BAB 5

1632 Words
​Lucian terdiam, menatap langit-langit ruang medis dengan pandangan yang sulit diartikan. Di sampingnya, seorang suster bergerak dengan cekatan, membersihkan luka-luka lecet di siku dan membalut luka robek di sudut bibirnya. Bau antiseptik yang tajam menyengat indra penciumannya, bercampur dengan aroma hujan yang masih melekat pada pakaiannya yang kotor. Setelah serangkaian prosedur medis—mulai dari suntikan antitetanus yang sedikit menyengat hingga pemasangan infus—akhirnya ia bisa bernapas sedikit lega. ​Sepanjang pemeriksaan, sosok Aurelia tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisinya. Wanita itu duduk dengan sabar di kursi tunggu yang keras, meski bajunya pun masih lembap dan rambutnya tampak berantakan. Lucian merasa hatinya tersentuh dalam sekali. Bagaimana mungkin? Di tengah luka fisik yang mendera dan kehancuran batin yang dahsyat akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya, wanita ini justru memilih untuk tetap berdiri, mengutamakan keselamatan seorang anak asing seperti dirinya. ​Tadi, saat Lucian mencoba menolak untuk dibawa ke rumah sakit karena merasa lukanya tidak seberapa, Aurelia justru bersikap sangat tegas. ​“Luka-lukamu harus segera diobati, Lucian. Kalau dibiarkan terkena kotoran di tengah hujan tadi, bisa infeksi atau radang. Kamu masih muda, jangan remehkan hal kecil seperti ini,” tegas Aurelia waktu itu, nadanya bukan berniat menggurui, melainkan penuh perhatian yang tulus. ​“Aku bisa ke dokter sendiri, Kak. Jangan repot-repot,” sahut Lucian kala itu, mencoba memaksakan senyum meski wajahnya meringis sakit. ​“Nggak, biar aku saja yang tunggu sampai selesai. Aku nggak akan tenang kalau kamu pulang dalam keadaan begini.” ​Lucian benar-benar tertegun. Perhatian itu terasa nyata, hangat, dan tanpa ada embel-embel kepura-puraan. Aurelia memiliki berjuta alasan untuk pergi—ia bisa saja pulang ke kontrakannya, mengurung diri, dan meratap sepanjang malam atas kesialan hidupnya. Tapi, ia justru memilih untuk tetap bertanggung jawab, menjaga Lucian seolah-olah ia adalah adiknya sendiri. Sebuah empati yang sudah lama tidak Lucian temukan dalam hidupnya yang dingin. ​Setelah semua urusan administrasi di loket pembayaran selesai, Aurelia juga yang melunasi biaya rumah sakit tanpa bertanya berapa banyak isinya. Saat mereka berdiri di depan pintu keluar rumah sakit sebelum berpisah, Lucian memberanikan diri meminta nomor ponsel Aurelia. ​“Buat apa?” tanya Aurelia heran, matanya yang sembab menatap Lucian dengan bingung. ​“Entahlah. Mungkin suatu saat nanti kalau kita ketemu lagi, aku bisa traktir Kakak sebagai ucapan terima kasih karena sudah jadi orang paling baik hari ini.” ​Aurelia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kelelahan luar biasa. “Nggak usah repot-repot, Lucian. Cukup kamu sekolah yang benar dan jangan hobi berkelahi lagi. Itu sudah lebih dari cukup.” ​“Aku janji bakal dengerin nasihat Kakak, tapi tolong, kasih nomornya ya?” Lucian memaksa dengan tulus. ​Dengan sedikit enggan, Aurelia akhirnya menyerahkan nomor ponselnya. Wajah Lucian berseri-seri senang, seolah-olah ia baru saja memenangkan sesuatu yang berharga. Setelah memastikan Lucian naik ke dalam taksi yang dipesannya, Aurelia menghela napas panjang hingga bahunya merosot. ​Hujan telah berhenti, namun malam ini terasa jauh lebih dingin. Ia terduduk di bangku halte yang sepi, menatap lampu-lampu kendaraan yang melintas dengan pandangan kosong. Perlahan, keheningan itu mulai mencekik. Rasa hampa yang tadi sempat ia tahan kini meledak. Ia baru sadar sepenuhnya: sahabat yang paling ia cintai dan tunangan yang akan ia nikahi, benar-benar telah membuangnya dari hidup mereka. Mereka telah menginjak-injak harga dirinya dengan kejam. ​Dadanya terasa sesak, napasnya memburu, pendek dan tersendat, seperti orang yang sedang terkena serangan asma akut. Ia mencoba untuk tetap tegar, memejamkan mata erat-erat dan meyakinkan diri sendiri bahwa esok matahari akan tetap terbit. Tapi, saat mencoba meneriakkan kata-kata penghibur pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, tenggorokannya justru tercekat oleh emosi yang membuncah. ​“Raffan sialan! Amora sialan!” umpatnya pelan, suaranya parau. Ia memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa seperti dihimpit batu besar. “Kalian berdua benar-benar b******n!” ​Saat bus kota yang terakhir datang, Aurelia berdesakan naik. Tubuhnya yang basah kuyup dan pakaiannya yang sedikit kotor menimbulkan aroma yang kurang sedap. Di dalam bus yang penuh sesak, tatapan mata orang-orang terasa menusuk. ​“Ih, orang gendut itu bau banget ya? Menjijikkan,” bisik seorang penumpang di sampingnya kepada temannya. ​“Mungkin jarang mandi, makanya bau keringat begitu, tidak sadar diri ya?” sahut yang lain tanpa sungkan, sengaja mengeraskan suaranya. ​Aurelia mendengar semua cibiran itu dengan jelas, tapi ia sudah tidak memiliki energi sedikit pun untuk membela diri. Ketika beberapa penumpang turun dan kursi kosong tersedia, kedua wanita itu bergegas pindah, tak lupa meliriknya dengan tatapan jijik seolah Aurelia adalah sampah. Aurelia hanya bisa menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, membelakangi mereka semua. Biarlah dunia menghinanya, toh hari ini ia memang sudah berada di titik terendah. ​Sesampainya di kontrakan kecilnya yang pengap, ia mampir sejenak di minimarket depan gang dan membeli beberapa botol bir. Ia tak memedulikan sapaan ramah tetangga yang biasanya selalu ia jawab. Ia langsung mengunci pintu, membuka kaleng bir, dan meneguknya dengan rakus hingga tersedak karena rasa pahit yang membakar tenggorokannya. Setelah dua botol habis, perutnya justru bergejolak hebat. Ia berlari ke toilet dan memuntahkan semuanya dengan kasar. Rupanya, ia memang tidak punya bakat untuk mabuk; tubuhnya menolak alkohol sekeras ia menolak nasibnya. ​“Di film-film, orang patah hati minum alkohol biar tenang. Kenapa aku malah mual begini? Kenapa semua orang bisa bahagia kecuali aku?” rintihnya dengan suara serak yang memilukan. ​Ia merebahkan tubuh lemasnya di lantai yang dingin, menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar yang kosong. Akhirnya, ia terpaksa menelan dua butir obat tidur agar jiwanya bisa terlelap, karena ia tahu, jika ia terjaga, ia hanya akan terus memikirkan wajah Raffan dan Amora. ​“Kakek... aku kangen. Aku pengen pulang,” isaknya pelan sambil menatap foto sang kakek yang tergantung di dinding kamar dengan mata yang basah oleh air mata. ​Sementara itu, di sebuah kawasan elit, Lucian berdiri di depan gerbang rumah besar berlantai tiga miliknya. Begitu ia turun dari taksi, penjaga rumah bergegas membuka gerbang lebar-lebar dengan raut wajah cemas. Saat ia melangkah masuk ke pekarangan yang luas, kepala pelayan segera menyambutnya dengan tunduk hormat. ​“Tuan Muda, silakan masuk. Makan malam sudah disiapkan. Tuan Besar sudah menunggu di ruang tengah.” ​“Daddy sudah pulang? Tumben sekali,” gumam Lucian dingin. ​“Sudah sejam yang lalu, Tuan. Mari, jangan berdiri di sini, udaranya dingin.” ​Kepala pelayan itu menyadari penampilan Lucian yang babak belur, wajahnya lebam, dan ada perban di sana-sini, tapi ia tak berani bertanya. Lucian melangkah masuk dengan enggan, merasa asing di rumah megah yang seharusnya ia sebut rumah sendiri. ​Di ruang tengah, Aiden duduk dengan majalah di pangkuan, meski sebenarnya ia hanya melamun menatap perapian. ​“Daddy, aku pulang!” suara Lucian terdengar datar. ​Aiden bangkit dengan cepat. Begitu melihat wajah anaknya yang penuh luka, lebam, dan perban, matanya membelalak kaget. “Apa yang terjadi? Kamu berkelahi?” ​Lucian mengangguk singkat, tanpa rasa bersalah. “Iya.” ​“Apa masalahnya sampai harus berkelahi seperti ini?” Aiden berusaha menahan amarah yang merayap di dadanya, mencoba mengingat janjinya untuk lebih sabar dan komunikatif. ​“Bukan masalah besar, Dad. Nggak usah pusing. Guru nggak akan sampai memanggil ke sekolah karena ini kejadian di luar jam sekolah,” jawab Lucian ketus, berusaha menghindari tatapan ayahnya. ​Aiden menyipitkan mata, menatap tajam anaknya. “Kamu pikir Daddy takut dipanggil guru?” ​Lucian hanya mengangkat bahu, lalu membuang muka ke arah lain. Meski tinggi mereka hampir setara, ia tetap merasa terintimidasi oleh aura kemarahan tertahan yang terpancar dari ayahnya. ​“Lucian, dengar. Kamu sekolah supaya jadi pintar, bukan jadi berandalan jalanan!” ​“Mau gimana lagi? Memang dari dulu aku sudah jadi gelandangan, kan?” sahut Lucian sarkas. ​“Lucian! Kamu benar-benar nggak tahu diri!” bentak Aiden. Suaranya menggelegar ke seluruh ruangan yang senyap. Sesaat kemudian, ia menyesali teriakan itu, terutama saat melihat ekspresi anaknya yang menggelap penuh luka, seolah-olah ia baru saja memukulnya secara fisik. ​“Apa lagi, Dad? Mau memaki lebih keras? Mau mencaci lebih sadis?” tanya Lucian dengan nada yang sangat kecewa. ​“Bukan begitu... Daddy hanya khawatir,” ujar Aiden melunak, meski rahangnya masih mengeras. ​Lucian tertawa getir. “Nggak usah pura-pura peduli. Selama ini Daddy pernah ingat punya keluarga? Enggak, kan? Dalam hidup Daddy cuma ada kerja, kerja, dan kerja. Bahkan pas Mommy ingin pergi, Daddy sama sekali nggak peduli!” ​Aiden tidak pernah suka mengungkit masa lalu yang menyakitkan, tapi Lucian tak pernah membiarkannya terkubur. “Lucian, kamu harus tahu, kalau Mommy itu—” ​“Apa? Dia kabur? Dia pergi sama laki-laki lain? Aku sudah bosan mendengar alasan itu! Tapi Daddy tahu nggak, kalau Mommy itu nggak pernah bahagia? Dia selalu menangis karena hidupnya menderita cuma gara-gara Daddy cuma peduli uang!” ​Plak! ​Aiden melempar majalah yang dipegangnya ke lantai dengan keras hingga Lucian berjengit kaget. Tangan ayahnya gemetar, menahan diri untuk tidak memukul wajah anaknya. ​“Naik ke kamarmu! Dilarang keluar sampai besok pagi!” ​“Dad, aku—” ​“Naik! Jangan keluar kamar! Makanan akan diantar pelayan!” ​Lucian melangkah gontai menaiki tangga. Aiden sendiri jatuh terduduk di sofa, mengusap wajahnya dengan jari yang gemetar. Rumah besar ini terasa semakin menyesakkan, seolah dinding-dindingnya akan meruntuhkannya kapan saja. Tidak pernah ada tawa, yang ada hanya kemarahan yang terus meledak di antara dua orang yang saling mencintai namun tak tahu cara menyampaikannya. ​“Ya Tuhan,” bisik Aiden lirih di kesunyian ruangan itu, “bagaimana caranya membuat dia mengerti? Bagaimana cara menjelaskan kalau bukan aku yang membuat ibunya pergi?” ​Aiden tenggelam dalam pikirannya, tak menyadari sebuah pesan masuk di ponselnya yang tergeletak di meja. Malam itu, ia terlampau lelah dengan egonya sendiri, dan hatinya hancur menyadari bahwa ia baru saja menyakiti satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD