Aiden berdiri mematung di depan jendela kaca yang basah kuyup oleh hujan, ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Baru saja ia menelepon kepala pelayan di rumah dan mendapatkan kabar yang sama: anaknya belum pulang. Padahal ini sudah terlalu malam. Berkali-kali ia mendial nomor itu, tapi tak ada jawaban. Setelah lima kali gagal, Aiden akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di meja dengan kasar, lalu menyambar rokok. Sebelum menyalakan pemantik, ia sempat menyalakan air purifier di sudut ruangan. Aiden tetap berdiri di sana, membiarkan kesunyian dan kekhawatiran merambat perlahan di dadanya.
Di usianya yang terbilang muda, Aiden sudah berada di puncak karier. Ia memiliki grup bisnis yang membawahi lima perusahaan besar di industri makanan—mulai dari sereal sarapan yang merajai pasar, hingga s**u dan aneka minuman kemasan. Kini, ia sedang dalam tahap negosiasi alot dengan investor untuk ekspansi bisnis waralaba minuman kemasan.
Ia punya segalanya: uang, kekuasaan, dan kejayaan. Namun, ironisnya, ia gagal total dalam urusan rumah tangga. Istrinya pergi bertahun-tahun lalu tanpa jejak, meninggalkan luka dan rasa benci. Sementara anaknya? Hubungan mereka tak ubahnya dua orang asing yang dipaksa berbagi atap. Aiden selalu mencoba menjadi ayah yang pengertian, tapi mengasuh remaja yang sedang di puncak pemberontakan bukanlah perkara mudah. Si anak selalu mencari celah untuk memancing amarahnya, membantah setiap instruksi, dan menantang setiap aturan. Aiden sering merenung, apakah ia dulu juga menyebalkan seperti itu saat remaja?
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Harapan melambung seketika—mungkin itu anaknya. Tapi saat melihat layarnya, ia hanya menghela napas panjang. Dengan enggan, ia mengangkatnya.
“Thalia, ada apa?”
“Sayang, kamu di mana?” suara merdu itu terdengar dari seberang telepon.
“Di kantor.”
“Sudah sore begini belum pulang?”
“Mungkin sebentar lagi.”
Terdengar helaan napas lembut. “Bagaimana kalau kamu mampir ke bar? Kita bisa ngobrol santai sambil minum.”
“Aku nggak bisa, Thalia.”
“Kenapa?”
“Aku harus pulang. ‘Si pemberontak kecil’ itu belum sampai rumah, padahal sudah jam segini.”
“Aiden, kamu terlalu memanjakan anakmu. Dia itu sudah dewasa.”
“Baru tujuh belas tahun. Apa yang bisa diharapkan dari anak umur segitu?”
“Tetap saja, menurutku kamu terlalu lembek. Kamu harus lebih tegas. Kenapa nggak pertimbangkan usulku saja?”
“Usul yang mana?”
“Masukkan dia ke sekolah asrama. Dengan begitu, dia bakal lebih teratur dan disiplin. Nggak bandel, nggak manja, dan pastinya nggak bikin kamu jantungan terus.”
Aiden menolak mentah-mentah. “Tidak! Apa pun yang terjadi, anakku harus tetap di bawah pengawasanku.”
“Aideeen, ini semua demi kebaikan kalian berdua, Sayang.”
“Thalia, aku harus pulang sekarang. Aku takut terjadi sesuatu di rumah. Nanti aku telepon lagi.”
“Oh, baiklah. Tapi ingat, aku menunggumu di bar!”
Tanpa sempat berpamitan, Aiden memutus sambungan. Ia menatap layar ponsel dengan dahi berkerut. Ide Thalia sungguh tidak masuk akal. Setelah bersusah payah agar anaknya mau tinggal bersamanya, bagaimana mungkin ia malah membuangnya ke asrama? Justru sebaliknya, ia sedang memutar otak bagaimana caranya agar hubungannya dengan sang anak bisa kembali akrab, bukan malah menciptakan jarak.
Setelah rokoknya tandas, Aiden memanggil sekretarisnya, memberikan arahan singkat untuk esok hari, lalu bergegas pergi. Ia harus berjibaku dengan hujan deras dan kemacetan kota untuk segera sampai ke rumah.
Suasana di dalam ruang tamu rumah Amora terasa mencekam. Di luar, hujan turun semakin menggila, seolah mendukung drama yang sedang terjadi. Napas Aurelia perlahan kembali teratur setelah beberapa kali menyemprotkan inhaler. Sesak napasnya muncul lagi, dipicu oleh keterkejutan, lelah berjalan kaki, dan pakaiannya yang basah kuyup.
Aurelia menatap nanar ke arah Amora yang tampak begitu molek dalam balutan gaun tidur tipis. Di sampingnya, Raffan berdiri dengan kemeja yang terbuka lebar, memamerkan d**a bidangnya. Sebuah adegan klise yang biasanya hanya ia lihat di sinetron murahan, kini terjadi tepat di depan matanya sendiri.
“Kenapa? Jadi, kalian selama ini bohong sama aku?” suara Aurelia terdengar parau. Di belakangnya, Lucian melangkah maju, tangannya sigap menopang tubuh Aurelia yang tampak limbung.
Raffan hendak bersuara, tapi Amora memberi isyarat dengan gelengan kepala. “Biar aku yang jelaskan, Raffan. Kamu diam saja.”
Raffan mengangguk patuh. Matanya sempat melirik tajam ke arah Lucian yang berdiri di belakang Aurelia. Ia berusaha mengingat-ingat apakah ia mengenal anak SMA itu, tapi nihil. Siapa bocah ini? Dan kenapa dia datang bersama Aurelia? Pertanyaan itu bisa ia simpan nanti; yang terpenting sekarang adalah meredam kekacauan ini.
“Aurelia, tenang dulu. Dengarkan penjelasan gue,” ucap Amora dengan nada yang sengaja dibuat lembut, seolah apa yang baru saja mereka lakukan hanyalah kesalahan kecil yang bisa dimaklumi. “Semua ini... hubungan gue sama Raffan... terjadi begitu saja.”
Aurelia menatap perempuan yang selama ini ia anggap saudara itu dengan tatapan kosong. Persahabatan bertahun-tahun kini hancur berkeping-keping karena pengkhianatan. “Kenapa Raffan? Ada jutaan laki-laki di dunia ini, kenapa harus dia? Amora, lo tahu siapa Raffan bagi gue!”
“Aurelia, jangan menyalahkan Amora. Hubungan ini murni atas dasar suka sama suka. Kalau lo mau menyalahkan seseorang, salahkan gue!” sela Raffan tegas.
Aurelia berusaha menahan air mata yang mulai mendesak keluar. Ia harus kuat. Ia tidak boleh jatuh sekarang. “Raffan, kamu sungguh tidak tahu malu. Kamu tunanganku, tapi kamu berani tidur sama sahabatku sendiri!”
“Lo salah, Aurelia. Gue memang tunangan sama lo, tapi dari awal, gue nggak pernah cinta sama lo,” ucap Raffan tanpa basa-basi. Tatapannya dingin, tak ada sedikit pun rasa bersalah. “Lo harus dengar cerita sebenarnya supaya nggak salah paham.”
“Cerita apa lagi? Tentang perselingkuhan kalian? Tentang bagaimana kalian membohongiku di belakang? Selama ini, Amora itu sahabat dan saudara buat gue. Dan kamu, Raffan... kamu adalah segalanya. Kenapa jadi begini? Kenapaaa?!” jerit Aurelia. Pertahanan dirinya akhirnya runtuh.
Amora melangkah maju, hendak memeluk Aurelia, tapi Lucian dengan sigap menghalangi. “Jangan mendekat!”
Amora melotot, kesal karena dihalangi oleh anak ingusan yang tidak ia kenal. Ia menghela napas panjang, bersidekap d**a. “Aurelia, demi persahabatan kita, gue jujur aja ya. Raffan itu sebenarnya suka sama gue dari lama. Tapi karena waktu itu gue punya pacar, dia cuma bisa memendam. Saat dia tahu lo naksir sama dia, dia nerima lo karena nggak enak hati buat nolak. Sekarang, pas gue sudah putus, dia datang menyatakan perasaannya karena dia nggak bisa bohongi hati nuraninya lagi. Maafkan dia, Aurelia. Orang jatuh cinta itu nggak bisa direncanakan.”
Aurelia terdiam. Penjelasan Amora terasa seperti tamparan keras. Semudah itukah mereka mematahkan hatinya? Padahal selama ini ia selalu berusaha menjadi sahabat yang baik, pengertian, dan setia. Ternyata, semua kebaikannya tidak membuat mereka sadar, melainkan malah menjadi bantal empuk untuk mereka berkhianat.
“Seharusnya dari awal kamu jujur kalau nggak cinta sama aku, Raffan,” bisik Aurelia getir.
Raffan menggeleng. “Gue sudah mencoba memberi sinyal, tapi lo nggak pernah peka! Lo selalu merengek ingin ketemu, bersikap manis, sampai gue merasa nggak enak buat jujur. Kalau gue bilang gue cintanya sama Amora, apa lo bisa terima? Enggak, kan?”
“Jadi, ini salahku? Kalian yang berkhianat, tapi aku yang salah?” teriak Aurelia.
“Aurelia, jangan mendramatisir keadaan. Semua akan baik-baik saja kalau lo bisa berpikir tenang. Coba lo pikir, selama kita temenan, kapan pernah gue nyakitin lo? Gue selalu bela lo dari orang-orang reseh, kan? Tapi kali ini, gue minta maaf karena gue nggak bisa bohong. Gue cinta sama Raffan, Aurelia.”
Aurelia sudah kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa terisak, membenci dirinya sendiri karena menangis di depan dua orang pengkhianat ini. Jemarinya gemetar saat menyentuh cincin pertunangan di jarinya. Ia ingin sekali melemparkan cincin itu ke wajah mereka, tapi ia menahannya. Tidak, ia tidak akan membiarkan mereka menang semudah itu.
“Kak, kamu nggak apa-apa?” suara Lucian menyadarkannya.
Aurelia menatap buket bunga yang masih dipegang Lucian dan bungkusan bubur yang tadi ia beli untuk Amora. Tanpa pikir panjang, ia menyambar kedua benda itu dan melemparkannya tepat ke arah Raffan dan Amora. Bunga itu menghantam lengan Amora, sementara bubur yang dibawanya melayang, nyaris mengenai wajah Raffan sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai dengan suara berdebam.
“Aurelia, lo gila ya!” teriak Raffan kaget melihat Amora meringis.
Aurelia malah tertawa. Tawanya pecah, liar, dan menyayat hati, bahkan saat air mata terus mengalir di pipinya. Ia menertawakan kebodohannya sendiri yang tampak seperti pengemis cinta di hadapan mereka. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan melangkah keluar rumah dengan Lucian yang setia mengikuti di belakangnya. Mereka kembali berbagi payung di bawah hujan deras yang masih mengguyur. Aurelia terus menangis, dan Lucian pun tak berusaha menghentikannya. Hari ini, baginya, adalah hari paling tragis dalam hidupnya.