segera pergi. Bukan karena tidak sopan, tapi ia merasa sangat canggung harus berbicara dengan sosok seperti Aiden dalam kondisi yang begitu kusut. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan mereka. Sopir berseragam keluar untuk membukakan pintu.
"Kamu pulang ke arah mana?"
Pertanyaan Aiden membuat Aurelia bingung. "Jalan Permata Indah, Pak."
"Oh, kebetulan. Aku akan lewat ke area sana. Ayo, naik. Aku antar."
Tawaran itu sungguh tidak disangka-sangka, membuat Aurelia sontak menggeleng. "Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak mau merepotkan."
"Nggak repot. Kamu cukup naik dan tidak usah berdebat!"
Nada perintah dalam ajakan itu membuat Aurelia tidak kuasa menolak. Dengan ragu dan malu-malu, ia masuk ke dalam mobil. Jantungnya berdebar kencang saat duduk bersebelahan dengan seorang direktur utama perusahaan besar—hal yang bahkan tak pernah terlintas dalam mimpinya. Selama kendaraan melaju, ia terus menunduk sambil meremas kantong obatnya, berusaha untuk tidak menguping panggilan telepon yang sedang diterima Aiden.
"Kamu punya asma?" Aiden mengawali obrolan setelah selesai menelepon.
Aurelia menjawab dengan anggukan pelan, "Iya, Pak."
"Alergi atau bawaan?"
"Bawaan, Pak. Dari kecil saya sudah punya asma."
"Biasanya kambuh karena apa?"
"Tidak pasti, Pak. Kadang karena panas, debu, atau kelelahan."
"Kalau begitu, kamu harus menjalani hidup dengan lebih gembira agar asmanya tidak sering kambuh."
Aurelia hanya bisa mengerjap dan menghela napas panjang. Tentu saja ia ingin hidup bahagia, tapi bagaimana caranya? Terutama setelah hubungannya hancur berkeping-keping. Ia tidak yakin kebahagiaan itu bisa ia temukan dalam waktu dekat. Perutnya kembali berkriuk nyaring karena lapar, membuatnya merasa malu bukan main.
"Kamu belum makan?" Aiden bertanya.
"Sudah, Pak," jawab Aurelia berusaha menyembunyikan rasa lapar.
Namun, perutnya justru berkhianat dengan bunyi yang lebih keras. Aurelia menunduk makin dalam karena malu. Aiden segera meminta sopir berhenti di sebuah restoran cepat saji. Ia memesan paket ayam goreng dan sup lewat layanan drive-thru, lalu memberikannya kepada Aurelia.
"Makan yang banyak, kamu harus sehat lagi. Ingat, ada iklanku yang harus kamu rampungkan."
"Terima kasih, Pak."
Aurelia merasa sangat terharu. Di tengah kesulitan seperti ini, orang yang justru membantunya adalah sosok yang tak terduga. Bukan teman atau kerabatnya, melainkan seseorang yang selama ini ia anggap jauh. Ia merasa Tuhan sedang mencoba menghiburnya dengan mengirimkan Aiden di saat-saat tersulitnya.
Berdasarkan potongan pembicaraan yang sempat ia dengar, Aiden ternyata baru saja menjenguk seorang koleganya di rumah sakit tersebut. Pertemuan ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa, atau setidaknya itulah yang Aurelia pikirkan.
"Aurelia, itu namamu bukan? Barangkali aku salah ingat."
"Benar, Pak. Nama saya Aurelia."
"Presentasimu kemarin bagus. Aku juga sudah melihat beberapa iklan yang pernah kamu kerjakan. Aku optimis iklan kali ini akan menarik banyak perhatian dan meningkatkan daya beli."
"Saya akan berusaha sekuat tenaga, Pak, agar tidak mengecewakan Anda."
"Sebelum kamu berjanji padaku, ada satu hal yang harus kamu lakukan, Aurelia."
Aurelia mendongak, dan pandangan mereka bertemu. Tatapan Aiden yang tajam seakan ingin menembus pertahanannya. Tanpa sadar, Aurelia menelan ludah.
"Ya, Pak?"
"Jaga kesehatanmu. Tidak peduli seberapa besar ambisimu atau seberapa kreatif otakmu, kalau tubuhmu tidak sehat, semuanya tidak akan berarti."
Kata-kata sederhana itu benar-benar menohok hati Aurelia. Ia hampir saja menangis kencang kalau saja tidak ada rasa malu yang menahannya. Ia benar-benar menerima kebaikan yang bertubi-tubi dari orang yang baru dikenalnya ini.
Teringat kembali masa lalunya, Aurelia baru menyadari satu hal penting. Dulu, jika Amora sakit, Aurelia selalu menjadi orang pertama yang menengok dan merawatnya. Namun, jika keadaan berbalik, ia justru berjuang sendirian. Amora selalu punya seribu alasan untuk menghindar, mulai dari jadwal rapat hingga pekerjaan yang menumpuk. Pernah suatu kali, saat Aurelia sakit, ia tak sengaja tahu bahwa Amora justru pergi ke bar bersama teman-teman yang lain, bukan menjenguknya. Saat ditanya, perempuan itu pun pandai berkelit.
"Gue sebenarnya nggak mau, tapi terpaksa. Mereka ngancem kalau lo bakalan dipotong gaji," kata Amora saat itu.
"Apa urusannya gaji gue sama mereka?"
"Nggak tahu! Denger-denger Joel dekat sama HRD. Ya sudah, demi biar gaji lo aman, gue ikut aja."
Saat itu Aurelia memang sangat bodoh karena begitu mudah memercayai perkataan Amora. Ia baru sadar bahwa dirinyalah yang tidak pandai menilai orang dan terlalu dibutakan oleh kebaikan palsu sahabatnya itu.
Saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan gang kontrakannya, Aurelia membungkuk untuk mengucapkan terima kasih pada Aiden.
"Pak, saya terbantu sekali hari ini. Terima kasih banyak."
Aiden mengangguk dari dalam mobil. "Lekas sembuh dan kembali sehat, Aurelia."
Dengan perasaan berdebar yang asing, Aurelia menatap mobil sedan hitam itu menjauh. Laki-laki kaya raya itu bersikap begitu lembut dan perhatian. Aurelia merasa istri Aiden pasti sangat beruntung memiliki suami sebaik itu. Sambil menghela napas panjang, ia membalikkan tubuh dan menyusuri gang yang ramai menuju rumah kontrakannya. Ia sadar, nasibnya tidak akan pernah seberuntung istri Aiden, terutama karena laki-laki yang dicintainya sendiri saat ini justru sedang mempermainkan perasaannya.