BAB 3

1453 Words
​Dalam perjalanan menuju rumah Amora, Aurelia menyempatkan diri mampir ke toko bunga. Ia membeli seikat bunga yang wangi dan segar. Amora sangat suka bunga. Sebenarnya, perempuan mana yang tidak suka? Aurelia sendiri pun suka, tapi sayangnya, ia jarang sekali mendapatkan bunga. Raffan bukan tipe pria romantis. Tunangannya itu lebih suka menginvestasikan uang untuk tabungan masa depan daripada menghamburkannya untuk sesuatu yang dianggapnya "tidak berguna". Aurelia pun enggan membelikan untuk dirinya sendiri karena sayang uang. Tapi demi Amora, ia rela melakukan apa saja asal sahabatnya itu bahagia. ​Amora bukan sekadar sahabat, melainkan saudaranya. Mereka sama-sama hidup jauh dari keluarga di kota besar ini, bahu-membahu menghadapi kerasnya dunia. Bagi Aurelia yang kikuk dan kurang pandai bergaul, persahabatannya dengan Amora—yang cantik dan populer—adalah sebuah anugerah. Dulu saat kuliah, Amora sering mendapat kiriman makanan dari para penggemar, dan Aurelia-lah yang biasanya menghabiskannya. ​“Makan yang banyak, Aurel! Habisin semuanya, ya?” ujar Amora kala itu. ​“Memangnya lo nggak mau?” tanya Aurelia dengan mulut penuh kue bolu. ​“Nggak ah, gue lagi diet!” ​Aurelia hampir tersedak. Amora yang sudah selangsing itu masih mau diet? “Hah? Lo udah langsing gitu, kalau gue gimana coba?” ​Amora hanya tergelak, melontarkan berbagai alasan supaya Aurelia mau menghabiskan makanan itu. “Lo kan punya maag, harus makan banyak biar nggak sakit.” ​Aurelia ingat berat badannya melonjak dari 60 kilo saat awal kuliah menjadi 85 kilo saat lulus. Kebiasaan makan di luar bersama Amora—di mana Amora memesan banyak makanan tapi Aurelia yang menghabiskannya dengan alasan "sayang kalau dibuang"—menjadi rutinitas mereka. Kebaikan Amora yang selalu berbagi makanan enak adalah bagian terbaik dari persahabatan mereka. Karena itulah, meski tak pernah membeli bunga untuk diri sendiri, Aurelia merasa itu adalah investasi kecil untuk membahagiakan sahabatnya. ​Selesai membeli bunga, ia teringat kedai bubur langganan Amora. Namun, baru saja ia keluar toko, matahari mendadak hilang tertutup mendung pekat. Ia meraba isi tas, lega saat menemukan payung. Ia pun bergegas lari menyeberangi jalan. Napasnya tersengal saat sampai di trotoar. Ia membungkuk, berusaha mengatur napas yang mendadak sesak. Keringat membanjiri wajah dan tubuhnya; bukan hanya karena berat badan, tapi juga karena udara mendung yang terasa sangat menyesakkan. ​Setelah memesan bubur dan sate di kedai, Aurelia memilih berjalan kaki melewati gang kecil menuju rumah Amora. Ia ingin sedikit olahraga setelah seharian duduk di kantor. Namun, setelah berjalan 15 menit, kelelahan mulai mendera. Baru saja ia berpikir untuk menyerah dan mencari angkot, hujan deras tiba-tiba mengguyur. ​“Kenapa tadi nggak naik angkot aja sih? Cari masalah banget,” gerutunya sambil bersusah payah menyeimbangkan payung, buket bunga, dan bungkusan makanan. ​Langkahnya melambat karena jalanan jadi licin. Tiba-tiba, suara teriakan dari ujung gang menghentikannya. Ia menyipitkan mata dan melihat enam anak berseragam sekolah sedang mengeroyok seorang siswa lain. Darah segar mengucur dari hidung anak itu, tapi ia masih berusaha melawan meski sendirian. ​“b*****t! Keroyokan lo semua! Banci!” teriak anak yang dikeroyok. ​“Halah, banyak bacot! Rasain ini!” ​Kondisi makin mengerikan. Aurelia panik, tapi ia tidak bisa diam saja. Ia segera mencari tumpukan batu di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah para pengeroyok. ​“Hei, berhenti! Beraninya kalian keroyokan!” ​Anak-anak itu berteriak kesakitan saat batu mengenai kepala mereka. “Sial, ada emak-emak rese!” ​“Udah, hajar aja!” ​Aurelia menutup payungnya dan nekat menerjang. Ia kewalahan karena anak-anak itu mulai beringas. Beruntung, beberapa tukang bangunan yang sedang merenovasi rumah di dekat sana mendengar keributan dan keluar membantu. Setelah anak-anak nakal itu kabur, Aurelia menghampiri pemuda yang terduduk di pinggir got. ​“Kamu nggak apa-apa? Bisa bangun?” ​Pemuda itu mendongak. Wajahnya penuh darah dan lebam, tapi ia masih bisa meringis. “Kak, makasih ya udah dibantu.” ​“Syukurlah kalau masih sadar. Aku tinggal ya?” ​“Bisa,” jawab pemuda itu. Tapi saat mencoba bangkit, ia meringis kesakitan. Kakinya terkilir. Refleks, Aurelia memegang lengannya. ​“Kakimu sakit?” ​“Kayaknya terkilir.” ​Aurelia berpikir cepat. Ia teringat mobil sedan milik Amora yang bisa dipinjam untuk membawa anak ini ke rumah sakit. Ia memapah pemuda itu, berjalan perlahan di tengah hujan deras. “Bisa tolong pegang makanan dan bunga? Aku yang payungin.” ​Si pemuda menurut. Mereka menyusuri gang sepi dengan petir yang sesekali menyambar. ​“Siapa namamu?” tanya Aurelia. ​“Lucian!” ​“Nama yang bagus, Lucian. Kenapa bisa sampai dikeroyok gitu?” ​“Panjang ceritanya, Kak. Aku cuma apes aja hari ini. Nama Kakak siapa?” ​“Aurelia.” ​Aurelia kagum melihat ketabahan Lucian. Meski luka parah dan basah kuyup, ia tidak mengeluh. Mungkin gengsi karena masih muda. “Nanti sampai rumah temanku, kita pinjam mobil. Aku antar kamu ke rumah sakit.” ​“Nggak usah, Kak. Ini luka biasa.” ​“Mana ada luka parah dibilang biasa? Lagipula temanku juga lagi sakit, mungkin dia butuh ke rumah sakit juga.” ​Lucian menatap buket bunga di tangannya yang sudah layu kena air hujan. Ia merasa bersalah telah merepotkan wanita asing ini. “Rumah Kakak masih jauh?” ​“Nggak terlalu jauh. Tuh, sudah kelihatan.” ​Lucian mengangguk. “Itu tadi aku mau ambil motor di sekolah, tapi malah dijebak mereka.” ​“Mereka sering membully kamu?” ​“Ceritanya panjang, Kak. Tapi kalau mereka nggak pakai cara licik, belum tentu aku kalah. Apes beneran. Untung Kakak lewat, kalau nggak mungkin aku sudah mati.” ​Aurelia bergidik ngeri. Ia berharap Lucian melaporkan ini ke sekolah agar ada tindakan tegas. “Orang tuamu pasti khawatir kamu pulang dengan keadaan begini.” ​Wajah Lucian meredup di balik guyuran hujan. “Nggak akan ada yang peduli.” ​“Kok bisa? Orang tuamu ke mana?” ​“Nggak ada. Aku sudah nggak punya orang tua.” ​Hati Aurelia serasa dicubit. Ia tahu persis rasanya berjuang sendiri menghadapi dunia tanpa sandaran orang tua. Begitu sampai di depan rumah mungil berwarna biru itu, Aurelia merasa lega karena melihat mobil terparkir. Berarti Amora ada di rumah. ​Namun, saat Aurelia melihat sebuah SUV hitam terparkir di samping pagar, langkahnya terhenti. Senyumnya lenyap. ​“Kenapa, Kak?” tanya Lucian heran melihat ekspresi Aurelia. ​Aurelia menunjuk SUV itu dengan tangan gemetar. “Itu... itu mobil tunanganku. Kenapa dia ada di sini?” ​Lucian mencoba menenangkan. “Mungkin cuma mampir, Kak.” ​Jawaban Lucian tidak masuk akal, tapi Aurelia mencoba menepis prasangka buruknya. Pagar tidak dikunci, memudahkan mereka masuk. Aurelia menyandarkan payung ke pagar, lalu memapah Lucian ke pintu depan. Ia mendapati pintu sedikit terbuka. ​“Tumben nggak dikunci?” gumamnya. ​Ia melihat sepasang sepatu pria yang basah di teras. Ia mengenali merek sepatu itu. Itu sepatu Raffan. Jantung Aurelia berdegup kencang, nyaris meledak. Rasa takut yang hebat merambat dari kakinya hingga ke ubun-ubun. ​“Kak, kenapa diam saja?” Lucian mulai curiga. ​“Aku takut, Lucian.” ​“Takut kenapa?” ​“Takut kalau apa yang aku lihat di balik pintu itu bakal menghancurkan hidupku.” ​“Kak, jangan takut. Ada aku. Lebih baik tahu kenyataannya daripada pura-pura semuanya baik-baik saja, kan?” ​Lucian benar. Aurelia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberanian, lalu mendorong pintu itu terbuka. ​Detik itu juga, napas Aurelia terhenti. ​Di atas sofa, Raffan sedang memangku Amora. Mereka mengenakan pakaian tidur minim dan sedang berciuman dengan begitu intim. Tangan Raffan melingkar erat di pinggang Amora. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada seribu belati yang menghujam jantungnya. Aurelia meraba tasnya dengan panik, mencari inhaler asma karena dadanya terasa tertutup rapat. ​“Kak... ada apa?” Lucian panik melihat Aurelia yang mulai tersengal. ​“Obatku... hilang,” bisik Aurelia nyaris tak terdengar. ​Lucian segera menyambar tas yang jatuh ke lantai, mengeluarkan inhaler, dan menyodorkannya. Suara gaduh mereka membuat Raffan dan Amora tersentak. Mereka melepas pelukan dengan wajah terkejut. ​“Aurelia? Ngapain lo di sini?!” teriak Amora. ​Aurelia tidak menjawab. Napasnya tersumbat di tenggorokan. Setelah beberapa kali semprotan obat, ia berhasil bernapas meski sangat sesak. Ia terduduk di lantai, kepalanya terkulai di antara lutut. Sahabat yang ia anggap saudara dan tunangan yang ia cintai ternyata telah mengkhianatinya dengan cara sekeji ini. ​“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” tanya Aurelia dengan suara bergetar hebat. ​Raffan bangkit dari sofa, merangkul bahu Amora dengan posesif. Ia menatap Aurelia dengan pandangan dingin tanpa setitik pun rasa bersalah. “Kami saling mencintai, Aurelia. Cuma itu yang perlu lo tahu.” ​Dunia Aurelia benar-benar runtuh detik itu juga. Kata-kata Raffan bagaikan vonis mati bagi hatinya yang selama ini sudah ia berikan sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD