BAB 2

1567 Words
​​Keriuhan di ruang kantor tim dua pagi itu terasa sangat memekakkan telinga. Joel, sang ketua tim, sedang berdiri di tengah ruangan dengan d**a membusung, menceritakan kembali detik-detik kesuksesan presentasi tadi dengan bumbu dramatisasi yang berlebihan. Suaranya lantang, memecah ketenangan lantai kantor, membuat rekan-rekan dari tim lain berdatangan hanya untuk sekadar mendengar cerita tentang bagaimana tim dua berhasil memukau Pak Aiden Jasper Wijaya—sang direktur utama PT. Real Food yang terkenal sangat perfeksionis dan dingin. ​Kebanggaan itu menular dengan cepat. Bagi karyawan lain, melihat Dirut perusahaan raksasa sekelas Real Food terjun langsung ke lapangan adalah sebuah fenomena langka. Biasanya, urusan semacam ini hanya ditangani oleh level manajer pemasaran, bukan orang nomor satu di Health Group. ​“Gila, kalian beneran ketemu langsung sama Pak Aiden? Gue denger dia orangnya strict banget, ya?” tanya seorang rekan dari tim desain dengan nada iri. ​“Iya, sumpah! Tim dua emang beda kelas. Biarpun tanpa Amora, tetap aja slay!” sahut yang lain. ​Joel tersenyum angkuh, membiarkan pujian itu membasuh egonya yang tengah melambung tinggi. “Ya pastilah. Siapa dulu ketuanya? Kalau bukan karena gue ambil keputusan cepat dan handle situasi dengan tepat di detik terakhir, mana mungkin kita bisa sekeren ini di depan Pak Aiden.” ​Tidak ada satu pun mata yang melirik ke arah sudut ruangan, tempat di mana Aurelia duduk mematung. Tidak ada satu pun bibir yang mengucapkan kata terima kasih, apalagi pujian. Joel, Zara, dan Tristan sibuk menepuk d**a sendiri, menikmati sorotan yang seharusnya—secara etika profesional—juga dialamatkan kepada otak di balik presentasi tersebut. ​Aurelia hanya bisa diam, menelan getirnya rasa kecewa yang mulai mengendap di kerongkongan. Ia bukan tipe orang yang suka menagih pengakuan, namun ketidakadilan ini terasa sangat tajam menusuk harga dirinya. Ia memilih menyibukkan diri dengan ponselnya, mencoba mengalihkan perhatian dari keriuhan yang menyakitkan itu. Jemarinya dengan lincah mengetik dua pesan singkat. Satu untuk sahabatnya, Amora, yang masih belum kembali bekerja, dan satu lagi untuk tunangannya, Raffan. ​“Amora sayang, elo harus cepat sembuh ya. Gue tadi presentasi buat gantiin posisi lo. Gila, beneran di depan Pak Aiden langsung! Gue harap lo bisa ngerasain kebahagiaan ini juga. Istirahat yang cukup, ya.” ​Pesan itu hanya berakhir dengan satu centang abu-abu. Aurelia menghela napas panjang, sedikit khawatir namun tetap berpikiran positif. Ia lalu beralih ke ruang pesan Raffan. Pesan pertamanya sejak pagi tadi bahkan belum terbaca. ​“Sayang, hari ini aku bahagia banget. Presentasi aku sukses besar! Kamu pulang kapan? Aku mau traktir kamu makan malam, sekalian kita fitting baju pengantin, ya?” ​Jujur saja, Aurelia merasa hidupnya sudah cukup sempurna. Kariernya meski berat tapi cukup stabil, pekerjaannya sukses, dia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, dan tunangan yang rencananya akan meminangnya tahun depan. Meskipun banyak orang memandang rendah karena fisiknya—tubuh pendek yang cenderung gempal dengan wajah bulat—Aurelia tidak terlalu ambil pusing. Baginya, ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar angka di timbangan. Ia bersyukur memiliki Amora, satu-satunya orang di dunia kampus dulu yang tidak pernah memperlakukannya sebagai "orang aneh" atau bahan candaan. ​“Elo sama gue itu sahabat selamanya. Apa pun yang terjadi, kita tetap bareng-bareng!” ​Kalimat itu selalu terngiang di kepalanya setiap kali dunia terasa kejam. Mereka sudah berteman sejak tahun pertama kuliah. Dulu, Aurelia-lah yang sering menopang nilai akademis Amora saat mereka hampir tidak lulus mata kuliah statistik, dan sebagai gantinya, Amora selalu menarik tangan Aurelia untuk ikut ke berbagai acara kampus, memastikan Aurelia tidak terisolasi dalam dunianya sendiri. Aurelia sangat menghargai itu. Dunia boleh menghina fisiknya, asalkan bukan Amora yang melakukannya. ​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras menghentikan keriuhan di dalam ruangan. Sekretaris Pak Firman—seorang pemuda gemulai dengan kepala plontos yang berkilau—masuk dengan napas memburu. Matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya terkunci pada sosok Aurelia yang duduk sendirian di pojok. ​“Aurelia! Lo dipanggil Pak Direktur. Sekarang juga!” serunya dengan nada mendesak. ​Aurelia melongo. Ia berdiri dengan kikuk, menyeka keringat dingin di telapak tangannya. “Kak Candra, apa saya melakukan kesalahan? Kenapa mendadak sekali?” ​Candra hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, tidak ada waktu untuk basa-basi. “Nggak tahu, tanya aja sendiri ke orangnya. Ayo, buruan! Pak Direktur nggak suka nunggu.” ​Aurelia menatap Joel, berharap ketuanya itu memberi dukungan atau setidaknya bertanya apa yang terjadi. Namun, Joel malah pura-pura sibuk memeriksa berkas, sengaja membuang muka. Dengan perasaan campur aduk antara takut dan penasaran, Aurelia melangkah mengikuti Candra. Sepanjang lorong, otaknya berputar liar. Apakah presentasiku tadi ada yang salah? Apakah Direktur marah soal konsep iklannya? ​Candra membawanya ke ruang tamu VIP yang biasanya hanya digunakan untuk klien kelas kakap. Begitu pintu terbuka, sosok pertama yang ia lihat adalah Aiden. Pria itu berdiri di dekat jendela, menyesap kopi dengan tenang. Aurelia langsung menunduk, lututnya terasa lemas. “P-Pak Aiden?” ​Aiden menoleh, menatapnya dengan pandangan dingin yang tenang. Ia memberi isyarat dengan tangannya. “Duduklah, saya ingin bicara.” ​Aurelia duduk di ujung sofa, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga sendiri. Ia bingung, kenapa hanya ada Aiden di sini? Ke mana Pak Firman? Candra juga sudah menghilang secepat kilat. Kini, hanya ada dia dan pria dengan tatapan setajam elang itu. Aurelia melipat tangan di atas pangkuan, menunduk dalam, mengamati detail motif karpet di bawah meja yang terasa sangat mengintimidasi. ​“Namamu Aurelia?” suara bariton Aiden memecah keheningan, membuat jantung Aurelia seakan melompat dari tempatnya. ​Aurelia memberanikan diri menatap wajah pria itu, lalu mengangguk kecil. “Iya, Pak.” ​“Kamu ketua tim iklan itu?” ​“Bukan, Pak. Ketua timnya Pak Joel.” ​Aiden mengangkat satu alisnya, sebuah gerakan kecil yang entah kenapa membuat suasana ruangan terasa lebih berat. “Tadi saya perhatikan, kamu sangat menguasai detail sereal kami. Apa itu hasil risetmu sendiri?” ​Mata Aurelia berbinar, wajah bulatnya memerah karena antusiasme yang jujur. Ketakutan sesaat tadi menguap, digantikan oleh gairah pekerja yang sedang membicarakan bidangnya. “Tentu saja, Pak. Saya selalu meriset produk yang akan kami iklankan. Untuk sereal ini, saya membeli beberapa kotak di supermarket, lalu saya bagikan ke anak-anak di sekitar komplek rumah saya. Dari situ saya bisa tahu rasa apa yang mereka suka dan bentuk apa yang paling menarik perhatian. Bukankah target pasar sereal ini anak-anak usia belasan?” ​Aiden terdiam sejenak, tampak terkesan. “Tepat sekali. Rentang usia sekolah dasar hingga menengah memang yang paling krusial bagi kami.” ​Aurelia tersenyum lebar, senyum yang mencapai matanya. “Berarti insting saya benar, Pak. Itulah kenapa saya menyusun konsep iklan seperti yang saya presentasikan tadi... Eh, maksud saya, konsep yang ditunjukkan oleh tim kami.” ​Aiden menyandarkan punggung ke kursi, menautkan jemarinya di bawah dagu. Ia mengamati perempuan di depannya dengan saksama. Aurelia memang terlihat tidak percaya diri saat baru masuk ruangan, namun begitu bicara soal data dan strategi, aura kecerdasannya langsung terpancar. Aiden selalu menghargai orang yang bekerja dengan otak, bukan sekadar menjilat dengan penampilan luar. ​“Bagus. Saya suka cara berpikirmu. Aurelia, saya mau kamu yang memimpin langsung proyek iklan ini.” ​Aurelia menelan ludah, suaranya tercekat. “Baik, Pak.” ​“Meskipun kalian punya ketua tim, saya ingin kamu yang jadi penanggung jawab utamanya. Jangan kecewakan saya. Kamu menguasai materi dan paham kondisi lapangan. Saya yakin iklan sereal ini akan jadi yang terbaik kalau kamu yang memegang kendalinya.” ​Dada Aurelia terasa sesak oleh rasa bangga yang luar biasa. Baru kali ini, seorang direktur utama memujinya secara tulus tanpa sedikit pun melihat fisiknya. Saat keluar dari ruangan, langkahnya terasa ringan, seolah ia baru saja mendapat suntikan energi baru yang membuatnya mampu terbang. ​Begitu ia kembali ke ruangan tim, Joel dan yang lain langsung menyerbunya seperti gerombolan wartawan. ​“Siapa yang manggil lo? Ada urusan apa? Lo bikin salah ya sama Pak Aiden?” cecar Joel dengan nada curiga. ​Aurelia hanya menjawab dengan senyum tipis, berusaha tetap rendah hati. “Nggak ada apa-apa, Pak Aiden cuma minta diskusi sedikit soal teknis presentasi tadi.” ​“Apa? Pak Aiden? Kok bisa? Bahas apa kalian sampai lama begitu?” Zara menarik lengan Aurelia dengan kasar, matanya menyipit penuh selidik. “Kenapa diam aja? Jawab, Aurelia!” ​Aurelia merasa jengah. Besok pun mereka masih bisa diskusi, kenapa harus memaksa sekarang? Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku blazer. Satu pesan masuk dari Amora: “Gue masih sakit, maaf nggak bisa ke kantor. Syukurlah kalau presentasi tadi berhasil.” ​Aurelia dengan cepat membalas: “Lo di mana? Gue khawatir.” Tapi tidak ada jawaban. ​“Aurelia, jawab pertanyaan gue!” Zara membentak, suaranya kini menarik perhatian orang lain. ​Aurelia tersentak, lalu menatap Zara dengan sorot mata yang sedikit lebih tajam dari biasanya. Ia segera meraih tasnya dan menepis tangan Zara. “Besok gue jelasin semuanya. Gue mau cabut sekarang, mau nengok Amora!” ​“Heh, jangan pergi dulu! Kita belum selesai!” Joel berusaha mencegah, tapi Aurelia sudah keburu melangkah keluar dengan mantap. ​“Mentang-mentang hari ini berhasil presentasi, jadi belagu!” maki Joel di belakangnya. ​Semua orang di tim itu mengakui kalau Aurelia pintar, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang suka dengan kesuksesannya. Bagi mereka, Aurelia hanyalah "si sok pintar" yang tidak tahu diri dan tidak pantas mendapatkan pujian dari seseorang setingkat Aiden Jasper Wijaya. Aurelia tidak peduli; ia sudah punya dunianya sendiri sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD